2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
November 13, 2019
in Esai
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

https://nusapenidapoint.com/santai-di-enjoy-beach-nusa-penida/

Semenjak melejit 4 tahun belakangan, ekspansi sektor pariwisata atas ruang agraris kian tak terbendung di Pulau Nusa Penida. Pemandangan (wujud) ekspansi-ekspansi ini tampak nyata mulai dari teritorial pesisir, dataran hingga perbukitan. Rompok-rompok (rumah sangat sederhana untuk mendukung aktivitas pertanian) sebagai simbol kejayaan agraris, kini tumbang (habis) menjadi penginapan seperti hotel, hostel, cottage, villa dan lain sebagainya.

Ekspansi di daerah pesisir tampak sangat agresif. Hampir tidak ada sisa rompok-rompok berdiri di sepanjang pesisir pantai utara Nusa Penida. Berbeda dengan tahun 80-an hingga tahun 200-an, rompok-rompok berjejer memenuhi lekuk garis pesisir pantai. Bangunan dengan dinding bedeg dan atap daun kelapa ini sangat mendominasi.

Awalnya, deretan bangunan ini didominasi oleh rompok-rompok nelayan. Namun, ketika budidaya rumput laut meroket, rompok nelayan seolah-olah tenggelam. Diganti dengan, rompok-rompok petani rumput laut bak jamur di musim hujan. Berjejer, berhimpitan, dan berdesak-desakan. Rompok-rompok inilah yang pernah mengangkat martabat petani di Nusa Penida.

Hasil pertanian rumput laut jauh lebih menjanjikan daripada petani konvensional (ladang dan ternak). Jika petani konvensional memetik hasil dalam setahun, maka petani rumput laut cukup membutuhkan waktu panen rata-rata per 35-40 hari. Di samping singkat, hasil panen rumput laut jauh lebih besar daripada hasil panen petani konvensional.

Hasil panen rumput laut tidak hanya mampu menutupi biaya dapur, biaya sosial, biaya religius bahkan mampu menyokong biaya yang fundamental yakni biaya pendidikan. Awalnya, masyarakat hanya mampu bersekolah pada tingkat SD. Namun, kedigjayaan rumput laut mampu secara masif mengangkat derajat warga (terutama pesisir) untuk mengenyam pendidikan hingga ke tingkat SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi. Testimoni inilah yang mendorong ruang pesisir kian dijamuri rompok-rompok petani rumput laut, dengan sisa ruang (lahan) kosong untuk menjemur rumput laut.

Memasuki akhir tahun 2004, keberadaan budidaya rumput laut mulai goyang. Entah karena faktor apa, rumput laut tidak bisa berkembang dengan baik. Ranting-rantingnya selalu membusuk, lalu mudah disapu ombak dan gerusan air laut. Akibatnya, petani terus gagal panen. Petani mengalami kerugian bertubi-tubi, hingga akhirnya tidak dapat bertani rumput laut lagi.

Sejak itulah, rompok-rompok pesisir menjadi sepi. Aktivitas pertanian rumput laut menjadi mati. Rompok-rompok ditinggalkan oleh pendukungnya. Jadilah rompok-rompok itu sebagai hunian memedi. Kesunyian ini berlangsung kurang lebih 12 tahunan.

Baru memasuki tahun 2016, aktivitas pesisir pantai mulai menggeliat lagi. Akan tetapi, aktivitas ini tidak berkaitan dengan kegiatan bertani rumput laut melainkan bertani dollar. Satu per satu rompok-rompok ditumbangkan, diratakan, dan disulap menjadi penginapan. Memedi mulai terusik. Puncaknya, tahun  2018 dan 2019, rompok-rompok dan memedi betul-betul lenyap ditelan perubahan.

Sepanjang pesisir pantai utara, kini sudah berjejer akomodasi penginapan mengikuti lekuk tubuh pantai. Jika malam, penginapan-penginapan ini bermandikan cahaya, berbeda dengan rompok yang gelap gulita.

Bukan hanya pesisir pantai, ekspansi pariwisata juga terjadi di laut. Laut yang semula sebagai tempat menanam rumput laut, melabuhkan sampan-sampan petani rumput laut dan nelayan, kini juga merasakan kejamnya ekspansi itu. Bekas-bekas petak (lahan) rumput laut sudah menjadi lintasan diving dan wahana air untuk wisatawan. Sementara itu, lahan parkir (berlabuh) sampan-sampan atau jukung petani rumput laut dan nelayan makin terhimpit. Sekarang, lahan-lahan laut itu sudah dicaplok oleh speed boat, sampan, dan jukung untuk diving.

Selain pesisir (lautan), kepungan ekspansi juga melanda wilayah perbukitan di Nusa Penida. Bangunan-bangunan penginapan terus menyerang rompok-rompok petani konvensional. Hampir setiap hari, alat-alat berat excavator terus menderu–meratakan batu-batu kapur perbukitan. Penginapan-penginapan dengan berbagai style tak terbendung, mulai dari model tradisional (rumah panggung, jineng) hingga bangunan modern. Pun bermunculan cabang jalan-jalan baru (diaspal/ dibeton) menuju akses penginapan. Jalan yang tentu lebih mulus daripada era rompok-rompok terdahulu.

