6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berdamai Dengan Rasa Malas Efektif Bantu Lawan Rasa Malas

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 23, 2020
in Ulasan
Berdamai Dengan Rasa Malas Efektif Bantu Lawan Rasa Malas
  • Judul Buku                   : Berdamai dengan Rasa Malas
  • Penulis                         : Munita Yeni
  • Penerbit                       : Psikologi Corner
  • ISBN                             : 978-623-7324-07-2
  • Halaman                      : iv + 204

—-

Menjadi buku self improvment pertama yang saya baca pada tahun 2020, “Berdamai dengan Rasa Malas” sangat memicu semangat saya untuk benar-benar merubah pola hidup yang bisa dikatakan begajulan di tahun 2019. Untuk kali ini saya hanya akan menulis inti sari dari apa yang saya petik setelah membaca buku ini. Sejauh ini, buku karangan dari Munita Yeni yang saya tahu baru dua yaitu “Baca Buku ini Saat Engkau Lelah” dan “Berdamai dengan Rasa Malas”. Namun, buku yang baru saya sempat baca adalah yang saya sebutkan terakhir.

Sejauh ini, kedua buku dari Munita Yeni menjadi Best Seller. Tak heran apalagi setelah membaca isi bukunya benar-benar sangat aplikatif tak hanya sekadar teori saja. Itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan buku ini laris manis di pasaran. Selain isinya yang aplikatif, bahasa yang digunakan pun mudah untuk dipahami. Tak banyak kita jumpai bahasa-bahasa yang ilmiah. Yeni coba menjelaskan dengan bahasa yang umum kita gunakan dalam komunikasi sehari-hari, ditambah dengan contoh-contoh yang diberikan tentu makin memudahkan pembaca untuk memahami isi dari buku yang berjudul Berdamai dengan Rasa Malas ini.

Pentingnya Mengelola Emosi

Buku yang terbit pertama kali pada Juli 2019 ini terbagi dalam tiga bagian, bagian pertama berjudul Apakah Malas Sebuah Anugerah? Dalam bagian ini terbagi lagi menjadi dua sub bagian yaitu kecerdasan emosi dan lagu nina bobo. Secara umum, dalam buku ini memunculkan beberapa hal yang sering kita alami, tapi baru saya ketahui apa penyebab dan pengertiannya. Sebut saja Kecerdasan Intrapribadi yang merupakan sebutan lain dari manusia-manusia yang mampu untuk mengolah kapan dia harus bangkit dari rasa terpuruk, tersadar dengan segera saat dia marah, atau mereka-mereka yang mampu untuk menyetel emosi, bukan disetel emosi. Kalimat terakhir rasa-rasanya sangat menohok bagi kita yang sering dikuasai oleh emosi sesaat yang muncul pada momen tertentu. Kita tak mampu dengan baik menguasai emosi yang muncul dalam diri dan cenderung membiarkan emosi untuk mengendalikan akal sehat kita. Ketika emosi kita mereda, barulah kita merasa malu dengan apa yang telah kita lakukan sebelumnya (saat tubuh dikuasai oleh emosi). Inti yang dapat dipetik pada bagian ini adalah kita sebagai manusia haruslah cerdas dalam mengelola emosi, karena hanya kita yang paling tahu apa yang kita inginkan.

Selain tentang kecerdasan dalam mengelola emosi, pada bagian ini juga dibeberkan bahwa bagaimana perlakuan orang tua terhadap kita sejak balita sangat mempengaruhi bagaiman kita mengelola emosi sesudah dewasa. Dalam buku ini disebutkan bahwa bayi yang mendapatkan perlakuan yang cepat saat menangis cenderung lebih mampu untuk mengendalikan emosi karena mendapatkan bantuan dari orang sekitarnya. Berbeda dengan bayi yang dibiarkan menangis dalam waktu cukup lama, saat bayi itu beranjak dewasa akan kesulitan dalam mengendalikan emosinya bahkan cenderung dikuasai oleh emosinya. Hal yang sama juga terjadi dengan bayi yang mendapatkan perlakuan yang terlalu dimanjakan oleh orang tuanya, saat mereka dewasa akan cenderung bergantung dengan orang lain untuk menyelesaikan konflik emosinya. Maka, penting bagi orang tua era sekarang untuk mengetahui cara mendidik anak yang baik sejak dini, karena hal yang berlebihan tentu akan berdampak tidak baik.

Menjadikan Malas sebagai Teman Jauh Saja

Tentu kebanyakan dari kita (tentu termasuk saya) kerap kali menjadikan rasa malas menjadi tameng untuk banyak hal yang tidak jadi kita kerjakan, atau hal yang sudah kita kerjakan tetapi hasilnya tidak memuaskan. Ini adalah efek dari menjadikan rasa malas menjadi teman dekat kita, bahkan cenderung menjadi sahabat hahaha. Dalam buku ini diungkap betapa rasa malas benar-benar menghambat produktivitas manusia dalam berkreasi, juga menghambat kita untuk menampilkan hasil terbaik dari kinerja kita. Hal ini dikarenakan rasa malas mengajak kita untuk melihat sekitar sebagai pembanding (jadi untuk apa kita melakukan yang terbaik, jika orang lain melakukan hal yang biasa saja mendapat perlakuan yang sama tak ada bedanya). Bisa dikatakan malas memberikan kita banyak permakluman untuk segala hal kurang maksimal yang kita buat.

