12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyerap Bahasa Daerah, Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 15, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Kami pemuda pemudi  Indonesia

                Menjunjung tinggi bahasa persatuan

                Bahasa Indonesia..”

                ( bait ketiga teks Sumpah Pemuda )

____

Samar-samar masih terdengar pembacaan bait terakhir Sumpah Pemuda itu di stasiun televisi swasta sore itu. Ada rasa tak nyaman di hati membandingkan bunyi sumpah tersebut dengan situasi terkini perkembangan bahasa nasional yang ingin kita junjung tinggi itu.

Saya termasuk penggemar rubrik bahasa di koran dan majalah. Yang saya tahu harian Kompas, mingguan Tempo dan majalah bulanan Intisari rutin menampilkan kolom tentang bahasa (Indonesia) dalam setiap penerbitan mereka. Banyak pemerhati bahasa yang menulis disana. Nama yang paling legendaris mungkin JS Badudu, saking legendanya, kalau ada yang terkesan memakai bahasa Indonesia dengan begitu rapinya (seperti putra sulung saya). Tak pelak diledek seakan seorang JS Badudu.

Bahkan belakangan saya melihat ada seorang berkebangsaan Swedia yang rutin menulis kritik tentang bahasa Indonesia di harian Kompas dan majalah Intisari. Terlepas dari istrinya yang seorang Jawa, kecintaannya pada Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa kita sebenarnya adalah bahasa yang menarik dan layak untuk dipelajari lebih jauh setidaknya menurut si Swedia itu.

Dan yang pernah saya dengar dan baca juga, bahwasanya bahasa Indonesia secara teknis memenuhi standar untuk dijadikan bahasa pengantar di tingkat internasional. Barangkali karena bahasa kita gampang dipelajari, baik dari pengucapan maupun penulisannya dan yang utama mungkin karena sifatnya yang egaliter, tak mengenal tingkatan bagi penggunanya. Bisa kita bayangkan suatu saat nanti, kita bepergian ke luar negeri, tanpa perlu mempelajari bahasa di negara tujuan, karena mereka sudah fasih dengan bahasa kita. Mudah mudahan ini bukanlah mimpi yang kepagian.

Dari kegemaran membaca rubrik tersebut, termasuk membaca tulisan baik berupa essay maupun puisi saya menemukan banyak  kata yang menarik hati meskipun tak banyak dipergunakan lagi saat ini. Kata lindap, berkelindan, bersiponggang menurut saya benar-benar  unik dan tak mudah mencari kesamaannya dengan kata yang ada maupun dengan kata dari bahasa asing. Dari suatu rubrik sempat saya baca juga, bahwa kata santai, diserap dari sebuah bahasa daerah yaitu daerah Ogan Komering di daerah Sumatera sana.

Duo kata mengunggah dan mengunduh (dari  bahasa Sunda) saya rasa lebih eksotik dari kata upload dan download. Dalam tulisan Goenawan Muhhamad ada dua kata yang saya yakini beliau serap dari bahasa ibu saya, yaitu bahasa Bali, dan ini sangat membahagiakan saya. Seorang penulis kaliber nasional peduli pada bahasa yang kita sendiri sudah mulai jarang mempergunakannya dalam percakapan sehari- hari. Kata “tundung” pernah beliau pakai pada sebuah tulisannya. Dia yang tertundung dari tanah kelahirannya sendiri. Dia lebih memilih kata tundung ketimbang usir, dengan pertimbangan keindahan dan keunikannya barangkali. Kata “kendat” dalam perlawanan tanpa kendat melawan ketidak adilan. 

Kata kendat disini mengingatkan saya pada tali kenat, atau ungkapan kenatin pada permainan layang layang untuk anak anak kita di pedesaan Bali. Kata kendat atau kenat ini bermakna kendali, ulur atau kompromi barangkali. Dan saat dipilih kata kendat dalam tulisan itu, terasa lebih enak dibaca dan menyentuh rasa indah kita, dibandingkan misalnya tanpa kompromi, atau tanpa bisa ditawar untuk pilihan lainnya.

Dalam kehidupan sehari hari kita, dan terutama anak anak kita saat ini diharuskan untuk menguasai minimal tiga bahasa. Bahasa Indonesia sebagai pengantar di sekolah atau tempat kerja, bahasa Inggris untuk bisa berkomunikasi minimal  karena kita hidup di daerah pariwisata dan terakhir bahasa daerah Bali yang terkesan dipaksakan pada anak anak kita untuk juga menguasinya.

Ada kesan inferioritas antar satu bahasa dengan yang lainnya. Saat seseorang terlihat fasih berbahasa Inggris, dia akan terlihat modern dan banyak pergaulan dibandingkan dengan yang memakai bahasa Indonesia apalagi dengan yang memakai bahasa daerah. Nama sebuah perumahan, acara di teve ataupun sebuah kegiatan akan terlihat lebih menjual kalau menyelipkan sedikit bahasa Inggris.

