28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kiri dan Kanan – Catatan Pembacaan Ensiklopedi Kiwa Tengen

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
November 26, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Sebanyak dua puluh buah cakep lontar menjadi rujukan penting dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen [selanjutnya disingkat EKK] karya team penyusun dari Bali Wisdom. Di antara dua puluh cakep itu, ada beberapa lontar yang berjudul sama, yang membedakan adalah nomor kode lontar. Jika dihitung berdasarkan judul, maka lontar yang digunakan adalah sebanyak tiga belas judul lontar. Adapun ketigabelas judul lontar itu: Aji Pangleakan, Aji Wegig, Daging Sabuk, Guna-guna, Kluwung Geni, Pakakas, Pangeraksa Jiwa, Pangrangsukan Kawisesan, Panengen, Pangiwa, Panestian, Sasirep, dan Tatumbalan. Menurut keterangan yang didapat berdasarkan pembacaan pada ‘catatan’ yang dibuat oleh team penyusun buku tersebut, sumber lontar yang digunakan adalah koleksi Dinas Kebudayaan. Pada catatan itu, tidak dijelaskan, Dinas Kebudayaan yang dimaksud. Mungkin yang dimaksud adalah Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang pada khususnya adalah Pusat Dokumentasi [Pusdok]. Di Pusdok itulah terdapat perpustakaan yang secara khusus merawat, memelihara, melindungi, dan menyimpan naskah lontar. Tidak ketinggalan, lontar-lontar itu juga disalin dan difoto.

Pemilihan naskah-naskah Pusdok sebagai acuan dalam EKK juga tidak dijelaskan. Asumsi yang lahir, kemungkinan didasarkan pertimbangan jarak serta waktu, meskipun ada beberapa instansi yang mengkoleksi lontar di Bali semisal Gedong Kirtya, UPT. Lontar Universitas Udayana, UNHI, dan beberapa perpustakaan di luar Bali semisal Perpustakaan Nasional RI sampai di luar negeri seperti Perpustakaan Universitas Leiden dan beberapa negara lain yang disebut-sebut oleh kebanyakan peneliti. Dasar pemilihan naskah lontar yang dijadikan acuan dalam EKK, tidak akan dibicarakan lebih lanjut dalam tulisan ini.

Tulisan ini memang didesikasikan sebagai catatan semata atas buku EKK, maka dapat dimaklumi jika strukturnya tidak dapat dikatakan runut. Sebagai catatan, tulisan ini diawali dengan catatan terhadap judul EKK. Kata Ensiklopedi menandakan bahwa buku ini adalah kumpulan atau himpunan tentang Kiwa Tengen. Tidak dijelaskan apa yang dimaksud sebagai Kiwa Tengen. Barangkali dua kata yang menjadi judul itu didasarkan kepada pengetahuan kolektif antara team penyusun dan target pembaca. Alasan ‘pengetahuan kolektif’ itu menjadi masuk akal, sebab sesuatu tidak lagi perlu dijelaskan kepada sesama yang memiliki ketertarikan yang sama. Seperti burung-burung yang tidak lagi menjelaskan tentang udara dan sayap. Mereka hanya perlu menunjukkan cara terbang.

Kata Kiwa Tengen ini menarik untuk dipikir-pikirkan kembali. Benarkah alasan pengetahuan kolektif adalah alasan satu-satunya? Atau mungkin saja, penyusunnya hanya sekadar lupa menerangkan. Menerangkan konsep itu penting, terlebih lagi yang dimaksudkan adalah konsep tentang peta. Peta yang dimaksud, adalah peta tentang ajaran. Ajaran itulah yang diistilahkan oleh penyusun sebagai ‘Ilmu Kebatinan Bali’. Peta yang benar menunjukkan arah yang jelas, jika masih saja ada yang tersesat, semoga tersesat di jalan yang benar. Jika pun tidak semoga ada jalan yang terbuka nanti. Jalan antara pergi atau kembali. Untuk memetakan Kiwa Tengen, mari kita lihat apa yang dikatakan lontar yang dicantumkan sebagai sumber Ensiklopedi Kiwa Tengen seperti berikut ini.

Nian tingkahing angwijilang kasubaganing pangiwa, maka ngaran Aji Lakan, tingkahing ngawetuang gni, maka lwiring pangiwa kabeh, darma bhuta, iki kaweruhakena rumuhun, lamakana sira wruha pasuk wetuning agni, mwah panrusaning agni, kayeki kaweruhakna [EKK, hlm. 322]

[Inilah cara mengeluarkan kemampuan Pangiwa, namanya Aji Lakan, caranya mengeluarkan api, sebagaimana semua Pangiwa, yang disebut Darma Bhuta, inilah yang mesti diketahui lebih dahulu, agar kau mengetahui keluar masuknya api, juga jalannya api, maka ini [patut] diketahui]

