3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

tatkala by tatkala
March 26, 2020
in Esai
“Simulasi Lockdown” saat Nyepi dan Ngembak Geni – Pelajari Hal-hal yang Terjadi

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Setidaknya selama dua hari, saat Hari Nyepi dan Ngembak Geni, Rabu 25-26 Maret 2020, warga Bali seakan-akan melakukan simulasi lockdown. Saat Nyepi, umat Hindu di Bali memang melakukan catur brata, yakni amat gni (tak menyalan api), amati karya (tidak bekerja), amat lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang).

Dan saat Ngembak Geni, seharusnya umat Hindu di Bali mulai menghidupkan kembali apa yang sehari sebelumnya dimatikan, mulai menyalakan api, mulai bekerja, mulai ke mana-mana (biasanya ke tempat-tempat hiburan atau bertemu keluarga besar), dan mulai bersenang-senang denga menggelar berbagai hiburan.

Namun, saat Ngembak Geni, warga Bali diimbau untuk tetap berada di rumah. Imbauan itu tertuang secara resmi dalam surat Gubernur Bali dan dilanjutkan dengan surat resmi dari Walikota dan Bupati se-Bali. Artinya, warga tetap melakukan amati lelungan (tak boleh bepergian). Bagi yang bekerja di luar rumah artinya tetap amati karya, tak bisa juga bersenang-senang di luar rumah.

Dua hari itu seperti simulasi lockdown. Sebagaimana ditulis IGP Arta, mantan komisioner KPU Pusat yang kini jadi tokoh politik dari Partai Nasdem. Ia menulis di laman facebook-nya.  

“Pengalaman lockdown 2 hari ini hendaknya digunakan sebagai uji coba dalam mempersiapkan dengan baik kemungkinan lockdown 14 hari kelak. Pemprov dan pemkab/pemkot mengkalkulasi segala sesuatunya, terutama distribusi kebutuhan logistik warga tak mampu (berpenghasilan harian). Saya sangat percaya, evaluasi 2 hari ini meyakinkan saya bahwa Bali sangat mampu jika diizinkan menerapkan karantina wilayah. Kelak, dengan memperhatikan, perkembangan wabah ini di Bali, Bali harus berani mengambil keputusan cepat dan tepat, demi melindungi rakyatnya. Saya tak mau Italia pindah ke Bali hanya gara-gara kita tak bernyali bersikap,” tulisnya.

Artinya, hal-hal yang terjadi, terutama pada saat Ngembak Geni, bisa dijadikan pelajaran jika pemerintah benar-benar melakukan lockdown. Apa yang sudah lancar, dan apa-apa yang bsia jadi masalah.

Yang jadi masalah, misalnya, banyak warga menganggap imbauan Gubernur hanya imbauan, sehingga tak seharusnya diikuti secara ketat. Banyak warga yang masih harus bekerja ke luar rumah, misalnya warga yang bekerja di hotel atau tempat-tempat vital lainnya. Sejumlah warga distop di sejumlah ruas jalan tak diijinkan lewat. Di satu sisi petugas mengamankan imbauan Gubernur agar warga tetap di rumah, sementara di sisi lain banyak warga yang “harus” bekerja karena sttuasi tertentu.

Hal yang belum dipikrikan adalah logistik di masing-masing rumah tangga. Banyak warga, terutama di kota, mengira ia akan bisa keluar sebentar saja ke warung untuk bisa mendapatkan bahan makanan, sehingga stok makanannya hanya cukup disediakan untuk Hari Nyepi. Memang, pada saat Ngembak Geni, warga bisa keluar ke warung, tapi warung banyak yang tutup dengan alasan mematuhi imbauan pemerintah untuk tetap di rumah.

Jika pun ada warung yang buka, stok bahan makanan di warung itu juga habis. Bahan-bahan mentah seperti sayue-mayur tak ada, karena pemilik warung tak bisa ke pasar membeli barang dagangan. Kan tak boleh bepergian?

Artinya ada persoalan tentang kesiapan kita pada soal makanan. Banyak warga tak tahu dengan pasti berapa persediaan beras di sebuah daerah, dan bagaimana mendistribusikan bahan-bahan makanan. Mungkin saja pasar tetap dibuka, namun karena persediaan makanan tak ada, mungkin karena mesin-mesin produksi tak bekerja juga, maka pasar pun bisa kosong. Atau, jika pun ada persediaan, tapi jika tak diketahui dengan benar peta distribusi, mana warga yang membutuhkan dengan cepat, dan mana warga yang sudah cukup persediaannya, maka warga pun akan tetap kesulitan mendapatkan makanan.

