24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kekerasan dan Kepiluan dalam Realita Sosial – Ulasan Buku Kumpulan Cerpen “Begal”

Eka Pradnya Dewi by Eka Pradnya Dewi
January 30, 2020
in Ulasan
Kekerasan dan Kepiluan dalam Realita Sosial – Ulasan Buku Kumpulan Cerpen “Begal”

Sastra menurut Mursal Esten merupakan pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan mayarakat melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia. Sastra sudah berkembang sejak dulu. Ada berbagai jenis sastra yang berkembang, mulai dari sastra lisan sampai sastra tulis.

Sebuah karya sastra tidak dapat terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat. Salah satu karya sastra adalah cerpen. Cerpen memiliki pengertian salah satu ragam dari jenis prosa (Kbbi, 2007: 211). Sesuai namanya cerpen merupakan cerita pendek dan merupakan suatu kebulatan ide. Cerpen ditulis berdasarkan kenyataan kehidupan atau berkaitan dengan kehidupan.

Dengan berkembangnya jaman, cerpen tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia tapi banyak cerpen yang sudah menggunakan bahasa daerah. Salah satunya cerpen yang berhasa Bali. Banyak penulis-penulis yang sudah membuat suatu karya cerpen menggunakan Bahasa Bali seperti Dewa Putu Ayu Carma Citrawati, IBW Widiasa Keniten, IDK Raka Kusuma, Made Sanggra, dan masih banyak lagi.

Begal demikianlah judul Buku I Dewa Nyoman Raka Kusuma atau lebih dikenal IDK Raka Kusuma (2012). Buku ini memuat kumpulan cerpen berbahasa Bali yang terdiri dari 20 cerpen yang ditulis selama rentang waktu 2010-2011. Begal tidak hanya menceritakan tentang kekerasan fisik yang dialami seseorang, namun lebih dari itu. begal menceritakan tentang bagaimana kehidupan masyarakat yang penuh dengan kebencian, penuh dengan kemarahan, penuh dengan kekerasan psikis. Kekerasan seperti ini yang terkadang meninggalkan trauma yang pada akhirnya menjadi dendam. Wujud kekerasan dan kemarahan itu bisa dikeluarkan dalam berbagai bentuk, mulai dari perampokan, pembunuhan, sampai kekerasan politik.

Begal menceritakan tentang bagaimana kehidupan masyarakat yang penuh dengan politik yang berkaitan dengan PKI pada tahun 1965. Bagaimana kehidupan masyarakat yang pada saat itu harus berpisah dengan keluarga, dikucilkan dalam masyarakat, diusir dari desa kelahirannya. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa cerita dalam cerpennya yang berjudul “Ogoh-ogoh”, “Kota Palekadan”, “Wak Jum”.

“Ogoh-ogoh” menceritakan tentang tokoh tiang (aku) yang terus dihina dan dicaci oleh masyarakat desa sebagai keturunan Gerwani atau PKI. Namun tokoh aku tidak marah, ia berusaha memendam rasa marahnya itu. Karena apa yang dikatakan oleh masyarakat desa memang benar ibunya seorang gerwani, bapaknya seorang PKI. Hingga suatu ketika masyarakat membuat ogoh-ogoh raksasa bermuka manusia. Ogoh-ogoh raksasa tersebut memiliki wajah yang mirip dengan tokoh aku. Karena tidak tahan dan merasa selalu dihina, diapun marah dan meminta anak buahnya untuk membakar ogoh-ogoh tersebut. Belum sempat melakukan, masyarakat mengetahui terlebih dulu rencananya. Tokoh aku pun diminta pergi dari desa oleh anak buahnya karena masyarakat akan datang membakar rumahnya.

