2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra Sungsang

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 20, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

“Berlindung pada sastra”. Begitu ada ajaran yang pernah saya dengar dengan telinga Cangak mungil ini. Sastra dalam quote itu berarti segala macam kebijaksanaan. Terutama yang terdapat dalam teks-teks seperti geguritan, kakawin, parwa, upanisad, wedangga, sutra, weda. Mendengar kata-kata itu, membuat saya membayangkan sastra seperti rumah. Rumah sastra tempat saya pulang jika lelah dengan urusan itu dan ini.

Karena sastra adalah rumah, artinya sastralah tempat kita berasal. Ke asal itu pula nanti kita akan kembali setelah melakukan perjalanan jauh. Saya tidak pernah berhenti membayangkan, bahwa hidup ini adalah perjalanan menjauh dari asal. Karena makin hari makin jauh, maka asal itu dengan mudah kita lupakan. Dalam teks-teks Babad yang diwarisi di Bali, kita tidak perlu bersusah-susah menemukan daftar kutukan dari leluhur seandainya kita melupakan asal. Caranya agar ingat, banyak orang yang menempuh jalan berbalik untuk kembali. Kemana? Kembali mengingat asal, leluhur!

Jalan seperti itu disebut nyungsang dalam bahasa Bali. Sejauh ini, ada beberapa hal yang posisinya nyungsang sepengetahuan saya. Nyungsang pertama dilakukan oleh anak tawon. Semasa jadi anak-anak, ia bergantung dalam sarang dengan kepala menghadap ke bawah. Posisi ini dalam teks lontar adalah analogi manusia yang hanya melihat segala kenyataan yang ada di bawah kepalanya. Analogi ini didedikasikan terutama bagi seluruh manusia yang hanya melihat sesuatu hanya dari satu suduh pandang. Karena pengetahuan yang ia dapat hanya dari satu sudut pandang, maka dengan satu sudut pandang itu pula ia menjalani hidupnya.

Nyungsang kedua adalah Ongkara. Ada banyak sekali teks yang bisa dirujuk untuk menjelaskan Ongkara Sungsang. Teks-teks itu tidak akan saya sebutkan satu persatu. Menurut ahlinya ahli Ongkara, Ongkara dengan posisi terbalik adalah simbol air yang terus mengalir. Air yang mengalir itu, bukan sembarang air dan bukan pula air sembarangan. Air itu konon bernama Amerta. A berarti tidak, merta berarti mati. Amerta adalah air yang jika berhasil diminum, membuat peminumnya tidak mati-mati alias abadi.

Nyungsang ketiga adalah Manusia. Saya namakan Manusia Sungsang. Manusia Sungsang ini benar-benar dipraktikkan oleh orang-orang yang memperdalam yoga olah tubuh. Kakinya diangkat ke atas, kepala sebagai tumpuan. Posisi ini disebut Sirsasana.

Nyungsang keempat dipraktikkan oleh salah satu murid Calon Arang. Menurut sumber terpercaya, konon praktik nyungsang ini dilakukan untuk memuja Bhatari Bagawati. Tidak cukup hanya sekadar nyungsang, tapi juga menunjukkan lidahnya yang memanjang. Dengan posisi itu Bhatari Bagawati dipuja dan berkenan muncul di hadapan Calon Arang.

Nyungsang kelima dipraktikkan oleh Kala. Kala selalu dibayangkan secara stereotip berwajah menyeramkan dengan rambut ikal yang panjang. Tubuhnya besar dengan bulu lebih lebat dari hutan hujan tropis. Dalam banyak cerita, Kala bisa mengeluarkan berbagai macam senjata dari pori-porinya. Tidak hanya ratusan, tapi ribuan senjata dan pasukan perang. Kala dalam cerita Sutasoma, bahkan bisa berubah menjadi Naga. Naga jelmaan Kala itu hendak menelan Sutasoma. Kala yang nyungsang disebut Kala Sungsang. Gambar Kala Sungsang ini bisa kita temukan jika kita rajin membaca-baca lontar yang isinya ilmu-ilmu tentang Kala Sungsang. Untuk apa gambar semacam itu? Itu juga yang ingin saya tanyakan kepada yang tahu.

Nyungsang keenam ada dalam cerita Sumanasantaka. Konon ada bunga cempaka yang jatuhnya nyungsang. Ajaibnya, bunga cempaka itu jatuhnya pilih-pilih. Tepat di tengah-tengah dada seorang putri cantik dari kerajaan Widarba. Namanya Indumati. Bunga cempaka itu adalah penghilang kutukan bagi Indumati yang dahulunya adalah bidadari bernama Dyah Harini. Konon bidadari itu dikutuk menjelma menjadi manusia. Ternyata terlahir di dunia ini sebagai manusia adalah kutukan!

Sungsang ketujuh adalah nama salah satu kakawin berjudul Anja-anja Sungsang. Kakawin ini berada dalam satu naskah dengan Anyang Nirartha. Dua bait terakhir disebut Anja-anja Sungsang. Bait pertama menceritakan tentang sebuah bayangan yang membangkitkan rasa rindu. Pengarang konon memohon belas kasihan kepada kekasihnya karena tidak rela ditinggalkan. Katanya, “Dewiku ku mohon, hapuslah air mataku sekarang, mengapa kau begitu kejam?”.

Sungsang kedelapan adalah nama sebuah bunga. Bunga ini konon tumbuh terbalik dan menyatu dengan bunga Alikukun. Bunga ini ada di dalam kakawin Anja-Anja Sungsang. Anja-anja Sungsang berarti pengembara yang kembali.

Sungsang kesembilan yang sekaligus saya gunakan sebagai nomor terakhir adalah Kita. Bagi saya, kita ini adalah Sungsang. Sungsang karena saya merasa kita selalu terbalik. Yang benar sering kita salahkan, sedangkan yang salah selalu kita carikan pembenar. Kita makhluk yang salah, tapi selalu merasa benar. [T]


Kacang [Kamus Cangak]

Sungsang         : Kita

Tags: babadfilsafatrenungansastra
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Ada yang Tercecer dari Sebuah Kecepatan

Next Post

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co