Aji Lakan adalah nama salah satu jenis Pangiwa. Demikian yang dapat diketahui dari hasil pembacaan terhadap teks Pangiwa [No. 3211]. Pangiwa tidak – atau lebih tepatnya belum – dijelaskan pada kutipan itu. Tetapi ada satu hal lain yang bisa menjadi kata kunci penting dalam memahami Pangiwa menurut teks Aji Lakan. Telah diterangkan menurut teks tersebut, bahwa Pangiwa juga disebut Dharma Bhuta. Dharma Bhuta perlu diketahui agar tahu cara memasukkan dan mengeluarkan api, juga cara mengalirkan api itu. Intinya, Aji Lakan ini membicarakan perihal yang berhubungan dengan api. Hubungan itu adalah tentang memasukkan, mengeluarkan dan menjalankan. Menurut teks Aji Lakan, api inilah yang patut diketahui. Bahkan menurut keterangan tambahan dari teks Aji Lakan, semua Pangiwa memiliki ciri yang sama [maka lwiring pangiwa kabeh]. Maksudnya, Pangiwa berhubungan dengan api. Tentang Pangiwa dan api, ada baiknya kita lihat kutipan dari teks Pangiwa lain seperti berikut ini.

[…] arupa aku Kala Rudragni kadi meru pangadeganku, mijil agni ring tutuk, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, murub dumilah tri warna, nteg ring akasa […] [EKK, hlm. 362]

[aku berwujud Kala Rudragni bagaikan gunung wujudku, keluar api dari mulut, Om Brahma Gni Jwali Tejomaya, berkobar bercahaya tiga warna, diam di langit]

Tri Maya Murti Sakti adalah nama teks Pangiwa di atas. Kutipan itu mendukung asumsi sebelumnya yang didasarkan kepada Aji Lakan bahwa Pangiwa berhubungan dengan api. Dikatakan bahwa bagi orang yang memahami hakikat Tri Maya Murti, wujudnya dibayangkan seperti api Rudra. Secara eksplisit, disebutkan bahwa dari mulutlah keluar api itu. Warna api ada tiga, tapi tidak disebutkan masing-masing warna yang dimaksud. Jika dihubungkan dengan tiga warna abu sebagai hasil pembakaran, maka ada tiga warna api. Ada api berwarna hitam, ada putih dan ada merah. Meskipun menurut beberapa teks, ada beberapa warna api yang lain, termasuk warna kuning. Campuran keempat warna itulah yang menjadi api kelima yang disebut api panca warna atau brumbun. Lalu teks lain, menyebut cara mengeluarkan api.

mwah yan sira arep meswang apin ta, iki wruhakena Ongkarane ngapit kluwung genine. Ring luhur Ongkara Sumungsang, ngaran, mungguh ring gidat. Ardha candrania alise, windunia slaging alise. Nadania tungtung irunge – ne ring sor, Ongkara ngadeg ngaran mungguh ring dada. Ardha candrania galih pangatep ring bawu, windu ring cekoking kanta. Nadania mucuking lidah [EKK, hlm. 377].

[dan jika kau ingin mengeluarkan apimu, inilah ketahui, Ongkara yang mengapit Kluwung Geni. Di atas ada Ongkara Sumungsang namanya, terletak di kening. Ardha candra adalah alis. Windu ada di antara alis. Nada adalah ujung hidung – yang di bawah, Ongkara Ngadeg namanya, terletak di dada. Ardha candra adalah tulang penghubung bahu, Windu adalah cekung tenggorokan. Nada adalah ujung lidah]

Menurut teks Pangiwa [No. 5167] sebagaimana dikutip di atas, mempertemukan Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang adalah cara mengeluarkan api. Ongkara Ngadeg dan Sungsang adalah dua Ongkara yang di katakan berada di tubuh. Ujung Ongkara Sungsang adalah ujung hidung, sedangkan ujung Ongkara Ngadeg adalah lidah. Jadi batas antara yang Ngadeg dan Sungsang adalah antara hidung dan lidah. Batasnya adalah ruang di dalam mulut yang langsung masuk ke dalam tubuh. Pada ruang itulah segala jenis makanan dan minuman dimasukkan. Ruang itu pula yang jika diikuti sampai ke dalam, maka sulit ditemukan dasarnya. Dasar disebut sulit ditemukan hanya jika dalam [Dalem]. Durga adalah terjemahan bagi ‘ia yang sulit ditemui’, dan Durga menurut kepercayaan banyak orang berstana di Dalem. Dari ‘ruang’ mulut itulah api keluar menurut teks Pangiwa [No. 5167]. Berdasarkan pembacaan selanjutnya, pada teks Pangiwa [No. 6533, tiga naskah kode N/A, serta naskah 857], semuanya membicarakan perihal api. Api yang dimaksud terdiri dari bermacam warna di antaranya hitam, putih, merah, kuning serta kumpulan dari semua warna yang telah disebutkan tadi. Semua api itu, disalurkan lewat organ dalam tubuh manusia kemudian muncul dari beberapa lubang kepala.

