23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyerap Bahasa Daerah, Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 15, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Kami pemuda pemudi  Indonesia

                Menjunjung tinggi bahasa persatuan

                Bahasa Indonesia..”

                ( bait ketiga teks Sumpah Pemuda )

____

Samar-samar masih terdengar pembacaan bait terakhir Sumpah Pemuda itu di stasiun televisi swasta sore itu. Ada rasa tak nyaman di hati membandingkan bunyi sumpah tersebut dengan situasi terkini perkembangan bahasa nasional yang ingin kita junjung tinggi itu.

Saya termasuk penggemar rubrik bahasa di koran dan majalah. Yang saya tahu harian Kompas, mingguan Tempo dan majalah bulanan Intisari rutin menampilkan kolom tentang bahasa (Indonesia) dalam setiap penerbitan mereka. Banyak pemerhati bahasa yang menulis disana. Nama yang paling legendaris mungkin JS Badudu, saking legendanya, kalau ada yang terkesan memakai bahasa Indonesia dengan begitu rapinya (seperti putra sulung saya). Tak pelak diledek seakan seorang JS Badudu.

Bahkan belakangan saya melihat ada seorang berkebangsaan Swedia yang rutin menulis kritik tentang bahasa Indonesia di harian Kompas dan majalah Intisari. Terlepas dari istrinya yang seorang Jawa, kecintaannya pada Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa kita sebenarnya adalah bahasa yang menarik dan layak untuk dipelajari lebih jauh setidaknya menurut si Swedia itu.

Dan yang pernah saya dengar dan baca juga, bahwasanya bahasa Indonesia secara teknis memenuhi standar untuk dijadikan bahasa pengantar di tingkat internasional. Barangkali karena bahasa kita gampang dipelajari, baik dari pengucapan maupun penulisannya dan yang utama mungkin karena sifatnya yang egaliter, tak mengenal tingkatan bagi penggunanya. Bisa kita bayangkan suatu saat nanti, kita bepergian ke luar negeri, tanpa perlu mempelajari bahasa di negara tujuan, karena mereka sudah fasih dengan bahasa kita. Mudah mudahan ini bukanlah mimpi yang kepagian.

Dari kegemaran membaca rubrik tersebut, termasuk membaca tulisan baik berupa essay maupun puisi saya menemukan banyak  kata yang menarik hati meskipun tak banyak dipergunakan lagi saat ini. Kata lindap, berkelindan, bersiponggang menurut saya benar-benar  unik dan tak mudah mencari kesamaannya dengan kata yang ada maupun dengan kata dari bahasa asing. Dari suatu rubrik sempat saya baca juga, bahwa kata santai, diserap dari sebuah bahasa daerah yaitu daerah Ogan Komering di daerah Sumatera sana.

Duo kata mengunggah dan mengunduh (dari  bahasa Sunda) saya rasa lebih eksotik dari kata upload dan download. Dalam tulisan Goenawan Muhhamad ada dua kata yang saya yakini beliau serap dari bahasa ibu saya, yaitu bahasa Bali, dan ini sangat membahagiakan saya. Seorang penulis kaliber nasional peduli pada bahasa yang kita sendiri sudah mulai jarang mempergunakannya dalam percakapan sehari- hari. Kata “tundung” pernah beliau pakai pada sebuah tulisannya. Dia yang tertundung dari tanah kelahirannya sendiri. Dia lebih memilih kata tundung ketimbang usir, dengan pertimbangan keindahan dan keunikannya barangkali. Kata “kendat” dalam perlawanan tanpa kendat melawan ketidak adilan. 

Kata kendat disini mengingatkan saya pada tali kenat, atau ungkapan kenatin pada permainan layang layang untuk anak anak kita di pedesaan Bali. Kata kendat atau kenat ini bermakna kendali, ulur atau kompromi barangkali. Dan saat dipilih kata kendat dalam tulisan itu, terasa lebih enak dibaca dan menyentuh rasa indah kita, dibandingkan misalnya tanpa kompromi, atau tanpa bisa ditawar untuk pilihan lainnya.

Dalam kehidupan sehari hari kita, dan terutama anak anak kita saat ini diharuskan untuk menguasai minimal tiga bahasa. Bahasa Indonesia sebagai pengantar di sekolah atau tempat kerja, bahasa Inggris untuk bisa berkomunikasi minimal  karena kita hidup di daerah pariwisata dan terakhir bahasa daerah Bali yang terkesan dipaksakan pada anak anak kita untuk juga menguasinya.

Ada kesan inferioritas antar satu bahasa dengan yang lainnya. Saat seseorang terlihat fasih berbahasa Inggris, dia akan terlihat modern dan banyak pergaulan dibandingkan dengan yang memakai bahasa Indonesia apalagi dengan yang memakai bahasa daerah. Nama sebuah perumahan, acara di teve ataupun sebuah kegiatan akan terlihat lebih menjual kalau menyelipkan sedikit bahasa Inggris.

