24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada yang Tercecer dari Sebuah Kecepatan

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
January 20, 2020
in Esai
Ada yang Tercecer dari Sebuah Kecepatan

Catatan awal tahun ini adalah catatan kedua saya bersama Teater Kalangan, itu berarti ini adalah tahun kedua saya berproses bersama teman-teman di Teater Kalangan. Banyak hal yang saya pribadi lalui di tahun 2019, seolah-olah hari demi hari terasa begitu berat dan dengan tensi yang begitu cepat saat menjalani segala proses. Tapi yang kadang saya herankan adalah kenapa saya melakukanya juga, entah atas dasar apa semua hal-hal yang lalu terjadi begitu saja di tahun 2019.

Setelah melihat ke belakang kembali baru timbul perasaan bahwa hal yang padat, cepat, dan berat ternyata saya lewati tanpa sadar. Yang kemudian akan menjadi titik timbang untuk ke depanya ketika berproses kembali bersama teman-teman di Teater Kalangan di 2020. Banyak sekali hal yang saya dapatkan dalam tahun 2019 ini. Bagaimana semua hal-hal tersebut terjadi tanpa saya pikirkan dampaknya untuk ke depan, baik itu untuk saya maupun Teater Kalangan.

Saya merasa apa yang terjadi kemarin itu murni atas kemauan dan kesadaran sendiri, yang memang benar tanpa adanya pola berpikir ini untuk apa ke depanya. Kalau saya hitung-hitung kembali, ada beberapa hal besar yang terjadi dalam diri saya ketika melihat apa yang saya dan teman-teman lainya lakukan di 2019.

Entah itu misalnya soal membangun jaringan kepada segala macam lintas disiplin, saya merasakan bahwa merawat jaringan dengan komunitas-komunitas lainya adalah hal yang berdampak besar yang memang terlihatnya sederhana. Tapi ketika saya membaca ulang soal pertemuan-pertemuan saya pribadi maupun atas nama Teater Kalangan. Ketika sekedar bertemu maupun sedikit bertukar pandangan dengan kelompok di luar lingkaran saya di Teater Kalangan. Ada hal yang muncul ketika saya menyadari setiap pertemuan saya dengan orang di luar kelompok saya, ada semacam pandangan berbeda dalam menyikapi kesenian khususnya.

Karena tentu saja dengan proses kreatif berbeda dapat menimbulkan pengetahuan baru, semisal kesenian di pandangan mahasiswa perfilman atau bahkan kesenian dalam pandangan musik metal. Dan pandangan-pandangan lain soal proses kreatif kesenian. Pada saat sadar akan dampak kinerja merawat dan membangun jaringan itu ternyata begitu bagus untuk kesenian muda-mudi seperti saya. Sebab pada ruang-ruang yang kecil biasanya kelompok-kelompok multi disiplin tersebut berkumpul karena ada acara kesenian. Seperti teater, musik, pameran lukis atau bahkan pemutaran film. Acara-acara tersebut kadang menjadi sebuah nilai lebih bagi seniman muda, sebab yang saya rasakan adalah timbulnya sebuah keakraban yang kadang bisa membicarakan hal serius sekali bahkan tidak serius sama sekali. Tapi akhirnya dari obrolan-obrolan dengan latar belakang yang berbeda tersebut, timbul juga perasaan ingin mencoba berproses kreatif bersama dengan latar belakang berbeda semacam kolaborasi. Akhirnya sebuah acara bisa jadi semacam batu loncatan dari sebuah pertemuan, selain mendapat pengetahuan baru soal pementasan tersebut.

Kemudian saat proses kolaborasi itu terjadi pasti akan ada sebuah pembicaraan serta tawar menawar tiap multi disiplin. Saya sering sekali diajak kolaborasi individu tanpa mengajak teman Teater Kalangan lainya, walaupun tetap ada Teater Kalangan sebagai latar belakang. Tapi akhirnya itu menjadi PR besar untuk membawa segala macam pandangan kami di dalam Teater Kalangan untuk kemudian mencocokan diri atau tawar menawar dalam proses kolaborasi. Semisal pada pengalaman saya, ketika diajak untuk mengikuti sebuah garapan film dari mahasiswa ISI. Ketika masuk ke dalam sebuah kelompok yang baru dengan proses kreatif yang berbeda dengan kelompok saya, tentu ada sebuah ketegangan dan temuan lain dalam melihat proses kreatif kelompok lain. Akhirnya pengalaman-pengalaman memasuki kelompok lain itu menjadi bekal baru untuk sekiranya dibicarakan pada kelompok saya. Tentu yang dibicarakan adalah hal-hal yang memang berkaitan dengan teater dan hal-hal di sekitarnya. Untuk menjadi sebuah wawasan baru dalam kelompok. Itu mungkin salah satu cara membangun kelompok.

