2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyerap Bahasa Daerah, Menjunjung Tinggi Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
November 15, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

“Kami pemuda pemudi  Indonesia

                Menjunjung tinggi bahasa persatuan

                Bahasa Indonesia..”

                ( bait ketiga teks Sumpah Pemuda )

____

Samar-samar masih terdengar pembacaan bait terakhir Sumpah Pemuda itu di stasiun televisi swasta sore itu. Ada rasa tak nyaman di hati membandingkan bunyi sumpah tersebut dengan situasi terkini perkembangan bahasa nasional yang ingin kita junjung tinggi itu.

Saya termasuk penggemar rubrik bahasa di koran dan majalah. Yang saya tahu harian Kompas, mingguan Tempo dan majalah bulanan Intisari rutin menampilkan kolom tentang bahasa (Indonesia) dalam setiap penerbitan mereka. Banyak pemerhati bahasa yang menulis disana. Nama yang paling legendaris mungkin JS Badudu, saking legendanya, kalau ada yang terkesan memakai bahasa Indonesia dengan begitu rapinya (seperti putra sulung saya). Tak pelak diledek seakan seorang JS Badudu.

Bahkan belakangan saya melihat ada seorang berkebangsaan Swedia yang rutin menulis kritik tentang bahasa Indonesia di harian Kompas dan majalah Intisari. Terlepas dari istrinya yang seorang Jawa, kecintaannya pada Bahasa Indonesia menunjukkan bahwa bahasa kita sebenarnya adalah bahasa yang menarik dan layak untuk dipelajari lebih jauh setidaknya menurut si Swedia itu.

Dan yang pernah saya dengar dan baca juga, bahwasanya bahasa Indonesia secara teknis memenuhi standar untuk dijadikan bahasa pengantar di tingkat internasional. Barangkali karena bahasa kita gampang dipelajari, baik dari pengucapan maupun penulisannya dan yang utama mungkin karena sifatnya yang egaliter, tak mengenal tingkatan bagi penggunanya. Bisa kita bayangkan suatu saat nanti, kita bepergian ke luar negeri, tanpa perlu mempelajari bahasa di negara tujuan, karena mereka sudah fasih dengan bahasa kita. Mudah mudahan ini bukanlah mimpi yang kepagian.

Dari kegemaran membaca rubrik tersebut, termasuk membaca tulisan baik berupa essay maupun puisi saya menemukan banyak  kata yang menarik hati meskipun tak banyak dipergunakan lagi saat ini. Kata lindap, berkelindan, bersiponggang menurut saya benar-benar  unik dan tak mudah mencari kesamaannya dengan kata yang ada maupun dengan kata dari bahasa asing. Dari suatu rubrik sempat saya baca juga, bahwa kata santai, diserap dari sebuah bahasa daerah yaitu daerah Ogan Komering di daerah Sumatera sana.

Duo kata mengunggah dan mengunduh (dari  bahasa Sunda) saya rasa lebih eksotik dari kata upload dan download. Dalam tulisan Goenawan Muhhamad ada dua kata yang saya yakini beliau serap dari bahasa ibu saya, yaitu bahasa Bali, dan ini sangat membahagiakan saya. Seorang penulis kaliber nasional peduli pada bahasa yang kita sendiri sudah mulai jarang mempergunakannya dalam percakapan sehari- hari. Kata “tundung” pernah beliau pakai pada sebuah tulisannya. Dia yang tertundung dari tanah kelahirannya sendiri. Dia lebih memilih kata tundung ketimbang usir, dengan pertimbangan keindahan dan keunikannya barangkali. Kata “kendat” dalam perlawanan tanpa kendat melawan ketidak adilan. 

Kata kendat disini mengingatkan saya pada tali kenat, atau ungkapan kenatin pada permainan layang layang untuk anak anak kita di pedesaan Bali. Kata kendat atau kenat ini bermakna kendali, ulur atau kompromi barangkali. Dan saat dipilih kata kendat dalam tulisan itu, terasa lebih enak dibaca dan menyentuh rasa indah kita, dibandingkan misalnya tanpa kompromi, atau tanpa bisa ditawar untuk pilihan lainnya.

Dalam kehidupan sehari hari kita, dan terutama anak anak kita saat ini diharuskan untuk menguasai minimal tiga bahasa. Bahasa Indonesia sebagai pengantar di sekolah atau tempat kerja, bahasa Inggris untuk bisa berkomunikasi minimal  karena kita hidup di daerah pariwisata dan terakhir bahasa daerah Bali yang terkesan dipaksakan pada anak anak kita untuk juga menguasinya.

Ada kesan inferioritas antar satu bahasa dengan yang lainnya. Saat seseorang terlihat fasih berbahasa Inggris, dia akan terlihat modern dan banyak pergaulan dibandingkan dengan yang memakai bahasa Indonesia apalagi dengan yang memakai bahasa daerah. Nama sebuah perumahan, acara di teve ataupun sebuah kegiatan akan terlihat lebih menjual kalau menyelipkan sedikit bahasa Inggris.

