3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Agus Wiratama by Agus Wiratama
December 30, 2019
in Khas
Selamat Jalan, Mbah Prapto: Kini, Tubuh Gerakmu Abadi

Mbah Prapto (pakai topi, kiri) di sela-sela latihan bersama penulis di Bali

Setelah latihan Gerak di Tejakula, Buleleng, tepatnya di Candi Teja Amertha pada bulan Februari 2019, saya membonceng Mbah Prapto ke penginapkan di rumah temannya yang merupakan seorang pelukis, Nyoman Tusan. Di jalan saya bercerita tentang pengalaman latihan. Saya menceritakan pengalaman saya dengan daun-daun Ketapang yang gugur namun basah kuyup oleh air hujan.

Ketika latihan saya merasa sedih hingga hanyut melihat daun-daun ketapang yang gugur itu, kesedihan yang sepertinya ingin segera saya tanggalkan. Memang benar, ketika latihan saya langsung beralih fokus dari daun ke ombak pantai di hadapan Candi, seolah ingin pergi. Mbah Prapto kurang lebih berkata, “Terima dulu kesedihanmu, jangan pergi begitu saja. Kenali dan terima dengan iklas, setelah itu baru menuju situasi lain,” katanya di atas sepeda motor.

Pernah pula ketika belajar menerima dan memberi dari rekan workshop, saya bertanya dengan lugu tentang batu. Waktu itu latihannya adalah menerima hidup dari orang lain. Tubuh akan bergerak merespon sentuhan atau merespon gerak yang berjarak dari rekan. Saya bertanya, “Mbah, ketika saya bergerak, saya berpikir apakah kita bisa menerima hidup dari benda mati seperti batu misalnya?” Mbah Prapto tertawa dengan suara Khasnya kemudian menjawab, “bisa, tetapi sebelum itu, belajarlah dulu mendengar suara hati orang lain,” dengan suara mengecil yang seolah meledek.

Mbah Prapto atau yang bernama lengkap Suprapto Suryodarmo adalah seorang pria asal Solo yang menjadi guru gerak dan pendiri Padepokan Lemah Putih di Plesungan, karanganyar, Jawa Tengah. Di Bali, Mbah Prapto mendirikan sebuah candi yang disebut Candi Teja Amerta sebagai tempat latihan seni gerak sekaligus berlangsungnya ritual. Di tempat lain, panggung depan Pura Samuan Tiga dan Goa Gajah, Bedulu, Gianyar adalah tempat yang sering digunakan berlatih bersama murid-muridnya.

Ia mengajar tidak hanya di Indonesia, namun keliling dunia. Saya pun sempat bertemu dengan murid-muridnya. Mereka adalah orang-orang yang begitu terbuka. Sangat berbeda dengan turis-turis pada umumnya. Mereka datang untuk berlatih dan menjadi teman, bahkan ada yang berkata mereka merasa seperti keluarga. Salah satu murid Mbah Prapto ada yang bercerita pada saya bahwa sesungguhnya ia tidak mengikuti latihan itu secara penuh. Tetapi, karena masih ingin berkumpul dan diajak oleh teman-teman yang lain, ia lantas bergabung hingga akhir.

Saya tidak paham kedekatan seperti apa yang ditanamkan Mbah Prapto pada diri saya dan teman-teman yang sempat berlatih dengannya. Saya tidak terlalu lama bertemu dengan beliau, meski percakapan memang sering terjadi terutama di atas sepeda motor. Sebab, selama beberapa hari di Tejakula Buleleng, saya bertugas mengantar Mbah Prapto dari rumah Pak Tusan menuju Candi Teja Amerta. Sesekali dalam perjalanan itu, saya yang memulai obrolan dengan pertanyaan mengenai hal-hal tentang latihan.

Beberapa kali di atas motor memang saya yang memulai obrolan. Setiap latihan pagi, saya justru dibangunkan oleh Mbah Prapto. Masih melekat diingatan saya, ketika itu latihan dimulai pukul 04.30 wita. Saya masih nyenyak di atas Kasur di rumah Pak Tusan. Di pagi yang buta itu Mbah Prapto sudah memanggil-manggil dengan suaranya yang lembut. Saya tidak bisa bangun hanya dengan panggilan lembut seperti itu. Giliran Aleksander Gebe dan Nur Hidayatlah yang membangunkan saya dengan agak keras. Ketika sadar dan mendengar panggilan dari Mbah Prapto, saya langsung meloncat untuk membasahi tangan dan mengusap wajah, dengan mata yang masih setengah terbuka kemudian kami berangkat ke Candi.

