13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

tatkala by tatkala
March 26, 2020
in Esai
“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Setidaknya selama dua hari, saat Hari Nyepi dan Ngembak Geni, Rabu 25-26 Maret 2020, warga Bali seakan-akan melakukan simulasi lockdown. Saat Nyepi, umat Hindu di Bali memang melakukan catur brata, yakni amat gni (tak menyalan api), amati karya (tidak bekerja), amat lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Dan saat Ngembak Geni, seharusnya umat Hindu di Bali mulai menghidupkan kembali apa yang sehari sebelumnya dimatikan, mulai menyalakan api, mulai bekerja, mulai ke mana-mana (biasanya ke tempat-tempat hiburan atau bertemu keluarga besar), dan mulai bersenang-senang denga menggelar berbagai hiburan.

Namun, saat Ngembak Geni, warga Bali diimbau untuk tetap berada di rumah. Imbauan itu tertuang secara resmi dalam surat Gubernur Bali dan dilanjutkan dengan surat resmi dari Walikota dan Bupati se-Bali. Artinya, warga tetap melakukan amati lelungan (tak boleh bepergian). Bagi yang bekerja di luar rumah artinya tetap amati karya, tak bisa juga bersenang-senang di luar rumah.

Dua hari itu seperti simulasi lockdown. Sebagaimana ditulis IGP Arta, mantan komisioner KPU Pusat yang kini jadi tokoh politik dari Partai Nasdem. Ia menulis di laman facebook-nya.  

“Pengalaman lockdown 2 hari ini hendaknya digunakan sebagai uji coba dalam mempersiapkan dengan baik kemungkinan lockdown 14 hari kelak. Pemprov dan pemkab/pemkot mengkalkulasi segala sesuatunya, terutama distribusi kebutuhan logistik warga tak mampu (berpenghasilan harian). Saya sangat percaya, evaluasi 2 hari ini meyakinkan saya bahwa Bali sangat mampu jika diizinkan menerapkan karantina wilayah. Kelak, dengan memperhatikan, perkembangan wabah ini di Bali, Bali harus berani mengambil keputusan cepat dan tepat, demi melindungi rakyatnya. Saya tak mau Italia pindah ke Bali hanya gara-gara kita tak bernyali bersikap,” tulisnya.

Artinya, hal-hal yang terjadi, terutama pada saat Ngembak Geni, bisa dijadikan pelajaran jika pemerintah benar-benar melakukan lockdown. Apa yang sudah lancar, dan apa-apa yang bsia jadi masalah.

Yang jadi masalah, misalnya, banyak warga menganggap imbauan Gubernur hanya imbauan, sehingga tak seharusnya diikuti secara ketat. Banyak warga yang masih harus bekerja ke luar rumah, misalnya warga yang bekerja di hotel atau tempat-tempat vital lainnya. Sejumlah warga distop di sejumlah ruas jalan tak diijinkan lewat. Di satu sisi petugas mengamankan imbauan Gubernur agar warga tetap di rumah, sementara di sisi lain banyak warga yang “harus” bekerja karena sttuasi tertentu.

Hal yang belum dipikrikan adalah logistik di masing-masing rumah tangga. Banyak warga, terutama di kota, mengira ia akan bisa keluar sebentar saja ke warung untuk bisa mendapatkan bahan makanan, sehingga stok makanannya hanya cukup disediakan untuk Hari Nyepi. Memang, pada saat Ngembak Geni, warga bisa keluar ke warung, tapi warung banyak yang tutup dengan alasan mematuhi imbauan pemerintah untuk tetap di rumah.

Jika pun ada warung yang buka, stok bahan makanan di warung itu juga habis. Bahan-bahan mentah seperti sayue-mayur tak ada, karena pemilik warung tak bisa ke pasar membeli barang dagangan. Kan tak boleh bepergian?

