7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

tatkala by tatkala
March 26, 2020
in Esai
“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Setidaknya selama dua hari, saat Hari Nyepi dan Ngembak Geni, Rabu 25-26 Maret 2020, warga Bali seakan-akan melakukan simulasi lockdown. Saat Nyepi, umat Hindu di Bali memang melakukan catur brata, yakni amat gni (tak menyalan api), amati karya (tidak bekerja), amat lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Dan saat Ngembak Geni, seharusnya umat Hindu di Bali mulai menghidupkan kembali apa yang sehari sebelumnya dimatikan, mulai menyalakan api, mulai bekerja, mulai ke mana-mana (biasanya ke tempat-tempat hiburan atau bertemu keluarga besar), dan mulai bersenang-senang denga menggelar berbagai hiburan.

Namun, saat Ngembak Geni, warga Bali diimbau untuk tetap berada di rumah. Imbauan itu tertuang secara resmi dalam surat Gubernur Bali dan dilanjutkan dengan surat resmi dari Walikota dan Bupati se-Bali. Artinya, warga tetap melakukan amati lelungan (tak boleh bepergian). Bagi yang bekerja di luar rumah artinya tetap amati karya, tak bisa juga bersenang-senang di luar rumah.

Dua hari itu seperti simulasi lockdown. Sebagaimana ditulis IGP Arta, mantan komisioner KPU Pusat yang kini jadi tokoh politik dari Partai Nasdem. Ia menulis di laman facebook-nya.  

“Pengalaman lockdown 2 hari ini hendaknya digunakan sebagai uji coba dalam mempersiapkan dengan baik kemungkinan lockdown 14 hari kelak. Pemprov dan pemkab/pemkot mengkalkulasi segala sesuatunya, terutama distribusi kebutuhan logistik warga tak mampu (berpenghasilan harian). Saya sangat percaya, evaluasi 2 hari ini meyakinkan saya bahwa Bali sangat mampu jika diizinkan menerapkan karantina wilayah. Kelak, dengan memperhatikan, perkembangan wabah ini di Bali, Bali harus berani mengambil keputusan cepat dan tepat, demi melindungi rakyatnya. Saya tak mau Italia pindah ke Bali hanya gara-gara kita tak bernyali bersikap,” tulisnya.

Artinya, hal-hal yang terjadi, terutama pada saat Ngembak Geni, bisa dijadikan pelajaran jika pemerintah benar-benar melakukan lockdown. Apa yang sudah lancar, dan apa-apa yang bsia jadi masalah.

Yang jadi masalah, misalnya, banyak warga menganggap imbauan Gubernur hanya imbauan, sehingga tak seharusnya diikuti secara ketat. Banyak warga yang masih harus bekerja ke luar rumah, misalnya warga yang bekerja di hotel atau tempat-tempat vital lainnya. Sejumlah warga distop di sejumlah ruas jalan tak diijinkan lewat. Di satu sisi petugas mengamankan imbauan Gubernur agar warga tetap di rumah, sementara di sisi lain banyak warga yang “harus” bekerja karena sttuasi tertentu.

Hal yang belum dipikrikan adalah logistik di masing-masing rumah tangga. Banyak warga, terutama di kota, mengira ia akan bisa keluar sebentar saja ke warung untuk bisa mendapatkan bahan makanan, sehingga stok makanannya hanya cukup disediakan untuk Hari Nyepi. Memang, pada saat Ngembak Geni, warga bisa keluar ke warung, tapi warung banyak yang tutup dengan alasan mematuhi imbauan pemerintah untuk tetap di rumah.

Jika pun ada warung yang buka, stok bahan makanan di warung itu juga habis. Bahan-bahan mentah seperti sayue-mayur tak ada, karena pemilik warung tak bisa ke pasar membeli barang dagangan. Kan tak boleh bepergian?

