12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
November 12, 2019
in Esai
Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Poster pameran dan karya I Nyoman Darya

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan seorang brahamana Hindu (pedanda) dari Bali, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran. Ia begitu tenang, arif, dan bersahabat. Cara bertuturnya yang jernih, serta jalan pikirannya yang sistematis, amat memudahkan saya memasuki wawasan spiritual yang beliau kemukakan, yaitu tentang doktrin dan tahapan ritual dalam Yoga Patanjali, sehingga seakan-akan saya tengah menyimak sutra (aforisma) Yogatattwa secara langsung dari Upanishad.

Menurut sang brahmana, Yoga merupakan ritual yang menyatukan (bukan sekedar menghubungkan) manusia dengan alam dan Ilahi. Ia membutuhkan disiplin jasmani dan ruhani dengan sama baiknya. Sebelum mengamalkan Yoga, seseorang perlu memiliki kualifikasi tinggi dalam etika dan moral dengan mengetahui dan menjalani hal-hal yang diharuskan serta meninggalkan hal-hal yang dilarang (nama dan niyama). Setelah itu, ia dapat memulai latihan jasmani, meliputi keseimbangan tubuh (asana) dan pernafasan (pranayama).

Jika seseorang telah berhasil dalam hal etika dan jasmani, barulah ia memasuki tahap esoterik dengan menarik seluruh indera dari kuasa dunia material (pratihara), agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi.  Setelah tahap itu selesai, kemudian ia mulai melatih panca inderanya secara terus menerus untuk fokus pada sebuah objek hingga dapat mengerti serta menguasai dengan baik objek tersebut (darana). Pada tahap akhir, barulah ia melakukan proses peleburan dengan objek-objek tersebut (alam, dunia) hingga menyatu secara keseluruhan dengan alam dan dunia (diyana). Pada tahap terakhir itulah praktik semedi yang sesungguhnya terjadi, di mana Tuhan menyatu dengan hambanya yang telah menyatu dengan seluruh alam ciptaan.


Karya I Nyoman Darya

Seorang Yogin sejati akan menempuh tahap-tahap ritual tersebut dengan disiplin, khusyuk dan khidmat, serta dengan bimbingan seorang guru yang telah mencapai tahap paripurna dalam Yoga. Seseorang yang melanggar aturan tersebut, demikian penuturan sang brahmana, bisa berakibat fatal, mulai mengalami derita akibat jatuh dari level spiritual hingga menjelma menjadi entitas jahat yang bertentangan dengan moral dan etika (nama, niyama) yang berbahaya bagi alam dan sesama, sehingga justru bertentangan dengan tujuan hakiki dari Yoga.

Wawasan yang disarikan dari penuturan brahmana tersebut menggambarkan tentang proses dan puncak dari tatanan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam tatanan tersebut, seluruh entitas menjadi subjek yang menyatu dalam wahana suci yang intens hingga menjelma menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan secara keseluruhan. Doktrin itulah yang membuat Yoga memiliki daya tarik bagi masyarakat kontemporer yang mengalami fragmentasi dan pengasingan sedemikian rupa, baik secara natural, sosial maupun spiritual. 

Realitas kontemporer kita ditandai dengan hilangnya panduan utama dalam menjalani kehidupan bersama. Kita mengalami keretakan dan ketimpangan dalam pandangan hidup (world view), jalan hidup (way of life), maupun orientasi hidup (telos), sehingga terjadi pluralitas tanpa kesepakatan yang menghubungkan (nexus) antar kelompok sosial, manusia dengan alam, serta manusia dengan entitas spiritual. Hidup kita sehari-hari bukan lagi sebuah persembahan menuju keabadian, melainkan usaha menikmati kesementaran secara berkelanjutan. Setiap momentum yang kita jalani bukan lagi bagian dari siklus waktu spiritual, bukan pula penggalan dari gerak waktu linear menuju masa depan, melainkan sebuah entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari tatanan universal, sebagai kepingan kefanaan. 

