4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 1, 2020
in Esai
Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Ilustrasi Tatkala/ Jro Adit Alamsta

Cinta, sebuah kata yang tiada jelas rupanya, tapi jadi jelas ketika ada yang berkhianat.

Wujud rupanya: Cekcok mulut, adu jotos, video mesum tersebar, gantung diri, dan seterusnya, bahkan buang bayi di tong sampah atau di selokan.

Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Bali, sepanjang 2017-2019 ada 40 kasus pembuangan bayi baik masih hidup maupun meninggal dunia.

Sosmed dan koran digemparkan dengan berita seorang doktor gantung diri dua bulan lalu. Baru terlupakan sejenak berita doktor gantung diri tersebut, kembali media di Bali digempar oleh berita dokter muda gantung diri bulan ini. Di luar kisah doktor dan dokter tersebut, banyak peristiwa gantung diri di Bali yang tidak menyedot perhatian publik. Gantung diri, seakan-akan, hal biasa saja. Seperti kematian biasa saja.

Seandainya ada Komisi Perlindungan Cinta dan Kesetiaan Bali, kira-kira berapa kasus tercatat perselingkuhan, dan lain-lain, dan sejenisnya, yang berujung bunuh diri, cekcok, pembuangan bayi dan pengguguran kandungan?

Lalu, pertanyaannya: Apa perspektif kultural dan kepercayaan masyarakat Bali terhadap selingkuh, bunuh diri, buang anak?

Jawabnya: Cuntaka, cemer, leteh, sebel.

Cuntaka sama dengan cemer atau letuh (leteh) atau sebel. Semuanya berarti ‘ternoda kesucian sekala-niskala’.

Pesamuhan Agung PHDP Nomor 015/Tap/PA.PHDP/1984 menyebutkan istilah cuntaka bermakna suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal-hal lain yang dipandang kotor.

Apa saja hal-hal yang dipandang kotor dalam perspektif kepercayaan masyarakat Hindu di Bali?

1. Keguguran kandungan di bawah 6 bulan termasuk dalam cuntaka yang disamakan dengan cuntaka datang bulan. Keguguran kandungan di atas umur enam bulan atau berupa bayi, ‘cuntaka penuh’ yaitu kematian bayi sebelum kepus puser.

2. Cuntaka dari datang bulan yang umum terjadi pada wanita normal.

3. Upakara pernikahan dipandang membawa cuntaka dialami oleh kedua mempelai. Tidak cuntaka setelah dibersihkan dengan upacara pabersihan.

4. Cuntaka mitra ngalang, yaitu semua hubungan seks di luar pernikahan. Dari kategori ini perselingkuhan dan semua hubungan di luar pernikahan adalah pembawa cuntaka pada desa dan membawa pulau cemer.

5. Cuntaka akibat agamya-gamana, yaitu hubungan seks menyimpang. Seks antara anak dengan orang tua, atau termasuk juga hubungan seks antara saudara kandung, serta perilaku menyimpang lainnya.

6. Cuntaka salah-gamya-gama khusus pada leteh atau kekotoran sekala-niskala akibat manusia melakukan hubungan seks dengan binatang. Dipercaya sebagai ciri dari rusaknya ketidakseimbangan alam. Pabersihan sekala niskala wajib dilakukan oleh desa dan kawasan cuntaka.

7. Cuntaka akibat kehamilan di luar pernikahan, atau banyi lahir tanpa upakara pernikahan orang tuanya, dan lahir anak babinyat adalah cuntaka yang dipandang mengganggu keharmonisan alam dan tatanan desa dan pulau.

8. Semua tindakan sad atetayi atau enam pembunuhan sadis, membawa cuntaka besar pada lingkungan dan pulau:

– Agnida : membakar milik orang lain dan juga membakar orang lain.

– Wisada : meracuni orang lain.

– Atharwa : melakukan ilmu hitam untuk membunuh orang lain.

– Sastraghna : mengamuk sehingga menyebabkan kematian orang lain.

– Dratikrama : memperkosa sehingga membuat orang lain kehilangan kehormatan.

– Rajapisuna : suka memfitnah sampai mengakibatkan kematian orang.

9. Penderita sakit kelainan atau ila (gila) sampai merusak pura, ngamuk, dan menggangu ketertiban membawa konsekwensi cuntaka (leteh) dan perlu disucikan oleh penduduk setempat.

Kalau kita lihat garis besar peristiwa yang menyebabkan cuntaka hampir ke semua akibat ulah manusia yang melibatkan nafsu.

10. Cuntaka karena ada ulahpati (kematian tidak normal/wajar) seperti gantung diri atau kasus bunuh diri lainnya.

11. Cuntaka brunaha yaitu membunuh bayi. Brunaha ada sumber petaka membawa ketidakseimbangan kosmik dan sangat besar disebutkan dosa pelakunya, juga berdampak pada hilangnya kesucian sekitar yang tidak kecil.

