26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 1, 2020
in Esai
Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Ilustrasi Tatkala/ Jro Adit Alamsta

Cinta, sebuah kata yang tiada jelas rupanya, tapi jadi jelas ketika ada yang berkhianat.

Wujud rupanya: Cekcok mulut, adu jotos, video mesum tersebar, gantung diri, dan seterusnya, bahkan buang bayi di tong sampah atau di selokan.

Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Bali, sepanjang 2017-2019 ada 40 kasus pembuangan bayi baik masih hidup maupun meninggal dunia.

Sosmed dan koran digemparkan dengan berita seorang doktor gantung diri dua bulan lalu. Baru terlupakan sejenak berita doktor gantung diri tersebut, kembali media di Bali digempar oleh berita dokter muda gantung diri bulan ini. Di luar kisah doktor dan dokter tersebut, banyak peristiwa gantung diri di Bali yang tidak menyedot perhatian publik. Gantung diri, seakan-akan, hal biasa saja. Seperti kematian biasa saja.

Seandainya ada Komisi Perlindungan Cinta dan Kesetiaan Bali, kira-kira berapa kasus tercatat perselingkuhan, dan lain-lain, dan sejenisnya, yang berujung bunuh diri, cekcok, pembuangan bayi dan pengguguran kandungan?

Lalu, pertanyaannya: Apa perspektif kultural dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap selingkuh, bunuh diri, buang anak?

Jawabnya: Cuntaka, cemer, leteh, sebel.

Cuntaka sama dengan cemer atau letuh (leteh) atau sebel. Semuanya berarti ‘ternoda kesucian sekala-niskala’.

Pesamuhan Agung PHDP Nomor 015/Tap/PA.PHDP/1984 menyebutkan istilah cuntaka bermakna suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal-hal lain yang dipandang kotor.

Apa saja hal-hal yang dipandang kotor dalam perspektif kepercayaan masyarakat Hindu di Bali?

1. Keguguran kandungan di bawah 6 bulan termasuk dalam cuntaka yang disamakan dengan cuntaka datang bulan. Keguguran kandungan di atas umur enam bulan atau berupa bayi, ‘cuntaka penuh’ yaitu kematian bayi sebelum kepus puser.

2. Cuntaka dari datang bulan yang umum terjadi pada wanita normal.

3. Upakara pernikahan dipandang membawa cuntaka dialami oleh kedua mempelai. Tidak cuntaka setelah dibersihkan dengan upacara pabersihan.

4. Cuntaka mitra ngalang, yaitu semua hubungan seks di luar pernikahan. Dari kategori ini perselingkuhan dan semua hubungan di luar pernikahan adalah pembawa cuntaka pada desa dan membawa pulau cemer.

5. Cuntaka akibat agamya-gamana, yaitu hubungan seks menyimpang. Seks antara anak dengan orang tua, atau termasuk juga hubungan seks antara saudara kandung, serta perilaku menyimpang lainnya.

6. Cuntaka salah-gamya-gama khusus pada leteh atau kekotoran sekala-niskala akibat manusia melakukan hubungan seks dengan binatang. Dipercaya sebagai ciri dari rusaknya ketidakseimbangan alam. Pabersihan sekala niskala wajib dilakukan oleh desa dan kawasan cuntaka.

7. Cuntaka akibat kehamilan di luar pernikahan, atau banyi lahir tanpa upakara pernikahan orang tuanya, dan lahir anak babinyat adalah cuntaka yang dipandang mengganggu keharmonisan alam dan tatanan desa dan pulau.

8. Semua tindakan sad atetayi atau enam pembunuhan sadis, membawa cuntaka besar pada lingkungan dan pulau:

– Agnida : membakar milik orang lain dan juga membakar orang lain.

– Wisada : meracuni orang lain.

– Atharwa : melakukan ilmu hitam untuk membunuh orang lain.

– Sastraghna : mengamuk sehingga menyebabkan kematian orang lain.

– Dratikrama : memperkosa sehingga membuat orang lain kehilangan kehormatan.

– Rajapisuna : suka memfitnah sampai mengakibatkan kematian orang.

9. Penderita sakit kelainan atau ila (gila) sampai merusak pura, ngamuk, dan menggangu ketertiban membawa konsekwensi cuntaka (leteh) dan perlu disucikan oleh penduduk setempat.

Kalau kita lihat garis besar peristiwa yang menyebabkan cuntaka hampir ke semua akibat ulah manusia yang melibatkan nafsu.

10. Cuntaka karena ada ulahpati (kematian tidak normal/wajar) seperti gantung diri atau kasus bunuh diri lainnya.

11. Cuntaka brunaha yaitu membunuh bayi. Brunaha ada sumber petaka membawa ketidakseimbangan kosmik dan sangat besar disebutkan dosa pelakunya, juga berdampak pada hilangnya kesucian sekitar yang tidak kecil.