Kebiasaan-kebiasaan apa saja yang membuat si malas awet berdiam diri dalam tubuh kita? Salah satunya adalah kebiasaan kita menangis. Menangis pada umumnya adalah cara manusia menunjukkan bahwa dirinya sedang dirundung kesedihan, tapi ada juga yang menangis saat ia sedang merasa sangat bahagia. Intinya menangis adalah salah satu cara manusia dalam mengekspresikan suasana hatinya. Kesedihan adalah hal yang kerap kali mengundang tangis itu datang, dan apa yang biasa kamu lakukan saat menangis? Mengurung diri di kamar sambil memeluk guling? Itulah yang seharusnya dihindari, kenapa demikian? Karena dengan menangis berlebihan sampai tertidur dan itu menjadi rutinitas (berulang), otak kita menjadi miskin pengalaman dan mendapat pemecahan masalah untuk terus berjuang. Dalam buku ini diungkap tempat apa saja yang harus kita hindari saat menangis, dan kita diberikan solusi untuk mengelola kesedihan itu menjadi satu hal yang produktif dan cenderung meningkatkan mood kita yang awalnya buruk menjadi lebih baik.

Pada bagian kedua ini, selain menangis ada juga yang namanya menguap. Menguap menjadi tanda untuk manusia bahwa kewaspadaan dalam diri sudah mulai menurun. Kewaspadan menurun otomatis kinerja indra kita semua pasti menurun, sehingga banyak kita temukan kasus kecelakaan lalu lintas yang diakibatkan karena mengantuk. Menguap adalah salah satu pertanda bahwa kita kurang memperhatikan pola hidup seperti pola tidur, pola makan hingga olahraga. Tanpa menerapkan pola hidup sehat, jangan harap si malas akan menjauhi dari dalam diri kita, mereka malah mengendap dan nantinya akan menguasai tubuh kita. Apakah kalian mau dikuasai oleh rasa malas? Jawaban ada di tangan kalian sendiri.

Menjadikan Malas sebagai Motivasi untuk Maju

Tentu banyak sekali orang yang ingin move on dari rasa malasnya, apalagi di awal tahun begini banyak sekali yang membuat resolusi tahun baru supaya menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Tapi semua resolusi yang telah kita rancang itu akan menjadi sampah ketika tak ada aksi nyata dari kita sendiri, kalau bahasa kerennya itu “Resolusi Tanpa Aksi Hanya Sekadar Basa-Basi”. Pada bagian terakhir dalam buku ini, lebih menjelaskan kepada pembaca bahwa rasa malas ini menjadi alarm bagi kita bahwa tubuh kita sudah mencapai overload, memang tubuh perlu dimanjakan tetapi jangan sampai terbuai dengan kondisi nyaman. Karena ketika tubuh sudah mencapai posisi nyaman, akan sulit bagi kita untuk bangkit dan menjadi produktif seperti sediakala. Rasa malas yang berhasil menguasai tubuh kita ini mampu menyebabkan beberapa hal yang harusnya mudah kita lakukan menjadi hal yang langka cenderung keajaiban bagi kita untuk dilakukan. Misalnya, bangun pagi yang akan tinggal sejarah, sulit dalam mengambil keputusan dan bersyukur hanya sekadar bualan saja.

Dalam bagian ini juga, Yeni memberikan berbagai tips untuk berdamai dengan rasa malas yang bersemayam dalam diri kita. Salah satunya adalah mencoba menyelesaikan berbagai tugas dalam waktu singkat. Misalnya nih, saya punya tugas untuk menulis satu essai yang harus diselesaikan dalam waktu seminggu. Karena tahu deadline tulisan itu seminggu, maka tentu saya akan leha-leha di empat hari pertama dan baru mengerjakan essai tersebut di hari kelima. Tentu kalian juga seperti itu kan? Mengandalkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Karena sudah tahu hal tersebut, alangkah lebih baiknya bagi saya untuk memaksimalkan waktu barang satu hingga dua jam untuk menyelesaikan essai tersebut dan menyediakan waktu khusus untuk mengevaluasi essai yang telah dibuat. Dengan demikian tentu penggunaan waktu akan lebih efektif sehingga akan lebih banyak pula pekerjaan yang bisa kita lakukan. Produktif bukan? Itu hanya salah satu cara bagaimana kita berdamai dengan rasa malas, masih banyak lagi cara yang disediakan dalam buku ini.

Menurut saya pribadi, buku ini sagat bagus bagi kalian yang hingga kini masih memiliki masalah dengan rasa malas berlebih. Baca buku ini dan terapkan mana yang kalian anggap cocok untuk diri kalian, maka rasakanlah perbedaan sebelum dan sesudah membaca buku ini. Selamat membaca kawan. [T]

Denpasar, 24 Januari 2020

Tags: Bukuresensi buku
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Pikirkanlah Sakit Saat Sehat, Pikirkanlah Sehat Saat Sakit

Next Post

Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

Selamatkan Pendidikan Anak-Anak Desa Terpencil di Bangli

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co