Berbagai jenis cuntaka lain masih secara detail tidak akan saya masukkan di sini. Daftar tersebut di atas sudah cukup menjadi gambaran umum.

Nafsu tak terkendali.

Nafsu salah alamat.

Nasfu pengerusakan.

Apakah cuntaka itu, di baliknya pertimbangan niskalanya, ada idea untuk meregulasi nafsu manusia agar tercipta tatanan?

Jadi bukan cinta yang hendak diregulasi tapi nafsu?

Nafsu yang berhamburan tiada kendali membawa kedukaan dan suasana sekala-niskala tidak seimbang? Kosmik dalam ketidakseimbangan?

Jika tabel kecil penyebab cuntaka tersebut di atas dijadikan tolak ukur melihat pulau Bali, apakah ada mekanisme untuk melakukan cek terhadap semua pasangan yang menginap  di hotel-hotel di Bali?

Adakah siap dan berani memastikan bahwa hotelnya adalah “hotel sukla” yang tidak menfasilitasi cuntaka karena ada ribuan pasangan bukan suami-istri yang menginap di hotel di Bali?

Bagaimana dengan gantung diri di hotel atau di wilayah Bali yang terjadi di hotel atau di wilayah tertentu? Siapa bertanggungjawab melakukan ruwatan penyucian? Pihak hotel atau desanya ikut kena cuntaka?

Seingat saya kalau ada kematian di desa saya, desa ikut sebel. Jika ditemukan bayi terbuang dan meninggal di got, pasar, sungai, pantai, atau tempat lainnya, siapa yang melakukan resik-ruwat-pabersihan kawasan?

Membuka diri pada pariwisata, jika memperhatikan tabel cuntaka dan kesimpulan yang diberikan oleh parisada 1984, banyak hal harus dipertimbangkan kembali jika melihat pulau Bali dari segi niskala, atau tinjauan keagamaan.

Ketika saya masih kecil, jika saya tidak salah ingat, saya bertemu orang yang tidak mau mengontrakkan tanahnya kalau dijadikan kos-kosan. Katanya, kos-kosan tidak bisa kita awasi siapa bermalam dan siapa pasangan sah dan tidak. Orang tersebut merasa takut kalau membuka kos-kosan akan ikut berkontribusi pada cemer-leteh pada desa dan pulau Bali.

Susah sekali memikirkan Pulau Bali ini kalau serius mempelajari pertimbangan niskala?

Ya susah, katanya. Tapi juga ada jalan keluarnya: Upakara diperbanyak. Kata teman lainnya.

Di masa kecil saya hanya melongo mendampingi banyak percakapan generasi kakek dan ayah saya yang pemangku dengan kawan-kawannya yang lingkarnya juga pemangku serta sulinggih. Mereka sibuk sekali mencoba menimbang agar pulau ini tidak jadi pulau cuntaka. Agar tetap ada keseimbangan niskala dan sekala.

Dalam pandangan pemangku-pemangku yang menjadi tempat saya belajar mendengar di masa kecil saya belajar banyak tentang ritual caru prayascita, caru mancasata, dan seterusnya. Semuanya usaha menghalau semua cemer-cuntaka di atas pulau ini.

Pada persiapan pangeresik, pecaruan, pangrupukan, dan caru penyepian para pemangku sangat berdedikasi menjalaninya dengan laku yang serius. Mendalam, bukan sekedar prilaku laku simbolik. Mereka melakukan persiapan dengan brata puasa dan pabersihan diri. Masyarakat awam mungkin ada yang berpikir bahwa pacaru dan prayascita adalah upakara simbolik sebatas seremonial. Tapi buat pemangku atau sulinggih, persiapan batinnya sangat serius.

Tawur, caru dan pangrupukan dan lain-lain adalah kegiatan yang sangat serius sebagaimana persiapan ngereh atau nglekas. Ini adalah kegiatan white-magic (magi putih) yang bertujuan untuk purifikasi atau penyucian jagat niskala. Semua dilakukan dan dipersiapkan dengan serius, kalau tidak, pulau ini akan menjadi pulau cuntaka. Demikian kesadaran mereka.

Bergaul dan tumbuh di kalangan pemangku sulinggih yang ortodok, saya berkesempatan melihat dunia dari sudut pandang mereka, bahwa pulau Bali punya potensi besar jadi pulau cuntaka jika tidak hati-hati merawatnya.

Selingkuh, gantung diri, buang bayi, bukan hanya hentakan ketidak-seimbang sosial, tapi dari kaca mata para sulinggih, peristiwa-peristiwa tersebut adalah hentakan niskala yang berakumulasi untuk memporandakan keseimbangan kosmik. [T]

Tags: balibuang bayigantung diriselingkuh
Share23TweetSendShareSend
Previous Post

Kekerasan dan Kepiluan dalam Realita Sosial – Ulasan Buku Kumpulan Cerpen “Begal”

Next Post

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Marco Punx Bali: “Punx Ci Nawang”, Ada Bayu KW Hingga Made Bawa Lolot

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co