Jika dicermati, keberadaan bangunan-bangunan penginapan ini jauh lebih banyak daripada jumlah rompok-rompok sebelumnya. Perbukitan dengan berbagai view (terutama view laut), berjejer penginapan dengan penataan yang lebih rapi, mulai dari belahan timur Pulau Nusa Penida, belahan utara, hingga belahan barat. Kondisi ini tampak jelas kalau dilihat dari permukaan air laut.

Tak kalah gencarnya, serangan pendirian akomodasi penginapan juga terjadi di dataran (tegal) pedalaman hingga menusuk ke perkampungan rumah-rumah warga. Serangan ini ditandai dengan laju excavator yang tak henti-hentinya merobohkan rompok-rompok petani konvensional. Lahan-lahan produktif tempat menanam palawija dibelah dengan akses jalan.

Fenomena pendirian akomodasi penginapan ini telah merampas kemerdekaan ruang agraris di Nusa Penida. Dalam 5-10 tahun ke depan, ruang dan aktivitas agraris akan betul-betul menemui ajalnya. Para generasi petani tulen (baik konvensional maupun rumput laut) sudah memasuki usia renta. Sementara generasi milenial, yang gagap bertani, sudah telanjur sumringah dengan gemerlap industri pariwisata. Karena itulah, kebijakan pemda Klungkung untuk merevitalisasi budidaya rumput laut di Nusa Penida menjadi kurang populis. Kebijakan ini akan menjadi hiburan bagi pesakitan para petani, yang telah menjadi pecundang transisi pariwisata.

Bagi generasi milenial Nusa Penida, terjun ke dunia lumpur (baca: bertani) rasanya sangat berat. Apalagi, dengan metode yang bersifat tradisional. Mengulang cara-cara tradisional tentu tidak sesuai dengan karakter milenial yang kreatif. Di samping membosankan, juga tak memberikan penghasilkan yang menjanjikan. Belum lagi, perspektif kaum milenial yang memandang remeh citra pekerjaan petani. Karena kaum milenial sekarang memang tidak disiapkan untuk menjadi petani. Kalaupun ada sekolah pertanian atau kampus jurusan pertanian, hingga saat ini belum mampu mengangkat martabat petani. Jurusan ini hanya menjadi pelengkap dan sepi peminat.

Berdasarkan konteks di atas, maka ide revitalisasi budidaya rumput laut menjadi tak laku dan terkesan terlambat. Kaum milenial dipastikan tidak tertarik dengan ide bertani rumput laut. Apalagi, ide ini muncul justru ketika sektor pariwisata sedang melangit dan dipandang menjanjikan di Nusa Penida. Jangankan kaum milenial, kaum tua pun sudah telanjur beralih ke sektor pariwisata.


BACA ESAI DAN OPINI TENTANG NUSA PENIDA

  • Pariwisata Nusa Penida, Menggeser Perspektif Ternak Kaki Empat Menjadi Roda Empat
  • Menyoal Attitude Wisatawan di Nusa Penida: Dari Drama Komplain, Abai, Bengkung, Hingga Isu Moratorium
  • Legenda Pasih Uug (Broken Beach), Alarm Leluhur yang Tak Pernah Tidur
  • Pariwisata Nusa Penida: Antara Broken Beach dan “Broken-Broken” Lainnya

Walaupun kajian akademis mengungkapkan bahwa budidaya rumput laut masih potensial di Nusa Penida, tidak serta merta akan mengubah mindset warga beralih ke sektor agraris (petani rumput laut). Kalau ingin serius, barangkali pemda Klungkung dapat melakukan sejumlah langkah-langkah mendasar, antara lain: pendataan pendukung atau warga yang mau bertani rumput laut, perlu adanya stimulus subsidi modal, jaminan pemasaran,  potensi keberlangsungannya, metode bertaninya, kepastian penghasilan, dan potensi estafet generasi pendukungnya.

Itu pun tidak menjamin, karena kepungan sektor pariwisata terlalu kuat saat ini. Jikalaupun ada beberapa yang mau terjun menjadi petani rumput laut, mereka akan tetap menjadi semacam komunitas yang marginal. Kekuatan marginal ini tentu tidak akan mampu menyaingi sektor pariwisata. Malah yang terjadi nanti adalah aktivitas budidaya rumput laut akan takluk dan dimanfaatkan oleh sektor pariwisata sebagai ekspansi baru.

Praktisi-praktisi pariwisata akan mengemas aktivitas budidaya rumput laut sebagai “drama”. Drama paket wisata yang akan dijual kepada para wisatawan. Mereka, para (pelaku) petani rumput laut diberikan panggung bertani di laut. Selanjutnya, para pelaku pariwisata mengajak wisatawan untuk menonton “drama budidaya” itu. Ujung-ujungnya, sektor pariwisata semakin melebarkan ekspansinya. Pelaku wisata memiliki paket alternatif baru, selain keindahan alam Nusa Penida. Sebaliknya, petani tetap saja menjadi budak (menghamba) kepada kolonial pariwisata. Kalau ini terjadi, maka ekspansi pariwisata tidak berhenti pada rompok-rompok petani (ekspansi fisik agraris), namun ke depan akan merambah kepada ekspansi mental para petani. [T]

Tags: baliNusa PenidaPariwisata
Share340TweetSendShareSend
Previous Post

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Next Post

Macau Bukan Hanya Kasino – Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Macau Bukan Hanya Kasino – Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia

Macau Bukan Hanya Kasino - Ada Tragedi, Komedi dan Hal Lain Tentang Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co