24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
November 12, 2019
in Esai
Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Poster pameran dan karya I Nyoman Darya

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan seorang brahamana Hindu (pedanda) dari Bali, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran. Ia begitu tenang, arif, dan bersahabat. Cara bertuturnya yang jernih, serta jalan pikirannya yang sistematis, amat memudahkan saya memasuki wawasan spiritual yang beliau kemukakan, yaitu tentang doktrin dan tahapan ritual dalam Yoga Patanjali, sehingga seakan-akan saya tengah menyimak sutra (aforisma) Yogatattwa secara langsung dari Upanishad.

Menurut sang brahmana, Yoga merupakan ritual yang menyatukan (bukan sekedar menghubungkan) manusia dengan alam dan Ilahi. Ia membutuhkan disiplin jasmani dan ruhani dengan sama baiknya. Sebelum mengamalkan Yoga, seseorang perlu memiliki kualifikasi tinggi dalam etika dan moral dengan mengetahui dan menjalani hal-hal yang diharuskan serta meninggalkan hal-hal yang dilarang (nama dan niyama). Setelah itu, ia dapat memulai latihan jasmani, meliputi keseimbangan tubuh (asana) dan pernafasan (pranayama).

Jika seseorang telah berhasil dalam hal etika dan jasmani, barulah ia memasuki tahap esoterik dengan menarik seluruh indera dari kuasa dunia material (pratihara), agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi.  Setelah tahap itu selesai, kemudian ia mulai melatih panca inderanya secara terus menerus untuk fokus pada sebuah objek hingga dapat mengerti serta menguasai dengan baik objek tersebut (darana). Pada tahap akhir, barulah ia melakukan proses peleburan dengan objek-objek tersebut (alam, dunia) hingga menyatu secara keseluruhan dengan alam dan dunia (diyana). Pada tahap terakhir itulah praktik semedi yang sesungguhnya terjadi, di mana Tuhan menyatu dengan hambanya yang telah menyatu dengan seluruh alam ciptaan.


Karya I Nyoman Darya

Seorang Yogin sejati akan menempuh tahap-tahap ritual tersebut dengan disiplin, khusyuk dan khidmat, serta dengan bimbingan seorang guru yang telah mencapai tahap paripurna dalam Yoga. Seseorang yang melanggar aturan tersebut, demikian penuturan sang brahmana, bisa berakibat fatal, mulai mengalami derita akibat jatuh dari level spiritual hingga menjelma menjadi entitas jahat yang bertentangan dengan moral dan etika (nama, niyama) yang berbahaya bagi alam dan sesama, sehingga justru bertentangan dengan tujuan hakiki dari Yoga.

Wawasan yang disarikan dari penuturan brahmana tersebut menggambarkan tentang proses dan puncak dari tatanan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam tatanan tersebut, seluruh entitas menjadi subjek yang menyatu dalam wahana suci yang intens hingga menjelma menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan secara keseluruhan. Doktrin itulah yang membuat Yoga memiliki daya tarik bagi masyarakat kontemporer yang mengalami fragmentasi dan pengasingan sedemikian rupa, baik secara natural, sosial maupun spiritual. 

Realitas kontemporer kita ditandai dengan hilangnya panduan utama dalam menjalani kehidupan bersama. Kita mengalami keretakan dan ketimpangan dalam pandangan hidup (world view), jalan hidup (way of life), maupun orientasi hidup (telos), sehingga terjadi pluralitas tanpa kesepakatan yang menghubungkan (nexus) antar kelompok sosial, manusia dengan alam, serta manusia dengan entitas spiritual. Hidup kita sehari-hari bukan lagi sebuah persembahan menuju keabadian, melainkan usaha menikmati kesementaran secara berkelanjutan. Setiap momentum yang kita jalani bukan lagi bagian dari siklus waktu spiritual, bukan pula penggalan dari gerak waktu linear menuju masa depan, melainkan sebuah entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari tatanan universal, sebagai kepingan kefanaan. 