Saya sendiri mengalaminya saat mengikuti sebuah seminar bidang kedokteran di kampus almamater saya. Saat seorang pemakalah menyampaikan materi dalam bahasa Inggris, saya merasa telah rugi jauh jauh meninggalkan tempat kerja untuk sebuah seminar yang saya tak terlalu mengerti isinya. Dan saya yakin sebagian dari pesrta yang usianya sebaya saya atau yang lebih tua pasti merasakan situasi yang sama seperti saya.

Dan mereka menyimpannya dalam hati, karena mereka malu untuk mengakui ketakmampuannya berbahasa asing kepada orang lain. Dan yang saya dengar memang saat ini kalau mau kuliah di kedokteran harus lebih siap karena bahasa pengantar yang digunakannya adalah bahasa Inggris. Sehingga mungkin tamatan dokter yang jauh lebih muda dari saya memang sudah sangat siap untuk menerima materi seminar dalam bahasa Inggris, tak seperti kami dokter dokter produksi lawas.

Kebijakan Gubernur Bali terkait penggunaan bahasa termasuk aksara Bali di papan nama instansi instansi pemerintah secara kasat mata cukup membuat masyarakat merasakan kembali bahwa bahasa dan juga aksara bali masih tetap ada di masyarakat. Tetapi kenyataan sendiri untuk anak anak kita, termasuk tiga anak saya yang masih sekolah di SD. Bahasa daerah Bali termasuk mata pelajaran yang kurang disukai dan memang menjadi  musuh berat untuk mereka.

Dan saya sendiri tak punya resep khusus untuk  ini, karena saat saya diminta membantu menyelesaikan tugas dalam bahasa Bali, apalagi tulisan Bali. Saya langsung angkat tangan, ”Coba minta tolong Bunda, Ayah dari SD sampai SMA tak mampu  membaca aksara Bali dengan baik”,begitu kilah saya.

Tapi untuk bahasa Bali, saya cukup menyukainya. Puisi karya Made Taro sasih karo ring Bali, sampai saat ini bisa saya ingat kata katanya. Karya penyair muda Dharma putra, putu Supartika membuat saya ingin menengok kembali bahasa ibu yang nyaris kita lupakan.

Demikianlah situasi kita saat ini, dengan kemungkinan menguasai tiga bahasa tersebut membuka kesempatan bagi kita untuk lebih tahu budaya asal bahasa tersebut dan juga karya sastra yang ditulis dalam bahasa tersebut. Tapi sisi negatifnya ini menjadi beban tambahan bagi mereka yang merasa tak punya ketertarikan khusus pada bahasa tersebut selain bagi mereka yang secara ekonomi memang harus tahu bahasa asing tertentu. Mereka yang bergerak di bidang pariwisata yang saya kira mempelajari bahasa asing dengan alasan ekonomi sebagai motivasi utamanya.

Mungkin kita, termasuk saya sendiri mesti menurunkan standar kita pada diri sendiri dan terutama pada anak-anak kita. Kalau mereka memang tak terlalu tertarik untuk tahu bahasa Bali, saya tak akan terlalu memaksakannya. Tapi saya tak akan lelah untuk menunjukkan pada mereka hal hal yang indah yang tersembunyi di balik sebuah bahasa, entah bahasa Indonesia maupun bahasa bali.

Dan akhirnya ungkapan bahwa bahasa menunjukkan bangsa, terlalu naïf kalau kita abaikan begitu saja. Saat kita mempergunakan bahasa nasional kita termasuk bahasa daerah dengan baik. Bahkan tergerak untuk memperkayanya dengan kata kata  baru yang tak mesti berasal dari bahasa asing. Itu kan membuat sumpah kita untuk  menjunjung bahasa persatuan kita bukanlah sumpah tanpa makna.

Bahkan salah satu keunggulan utama Chairil Anwar dibandingkan penyair yang seangkatan dengannya adalah karena kemampuan beliau untuk memperkenalkan kata kata baru, ungkapan baru maupun cara penggunanaan yang tak jamak untuk zaman itu. Dan terbukti puisi puisi beliau bersifat abadi karena penggunaan kata kata yang baru dan unik tersebut.

Oya ada dua kata yang baru saya tahu ada padanannya dalam bahasa Indonesia, tapi  tak banyak orang yang tahu saya kira. Karena di media massa terlebih media sosial masih dipakai kata yang berasal dari bahasa Inggris. Kata bullying ternyata sudah punya padanannya dalam bahasa Indonesia yaitu perundungan. Dan yang kedua kata bidang kesehatan yang paling populerbelakangan ini apalagi setelah pergantian menteri Kesehatan adalah kata stunting, anak kerdil yang ternyata sudah kita punya padanannya  yaitu tengkes.

Akhirnya, Jayalah bangsaku, majulah bahasanya.[T]

Tags: Bahasabahasa daerahBahasa Indonesiasumpah pemuda
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Di Bali Utara Cuaca Panas-Dingin, Hatiku Juga

Next Post

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Puisi-puisi IDK Raka Kusuma # Juru Masak Tampan: Wayan Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co