Tapi saya baru menyadari pentingnya mencari pengalaman di luar kelompok itu pada tahun 2019 lalu. Sebab dalam pandangan saya, apa yang didapat dalam sebuah kolompok itu akan menjadi kaku jika tidak ada kesadaran untuk mencoba bertukar pikiran dengan kelompok lainya. Itu seperti menjadi sebuah refleksi terhadap apa yang sudah dilakukan selama ini, apakah yang dilakukan dengan kelompok beserta tiap anggotanya itu adalah hal yang tepat dalam berproses kreatif. Saya menemukan jawaban tersebut ketika berkunjung ke kelompok lain. Kadang dalam pertemuan dengan anggota kelompok lain saya merasa ada proses pencarian yang lebih tegang, ketimbang pertemuan dengan kelompok sendiri sebab mungkin sudah memiliki visi misi yang sama. Tapi dalam pertemuan dengan kelompok lain itu malah berbeda, selalu ada pementalan-pementalan yang menarik untuk dibahas.

Tapi yang perlu diingat juga adalah bagaimana akhirnya menanamkan kesadaran dalam diri untuk benar-benar merawat dan membangun jaringan tersebut, tentu dengan pendekatan dan pembacaan masing-masing. Serta kesadaran menjaga putaran yang terjadi di kelompok sendiri. Sebab akan menjadi tidak imbang juga ketika terlalu asik bermain di luar hingga lupa soal apa yang sudah dibangun di dalam.

Saya mungkin memang butuh waktu yang lama untuk sadar akan hal ini, sebab sudah berlalu hari demi hari hingga berganti tahun baru mulai menyadari. Padahal  yang sering saya anggap kakak di Teater Kalangan, sering mengingatkan untuk mencoba hal-hal baru dengan kelompok lain. Untuk sekiranya semacam menengok diri sendiri, bagaimana cara bersikap ketika bermain di kelompok lain maupun kelompok sendiri. Untuk sekiranya memberikan jawaban atas pencapaian dan kualitas dalam memahami sesuatu.

Kemudian yang paling mengingatkan tentang 2019 adalah bagaimana kesadaran untuk memperhatikan kedetailan dalam berteater maupun keseharian. Dengan hal yang segalanya begitu cepat kadang sampai tak sempat berpikir sedang melakukan apa, itu juga akhirnya berdampak ke dalam proses keaktoran saya. Sering kali lepas kesadaran dalam membedakan sifat-sifat keaktoran dan sifat-sifat keseharian. Maksudnya begini, dalam kehidupan sehari-sehari kesadaran serta temuan dalam latihan keaktoran bercampur dan kadang menyelinap dalam kegiatan sehari-hari. Itu baik bagi saya karena semacam menjaga dan selalu mengaktifkan antena keaktoran, atau istilah sederhananya adalah latihan bukan pada jam dan ruang latihan. Tapi ketika itu terbalik bagi saya agak sedikit harus dipikirkan, ketika sifat-sifat keaktoran yang sudah dibangun namun ketika pentas dan berada di atas panggung justru ada sifat-sifat keseharian yang muncul. Seperti gerakan alam bawah sadar yang menjadi mekanis saat pentas, detail-detail itu mungkin saya dapatkan ketika berproses dalam setahun ini.

Bagaimana dengan situasi yang seperti apapun seharusnya sifat-sifat keaktoran itu harus dijaga dan dimainkan secara detail. Agar tidak berkesan seperti aktor yang asal melemparkan segala ekspresi serta dialog, tanpa menjaga perasaan saat menemukan arti dan maksud dari kalimat serta ekspresi tersebut. Atau bahkan seperti penari yang menari begitu saja menggerakan tubuhnya, namun dia sendiri tidak mengerti maksud gerakan dan apa yang dirasakanya. Kalau teman saya bilang dalam istilah Bali namanya “Krejang-krejing”. Bergerak begitu bebas, bahkan karena terlalu bebasnya sampai tak sempat mencari lagi bentukan-bentukan lain dan kemungkinanya.

Hal detail itu saya rasa sangat lengket bersarang di pikiran saya. Sebab saat menulis catatan awal tahun ini pun, saya seperti mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah saya kerjakan pada tahun 2019. Begitu banyak pementasan, begitu banyak latihan, begitu banyak bertemu teman baru, begitu cepat mengerjakan segala hal padahal saya sendiri sepertinya belum mampu untuk mengerjakan itu. Terbukti dari begitu banyak dan cepatnya proses-proses tahun kemarin, hanya sedikit serpihan yang benar-benar membekas dalam pikiran maupun tubuh saya.

Itu karena saya merasa kurang detail dalam melakukan apapun. Kemudian saya menasbihkan diri sebagaimana orang-orang lain yang selalu berharap ketika bertemu dengan awal tahun, dengan segala doa dan keinginanya untuk hari-hari yang akan datang. Sepertinya sedikit doa dari saya sendiri untuk diri saya sendiri, agar selalu menjadi pengingat untuk diri sendiri agar lebih hati-hati. Mungkin dengan demikian saya dapat menghasilkan segala hasil yang lebih maksimal, dan kemudian berakibat baik untuk kelompok saya dan orang lain di sekitaran. Selamat Tahun Baru 2020 teman-teman, ingat untuk selalu hati-hati dan detail dalam melakukan apapun. Salam. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Laut Natuna, Rebutan Negara Tetangga

Next Post

Sastra Sungsang

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sastra Sungsang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co