Saya sendiri mengalaminya saat mengikuti sebuah seminar bidang kedokteran di kampus almamater saya. Saat seorang pemakalah menyampaikan materi dalam bahasa Inggris, saya merasa telah rugi jauh jauh meninggalkan tempat kerja untuk sebuah seminar yang saya tak terlalu mengerti isinya. Dan saya yakin sebagian dari pesrta yang usianya sebaya saya atau yang lebih tua pasti merasakan situasi yang sama seperti saya.

Dan mereka menyimpannya dalam hati, karena mereka malu untuk mengakui ketakmampuannya berbahasa asing kepada orang lain. Dan yang saya dengar memang saat ini kalau mau kuliah di kedokteran harus lebih siap karena bahasa pengantar yang digunakannya adalah bahasa Inggris. Sehingga mungkin tamatan dokter yang jauh lebih muda dari saya memang sudah sangat siap untuk menerima materi seminar dalam bahasa Inggris, tak seperti kami dokter dokter produksi lawas.

Kebijakan Gubernur Bali terkait penggunaan bahasa termasuk aksara Bali di papan nama instansi instansi pemerintah secara kasat mata cukup membuat masyarakat merasakan kembali bahwa bahasa dan juga aksara bali masih tetap ada di masyarakat. Tetapi kenyataan sendiri untuk anak anak kita, termasuk tiga anak saya yang masih sekolah di SD. Bahasa daerah Bali termasuk mata pelajaran yang kurang disukai dan memang menjadi  musuh berat untuk mereka.

Dan saya sendiri tak punya resep khusus untuk  ini, karena saat saya diminta membantu menyelesaikan tugas dalam bahasa Bali, apalagi tulisan Bali. Saya langsung angkat tangan, ”Coba minta tolong Bunda, Ayah dari SD sampai SMA tak mampu  membaca aksara Bali dengan baik”,begitu kilah saya.

Tapi untuk bahasa Bali, saya cukup menyukainya. Puisi karya Made Taro sasih karo ring Bali, sampai saat ini bisa saya ingat kata katanya. Karya penyair muda Dharma putra, putu Supartika membuat saya ingin menengok kembali bahasa ibu yang nyaris kita lupakan.

Demikianlah situasi kita saat ini, dengan kemungkinan menguasai tiga bahasa tersebut membuka kesempatan bagi kita untuk lebih tahu budaya asal bahasa tersebut dan juga karya sastra yang ditulis dalam bahasa tersebut. Tapi sisi negatifnya ini menjadi beban tambahan bagi mereka yang merasa tak punya ketertarikan khusus pada bahasa tersebut selain bagi mereka yang secara ekonomi memang harus tahu bahasa asing tertentu. Mereka yang bergerak di bidang pariwisata yang saya kira mempelajari bahasa asing dengan alasan ekonomi sebagai motivasi utamanya.

Mungkin kita, termasuk saya sendiri mesti menurunkan standar kita pada diri sendiri dan terutama pada anak-anak kita. Kalau mereka memang tak terlalu tertarik untuk tahu bahasa Bali, saya tak akan terlalu memaksakannya. Tapi saya tak akan lelah untuk menunjukkan pada mereka hal hal yang indah yang tersembunyi di balik sebuah bahasa, entah bahasa Indonesia maupun bahasa bali.

Dan akhirnya ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, terlalu naïf kalau kita abaikan begitu saja. Saat kita mempergunakan bahasa nasional kita termasuk bahasa daerah dengan baik. Bahkan tergerak untuk memperkayanya dengan kata kata  baru yang tak mesti berasal dari bahasa asing. Itu kan membuat sumpah kita untuk  menjunjung bahasa persatuan kita bukanlah sumpah tanpa makna.

Bahkan salah satu keunggulan utama Chairil Anwar dibandingkan penyair yang seangkatan dengannya adalah karena kemampuan beliau untuk memperkenalkan kata kata baru, ungkapan baru maupun cara penggunanaan yang tak jamak untuk zaman itu. Dan terbukti puisi puisi beliau bersifat abadi karena penggunaan kata kata yang baru dan unik tersebut.

Oya ada dua kata yang baru saya tahu ada padanannya dalam bahasa Indonesia, tapi  tak banyak orang yang tahu saya kira. Karena di media massa terlebih media sosial masih dipakai kata yang berasal dari bahasa Inggris. Kata bullying ternyata sudah punya padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu perundungan. Dan yang kedua kata bidang kesehatan yang paling populerbelakangan ini apalagi setelah pergantian menteri Kesehatan adalah kata stunting, anak kerdil yang ternyata sudah kita punya padanannya  yaitu tengkes.

Akhirnya, Jayalah bangsaku, majulah bahasanya.[T]

Tags: Bahasabahasa daerahBahasa Indonesiasumpah pemuda
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali Utara Cuaca Panas-Dingin, Hatiku Juga

Next Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co