25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Waktu-Luar dan Waktu-Dalam di Tahun Baru

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
January 13, 2020
in Esai
Festival Penonton, Penonton Festival

Banyak yang bilang, mari menyongsong tahun baru yang lebih baik. Yang buruk dibiarkan lalu. Kita bawa cita-cita baik menuju tahun mendatang. Hal-hal yang terjadi di tahun lalu, kita namai masa lalu, mengingatnya kini sebagai kenangan. Sementara tahun baru adalah masa depan. Tempat tumbuh harapan yang kita andaikan sebagai buah capaian diri. Maka masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah tiga rangkaian waktu yang bergerak seperti sungai. Di atasnya adalah tubuh kita. Daun apung yang pasrah mengikuti alir waktu.

Oleh Agustinus, seorang filsuf abad pertengahan, waktu dikategorikan menjadi dua, yakni waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu-luar dan waktu-dalam. Waktu objektif adalah waktu kolektif di luar diri manusia yang ditandai dengan hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Sementara waktu subjektif adalah waktu di dalam diri. Waktu eksistensial yang khusuk pada kualitas persepsi manusia sebagai dasein (aku yang meng-ada, aku yang me-waktu). Dalam pandangan lain, manusia bisa dikatakan sebagai pusat waktu. Tak ada hulu bernama masa lalu, tak ada hilir bernama masa depan. Yang ada hanya aku-waktu. Setiap hari adalah hari ini yang terhayati sepenuh-penuhnya, terhayati sesungguh-sungguhnya.

Jika dipikir, tentu begitu tegang manusia mengalami dua macam putar arus waktu ini. Waktu-luar menuntut kita menjadi bagian dari arena kultural sebuah peradaban. Percepatan, ketangkasan, efesiensi adalah standar yang mesti diperhatikan agar nilai kita tak tertinggal dan senantiasa sejajar dalam masyarakat sosial. Sementara waktu-dalam justru melarutkan kita pada dunia diri. Ruang renung yang suntuk mengeloni kualitas penghayatan diri sebagai individu. Kedua hal ini saling tarik menarik dan menjadikan manusia bingung, manakah sejatinya waktu yang mesti dipercaya?

Aktor teater barangkali merupakan salah satu yang paling terbuka menjadi ruang tatap manusia sebagai makhluk yang mewaktu. Sebab pada kerja aktor teaterlah, masa lalu, masa kini, dan masa depan hadir berkelindan pada satu dunia aktor bernama panggung. Masa lalu ditandai dengan tokoh dalam naskah yang akan dipentaskan, dengan konteks sosial yang terjadi di zaman naskah itu diceritakan dan dibuat. Masa kini adalah proses aktor menghayati dirinya sebagai manusia dengan segala biografi hidupnya, ditambah identitas sebagai aktor, serta proses penciptaan tokoh yang akan dimainkan. Sedang masa depan adalah hasil aktualisasi aktor terhadap tokoh yang dihadirkan di atas panggung pertunjukan.

Bisa dibayangkan, bagaimana tubuh aktor mengandung begitu banyak waktu di dalam tubuhnya. Waktu hidup sendiri sebagai aku-diri, waktu proses dalam menjalani latihan keaktoran sebagai aku-aktor, lalu waktu peran yang akan dimainkan sesuai konteks dan sejarah naskah sebagai aku-tokoh. Pada panggung pertunjukanlah, penonton dapat melihat waktu manusia yang begitu panjang jika dijalani pada kenyataan sehari-hari, kini dimampatkan dalam rangkaian alur, plot, babak, adegan dan durasi pentas dalam tubuh aktor.

Pada panggung pertunjukan pula hadir tawar menawar durasi pentas agar sesuai dengan batas waktu kuat penonton untuk khusuk menyaksikan pentas. Di sinilah kepiawaian aktor dituntut untuk mengelola segala waktu yang hadir dalam panggung. Bagaimana sang aktor membawa waktu-diri, waktu-aktor, dan waktu-tokoh di atas panggung, berinteraksi dengan waktu pemain lain, merespon waktu pentas, dan mengatur waktu gerr dan haru para penonton. Semua waktu terpusat pada diri aktor, sebagai tokoh yang bertugas mengemban gagasan pertunjukan agar mampu memprovokasi cara pandang penonton atas kenyataan hidup sekitarnya.