Di tengah keadaan demikian, I Nyoman Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual. Dalam fenomena tersebut, tradisi-tradisi kuno dianggap memiliki kebajikan yang relevan untuk menghadapi kehampaan dan kecemasan yang melanda masayarakat saat ini. Mereka lantas mengolah tradisi tersebut dengan mengambil serta mengembangkan doktrin yang dianggap sesuai, misalnya tentang tradisi meditasi dari agama-agama Timur (terutama Hindu dan Buddha), untuk keperluan psikologis dan biologis dari masyarakat kontempororer yang penuh tekanan, friksi dan kehampaan.


Karya I Nyoman Darya

Fenomena tersebut memiliki sejumlah dimensi dan implikasi. Maraknya praktik meditasi tersebut, mislanya Yoga, di satu sisi merupakan solusi praktis untuk meredakan ketegangan sosial dan kecemasan psikologis—bahkan dalam beberapa hal dianggap sebagai bentuk pelestarian tradisi kuno yang hampir punah. Namun, di sisi lain, praktik-praktik tersebut dilakukan secara parsial; yaitu lebih untuk tujuan penyehatan insan yang bekerja dalam pasar yang sekuler daripada ketaatan terhadap tradisi leluhur dan para Dewa. Praktik-praktik tersebut, pada akhirnya justru melakukan profanisasi dan sekularusasi entitas-entitas spiritual daripada spiritualisasi insan-insan yang telah masuk dalam kehampaan dunia sekular.  Inilah yang kurang lebih disebut sebagai komodifikasi tradisi demi keperluan masyarakat urban daripada pelestarian tradisi ke dalam bentuk-bentuk baru.  

I Nyoman Darya menangkap fenomena tersebut sebagai persoalan masyarakat kontemporer yang perlu direspon secara kritis dan artistik. Dalam lukisan-lukisannya, di satu sisi kita dapat melihat berbagai praktik meditasi Yoga sesuai konsep kebutuhan psikologis, biologis dan gaya hidup masa kini, dengan mengambil aspek jasmani pada tahap asana (meditasi tubuh) dan pratihara (olah pernafasan), dengan tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangannya (nama dan niyama). Tak heran jika Darya menggambarkan fenomena tersebut dengan nuansa karikatural yang mengandung satire dan kritisisme.

Bukan kebetulan jika Darya dapat melakukannya dengan fasih dan indah. Sebagai seorang Bali, ia amat akrab dengan tradisi leluhurnya yang masih melembaga dalam adat-istiadanya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas—kalau bukan malah ikut mengamalkannya dengan perasaan takdzim dan khidmat sesuai tradisi Hindusebagaimana insan-insan terbaik daari agamanya. Di sisi lain, sebagai seniman yang memiliki pengalaman profesional di bidang periklanan, ia juga mengetahui praktik komodifikasi, profanisasi dan sekularisasi terhadap entitas-entitas spiritual untuk kebutuhan pasar.


Karya I Nyoman Darya

Dua latar belakang tersebut membuat Darya mampu melangkah jauh dalam mengolah topik ini dengan tak semata mengafirmasi fenomena tersebut sebagaimana para seniman pop-art melakukannnya, namun berusaha mengubahnya dengan memberi kritik dalam bentuk satire yang kontemplatif, sehingga karya-karyanya bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga layak direnungkan. Bagi Darya, implikasi dari fenomena komodifaksi dan profanisasi Yoga bukan semata pendangkalan terhadap dimensi spiritual dari ritual Yoga khususnya dan Hindu umumnya, melainkan dan terutama—seperti disampaikan oleh brahmana Ida Putra Kekeran—kejatuhan manusia dalam bentuk penurunan kualitas sebagai insan yang memiliki akal, budi dan tanggung jawab. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYoga
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Pan Balang Tamak Mebarung di Art Center Denpasar – Catatan Telat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co