23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

tatkala by tatkala
March 26, 2020
in Esai
“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Setidaknya selama dua hari, saat Hari Nyepi dan Ngembak Geni, Rabu 25-26 Maret 2020, warga Bali seakan-akan melakukan simulasi lockdown. Saat Nyepi, umat Hindu di Bali memang melakukan catur brata, yakni amat gni (tak menyalan api), amati karya (tidak bekerja), amat lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Dan saat Ngembak Geni, seharusnya umat Hindu di Bali mulai menghidupkan kembali apa yang sehari sebelumnya dimatikan, mulai menyalakan api, mulai bekerja, mulai ke mana-mana (biasanya ke tempat-tempat hiburan atau bertemu keluarga besar), dan mulai bersenang-senang denga menggelar berbagai hiburan.

Namun, saat Ngembak Geni, warga Bali diimbau untuk tetap berada di rumah. Imbauan itu tertuang secara resmi dalam surat Gubernur Bali dan dilanjutkan dengan surat resmi dari Walikota dan Bupati se-Bali. Artinya, warga tetap melakukan amati lelungan (tak boleh bepergian). Bagi yang bekerja di luar rumah artinya tetap amati karya, tak bisa juga bersenang-senang di luar rumah.

Dua hari itu seperti simulasi lockdown. Sebagaimana ditulis IGP Arta, mantan komisioner KPU Pusat yang kini jadi tokoh politik dari Partai Nasdem. Ia menulis di laman facebook-nya.  

“Pengalaman lockdown 2 hari ini hendaknya digunakan sebagai uji coba dalam mempersiapkan dengan baik kemungkinan lockdown 14 hari kelak. Pemprov dan pemkab/pemkot mengkalkulasi segala sesuatunya, terutama distribusi kebutuhan logistik warga tak mampu (berpenghasilan harian). Saya sangat percaya, evaluasi 2 hari ini meyakinkan saya bahwa Bali sangat mampu jika diizinkan menerapkan karantina wilayah. Kelak, dengan memperhatikan, perkembangan wabah ini di Bali, Bali harus berani mengambil keputusan cepat dan tepat, demi melindungi rakyatnya. Saya tak mau Italia pindah ke Bali hanya gara-gara kita tak bernyali bersikap,” tulisnya.

Artinya, hal-hal yang terjadi, terutama pada saat Ngembak Geni, bisa dijadikan pelajaran jika pemerintah benar-benar melakukan lockdown. Apa yang sudah lancar, dan apa-apa yang bsia jadi masalah.

Yang jadi masalah, misalnya, banyak warga menganggap imbauan Gubernur hanya imbauan, sehingga tak seharusnya diikuti secara ketat. Banyak warga yang masih harus bekerja ke luar rumah, misalnya warga yang bekerja di hotel atau tempat-tempat vital lainnya. Sejumlah warga distop di sejumlah ruas jalan tak diijinkan lewat. Di satu sisi petugas mengamankan imbauan Gubernur agar warga tetap di rumah, sementara di sisi lain banyak warga yang “harus” bekerja karena sttuasi tertentu.

Hal yang belum dipikrikan adalah logistik di masing-masing rumah tangga. Banyak warga, terutama di kota, mengira ia akan bisa keluar sebentar saja ke warung untuk bisa mendapatkan bahan makanan, sehingga stok makanannya hanya cukup disediakan untuk Hari Nyepi. Memang, pada saat Ngembak Geni, warga bisa keluar ke warung, tapi warung banyak yang tutup dengan alasan mematuhi imbauan pemerintah untuk tetap di rumah.

Jika pun ada warung yang buka, stok bahan makanan di warung itu juga habis. Bahan-bahan mentah seperti sayue-mayur tak ada, karena pemilik warung tak bisa ke pasar membeli barang dagangan. Kan tak boleh bepergian?