Selanjutnya kita bicarakan tentang Panengen. Naskah berjudul Panengen dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen berada pada halaman 262 [dua ratus enam puluh dua]. Pada bagian itu, judul Panengen ditulis sejajar dengan kata Pangleyakan. Cara tulis semacam itu, menandakan bahwa Panengen disamakan dengan Pangleyakan, terlebih di antara kedua kata itu dibatasi dengan garis miring “/” yang semakin memperkuat asumsi, bahwa Panengen disamakan maksudnya dengan Pangleyakan. Naskah Panengen/ Pangleyakan bernomor kode 537 yang digunakan dalam EKK, memuat beberapa ajaran di dalamnya. Menariknya, ajaran itu diberikan nama Pangiwa. Adapun beberapa ajaran di dalam naskah 537 ialah Pangiwa Wisesa [Sarining Panengen], Pangiwa Gni Murti, Pangiwa Gani Komala, Pangiwa Wisesa [Agni Anrawang], Pangiwa Wisesa [Gni Rambat], Pangiwa Gni Anglayang, Pangiwa [Gni Ngelanda Rodra], Pangiwa [Ratna Gni Sudamala], Pangiwa [Tribuwana], Pangiwa [Siwa Tiga], Pangiwa Wisesa [Kreb Bhuwana], Pangiwa Wisesa [Sarining Kalasan Dewantara], Sarin Dewantara [Dewa Dayantu], Pangiwa [Siwa Kurung], Pangiwa Wisesa [Durga Nungsang], Pangiwa [Dewaning Leyak Kabeh, Sapuh Jagat], Pangiwa Utama [Batur Kalika], dan Pangider Gni Ring Sarira.

Ada kelompok teks yang bernama Pangiwa Wisesa, yang termasuk di dalamnya adalah Sarining Panengen, Agni Anrawang, Gni Rambat, Kreb Bhuwana, Sarining Kalasan Dewantara, dan Durga Nungsang. Naskah yang diberikan judul Panengen ini, isinya adalah Pangiwa yang dengan sendirinya juga membicarakan perihal Api. Pada beberapa judul yang disebutkan di atas, bahkan secara eksplisit disebut dengan istilah Gni [Api]. Teks Sarining Panengen menyebut sebagai berikut.

Iti Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, ngaran, utama temen, sakala-niskala, ayu tinemunia. Yan hana wong nganggo pangiwa iki, ri patinia tlaha, atmania mulih ring Siwabhuwana [EKK, hlm 262].

[inilah Pangiwa Wisesa, Sarining Panengen, namanya, sangat utama, sakala niskala, baik hasilnya. Jika ada orang menggunakan pangiwa ini, pada kematiannya nanti, atmanya kembali ke Siwabhuwana].

Sarining Panengen menyebut sendiri ajaran di dalamnya adalah pangiwa. Sedangkan teks Pangiwa Gni Murti yang masih dalam satu naskah dengan Sarining Panengen, menyebutkan jenis-jenis api berdasarkan arah. Jenis api itu adalah api merah di selatan, api kuning di barat, api hitam di utara, api putih di timur. Beberapa teks selanjutnya yang ada di dalam naskah Panengen [No. 537] juga menjelaskan tentang keberadaan api, proses kemunculan, serta beberapa sebutan untuk api. Sampai pada tahapan itu, pembacaan terhadap Ensiklopedi Kiwa Tengen dihentikan, sebab buntulah hasil pencarian terhadap konsep Kiwa-Tengen, Pangiwan-Panengen sebagaimana dimaksudkan pada awal tulisan ini dibuat. Tetapi pencarian tentu masih bisa dilanjutkan, dengan memeriksa sejumlah naskah yang masih menyembunyikan dirinya entah dimana. Sebagai awal, berikut ini ada sebuah petunjuk yang didapat ketika memeriksa satu naskah di dalam Ensiklopedi Kiwa Tengen, yang secara khusus membicarakan tentang Pangiwa-Panengen. Petunjuk itu ada dalam naskah Pangiwa [No. 6533] yang menyebut:

tingkahing ngamijilang genine ring raganta, yan angangge pangiwa yadian panengen, sama juga abresih den pahening [EKK, hlm. 429].

[cara mengeluarkan api dari tubuh, jika menggunakan cara Pangiwa atau pun Panengen, sama saja ialah dengan membersihkan].

Kalimat selanjutnya dari kutipan di atas adalah penjelasan tentang ‘pembersihan” yang dalam tulisan ini tidak ditunjukkan sebab bersifat teknis, di dalamnya termuat beberapa cara dan juga sarana yang digunakan. Kutipan pendek yang didapat sepanjang pembacaan sekilas pada Ensiklopedi Kiwa Tengen itu barangkali bisa menjadi awal untuk memetakan pencarian tentang Pangiwa dan Panengen. Pencarian mestilah dilanjutkan dengan peta yang jelas. Tentang peta, ada ucapan orang pintar, dikatakannya bahwa “Peta itu, tidak jauh tidak dekat”. Yang namanya pencarian, tidak selalu menemukan. Orang boleh mencarinya kesana atau kesini, tiba-tiba yang menemukan adalah ia yang tidak kemana-mana***

Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Media Sosial, Wadah Caring dan Sharing Bukan Bullying

Next Post

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails
Next Post
Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Pendidikan Teruna Nyoman “Sangu Urip” Bali Aga Tenganan Pegringsingan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co