6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
March 26, 2020
in Esai
Imajinasi John Lennon Kini Seakan Nyata: Tak Ada Negara, Agama dan Surga – [Kontemplasi #dirumahaja]

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Pandemi COVID-19 memberikan efek samping tak langsung bagi berbagai kalangan masyarakat. Ekonomi mati karena sebagian besar kantor/usaha non-esensial ditutup. Karyawan diputus kontrak karena tidak adanya konsumen. Masyarakat panik akan terpapar penyakit yang menyebar cepat, sehingga mulai terjadi krisis barang pokok kesehatan seperti masker dan hand sanitizer serta naiknya harga kebutuhan sehari-hari. Seandainya lockdown diberlakukan dengan durasi yang relatif panjang, kesehatan psikis masyarakat akan menjadi hal yang akan dikhawatirkan selanjutnya.

Namun demikian, tak sedikit kalangan yang merenungkan berbagai dampak positif dari krisis kesehatan ini. Bill Gates menyerukan bahwa pandemi global ini mengingatkan kita akan berbagai pelajaran penting yang sering terlupakan dan kini tergantung kita apakah akan belajar dari krisis ini atau tidak. Berikut di antaranya adalah efek riak positif yang dapat diambil dari pandemi dunia ini.

Yang paling mendasar, semakin banyak orang sadar akan common hygiene seperti mencuci tangan dengan sabun dan tidak menyentuh wajah. Hal ini menyebabkan berkurangnya infeksi penyakit akibat kuman, bakteri dan virus.  Contohnya, kasus flu di Jepang berkurang sekitar 14 juta kasus dibandingkan tahun lalu untuk periode hingga bulan Maret.

COVID-19 mengingatkan kita bahwa alam sebenarnya sedang sakit dan perlu disembuhkan. Berkurangnya mobilisasi publik secara drastis baik darat, laut ataupun udara membantu mengurangi emisi karbon dioksida. Contohnya di Cina, emisi CO2 turun 25% atau sekitar 200 juta ton dibandingkan tahun lalu per bulan Maret. Di Venezia, Italia, air tampak lebih jernih dari sebelumnya karena tidak ada lagi aktivitas masyarakat setempat setelah lockdown nasional yang sedang terjadi di Italia. Cina secara permanen mengilegalkan konsumsi hewan liar karena ada isu bahwa asal usul menyebarnya coronavirus berawal dari konsumsi hewan liar di Wuhan. Sehingga, beberapa spesies langka seperti trenggiling, yang biasa dikonsumsi di Cina dapat terjaga dari kepunahan.

Saat penulisan artikel ini, 1/5 wilayah di Bumi sedang melakukan lockdown. Hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap hubungan keluarga masyarakat yang melakukan lockdown. Di masa normal, kita terkadang terlalu memfokuskan diri dengan dunia masing-masing; pekerjaan, sekolah, tugas, dan lain sebagainya. Masa lockdown memberikan momentum bagi masyarakat untuk lebih mendekatkan diri dengan anggota keluarganya. Masa ini memberikan kesempatan bagi kita untuk semakin mempererat hubungan keluarga.

Di tahun 1971, John Lennon hanya dapat berimajinasi bagaimana seandainya negara, agama, rasa kepemilikan, surga dan neraka tidak ada. Saat ini, segala imajinasinya seakan menjadi nyata. Pemerintah dunia bahu membahu melupakan label negara, agama, ras dan lainnya untuk melawan musuh bersama ini. Kita tidak tahu hingga kapan rasa ‘amnesia’ atas konsep negara, agama, golongan politik, ras, budaya, akan bertahan. Yang jelas saat ini kerjasama global antar negara semakin erat.

Cina memberikan bantuan APD kepada Indonesia, Rusia mengirimkan dokter ke Italia, peneliti dari semua negara saling berbagi informasi untuk menciptakan vaksin dan obat bagi penyakit baru ini. Semenjak hangatnya isu pandemi ini, secara spontan dan serentak segala omongan dan argumen bersubyek agama, politik, korupsi, wilayah kekuasaan, ras, etnis, budaya terdiam membisu. Semua orang sadar bahwa memperdebatkan isu-isu dengan subyek tersebut tidak akan membawa kita ke arah kemajuan, namun justru menunjukkan bahwa umat manusia belum seberadab yang dipikirkan. Wabah ini mengingatkan kita atas subyek yang paling esensial; kemanusiaan.

