18 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kiri dan Kanan – Catatan Pembacaan Ensiklopedi Kiwa Tengen

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 26, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebanyak dua puluh buah cakep lontar menjadi rujukan penting dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen [selanjutnya disingkat EKK] karya team penyusun dari Bali Wisdom. Di antara dua puluh cakep itu, ada beberapa lontar yang berjudul sama, yang membedakan adalah nomor kode lontar. Jika dihitung berdasarkan judul, maka lontar yang digunakan adalah sebanyak tiga belas judul lontar. Adapun ketigabelas judul lontar itu: Aji Pangleakan, Aji Wegig, Daging Sabuk, Guna-guna, Kluwung Geni, Pakakas, Pangeraksa Jiwa, Pangrangsukan Kawisesan, Panengen, Pangiwa, Panestian, Sasirep, dan Tatumbalan. Menurut keterangan yang didapat berdasarkan pembacaan pada ‘catatan’ yang dibuat oleh team penyusun buku tersebut, sumber lontar yang digunakan adalah koleksi Dinas Kebudayaan. Pada catatan itu, tidak dijelaskan, Dinas Kebudayaan yang dimaksud. Mungkin yang dimaksud adalah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang pada khususnya adalah Pusat Dokumentasi [Pusdok]. Di Pusdok itulah terdapat perpustakaan yang secara khusus merawat, memelihara, melindungi, dan menyimpan naskah lontar. Tidak ketinggalan, lontar-lontar itu juga disalin dan difoto.

Pemilihan naskah-naskah Pusdok sebagai acuan dalam EKK juga tidak dijelaskan. Asumsi yang lahir, kemungkinan didasarkan pertimbangan jarak serta waktu, meskipun ada beberapa instansi yang mengkoleksi lontar di Bali semisal Gedong Kirtya, UPT. Lontar Universitas Udayana, UNHI, dan beberapa perpustakaan di luar Bali semisal Perpustakaan Nasional RI sampai di luar negeri seperti Perpustakaan Universitas Leiden dan beberapa negara lain yang disebut-sebut oleh kebanyakan peneliti. Dasar pemilihan naskah lontar yang dijadikan acuan dalam EKK, tidak akan dibicarakan lebih lanjut dalam tulisan ini.

Tulisan ini memang didesikasikan sebagai catatan semata atas buku EKK, maka dapat dimaklumi jika strukturnya tidak dapat dikatakan runut. Sebagai catatan, tulisan ini diawali dengan catatan terhadap judul EKK. Kata Ensiklopedi menandakan bahwa buku ini adalah kumpulan atau himpunan tentang Kiwa Tengen. Tidak dijelaskan apa yang dimaksud sebagai Kiwa Tengen. Barangkali dua kata yang menjadi judul itu didasarkan kepada pengetahuan kolektif antara team penyusun dan target pembaca. Alasan ‘pengetahuan kolektif’ itu menjadi masuk akal, sebab sesuatu tidak lagi perlu dijelaskan kepada sesama yang memiliki ketertarikan yang sama. Seperti burung-burung yang tidak lagi menjelaskan tentang udara dan sayap. Mereka hanya perlu menunjukkan cara terbang.

Kata Kiwa Tengen ini menarik untuk dipikir-pikirkan kembali. Benarkah alasan pengetahuan kolektif adalah alasan satu-satunya? Atau mungkin saja, penyusunnya hanya sekadar lupa menerangkan. Menerangkan konsep itu penting, terlebih lagi yang dimaksudkan adalah konsep tentang peta. Peta yang dimaksud, adalah peta tentang ajaran. Ajaran itulah yang diistilahkan oleh penyusun sebagai ‘Ilmu Kebatinan Bali’. Peta yang benar menunjukkan arah yang jelas, jika masih saja ada yang tersesat, semoga tersesat di jalan yang benar. Jika pun tidak semoga ada jalan yang terbuka nanti. Jalan antara pergi atau kembali. Untuk memetakan Kiwa Tengen, mari kita lihat apa yang dikatakan lontar yang dicantumkan sebagai sumber Ensiklopedi Kiwa Tengen seperti berikut ini.