Di tengah keadaan demikian, I Nyoman Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual. Dalam fenomena tersebut, tradisi-tradisi kuno dianggap memiliki kebajikan yang relevan untuk menghadapi kehampaan dan kecemasan yang melanda masayarakat saat ini. Mereka lantas mengolah tradisi tersebut dengan mengambil serta mengembangkan doktrin yang dianggap sesuai, misalnya tentang tradisi meditasi dari agama-agama Timur (terutama Hindu dan Buddha), untuk keperluan psikologis dan biologis dari masyarakat kontempororer yang penuh tekanan, friksi dan kehampaan.


Karya I Nyoman Darya

Fenomena tersebut memiliki sejumlah dimensi dan implikasi. Maraknya praktik meditasi tersebut, mislanya Yoga, di satu sisi merupakan solusi praktis untuk meredakan ketegangan sosial dan kecemasan psikologis—bahkan dalam beberapa hal dianggap sebagai bentuk pelestarian tradisi kuno yang hampir punah. Namun, di sisi lain, praktik-praktik tersebut dilakukan secara parsial; yaitu lebih untuk tujuan penyehatan insan yang bekerja dalam pasar yang sekuler daripada ketaatan terhadap tradisi leluhur dan para Dewa. Praktik-praktik tersebut, pada akhirnya justru melakukan profanisasi dan sekularusasi entitas-entitas spiritual daripada spiritualisasi insan-insan yang telah masuk dalam kehampaan dunia sekular.  Inilah yang kurang lebih disebut sebagai komodifikasi tradisi demi keperluan masyarakat urban daripada pelestarian tradisi ke dalam bentuk-bentuk baru.  

I Nyoman Darya menangkap fenomena tersebut sebagai persoalan masyarakat kontemporer yang perlu direspon secara kritis dan artistik. Dalam lukisan-lukisannya, di satu sisi kita dapat melihat berbagai praktik meditasi Yoga sesuai konsep kebutuhan psikologis, biologis dan gaya hidup masa kini, dengan mengambil aspek jasmani pada tahap asana (meditasi tubuh) dan pratihara (olah pernafasan), dengan tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangannya (nama dan niyama). Tak heran jika Darya menggambarkan fenomena tersebut dengan nuansa karikatural yang mengandung satire dan kritisisme.

Bukan kebetulan jika Darya dapat melakukannya dengan fasih dan indah. Sebagai seorang Bali, ia amat akrab dengan tradisi leluhurnya yang masih melembaga dalam adat-istiadanya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas—kalau bukan malah ikut mengamalkannya dengan perasaan takdzim dan khidmat sesuai tradisi Hindusebagaimana insan-insan terbaik daari agamanya. Di sisi lain, sebagai seniman yang memiliki pengalaman profesional di bidang periklanan, ia juga mengetahui praktik komodifikasi, profanisasi dan sekularisasi terhadap entitas-entitas spiritual untuk kebutuhan pasar.


Karya I Nyoman Darya

Dua latar belakang tersebut membuat Darya mampu melangkah jauh dalam mengolah topik ini dengan tak semata mengafirmasi fenomena tersebut sebagaimana para seniman pop-art melakukannnya, namun berusaha mengubahnya dengan memberi kritik dalam bentuk satire yang kontemplatif, sehingga karya-karyanya bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga layak direnungkan. Bagi Darya, implikasi dari fenomena komodifaksi dan profanisasi Yoga bukan semata pendangkalan terhadap dimensi spiritual dari ritual Yoga khususnya dan Hindu umumnya, melainkan dan terutama—seperti disampaikan oleh brahmana Ida Putra Kekeran—kejatuhan manusia dalam bentuk penurunan kualitas sebagai insan yang memiliki akal, budi dan tanggung jawab. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYoga
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Pan Balang Tamak Mebarung di Art Center Denpasar – Catatan Telat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co