COVID-19 menyadarkan pemangku jabatan untuk memikirkan kembali alokasi dana negara. Setelah ditemukannya vaksin untuk SARS ketika mewabah di tahun 2003, pendanaan untuk penelitian lebih lanjut dipangkas dan beberapa negara seperti AS, Cina, Iran, dan Rusia mengalihkan dana untuk penelitian nuklir dan teknologi perang. Ketika wabah COVID-19 terjadi sekarang tak sedikit kalangan yang mulai menganggap bahwa pemangkasan dana penelitian tersebut menjadi cikal bakal lambatnya penanganan wabah Corona saat ini. Beberapa tahun lalu Bill Gates menunjukkan kekhawatirannya akan epidemi yang bisa muncul karena kita tidak cukup mendanai pembuatan sistem untuk menghentikan epidemi di masa depan. Akhirnya, epidemi tersebut terjadi sekarang.

Masyarakat kini juga mulai menghargai hal-hal yang dulunya dianggap sepele. Masker, sabun tangan, hand sanitizer, air dan komoditas kesehatan lainnya sekarang bernilai lebih tinggi dibandingkan emas, berlian, mobil mewah ataupun rumah mewah. Wabah saat ini menyadarkan kita bahwa segala bentuk kemewahan tidak akan membuat kita lebih hebat dibandingkan orang lain.

Di masa ini manusia mulai mengingat kembali satu keterampilan dasar yang telah dimiliki manusia sejak diciptakan: cinta dan kasih. Banyak orang mulai sadar untuk saling berbagi. Sejumlah kalangan membagikan masker, hand sanitizer dan vitamin gratis bagi masyarakat yang kurang mampu karena mereka sadar bahwa kesehatan satu orang akan berdampak bagi orang lainnya.

Pada masa krisis ini manusia disadarkan bahwa butterfly effect benar-benar ada. Kita semua terhubung dari satu ujung Bumi hingga ujung lainnya secara tidak langsung. Apa yang dilakukan satu orang di belahan Bumi satu memiliki dampak signifikan bagi orang di belahan Bumi lainnya.  Kita pun mulai mengerti bahwa keegoisan hanya akan memperburuk keadaan. Sebisa mungkin tetaplah lakukan hal yang berdampak positif bagi masyarakat umum, tidak hanya diri sendiri.

Kita sebagai makhluk spiritual juga dapat belajar bahwa hidup kita lebih dari apa yang kita pahami. Kadang kita tidak mempedulikan hal-hal kecil di sekitar kita dan menerima segala kenyamanan hidup begitu saja, seakan semua kenyamanan tersebut adalah hak asasi kita. Lihat sekarang yang ‘membunuh’ kita adalah virus, benda kecil tak terlihat yang mungkin kita selama ini anggap sepele. Kita juga menyadari bahwa hidup sangatlah singkat dan tujuan mutlak kita di dunia adalah untuk membantu satu sama lain dan untuk memberikan dampak positif bagi orang lain. Kita tidaklah terlahir sekadar untuk membahagiakan diri sendiri. Justru sering kali sebenarnya kebahagiaan datang ketika kita tahu kita telah berkontribusi bagi kebahagiaan atau kepentingan orang lain.

Pada akhirnya, wabah ini bisa jadi merupakan akhir dari peradaban atau bisa juga merupakan awal dari peradaban yang baru; dunia yang lebih beradab, lebih waras dan dengan ego manusia yang berkurang. Dunia baru, yang membuat kita mengesampingkan kepentingan pribadi, mengesampingkan segala perbedaan dan dunia yang kita wariskan kepada anak cucu kita yang jauh lebih baik dibandingkan dunia yang kita huni saat ini. Sekali lagi, semua hal dapat dilihat dari berbagai sisi. COVID-19 bisa kita lihat melalui kacamata suram dan gelap, tapi bisa juga kita pandang melalui jendela cerah yang penuh dengan harapan akan dunia yang lebih baik. Semoga krisis ini segera berlalu dan kita dapat menuju peradaban yang lebih baik. Salam damai.[T]

Tags: agamacovid 19John Lennonnegara
Share205TweetSendShareSend
Previous Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Next Post

Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Merdeka Belajar ala “English Corner” di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Merdeka Belajar ala "English Corner" di Desa Sidatapa, Buleleng, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co