Cerpen “Ogoh-ogoh” ini memotret fenomena sosial yang terjadi di mayarakat berupa dendam seseorang karena terus dihina dan dicaci. Bagaimana seseorang dikucilkan oleh masyarakat karena orang tuanya seorang gerwani dan PKI.        Hal ini dapat kita lihat dalam petikan

“Teken krama banjare pang kuda kaden suba tiang temahe. Pang kuda kaden tiang sikut kopingina aji pisuna. Luire : tendas keleng, tendas peletan, tendas kawah, tendas kacut, tendas plunger…………… (hal. 11)”

Terjemahannya: “Oleh warga banjar, entah sudah berapa kali saya dimaki. Entah berapa kali saya dikata-katai dengan makian. Antara lain: tendas keléng, tendas pelétan, tendas kawah, tendas kancut, tendas plunger……”

Dikucilkan, cacian, sudah sering kita lihat dalam mayarakat. Tidak hanya dulu, hingga kini hal itu sering terjadi hanya karna politik semata. Selain cerpen “Ogoh-ogoh”, pengarang juga menuliskan cerita serupa dalam beberapa cerpennya yaitu cerpen “Kota Palekadan” dan “Wak Jum”

“Kota Palekadan”, menceritakan tiang (aku) yang masih berusia 12 tahun menyaksikan sendiri orang tuanya dibunuh oleh sepuluh orang namun hanya delapan orang yang ia tahu karena dianggap PKI. Tokoh aku kemudian dibawa oleh Pak Moril ke Badung karna pak moril takut jika tokoh aku berada di rumahnya membuat ia juga dianggap PKI. tokoh aku di titipkan di rumah saudaranya yang merupakan  orang PNI. Disana tokoh aku diangkat sebagai anaknya. Dengan diangkat sebagai anak, memungkinkan ia bisa melakukan apa saja. ia bisa menyewa pembunuh bayaran untuk balas dendam kepada orang yang membunuh orang tuanya.

Dan yang terakhir, “Wak Jum” menceritakan tentang Wak Jum dan kedua orang tuanya yang diusir oleh sanak saudaranya karena tidak mau masuk dalam PKI. Tokoh tiang (aku) selalu bertanya tanya kepada ayahnya dan Wak Jum kenapa PKI melakukan hal seperti itu, namun jawabannya selalu sama. Hingga suatu hari ayah tokoh tiang (aku) yang merupakan orang PNI dicari oleh orang-orang PKI. Disana Wak Jum melawan orang-orang PKI hingga semuanya lari. Wak Jum ingin mencari pemimpin PKI itu, namun ayah tokoh aku tidak mengijinkan karena pemimpin PKI sakti kabinawa. Keesokan harinya terdengar kabar bahwa pemimpin PKI itu sudah meninggal. Namun tidak ada yang tau siapa yang telah membunuhnya.

Dalam kumpulan cerpen Begal dapat dianalisis menggunakan teori sastra sosiologi sastra. Menurut Kamus Besar Bahasa Indoneesia (1989 : 85 ), Sosiologi Sastra “merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat dari atau mengenai sastra karya para kritikus dan sejarahwan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi politik dan sosialnya, kondisi ekonomi serta khalayak yang ditujunya. Dalam cerpen “Ogoh-ogoh”, “Kota Palekadan”, dan “Wak Jum” dapat kita lihat bagaimana kehidupan masyarakat pada jaman PKI. Seperti dalam cerpen ogoh-ogoh yang harus mendapatkan hinaan, cacian, dari masyarakat, serta dalam Kota Palekadan dan wak Jum bagaimana seseorang yang harus berpisah dengan keluarganya hanya karna berbeda politik dan tuduhan masyarakat.

Dari ketiga cerpen ini, adanya persamaan dalam pemilihan tema yang kita dapat dilihat bagaimana kerasnya kehidupan masyarakat yang dipengaruhi oleh politik pada jaman PKI. Banyak terjadi konflik dalam masyarakat yang menyebabkan terjadinya perpecahan. Pembunuhan yang dilakukan tanpa memandang siapa dia. Walaupun dia benar atau salah. Hal ini dapat kita lihat dari petikan cerpen tersebut. Hal ini sudah biasa terjadi pada jaman PKI. [T]

Tags: BukuCerpensastra bali modern
Share33TweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Para Guru Besar Menari di Bulan Menari ISI Denpasar

Next Post

Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Eka Pradnya Dewi

Eka Pradnya Dewi

Ni Putu Eka Pradnya Dewi, lahir di Padangan 2 April 1998. Mahasiswi STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini sejak kecil dekat dengan aroma kopi, karena tumbuh di tengah tengah keluarga yang jatuh cinta pada kopi. Pupuan, Pradnya, dan kopi tak bisa dipisahkan. Maka sambil menyeruput kopi, Pradnya mencoba rutinitas barunya: membaca.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Pulau Cuntaka: Selingkuh, Gantung Diri, Buang Bayi…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co