Di Bali, pada 2019 lalu, kita cukup berbahagia karena disuguhi begitu banyak ragam pentas yang mengingatkan kembali, bahwa panggung teater adalah ruang yang paling mewaktu. Ada Abu Bakar dengan Teater Bumi yang mementaskan ‘Detik-detik Proklamasi’, menghadirkan waktu sejarah Indonesia pada masa kemerdekaan. Ada Putu Satriya Kusuma dengan Teater Selem Putih mementaskan ‘Budak dari Bali Untung Surapati’ berdasarkan riset tentang perdagangan budak di Bali pada waktu kolonial, serta Nanoq da Kansas dengan Bali Eksperimental Teater yang mementaskan ‘Pan Balang Tamak Reborn’, hasil dekonstruksi cerita rakyat Bali yang cukup populer di masa lalu.

Semua pentas yang telah disebutkan mempunyai kecenderungan sama yakni menghidupkan kembali tokoh-tokoh masa lalu sebagai tema pertunjukan. Membawa waktu masa lalu ke dalam waktu panggung hari ini. Ditambah lagi karena semua pertunjukan dipentaskan pada rangkaian acara Festival Bali Jani 2019. Sebuah festival yang khusus menyajikan seni-seni pertunjukan kontemporer Bali hari ini. Tentu jadi menarik untuk dikuliti, bagaimana hubungan tema pertunjukan yang diangkat dengan gagasan dalam festival? Apakah pemilihan tokoh yang diangkat ini terjadi hanya karena keterpengaruhan seniman Bali satu sama lain, cara pandang dunia yang mirip, atau memang kebutuhan untuk menghadirkan tokoh-tokoh masa lalu dalam menjawab segala macam kenyataan yang hadir di Bali saat ini?

Pada panggung yang berbeda, kita juga disuguhi pentas ‘Pembelaan Dirah’ karya Cok Sawitri. Naskah yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1999 ini kemudian dipentaskan kembali pada tahun 2019 dalam acara Borobudur Writers and Cultural Festival. Meski memunculkan ‘Dirah’ yang juga sebagai tokoh dari masa lalu, pentas jadi punya varian gagasan lain ketika Cok menariknya pada persoalan ketokohan ‘Dirah’ pada naskah dan keaktoran ‘Cok’ mememerankan tokoh pada rentang jarak 20 tahun. Bagaimanakah perkembangan gagasan tokoh dan aktor kemudian? Apa saja yang tumbuh dan berubah? Atau sejatinya 20 tahun yang terlewati tak melahirkan perkembangan gagasan apapun lagi?

Lain daripada itu, patut dipertanyakan pula strategi para sutradara dalam mentransfer penghayatan akan waktu-luar dan waktu-dalam dirinya kepada para aktor. Sebab aktor adalah pusat waktu dalam pertunjukan. Sama seperti manusia sebagai pusat waktu bagi dunianya. Aktor tak hanya sekadar robot di atas panggung yang dipakaikan kostum masa lalu, set artistik di masa antah berantah, serta gagasan silang sengkarut antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Apakah para aktor sendiri tahu pada waktu manakah ia berada? Jika tidak, alih-alih mempercayai panggung sebagai ruang yang mewaktu, justru panggung jadi ruang yang kehilangan waktu.

Aktor teater jadi tak ada bedanya dengan manusia-manusia yang kehilangan waktu-dalam dan sibuk dengan runitinas mekanis waktu-luar. Minim kualitas, minim penghayatan. Dalam konteks ini, waktu-dalam dan waktu-luar jadi semakin penting artinya untuk dijadikan sarana melatih kemampuan keaktoran. Waktu-dalam berfungsi sebagai ruang melatih kesadaran, menghayati diri sebagai tokoh utama, yang menggerakan sejarah hidupnya sendiri. Sementara waktu-luar membuat manusia peka atas kedudukannya, sebagai bagian kecil dari sejarah besar peradaban umat manusia.

Alhasil, pentas tak hanya sekadar jadi hitungan angka-angka, meloncat dari panggung satu ke panggung lain, meloncat dari hari satu ke hari lain. Yang seketika kita sadari panggung-panggung telah habis, hari-hari telah terlewati dan tahun tiba-tiba saja sudah berganti baru. Demikianlah kemudian kita baru merasa kehilangan waktu. Maka, agar tak hilang lagi waktu di tahun 2020 ini, atas segala doa dan harapan kawan-kawan teater menyongsong tahun baru, saya pun turut berdoa dan berharap biar panjang waktu membuat pentas-pentas baru. Semoga saja, pentas-pentas yang baru ini bisa membuat penonton berdecak, “ini baru yang namanya pentas! Untung saja aku luwangkan waktu buat menontonnya!” [T]

Denpasar, 2020

Tags: balirenunganTeater
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Musikalisasi Puisi Dies Natalis Undiksha: FBS dan FE Baik, FHIS Mengejutkan

Next Post

Birama Hadir Lewat “Tresna Sing Meganti”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Birama Hadir Lewat “Tresna Sing Meganti”

Birama Hadir Lewat “Tresna Sing Meganti”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co