Nian tingkahing angwijilang kasubaganing pangiwa, maka ngaran Aji Lakan, tingkahing ngawetuang gni, maka lwiring pangiwa kabeh, darma bhuta, iki kaweruhakena rumuhun, lamakana sira wruha pasuk wetuning agni, mwah panrusaning agni, kayeki kaweruhakna [EKK, hlm. 322]

[Inilah cara mengeluarkan kemampuan Pangiwa, namanya Aji Lakan, caranya mengeluarkan api, sebagaimana semua Pangiwa, yang disebut Darma Bhuta, inilah yang mesti diketahui lebih dahulu, agar kau mengetahui keluar masuknya api, juga jalannya api, maka ini [patut] diketahui]

Aji Lakan adalah nama salah satu jenis Pangiwa. Demikian yang dapat diketahui dari hasil pembacaan terhadap teks Pangiwa [No. 3211]. Pangiwa tidak – atau lebih tepatnya belum – dijelaskan pada kutipan itu. Tetapi ada satu hal lain yang bisa menjadi kata kunci penting dalam memahami Pangiwa menurut teks Aji Lakan. Telah diterangkan menurut teks tersebut, bahwa Pangiwa juga disebut Dharma Bhuta. Dharma Bhuta perlu diketahui agar tahu cara memasukkan dan mengeluarkan api, juga cara mengalirkan api itu. Intinya, Aji Lakan ini membicarakan perihal yang berhubungan dengan api. Hubungan itu adalah tentang memasukkan, mengeluarkan dan menjalankan. Menurut teks Aji Lakan, api inilah yang patut diketahui. Bahkan menurut keterangan tambahan dari teks Aji Lakan, semua Pangiwa memiliki ciri yang sama [maka lwiring pangiwa kabeh]. Maksudnya, Pangiwa berhubungan dengan api. Tentang Pangiwa dan api, ada baiknya kita lihat kutipan dari teks Pangiwa lain seperti berikut ini.

[…] arupa aku Kala Rudragni kadi meru pangadeganku, mijil agni ring tutuk, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, murub dumilah tri warna, nteg ring akasa […] [EKK, hlm. 362]

[aku berwujud Kala Rudragni bagaikan gunung wujudku, keluar api dari mulut, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, berkobar bercahaya tiga warna, diam di langit]

Tri Maya Murti Sakti adalah nama teks Pangiwa di atas. Kutipan itu mendukung asumsi sebelumnya yang didasarkan kepada Aji Lakan bahwa Pangiwa berhubungan dengan api. Dikatakan bahwa bagi orang yang memahami hakikat Tri Maya Murti, wujudnya dibayangkan seperti api Rudra. Secara eksplisit, disebutkan bahwa dari mulutlah keluar api itu. Warna api ada tiga, tapi tidak disebutkan masing-masing warna yang dimaksud. Jika dihubungkan dengan tiga warna abu sebagai hasil pembakaran, maka ada tiga warna api. Ada api berwarna hitam, ada putih dan ada merah. Meskipun menurut beberapa teks, ada beberapa warna api yang lain, termasuk warna kuning. Campuran keempat warna itulah yang menjadi api kelima yang disebut api panca warna atau brumbun. Lalu teks lain, menyebut cara mengeluarkan api.

mwah yan sira arep meswang apin ta, iki wruhakena Ongkarane ngapit kluwung genine. Ring luhur Ongkara Sumungsang, ngaran, mungguh ring gidat. Ardha candrania alise, windunia slaging alise. Nadania tungtung irunge – ne ring sor, Ongkara ngadeg ngaran mungguh ring dada. Ardha candrania galih pangatep ring bawu, windu ring cekoking kanta. Nadania mucuking lidah [EKK, hlm. 377].

[dan jika kau ingin mengeluarkan apimu, inilah ketahui, Ongkara yang mengapit Kluwung Geni. Di atas ada Ongkara Sumungsang namanya, terletak di kening. Ardha candra adalah alis. Windu ada di antara alis. Nada adalah ujung hidung – yang di bawah, Ongkara Ngadeg namanya, terletak di dada. Ardha candra adalah tulang penghubung bahu, Windu adalah cekung tenggorokan. Nada adalah ujung lidah]

