12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sastra Sungsang

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
January 20, 2020
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

“Berlindung pada sastra”. Begitu ada ajaran yang pernah saya dengar dengan telinga Cangak mungil ini. Sastra dalam quote itu berarti segala macam kebijaksanaan. Terutama yang terdapat dalam teks-teks seperti geguritan, kakawin, parwa, upanisad, wedangga, sutra, weda. Mendengar kata-kata itu, membuat saya membayangkan sastra seperti rumah. Rumah sastra tempat saya pulang jika lelah dengan urusan itu dan ini.

Karena sastra adalah rumah, artinya sastralah tempat kita berasal. Ke asal itu pula nanti kita akan kembali setelah melakukan perjalanan jauh. Saya tidak pernah berhenti membayangkan, bahwa hidup ini adalah perjalanan menjauh dari asal. Karena makin hari makin jauh, maka asal itu dengan mudah kita lupakan. Dalam teks-teks Babad yang diwarisi di Bali, kita tidak perlu bersusah-susah menemukan daftar kutukan dari leluhur seandainya kita melupakan asal. Caranya agar ingat, banyak orang yang menempuh jalan berbalik untuk kembali. Kemana? Kembali mengingat asal, leluhur!

Jalan seperti itu disebut nyungsang dalam bahasa Bali. Sejauh ini, ada beberapa hal yang posisinya nyungsang sepengetahuan saya. Nyungsang pertama dilakukan oleh anak tawon. Semasa jadi anak-anak, ia bergantung dalam sarang dengan kepala menghadap ke bawah. Posisi ini dalam teks lontar adalah analogi manusia yang hanya melihat segala kenyataan yang ada di bawah kepalanya. Analogi ini didedikasikan terutama bagi seluruh manusia yang hanya melihat sesuatu hanya dari satu suduh pandang. Karena pengetahuan yang ia dapat hanya dari satu sudut pandang, maka dengan satu sudut pandang itu pula ia menjalani hidupnya.

Nyungsang kedua adalah Ongkara. Ada banyak sekali teks yang bisa dirujuk untuk menjelaskan Ongkara Sungsang. Teks-teks itu tidak akan saya sebutkan satu persatu. Menurut ahlinya ahli Ongkara, Ongkara dengan posisi terbalik adalah simbol air yang terus mengalir. Air yang mengalir itu, bukan sembarang air dan bukan pula air sembarangan. Air itu konon bernama Amerta. A berarti tidak, merta berarti mati. Amerta adalah air yang jika berhasil diminum, membuat peminumnya tidak mati-mati alias abadi.

Nyungsang ketiga adalah Manusia. Saya namakan Manusia Sungsang. Manusia Sungsang ini benar-benar dipraktikkan oleh orang-orang yang memperdalam yoga olah tubuh. Kakinya diangkat ke atas, kepala sebagai tumpuan. Posisi ini disebut Sirsasana.

Nyungsang keempat dipraktikkan oleh salah satu murid Calon Arang. Menurut sumber terpercaya, konon praktik nyungsang ini dilakukan untuk memuja Bhatari Bagawati. Tidak cukup hanya sekadar nyungsang, tapi juga menunjukkan lidahnya yang memanjang. Dengan posisi itu Bhatari Bagawati dipuja dan berkenan muncul di hadapan Calon Arang.

Nyungsang kelima dipraktikkan oleh Kala. Kala selalu dibayangkan secara stereotip berwajah menyeramkan dengan rambut ikal yang panjang. Tubuhnya besar dengan bulu lebih lebat dari hutan hujan tropis. Dalam banyak cerita, Kala bisa mengeluarkan berbagai macam senjata dari pori-porinya. Tidak hanya ratusan, tapi ribuan senjata dan pasukan perang. Kala dalam cerita Sutasoma, bahkan bisa berubah menjadi Naga. Naga jelmaan Kala itu hendak menelan Sutasoma. Kala yang nyungsang disebut Kala Sungsang. Gambar Kala Sungsang ini bisa kita temukan jika kita rajin membaca-baca lontar yang isinya ilmu-ilmu tentang Kala Sungsang. Untuk apa gambar semacam itu? Itu juga yang ingin saya tanyakan kepada yang tahu.

Nyungsang keenam ada dalam cerita Sumanasantaka. Konon ada bunga cempaka yang jatuhnya nyungsang. Ajaibnya, bunga cempaka itu jatuhnya pilih-pilih. Tepat di tengah-tengah dada seorang putri cantik dari kerajaan Widarba. Namanya Indumati. Bunga cempaka itu adalah penghilang kutukan bagi Indumati yang dahulunya adalah bidadari bernama Dyah Harini. Konon bidadari itu dikutuk menjelma menjadi manusia. Ternyata terlahir di dunia ini sebagai manusia adalah kutukan!

Sungsang ketujuh adalah nama salah satu kakawin berjudul Anja-anja Sungsang. Kakawin ini berada dalam satu naskah dengan Anyang Nirartha. Dua bait terakhir disebut Anja-anja Sungsang. Bait pertama menceritakan tentang sebuah bayangan yang membangkitkan rasa rindu. Pengarang konon memohon belas kasihan kepada kekasihnya karena tidak rela ditinggalkan. Katanya, “Dewiku ku mohon, hapuslah air mataku sekarang, mengapa kau begitu kejam?”.

Sungsang kedelapan adalah nama sebuah bunga. Bunga ini konon tumbuh terbalik dan menyatu dengan bunga Alikukun. Bunga ini ada di dalam kakawin Anja-Anja Sungsang. Anja-anja Sungsang berarti pengembara yang kembali.

Sungsang kesembilan yang sekaligus saya gunakan sebagai nomor terakhir adalah Kita. Bagi saya, kita ini adalah Sungsang. Sungsang karena saya merasa kita selalu terbalik. Yang benar sering kita salahkan, sedangkan yang salah selalu kita carikan pembenar. Kita makhluk yang salah, tapi selalu merasa benar. [T]


Kacang [Kamus Cangak]

Sungsang         : Kita

Tags: babadfilsafatrenungansastra
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Ada yang Tercecer dari Sebuah Kecepatan

Next Post

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co