ALeksander Gebe, seorang aktor dari Komunitas Berkat Yakin pernah berkata pada saya sambil tertawa, “yang latihan siapa, yang bangunin siapa,” katanya.

Pernah pula suatu kali, Mbah Prapto mengejek saya. Ketika itu saya sibuk bergerak dan tubuh merasa sangat lelah. Tanpa saya sadari, mata saya terus menghadap ke bawah sehingga wajah tak terlihat oleh orang sekitar saking fokusnya menunduk. Mbah Prapto memanggil saya, “Gimana Gus?, Gus?” kemudian saya jawab, “Iya, Mbah?”, “Gimana? Sudah ketemu jangkriknya?”. Seketika wajah saya menjadi merah oleh ucapan itu, sementara beberapa teman yang mendengar dan paham, langsung cengar-cengir tertawa melihat saya.

Latihan dengan Mbah Prapto sungguh tidak dapat saya rumuskan dalam beberapa kata. Tapi sangat melekat hingga hari ini. Mungkin karena usaha mendekatkan diri dengan ruang dan situasi yang dibangun membuat kenangan menjadi begitu kuat menancap di kepala saya. Barangkali pula, karena konsep gerak yang tidak hanya untuk pertunjukkan tetapi bisa digunakan sehari-hari. Latihan Mbah Prapto bisa dilakukan sendiri, “sederhana saja” katanya, “Cukup mengingat napas setiap hari”.

Hingga hari ini, saya masih melakukan latihan berdasar hal-hal yang didapat dari  workshop Mbah Prapto juga tambahan dari teman yang juga sama sumbernya. Latihan dengan metode seperti itu membuat saya selalu terbayang ketika workshop berlangsung. Mungkin itu salah satu alasan sehingga, tepat 6 hari yang lalu saya bermimpi bertemu Mbah Prapto di antara jurang dangkal dengan rimbunan pohon raksasa di dekat rumah. Beliau tak melihat saya. Saya mengejarnya hingga terpeleset di tanah miring yang licin. Saya hampir celaka jika saja tidak perpegangan di antara ranting yang bisa saya raih. Namun, Beliau tak juga bisa saya sapa karena saya dihadang seseorang.

Pagi hari pada tanggal 29 Desember 2019 sekitar pukul 04.00, saya membuka Facebook. Saya dibuat kaget dengan beberapa status yang mengatakan meninggalnya Mbah Prapto hari itu pada umur 72 tahun. Pria dengan postur tubuh yang tidak besar dan berumur lebih dari 70 tahun itu sempat membuat saya kagum dengan kebugarannya. Ketika latihan di Goa Gajah Bedulu misalnya, dari tangga paling atas hingga kolam yang berada paling bawah Mbah Prapto bisa naik dan turun tanpa bantuan orang sama sekali, bahkan sampai di bawah mbah prapto masih bisa menari di antara tangga.

Bagaimana saya tidak terkejut mendengar kabar seperti ini mengingat kebugarannya ketika terakhir kali bertemu. Terlebih sempat pula saya mendengar kabar dari Ibed Surgana Yuga, seorang Sutradara di Kalanari Theatre Movement asal Jembrana Bali yang tinggal di Jogja bahwa pada bulan Februari 2020, Mbah Prapto berencana ke Bali.

Tapi sekarang, guru gerak yang mengenalkan saya dengan Joged Amertha ini sudah mencapai gerak abadinya. Pengalaman dengan daun Ketapang di Tejakula harus benar-benar saya gunakan saat ini. “Mungkin kau akan tertawa lagi, Mbah, karena saya baru paham bagaimana cara menerima hidup dari yang mati” Terima kasih, Selamat jalan, Mbah Prapto. kini gerakmu hidup di kepala saya. [T]

Tags: in memoriamTeater
Share111TweetSendShareSend
Previous Post

Kelola Duit 300 Juta, Pusing Juga Susun APBDes – [Cerita Kecil “Panyarikan Desa Adat”]

Next Post

Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Mari Tentukan Sukses Kita Untuk 2020

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co