Menurut teks Pangiwa [No. 5167] sebagaimana dikutip di atas, mempertemukan Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang adalah cara mengeluarkan api. Ongkara Ngadeg dan Sungsang adalah dua Ongkara yang di katakan berada di tubuh. Ujung Ongkara Sungsang adalah ujung hidung, sedangkan ujung Ongkara Ngadeg adalah lidah. Jadi batas antara yang Ngadeg dan Sungsang adalah antara hidung dan lidah. Batasnya adalah ruang di dalam mulut yang langsung masuk ke dalam tubuh. Pada ruang itulah segala jenis makanan dan minuman dimasukkan. Ruang itu pula yang jika diikuti sampai ke dalam, maka sulit ditemukan dasarnya. Dasar disebut sulit ditemukan hanya jika dalam [Dalem]. Durga adalah terjemahan bagi ‘ia yang sulit ditemui’, dan Durga menurut kepercayaan banyak orang berstana di Dalem. Dari ‘ruang’ mulut itulah api keluar menurut teks Pangiwa [No. 5167]. Berdasarkan pembacaan selanjutnya, pada teks Pangiwa [No. 6533, tiga naskah kode N/A, serta naskah 857], semuanya membicarakan perihal api. Api yang dimaksud terdiri dari bermacam warna di antaranya hitam, putih, merah, kuning serta kumpulan dari semua warna yang telah disebutkan tadi. Semua api itu, disalurkan lewat organ dalam tubuh manusia kemudian muncul dari beberapa lubang kepala.

Selanjutnya kita bicarakan tentang Panengen. Naskah berjudul Panengen dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen berada pada halaman 262 [dua ratus enam puluh dua]. Pada bagian itu, judul Panengen ditulis sejajar dengan kata Pangleyakan. Cara tulis semacam itu, menandakan bahwa Panengen disamakan dengan Pangleyakan, terlebih di antara kedua kata itu dibatasi dengan garis miring “/” yang semakin memperkuat asumsi, bahwa Panengen disamakan maksudnya dengan Pangleyakan. Naskah Panengen/ Pangleyakan bernomor kode 537 yang digunakan dalam EKK, memuat beberapa ajaran di dalamnya. Menariknya, ajaran itu diberikan nama Pangiwa. Adapun beberapa ajaran di dalam naskah 537 ialah Pangiwa Wisesa [Sarining Panengen], Pangiwa Gni Murti, Pangiwa Gani Komala, Pangiwa Wisesa [Agni Anrawang], Pangiwa Wisesa [Gni Rambat], Pangiwa Gni Anglayang, Pangiwa [Gni Ngelanda Rodra], Pangiwa [Ratna Gni Sudamala], Pangiwa [Tribuwana], Pangiwa [Siwa Tiga], Pangiwa Wisesa [Kreb Bhuwana], Pangiwa Wisesa [Sarining Kalasan Dewantara], Sarin Dewantara [Dewa Dayantu], Pangiwa [Siwa Kurung], Pangiwa Wisesa [Durga Nungsang], Pangiwa [Dewaning Leyak Kabeh, Sapuh Jagat], Pangiwa Utama [Batur Kalika], dan Pangider Gni Ring Sarira.

Ada kelompok teks yang bernama Pangiwa Wisesa, yang termasuk di dalamnya adalah Sarining Panengen, Agni Anrawang, Gni Rambat, Kreb Bhuwana, Sarining Kalasan Dewantara, dan Durga Nungsang. Naskah yang diberikan judul Panengen ini, isinya adalah Pangiwa yang dengan sendirinya juga membicarakan perihal Api. Pada beberapa judul yang disebutkan di atas, bahkan secara eksplisit disebut dengan istilah Gni [Api]. Teks Sarining Panengen menyebut sebagai berikut.

Iti Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, ngaran, utama temen, sakala-niskala, ayu tinemunia. Yan hana wong nganggo pangiwa iki, ri patinia tlaha, atmania mulih ring Siwabhuwana [EKK, hlm 262].

[inilah Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, namanya, sangat utama, sakala niskala, baik hasilnya. Jika ada orang menggunakan pangiwa ini, pada kematiannya nanti, atmanya kembali ke Siwabhuwana].

Sarining Panengen menyebut sendiri ajaran di dalamnya adalah pangiwa. Sedangkan teks Pangiwa Gni Murti yang masih dalam satu naskah dengan Sarining Panengen, menyebutkan jenis-jenis api berdasarkan arah. Jenis api itu adalah api merah di selatan, api kuning di barat, api hitam di utara, api putih di timur. Beberapa teks selanjutnya yang ada di dalam naskah Panengen [No. 537] juga menjelaskan tentang keberadaan api, proses kemunculan, serta beberapa sebutan untuk api. Sampai pada tahapan itu, pembacaan terhadap Ensiklopedi Kiwa Tengen dihentikan, sebab buntulah hasil pencarian terhadap konsep Kiwa-Tengen, Pangiwan-Panengen sebagaimana dimaksudkan pada awal tulisan ini dibuat. Tetapi pencarian tentu masih bisa dilanjutkan, dengan memeriksa sejumlah naskah yang masih menyembunyikan dirinya entah dimana. Sebagai awal, berikut ini ada sebuah petunjuk yang didapat ketika memeriksa satu naskah di dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen, yang secara khusus membicarakan tentang Pangiwa-Panengen. Petunjuk itu ada dalam naskah Pangiwa [No. 6533] yang menyebut:

tingkahing ngamijilang genine ring raganta, yan angangge pangiwa yadian panengen, sama juga abresih den pahening [EKK, hlm. 429].