Saya sendiri mengalaminya saat mengikuti sebuah seminar bidang kedokteran di kampus almamater saya. Saat seorang pemakalah menyampaikan materi dalam bahasa Inggris, saya merasa telah rugi jauh jauh meninggalkan tempat kerja untuk sebuah seminar yang saya tak terlalu mengerti isinya. Dan saya yakin sebagian dari pesrta yang usianya sebaya saya atau yang lebih tua pasti merasakan situasi yang sama seperti saya.

Dan mereka menyimpannya dalam hati, karena mereka malu untuk mengakui ketakmampuannya berbahasa asing kepada orang lain. Dan yang saya dengar memang saat ini kalau mau kuliah di kedokteran harus lebih siap karena bahasa pengantar yang digunakannya adalah bahasa Inggris. Sehingga mungkin tamatan dokter yang jauh lebih muda dari saya memang sudah sangat siap untuk menerima materi seminar dalam bahasa Inggris, tak seperti kami dokter dokter produksi lawas.

Kebijakan Gubernur Bali terkait penggunaan bahasa termasuk aksara Bali di papan nama instansi instansi pemerintah secara kasat mata cukup membuat masyarakat merasakan kembali bahwa bahasa dan juga aksara bali masih tetap ada di masyarakat. Tetapi kenyataan sendiri untuk anak anak kita, termasuk tiga anak saya yang masih sekolah di SD. Bahasa daerah Bali termasuk mata pelajaran yang kurang disukai dan memang menjadi  musuh berat untuk mereka.

Dan saya sendiri tak punya resep khusus untuk  ini, karena saat saya diminta membantu menyelesaikan tugas dalam bahasa Bali, apalagi tulisan Bali. Saya langsung angkat tangan, ”Coba minta tolong Bunda, Ayah dari SD sampai SMA tak mampu  membaca aksara Bali dengan baik”,begitu kilah saya.

Tapi untuk bahasa Bali, saya cukup menyukainya. Puisi karya Made Taro sasih karo ring Bali, sampai saat ini bisa saya ingat kata katanya. Karya penyair muda Dharma putra, putu Supartika membuat saya ingin menengok kembali bahasa ibu yang nyaris kita lupakan.

Demikianlah situasi kita saat ini, dengan kemungkinan menguasai tiga bahasa tersebut membuka kesempatan bagi kita untuk lebih tahu budaya asal bahasa tersebut dan juga karya sastra yang ditulis dalam bahasa tersebut. Tapi sisi negatifnya ini menjadi beban tambahan bagi mereka yang merasa tak punya ketertarikan khusus pada bahasa tersebut selain bagi mereka yang secara ekonomi memang harus tahu bahasa asing tertentu. Mereka yang bergerak di bidang pariwisata yang saya kira mempelajari bahasa asing dengan alasan ekonomi sebagai motivasi utamanya.

Mungkin kita, termasuk saya sendiri mesti menurunkan standar kita pada diri sendiri dan terutama pada anak-anak kita. Kalau mereka memang tak terlalu tertarik untuk tahu bahasa Bali, saya tak akan terlalu memaksakannya. Tapi saya tak akan lelah untuk menunjukkan pada mereka hal hal yang indah yang tersembunyi di balik sebuah bahasa, entah bahasa Indonesia maupun bahasa bali.

Dan akhirnya ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, terlalu naïf kalau kita abaikan begitu saja. Saat kita mempergunakan bahasa nasional kita termasuk bahasa daerah dengan baik. Bahkan tergerak untuk memperkayanya dengan kata kata  baru yang tak mesti berasal dari bahasa asing. Itu kan membuat sumpah kita untuk  menjunjung bahasa persatuan kita bukanlah sumpah tanpa makna.

Bahkan salah satu keunggulan utama Chairil Anwar dibandingkan penyair yang seangkatan dengannya adalah karena kemampuan beliau untuk memperkenalkan kata kata baru, ungkapan baru maupun cara penggunanaan yang tak jamak untuk zaman itu. Dan terbukti puisi puisi beliau bersifat abadi karena penggunaan kata kata yang baru dan unik tersebut.

Oya ada dua kata yang baru saya tahu ada padanannya dalam bahasa Indonesia, tapi  tak banyak orang yang tahu saya kira. Karena di media massa terlebih media sosial masih dipakai kata yang berasal dari bahasa Inggris. Kata bullying ternyata sudah punya padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu perundungan. Dan yang kedua kata bidang kesehatan yang paling populerbelakangan ini apalagi setelah pergantian menteri Kesehatan adalah kata stunting, anak kerdil yang ternyata sudah kita punya padanannya  yaitu tengkes.

Akhirnya, Jayalah bangsaku, majulah bahasanya.[T]

Tags: Bahasabahasa daerahBahasa Indonesiasumpah pemuda
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali Utara Cuaca Panas-Dingin, Hatiku Juga

Next Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co