7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kiri dan Kanan – Catatan Pembacaan Ensiklopedi Kiwa Tengen

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 26, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebanyak dua puluh buah cakep lontar menjadi rujukan penting dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen [selanjutnya disingkat EKK] karya team penyusun dari Bali Wisdom. Di antara dua puluh cakep itu, ada beberapa lontar yang berjudul sama, yang membedakan adalah nomor kode lontar. Jika dihitung berdasarkan judul, maka lontar yang digunakan adalah sebanyak tiga belas judul lontar. Adapun ketigabelas judul lontar itu: Aji Pangleakan, Aji Wegig, Daging Sabuk, Guna-guna, Kluwung Geni, Pakakas, Pangeraksa Jiwa, Pangrangsukan Kawisesan, Panengen, Pangiwa, Panestian, Sasirep, dan Tatumbalan. Menurut keterangan yang didapat berdasarkan pembacaan pada ‘catatan’ yang dibuat oleh team penyusun buku tersebut, sumber lontar yang digunakan adalah koleksi Dinas Kebudayaan. Pada catatan itu, tidak dijelaskan, Dinas Kebudayaan yang dimaksud. Mungkin yang dimaksud adalah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang pada khususnya adalah Pusat Dokumentasi [Pusdok]. Di Pusdok itulah terdapat perpustakaan yang secara khusus merawat, memelihara, melindungi, dan menyimpan naskah lontar. Tidak ketinggalan, lontar-lontar itu juga disalin dan difoto.

Pemilihan naskah-naskah Pusdok sebagai acuan dalam EKK juga tidak dijelaskan. Asumsi yang lahir, kemungkinan didasarkan pertimbangan jarak serta waktu, meskipun ada beberapa instansi yang mengkoleksi lontar di Bali semisal Gedong Kirtya, UPT. Lontar Universitas Udayana, UNHI, dan beberapa perpustakaan di luar Bali semisal Perpustakaan Nasional RI sampai di luar negeri seperti Perpustakaan Universitas Leiden dan beberapa negara lain yang disebut-sebut oleh kebanyakan peneliti. Dasar pemilihan naskah lontar yang dijadikan acuan dalam EKK, tidak akan dibicarakan lebih lanjut dalam tulisan ini.

Tulisan ini memang didesikasikan sebagai catatan semata atas buku EKK, maka dapat dimaklumi jika strukturnya tidak dapat dikatakan runut. Sebagai catatan, tulisan ini diawali dengan catatan terhadap judul EKK. Kata Ensiklopedi menandakan bahwa buku ini adalah kumpulan atau himpunan tentang Kiwa Tengen. Tidak dijelaskan apa yang dimaksud sebagai Kiwa Tengen. Barangkali dua kata yang menjadi judul itu didasarkan kepada pengetahuan kolektif antara team penyusun dan target pembaca. Alasan ‘pengetahuan kolektif’ itu menjadi masuk akal, sebab sesuatu tidak lagi perlu dijelaskan kepada sesama yang memiliki ketertarikan yang sama. Seperti burung-burung yang tidak lagi menjelaskan tentang udara dan sayap. Mereka hanya perlu menunjukkan cara terbang.

Kata Kiwa Tengen ini menarik untuk dipikir-pikirkan kembali. Benarkah alasan pengetahuan kolektif adalah alasan satu-satunya? Atau mungkin saja, penyusunnya hanya sekadar lupa menerangkan. Menerangkan konsep itu penting, terlebih lagi yang dimaksudkan adalah konsep tentang peta. Peta yang dimaksud, adalah peta tentang ajaran. Ajaran itulah yang diistilahkan oleh penyusun sebagai ‘Ilmu Kebatinan Bali’. Peta yang benar menunjukkan arah yang jelas, jika masih saja ada yang tersesat, semoga tersesat di jalan yang benar. Jika pun tidak semoga ada jalan yang terbuka nanti. Jalan antara pergi atau kembali. Untuk memetakan Kiwa Tengen, mari kita lihat apa yang dikatakan lontar yang dicantumkan sebagai sumber Ensiklopedi Kiwa Tengen seperti berikut ini.

Nian tingkahing angwijilang kasubaganing pangiwa, maka ngaran Aji Lakan, tingkahing ngawetuang gni, maka lwiring pangiwa kabeh, darma bhuta, iki kaweruhakena rumuhun, lamakana sira wruha pasuk wetuning agni, mwah panrusaning agni, kayeki kaweruhakna [EKK, hlm. 322]

[Inilah cara mengeluarkan kemampuan Pangiwa, namanya Aji Lakan, caranya mengeluarkan api, sebagaimana semua Pangiwa, yang disebut Darma Bhuta, inilah yang mesti diketahui lebih dahulu, agar kau mengetahui keluar masuknya api, juga jalannya api, maka ini [patut] diketahui]