[cara mengeluarkan api dari tubuh, jika menggunakan cara Pangiwa atau pun Panengen, sama saja ialah dengan membersihkan].

Kalimat selanjutnya dari kutipan di atas adalah penjelasan tentang ‘pembersihan” yang dalam tulisan ini tidak ditunjukkan sebab bersifat teknis, di dalamnya termuat beberapa cara dan juga sarana yang digunakan. Kutipan pendek yang didapat sepanjang pembacaan sekilas pada Ensiklopedi Kiwa Tengen itu barangkali bisa menjadi awal untuk memetakan pencarian tentang Pangiwa dan Panengen. Pencarian mestilah dilanjutkan dengan peta yang jelas. Tentang peta, ada ucapan orang pintar, dikatakannya bahwa “Peta itu, tidak jauh tidak dekat”. Yang namanya pencarian, tidak selalu menemukan. Orang boleh mencarinya kesana atau kesini, tiba-tiba yang menemukan adalah ia yang tidak kemana-mana***

Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying

Next Post

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
0
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

Read moreDetails

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

by Angga Wijaya
August 17, 2026
0
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

Read moreDetails

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
0
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

Read moreDetails

Mengejar Embun Upas ——Saat Manusia Memburu Keajaiban yang Hanya Bertahan Sebentar di Dieng

by Tri Nugroho Adi
August 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Bagaimana mungkin satu fenomena alam yang sama dapat menjadi keajaiban bagi seseorang dan penderitaan bagi orang lain? Kita menunggu embun...

Read moreDetails

Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

by Angga Wijaya
August 15, 2026
0
Bercakap-cakap tentang Sabung Ayam bersama Clifford Geertz

SAYA kembali membuka buku The Interpretation of Cultures karya Clifford Geertz setelah membaca sebuah berita tentang seorang lelaki yang tewas...

Read moreDetails

Dari Duta SMA ke Duta Besar

by I Nyoman Tingkat
August 15, 2026
0
Dari Duta SMA ke Duta Besar

SEJAK Nadiem Makarim menjadi Mendikbud Ristekdikti, Program Duta SMA sudah diluncurkan tepatnya pada 2022 melalui  Direktorat SMA dan terus dilanjutkan...

Read moreDetails

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

by Nur Kamilia
August 14, 2026
0
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

Read moreDetails

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

Read moreDetails

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

Read moreDetails

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika
Panggung

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng
Esai

Tupai Makan Durian? ——Catatan Kecil Keresahan Petani Durian di Desa Pucaksari, Busungbiu Buleleng

BAGI petani durian di Desa Pucaksari, masa panen seharusnya menjadi waktu yang paling dinanti. Setelah berbulan-bulan merawat pohon, menjaga kesuburan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 17, 2026
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan
Panggung

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari
Panggung

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Toko Modern sebagai “Terminal” Urban
Esai

Toko Modern sebagai “Terminal” Urban

KEHADIRAN berbagai toko modern di banyak kota di Indonesia, tidak melulu negatif. Saya kini melihat toko modern menjelma sebagai sebuah...

by Angga Wijaya
August 17, 2026
UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!
Ekonomi

UMKM Naik Kelas: Bicara, Jual, Cuan!

PROGRAM Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menggelar workshop “UMKM...

by Deanda Dewindaru
August 17, 2026
Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana
Esai

Bangunan Tinggi di Bali: Kritik terhadap Solusi yang Terlalu Sederhana

KONVERSI lahan pertanian di Bali telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa dekade terakhir, tekanan pembangunan semakin kuat, terutama di...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 17, 2026
Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati
Pameran

Pameran “Impulse”, Tiga Denyut Abstraksi dari Sukawati

TIGA perupa asal Sukawati, I Made Mahendra Mangku, I Wayan Arnata, dan Made Galung Wiratmaja, mempertemukan karya mereka dalam pameran...

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian
Panggung

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

by Asmaran Dani
August 16, 2026
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan
Ulas Rupa

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu
Ulas Musik

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

by I Made Kartawan
August 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co