Berbagai jenis cuntaka lain masih secara detail tidak akan saya masukkan di sini. Daftar tersebut di atas sudah cukup menjadi gambaran umum.

Nafsu tak terkendali.

Nafsu salah alamat.

Nasfu pengerusakan.

Apakah cuntaka itu, di baliknya pertimbangan niskalanya, ada idea untuk meregulasi nafsu manusia agar tercipta tatanan?

Jadi bukan cinta yang hendak diregulasi tapi nafsu?

Nafsu yang berhamburan tiada kendali membawa kedukaan dan suasana sekala-niskala tidak seimbang? Kosmik dalam ketidakseimbangan?

Jika tabel kecil penyebab cuntaka tersebut di atas dijadikan tolak ukur melihat pulau Bali, apakah ada mekanisme untuk melakukan cek terhadap semua pasangan yang menginap  di hotel-hotel di Bali?

Adakah siap dan berani memastikan bahwa hotelnya adalah “hotel sukla” yang tidak menfasilitasi cuntaka karena ada ribuan pasangan bukan suami-istri yang menginap di hotel di Bali?

Bagaimana dengan gantung diri di hotel atau di wilayah Bali yang terjadi di hotel atau di wilayah tertentu? Siapa bertanggungjawab melakukan ruwatan penyucian? Pihak hotel atau desanya ikut kena cuntaka?

Seingat saya kalau ada kematian di desa saya, desa ikut sebel. Jika ditemukan bayi terbuang dan meninggal di got, pasar, sungai, pantai, atau tempat lainnya, siapa yang melakukan resik-ruwat-pabersihan kawasan?

Membuka diri pada pariwisata, jika memperhatikan tabel cuntaka dan kesimpulan yang diberikan oleh parisada 1984, banyak hal harus dipertimbangkan kembali jika melihat pulau Bali dari segi niskala, atau tinjauan keagamaan.

Ketika saya masih kecil, jika saya tidak salah ingat, saya bertemu orang yang tidak mau mengontrakkan tanahnya kalau dijadikan kos-kosan. Katanya, kos-kosan tidak bisa kita awasi siapa bermalam dan siapa pasangan sah dan tidak. Orang tersebut merasa takut kalau membuka kos-kosan akan ikut berkontribusi pada cemer-leteh pada desa dan pulau Bali.

Susah sekali memikirkan Pulau Bali ini kalau serius mempelajari pertimbangan niskala?

Ya susah, katanya. Tapi juga ada jalan keluarnya: Upakara diperbanyak. Kata teman lainnya.

Di masa kecil saya hanya melongo mendampingi banyak percakapan generasi kakek dan ayah saya yang pemangku dengan kawan-kawannya yang lingkarnya juga pemangku serta sulinggih. Mereka sibuk sekali mencoba menimbang agar pulau ini tidak jadi pulau cuntaka. Agar tetap ada keseimbangan niskala dan sekala.

Dalam pandangan pemangku-pemangku yang menjadi tempat saya belajar mendengar di masa kecil saya belajar banyak tentang ritual caru prayascita, caru mancasata, dan seterusnya. Semuanya usaha menghalau semua cemer-cuntaka di atas pulau ini.

Pada persiapan pangeresik, pecaruan, pangrupukan, dan caru penyepian para pemangku sangat berdedikasi menjalaninya dengan laku yang serius. Mendalam, bukan sekedar prilaku laku simbolik. Mereka melakukan persiapan dengan brata puasa dan pabersihan diri. Masyarakat awam mungkin ada yang berpikir bahwa pacaru dan prayascita adalah upakara simbolik sebatas seremonial. Tapi buat pemangku atau sulinggih, persiapan batinnya sangat serius.

Tawur, caru dan pangrupukan dan lain-lain adalah kegiatan yang sangat serius sebagaimana persiapan ngereh atau nglekas. Ini adalah kegiatan white-magic (magi putih) yang bertujuan untuk purifikasi atau penyucian jagat niskala. Semua dilakukan dan dipersiapkan dengan serius, kalau tidak, pulau ini akan menjadi pulau cuntaka. Demikian kesadaran mereka.

Bergaul dan tumbuh di kalangan pemangku sulinggih yang ortodok, saya berkesempatan melihat dunia dari sudut pandang mereka, bahwa pulau Bali punya potensi besar jadi pulau cuntaka jika tidak hati-hati merawatnya.

Selingkuh, gantung diri, buang bayi, bukan hanya hentakan ketidak-seimbang sosial, tapi dari kaca mata para sulinggih, peristiwa-peristiwa tersebut adalah hentakan niskala yang berakumulasi untuk memporandakan keseimbangan kosmik. [T]

Tags: balibuang bayigantung diriselingkuh
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Kepiluan dalam Realita Sosial – Ulasan Buku Kumpulan Cerpen “Begal”

Next Post

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co