Aji Lakan adalah nama salah satu jenis Pangiwa. Demikian yang dapat diketahui dari hasil pembacaan terhadap teks Pangiwa [No. 3211]. Pangiwa tidak – atau lebih tepatnya belum – dijelaskan pada kutipan itu. Tetapi ada satu hal lain yang bisa menjadi kata kunci penting dalam memahami Pangiwa menurut teks Aji Lakan. Telah diterangkan menurut teks tersebut, bahwa Pangiwa juga disebut Dharma Bhuta. Dharma Bhuta perlu diketahui agar tahu cara memasukkan dan mengeluarkan api, juga cara mengalirkan api itu. Intinya, Aji Lakan ini membicarakan perihal yang berhubungan dengan api. Hubungan itu adalah tentang memasukkan, mengeluarkan dan menjalankan. Menurut teks Aji Lakan, api inilah yang patut diketahui. Bahkan menurut keterangan tambahan dari teks Aji Lakan, semua Pangiwa memiliki ciri yang sama [maka lwiring pangiwa kabeh]. Maksudnya, Pangiwa berhubungan dengan api. Tentang Pangiwa dan api, ada baiknya kita lihat kutipan dari teks Pangiwa lain seperti berikut ini.

[…] arupa aku Kala Rudragni kadi meru pangadeganku, mijil agni ring tutuk, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, murub dumilah tri warna, nteg ring akasa […] [EKK, hlm. 362]

[aku berwujud Kala Rudragni bagaikan gunung wujudku, keluar api dari mulut, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, berkobar bercahaya tiga warna, diam di langit]

Tri Maya Murti Sakti adalah nama teks Pangiwa di atas. Kutipan itu mendukung asumsi sebelumnya yang didasarkan kepada Aji Lakan bahwa Pangiwa berhubungan dengan api. Dikatakan bahwa bagi orang yang memahami hakikat Tri Maya Murti, wujudnya dibayangkan seperti api Rudra. Secara eksplisit, disebutkan bahwa dari mulutlah keluar api itu. Warna api ada tiga, tapi tidak disebutkan masing-masing warna yang dimaksud. Jika dihubungkan dengan tiga warna abu sebagai hasil pembakaran, maka ada tiga warna api. Ada api berwarna hitam, ada putih dan ada merah. Meskipun menurut beberapa teks, ada beberapa warna api yang lain, termasuk warna kuning. Campuran keempat warna itulah yang menjadi api kelima yang disebut api panca warna atau brumbun. Lalu teks lain, menyebut cara mengeluarkan api.

mwah yan sira arep meswang apin ta, iki wruhakena Ongkarane ngapit kluwung genine. Ring luhur Ongkara Sumungsang, ngaran, mungguh ring gidat. Ardha candrania alise, windunia slaging alise. Nadania tungtung irunge – ne ring sor, Ongkara ngadeg ngaran mungguh ring dada. Ardha candrania galih pangatep ring bawu, windu ring cekoking kanta. Nadania mucuking lidah [EKK, hlm. 377].

[dan jika kau ingin mengeluarkan apimu, inilah ketahui, Ongkara yang mengapit Kluwung Geni. Di atas ada Ongkara Sumungsang namanya, terletak di kening. Ardha candra adalah alis. Windu ada di antara alis. Nada adalah ujung hidung – yang di bawah, Ongkara Ngadeg namanya, terletak di dada. Ardha candra adalah tulang penghubung bahu, Windu adalah cekung tenggorokan. Nada adalah ujung lidah]

Menurut teks Pangiwa [No. 5167] sebagaimana dikutip di atas, mempertemukan Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang adalah cara mengeluarkan api. Ongkara Ngadeg dan Sungsang adalah dua Ongkara yang di katakan berada di tubuh. Ujung Ongkara Sungsang adalah ujung hidung, sedangkan ujung Ongkara Ngadeg adalah lidah. Jadi batas antara yang Ngadeg dan Sungsang adalah antara hidung dan lidah. Batasnya adalah ruang di dalam mulut yang langsung masuk ke dalam tubuh. Pada ruang itulah segala jenis makanan dan minuman dimasukkan. Ruang itu pula yang jika diikuti sampai ke dalam, maka sulit ditemukan dasarnya. Dasar disebut sulit ditemukan hanya jika dalam [Dalem]. Durga adalah terjemahan bagi ‘ia yang sulit ditemui’, dan Durga menurut kepercayaan banyak orang berstana di Dalem. Dari ‘ruang’ mulut itulah api keluar menurut teks Pangiwa [No. 5167]. Berdasarkan pembacaan selanjutnya, pada teks Pangiwa [No. 6533, tiga naskah kode N/A, serta naskah 857], semuanya membicarakan perihal api. Api yang dimaksud terdiri dari bermacam warna di antaranya hitam, putih, merah, kuning serta kumpulan dari semua warna yang telah disebutkan tadi. Semua api itu, disalurkan lewat organ dalam tubuh manusia kemudian muncul dari beberapa lubang kepala.