Artinya ada persoalan tentang kesiapan kita pada soal makanan. Banyak warga tak tahu dengan pasti berapa persediaan beras di sebuah daerah, dan bagaimana mendistribusikan bahan-bahan makanan. Mungkin saja pasar tetap dibuka, namun karena persediaan makanan tak ada, mungkin karena mesin-mesin produksi tak bekerja juga, maka pasar pun bisa kosong. Atau, jika pun ada persediaan, tapi jika tak diketahui dengan benar peta distribusi, mana warga yang membutuhkan dengan cepat, dan mana warga yang sudah cukup persediaannya, maka warga pun akan tetap kesulitan mendapatkan makanan.

Melihat situasi-situasi seperti itu, alangkah baiknya membaca catatan yang ditulis Tan Lioe Ie, seorang penyair yang tamatan Fakulats Ekonomi. Ia membuat catatan-catatan yang disebarkan di grup-grup WA yang kemudian saya copy-paste untuk melengkapi tulisan ini.

Tan Lioe Ie menulis:

Ketika usai perang dunia II, Jepang dan Jerman yang fokus pada pembangunan ekonomi, dari kalah perang jadi negara dengan ekonomi maju, karena banyak kesempatan untuk pembangunan (yang rusak atau tak berjalan normal akibat perang) menjadi peluang / “pasar” untuk dibangun dan diperbaiki / “diisi”. Teknologi dan keahlian untuk itu mereka sudah punya.

Pasca wabah corona (Semoga wabah ini cepat berlalu, amin), negara-negara maju dengan kemampuan teknologi dan keahlian, akan berupaya mengisi “pasar” di berbagai negara termasui pasar dalam yang terpukul akibat wabah ini.

Kita, mungkin perlu serius meningkatkan perdagangan antar daerah, minimal mencukupi kebutuhan dalam negeri, substitusi impor, syukur bisa ekspor kebutuhan dasar pangan ke beberapa negara, misalnya Singapura.

Memenuhi kebutuhan sendiri, dengan perdagangan antar daerah, rasanya bukan hal yang tak masuk akal, jika dilihat kekayaan alam kita. Minimal, kita tak impor kebutuhan pokok berupa pangan, sandang, papan, dulu.

Agar efektif himbauan/ peraturan tinggal di rumah, perlu bantu pedagang pasar agar bisa online, atau buatkan tempat pasar sementara dalam radius tertentu sesuai kepadatan penduduk, pelanggan daftar dulu via Smartphone, jam belanja diatur sesuai daftar.

Pedagang kecil dan informal, wajibkan gojek dan grab yang sudah untung banyak selama ini demi bangsa serta kemanusiaan menerima mereka mendaftar gratis, armada angkutan manusianya yang sepi jika orang disiplin tak keluar rumah dialihkan ke ngirim pesanan. Gojek dan Grab tak mengambil bagian dari fee drivernya. Kalau tidak Ibu-ibu tetap keluar, ke keramaian pasar untuk beli kebutuhan sehari-hari. Pemerintah yang bicara ke Grab dan Gojek. Peraturan / himbauan pemerintah perlu disertai langkah ini, selama krisis ini yang semoga cepat berlalu, amin.

Dan data penduduk miskin, nyaris miskin lalu kirimi kebutuhan pokok gratis. Ini dilakukan dari pusat sampai tingkat RT (Kelian di Bali) untuk mendata dan mendistribusikan dibantu data BPS dan pemda, disertai pengawasan dan sanksi tegas bagi yang korup bantuan.

Hitung cermat kemampuan tiap daerah dan kebutuhannya, karena bisa beda satu dan lain. Maka perlu policy saling isi antar daerah, dibantu teknologi informatika, dan senantiasa diupdate. Juga libat TNI dan Polri mengawasi pergerakan masyarakat, utamanya membubarkan kerumunan.

***

Jadi, simulasi dua hari, saat Nyepi dan Ngembak Geni atau Ngembak Nyepi, bisa dijadikan pelajaran, jika daerah ini benar-benar diputuskan untuk lockdown dalam pengertian paling serius. Perangkat-perangkat kereja pemerintahan di daerah, termasuk kepala RT dan kepala desa, mulai saat ini sebaiknya mendata apa-apa saja persoalan yang dihadapi warga saat lockdown kecil-kecilan di hari Ngembak Geni ini. [T/Ole] 

Tags: covid 19Hari Raya Nyepilockdown
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

Next Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co