Melihat situasi-situasi seperti itu, alangkah baiknya membaca catatan yang ditulis Tan Lioe Ie, seorang penyair yang tamatan Fakulats Ekonomi. Ia membuat catatan-catatan yang disebarkan di grup-grup WA yang kemudian saya copy-paste untuk melengkapi tulisan ini.

Tan Lioe Ie menulis:

Ketika usai perang dunia II, Jepang dan Jerman yang fokus pada pembangunan ekonomi, dari kalah perang jadi negara dengan ekonomi maju, karena banyak kesempatan untuk pembangunan (yang rusak atau tak berjalan normal akibat perang) menjadi peluang / “pasar” untuk dibangun dan diperbaiki / “diisi”. Teknologi dan keahlian untuk itu mereka sudah punya.

Pasca wabah corona (Semoga wabah ini cepat berlalu, amin), negara-negara maju dengan kemampuan teknologi dan keahlian, akan berupaya mengisi “pasar” di berbagai negara termasui pasar dalam yang terpukul akibat wabah ini.

Kita, mungkin perlu serius meningkatkan perdagangan antar daerah, minimal mencukupi kebutuhan dalam negeri, substitusi impor, syukur bisa ekspor kebutuhan dasar pangan ke beberapa negara, misalnya Singapura.

Memenuhi kebutuhan sendiri, dengan perdagangan antar daerah, rasanya bukan hal yang tak masuk akal, jika dilihat kekayaan alam kita. Minimal, kita tak impor kebutuhan pokok berupa pangan, sandang, papan, dulu.

Agar efektif himbauan/ peraturan tinggal di rumah, perlu bantu pedagang pasar agar bisa online, atau buatkan tempat pasar sementara dalam radius tertentu sesuai kepadatan penduduk, pelanggan daftar dulu via Smartphone, jam belanja diatur sesuai daftar.

Pedagang kecil dan informal, wajibkan gojek dan grab yang sudah untung banyak selama ini demi bangsa serta kemanusiaan menerima mereka mendaftar gratis, armada angkutan manusianya yang sepi jika orang disiplin tak keluar rumah dialihkan ke ngirim pesanan. Gojek dan Grab tak mengambil bagian dari fee drivernya. Kalau tidak Ibu-ibu tetap keluar, ke keramaian pasar untuk beli kebutuhan sehari-hari. Pemerintah yang bicara ke Grab dan Gojek. Peraturan / himbauan pemerintah perlu disertai langkah ini, selama krisis ini yang semoga cepat berlalu, amin.

Dan data penduduk miskin, nyaris miskin lalu kirimi kebutuhan pokok gratis. Ini dilakukan dari pusat sampai tingkat RT (Kelian di Bali) untuk mendata dan mendistribusikan dibantu data BPS dan pemda, disertai pengawasan dan sanksi tegas bagi yang korup bantuan.

Hitung cermat kemampuan tiap daerah dan kebutuhannya, karena bisa beda satu dan lain. Maka perlu policy saling isi antar daerah, dibantu teknologi informatika, dan senantiasa diupdate. Juga libat TNI dan Polri mengawasi pergerakan masyarakat, utamanya membubarkan kerumunan.

***

Jadi, simulasi dua hari, saat Nyepi dan Ngembak Geni atau Ngembak Nyepi, bisa dijadikan pelajaran, jika daerah ini benar-benar diputuskan untuk lockdown dalam pengertian paling serius. Perangkat-perangkat kereja pemerintahan di daerah, termasuk kepala RT dan kepala desa, mulai saat ini sebaiknya mendata apa-apa saja persoalan yang dihadapi warga saat lockdown kecil-kecilan di hari Ngembak Geni ini. [T/Ole] 

Tags: covid 19Hari Raya Nyepilockdown
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Eka Brata (Amati Lelungan) Akan Melindungi Bali dari Covid-19 – [Petunjuk Pustaka Lontar Warisan Majapahit]

Next Post

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Tatkala Bali Mencari Keseimbangan Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co