Selanjutnya kita bicarakan tentang Panengen. Naskah berjudul Panengen dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen berada pada halaman 262 [dua ratus enam puluh dua]. Pada bagian itu, judul Panengen ditulis sejajar dengan kata Pangleyakan. Cara tulis semacam itu, menandakan bahwa Panengen disamakan dengan Pangleyakan, terlebih di antara kedua kata itu dibatasi dengan garis miring “/” yang semakin memperkuat asumsi, bahwa Panengen disamakan maksudnya dengan Pangleyakan. Naskah Panengen/ Pangleyakan bernomor kode 537 yang digunakan dalam EKK, memuat beberapa ajaran di dalamnya. Menariknya, ajaran itu diberikan nama Pangiwa. Adapun beberapa ajaran di dalam naskah 537 ialah Pangiwa Wisesa [Sarining Panengen], Pangiwa Gni Murti, Pangiwa Gani Komala, Pangiwa Wisesa [Agni Anrawang], Pangiwa Wisesa [Gni Rambat], Pangiwa Gni Anglayang, Pangiwa [Gni Ngelanda Rodra], Pangiwa [Ratna Gni Sudamala], Pangiwa [Tribuwana], Pangiwa [Siwa Tiga], Pangiwa Wisesa [Kreb Bhuwana], Pangiwa Wisesa [Sarining Kalasan Dewantara], Sarin Dewantara [Dewa Dayantu], Pangiwa [Siwa Kurung], Pangiwa Wisesa [Durga Nungsang], Pangiwa [Dewaning Leyak Kabeh, Sapuh Jagat], Pangiwa Utama [Batur Kalika], dan Pangider Gni Ring Sarira.

Ada kelompok teks yang bernama Pangiwa Wisesa, yang termasuk di dalamnya adalah Sarining Panengen, Agni Anrawang, Gni Rambat, Kreb Bhuwana, Sarining Kalasan Dewantara, dan Durga Nungsang. Naskah yang diberikan judul Panengen ini, isinya adalah Pangiwa yang dengan sendirinya juga membicarakan perihal Api. Pada beberapa judul yang disebutkan di atas, bahkan secara eksplisit disebut dengan istilah Gni [Api]. Teks Sarining Panengen menyebut sebagai berikut.

Iti Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, ngaran, utama temen, sakala-niskala, ayu tinemunia. Yan hana wong nganggo pangiwa iki, ri patinia tlaha, atmania mulih ring Siwabhuwana [EKK, hlm 262].

[inilah Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, namanya, sangat utama, sakala niskala, baik hasilnya. Jika ada orang menggunakan pangiwa ini, pada kematiannya nanti, atmanya kembali ke Siwabhuwana].

Sarining Panengen menyebut sendiri ajaran di dalamnya adalah pangiwa. Sedangkan teks Pangiwa Gni Murti yang masih dalam satu naskah dengan Sarining Panengen, menyebutkan jenis-jenis api berdasarkan arah. Jenis api itu adalah api merah di selatan, api kuning di barat, api hitam di utara, api putih di timur. Beberapa teks selanjutnya yang ada di dalam naskah Panengen [No. 537] juga menjelaskan tentang keberadaan api, proses kemunculan, serta beberapa sebutan untuk api. Sampai pada tahapan itu, pembacaan terhadap Ensiklopedi Kiwa Tengen dihentikan, sebab buntulah hasil pencarian terhadap konsep Kiwa-Tengen, Pangiwan-Panengen sebagaimana dimaksudkan pada awal tulisan ini dibuat. Tetapi pencarian tentu masih bisa dilanjutkan, dengan memeriksa sejumlah naskah yang masih menyembunyikan dirinya entah dimana. Sebagai awal, berikut ini ada sebuah petunjuk yang didapat ketika memeriksa satu naskah di dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen, yang secara khusus membicarakan tentang Pangiwa-Panengen. Petunjuk itu ada dalam naskah Pangiwa [No. 6533] yang menyebut:

tingkahing ngamijilang genine ring raganta, yan angangge pangiwa yadian panengen, sama juga abresih den pahening [EKK, hlm. 429].

[cara mengeluarkan api dari tubuh, jika menggunakan cara Pangiwa atau pun Panengen, sama saja ialah dengan membersihkan].

Kalimat selanjutnya dari kutipan di atas adalah penjelasan tentang ‘pembersihan” yang dalam tulisan ini tidak ditunjukkan sebab bersifat teknis, di dalamnya termuat beberapa cara dan juga sarana yang digunakan. Kutipan pendek yang didapat sepanjang pembacaan sekilas pada Ensiklopedi Kiwa Tengen itu barangkali bisa menjadi awal untuk memetakan pencarian tentang Pangiwa dan Panengen. Pencarian mestilah dilanjutkan dengan peta yang jelas. Tentang peta, ada ucapan orang pintar, dikatakannya bahwa “Peta itu, tidak jauh tidak dekat”. Yang namanya pencarian, tidak selalu menemukan. Orang boleh mencarinya kesana atau kesini, tiba-tiba yang menemukan adalah ia yang tidak kemana-mana***

Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying

Next Post

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co