Artinya ada persoalan tentang kesiapan kita pada soal makanan. Banyak warga tak tahu dengan pasti berapa persediaan beras di sebuah daerah, dan bagaimana mendistribusikan bahan-bahan makanan. Mungkin saja pasar tetap dibuka, namun karena persediaan makanan tak ada, mungkin karena mesin-mesin produksi tak bekerja juga, maka pasar pun bisa kosong. Atau, jika pun ada persediaan, tapi jika tak diketahui dengan benar peta distribusi, mana warga yang membutuhkan dengan cepat, dan mana warga yang sudah cukup persediaannya, maka warga pun akan tetap kesulitan mendapatkan makanan.

Melihat situasi-situasi seperti itu, alangkah baiknya membaca catatan yang ditulis Tan Lioe Ie, seorang penyair yang tamatan Fakulats Ekonomi. Ia membuat catatan-catatan yang disebarkan di grup-grup WA yang kemudian saya copy-paste untuk melengkapi tulisan ini.

Tan Lioe Ie menulis:

Ketika usai perang dunia II, Jepang dan Jerman yang fokus pada pembangunan ekonomi, dari kalah perang jadi negara dengan ekonomi maju, karena banyak kesempatan untuk pembangunan (yang rusak atau tak berjalan normal akibat perang) menjadi peluang / “pasar” untuk dibangun dan diperbaiki / “diisi”. Teknologi dan keahlian untuk itu mereka sudah punya.

Pasca wabah corona (Semoga wabah ini cepat berlalu, amin), negara-negara maju dengan kemampuan teknologi dan keahlian, akan berupaya mengisi “pasar” di berbagai negara termasui pasar dalam yang terpukul akibat wabah ini.

Kita, mungkin perlu serius meningkatkan perdagangan antar daerah, minimal mencukupi kebutuhan dalam negeri, substitusi impor, syukur bisa ekspor kebutuhan dasar pangan ke beberapa negara, misalnya Singapura.

Memenuhi kebutuhan sendiri, dengan perdagangan antar daerah, rasanya bukan hal yang tak masuk akal, jika dilihat kekayaan alam kita. Minimal, kita tak impor kebutuhan pokok berupa pangan, sandang, papan, dulu.

Agar efektif himbauan/ peraturan tinggal di rumah, perlu bantu pedagang pasar agar bisa online, atau buatkan tempat pasar sementara dalam radius tertentu sesuai kepadatan penduduk, pelanggan daftar dulu via Smartphone, jam belanja diatur sesuai daftar.

Pedagang kecil dan informal, wajibkan gojek dan grab yang sudah untung banyak selama ini demi bangsa serta kemanusiaan menerima mereka mendaftar gratis, armada angkutan manusianya yang sepi jika orang disiplin tak keluar rumah dialihkan ke ngirim pesanan. Gojek dan Grab tak mengambil bagian dari fee drivernya. Kalau tidak Ibu-ibu tetap keluar, ke keramaian pasar untuk beli kebutuhan sehari-hari. Pemerintah yang bicara ke Grab dan Gojek. Peraturan / himbauan pemerintah perlu disertai langkah ini, selama krisis ini yang semoga cepat berlalu, amin.

Dan data penduduk miskin, nyaris miskin lalu kirimi kebutuhan pokok gratis. Ini dilakukan dari pusat sampai tingkat RT (Kelian di Bali) untuk mendata dan mendistribusikan dibantu data BPS dan pemda, disertai pengawasan dan sanksi tegas bagi yang korup bantuan.

Hitung cermat kemampuan tiap daerah dan kebutuhannya, karena bisa beda satu dan lain. Maka perlu policy saling isi antar daerah, dibantu teknologi informatika, dan senantiasa diupdate. Juga libat TNI dan Polri mengawasi pergerakan masyarakat, utamanya membubarkan kerumunan.

***

Jadi, simulasi dua hari, saat Nyepi dan Ngembak Geni atau Ngembak Nyepi, bisa dijadikan pelajaran, jika daerah ini benar-benar diputuskan untuk lockdown dalam pengertian paling serius. Perangkat-perangkat kereja pemerintahan di daerah, termasuk kepala RT dan kepala desa, mulai saat ini sebaiknya mendata apa-apa saja persoalan yang dihadapi warga saat lockdown kecil-kecilan di hari Ngembak Geni ini. [T/Ole] 

Tags: covid 19Hari Raya Nyepilockdown
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

Next Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co