Artinya ada persoalan tentang kesiapan kita pada soal makanan. Banyak warga tak tahu dengan pasti berapa persediaan beras di sebuah daerah, dan bagaimana mendistribusikan bahan-bahan makanan. Mungkin saja pasar tetap dibuka, namun karena persediaan makanan tak ada, mungkin karena mesin-mesin produksi tak bekerja juga, maka pasar pun bisa kosong. Atau, jika pun ada persediaan, tapi jika tak diketahui dengan benar peta distribusi, mana warga yang membutuhkan dengan cepat, dan mana warga yang sudah cukup persediaannya, maka warga pun akan tetap kesulitan mendapatkan makanan.

Melihat situasi-situasi seperti itu, alangkah baiknya membaca catatan yang ditulis Tan Lioe Ie, seorang penyair yang tamatan Fakulats Ekonomi. Ia membuat catatan-catatan yang disebarkan di grup-grup WA yang kemudian saya copy-paste untuk melengkapi tulisan ini.

Tan Lioe Ie menulis:

Ketika usai perang dunia II, Jepang dan Jerman yang fokus pada pembangunan ekonomi, dari kalah perang jadi negara dengan ekonomi maju, karena banyak kesempatan untuk pembangunan (yang rusak atau tak berjalan normal akibat perang) menjadi peluang / “pasar” untuk dibangun dan diperbaiki / “diisi”. Teknologi dan keahlian untuk itu mereka sudah punya.

Pasca wabah corona (Semoga wabah ini cepat berlalu, amin), negara-negara maju dengan kemampuan teknologi dan keahlian, akan berupaya mengisi “pasar” di berbagai negara termasui pasar dalam yang terpukul akibat wabah ini.

Kita, mungkin perlu serius meningkatkan perdagangan antar daerah, minimal mencukupi kebutuhan dalam negeri, substitusi impor, syukur bisa ekspor kebutuhan dasar pangan ke beberapa negara, misalnya Singapura.

Memenuhi kebutuhan sendiri, dengan perdagangan antar daerah, rasanya bukan hal yang tak masuk akal, jika dilihat kekayaan alam kita. Minimal, kita tak impor kebutuhan pokok berupa pangan, sandang, papan, dulu.

Agar efektif himbauan/ peraturan tinggal di rumah, perlu bantu pedagang pasar agar bisa online, atau buatkan tempat pasar sementara dalam radius tertentu sesuai kepadatan penduduk, pelanggan daftar dulu via Smartphone, jam belanja diatur sesuai daftar.

Pedagang kecil dan informal, wajibkan gojek dan grab yang sudah untung banyak selama ini demi bangsa serta kemanusiaan menerima mereka mendaftar gratis, armada angkutan manusianya yang sepi jika orang disiplin tak keluar rumah dialihkan ke ngirim pesanan. Gojek dan Grab tak mengambil bagian dari fee drivernya. Kalau tidak Ibu-ibu tetap keluar, ke keramaian pasar untuk beli kebutuhan sehari-hari. Pemerintah yang bicara ke Grab dan Gojek. Peraturan / himbauan pemerintah perlu disertai langkah ini, selama krisis ini yang semoga cepat berlalu, amin.

Dan data penduduk miskin, nyaris miskin lalu kirimi kebutuhan pokok gratis. Ini dilakukan dari pusat sampai tingkat RT (Kelian di Bali) untuk mendata dan mendistribusikan dibantu data BPS dan pemda, disertai pengawasan dan sanksi tegas bagi yang korup bantuan.

Hitung cermat kemampuan tiap daerah dan kebutuhannya, karena bisa beda satu dan lain. Maka perlu policy saling isi antar daerah, dibantu teknologi informatika, dan senantiasa diupdate. Juga libat TNI dan Polri mengawasi pergerakan masyarakat, utamanya membubarkan kerumunan.

***

Jadi, simulasi dua hari, saat Nyepi dan Ngembak Geni atau Ngembak Nyepi, bisa dijadikan pelajaran, jika daerah ini benar-benar diputuskan untuk lockdown dalam pengertian paling serius. Perangkat-perangkat kereja pemerintahan di daerah, termasuk kepala RT dan kepala desa, mulai saat ini sebaiknya mendata apa-apa saja persoalan yang dihadapi warga saat lockdown kecil-kecilan di hari Ngembak Geni ini. [T/Ole] 

Tags: covid 19Hari Raya Nyepilockdown
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

Next Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co