2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
November 12, 2019
in Esai
Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Poster pameran dan karya I Nyoman Darya

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan seorang brahamana Hindu (pedanda) dari Bali, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran. Ia begitu tenang, arif, dan bersahabat. Cara bertuturnya yang jernih, serta jalan pikirannya yang sistematis, amat memudahkan saya memasuki wawasan spiritual yang beliau kemukakan, yaitu tentang doktrin dan tahapan ritual dalam Yoga Patanjali, sehingga seakan-akan saya tengah menyimak sutra (aforisma) Yogatattwa secara langsung dari Upanishad.

Menurut sang brahmana, Yoga merupakan ritual yang menyatukan (bukan sekedar menghubungkan) manusia dengan alam dan Ilahi. Ia membutuhkan disiplin jasmani dan ruhani dengan sama baiknya. Sebelum mengamalkan Yoga, seseorang perlu memiliki kualifikasi tinggi dalam etika dan moral dengan mengetahui dan menjalani hal-hal yang diharuskan serta meninggalkan hal-hal yang dilarang (nama dan niyama). Setelah itu, ia dapat memulai latihan jasmani, meliputi keseimbangan tubuh (asana) dan pernafasan (pranayama).

Jika seseorang telah berhasil dalam hal etika dan jasmani, barulah ia memasuki tahap esoterik dengan menarik seluruh indera dari kuasa dunia material (pratihara), agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi.  Setelah tahap itu selesai, kemudian ia mulai melatih panca inderanya secara terus menerus untuk fokus pada sebuah objek hingga dapat mengerti serta menguasai dengan baik objek tersebut (darana). Pada tahap akhir, barulah ia melakukan proses peleburan dengan objek-objek tersebut (alam, dunia) hingga menyatu secara keseluruhan dengan alam dan dunia (diyana). Pada tahap terakhir itulah praktik semedi yang sesungguhnya terjadi, di mana Tuhan menyatu dengan hambanya yang telah menyatu dengan seluruh alam ciptaan.


Karya I Nyoman Darya

Seorang Yogin sejati akan menempuh tahap-tahap ritual tersebut dengan disiplin, khusyuk dan khidmat, serta dengan bimbingan seorang guru yang telah mencapai tahap paripurna dalam Yoga. Seseorang yang melanggar aturan tersebut, demikian penuturan sang brahmana, bisa berakibat fatal, mulai mengalami derita akibat jatuh dari level spiritual hingga menjelma menjadi entitas jahat yang bertentangan dengan moral dan etika (nama, niyama) yang berbahaya bagi alam dan sesama, sehingga justru bertentangan dengan tujuan hakiki dari Yoga.

Wawasan yang disarikan dari penuturan brahmana tersebut menggambarkan tentang proses dan puncak dari tatanan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam tatanan tersebut, seluruh entitas menjadi subjek yang menyatu dalam wahana suci yang intens hingga menjelma menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan secara keseluruhan. Doktrin itulah yang membuat Yoga memiliki daya tarik bagi masyarakat kontemporer yang mengalami fragmentasi dan pengasingan sedemikian rupa, baik secara natural, sosial maupun spiritual. 

Realitas kontemporer kita ditandai dengan hilangnya panduan utama dalam menjalani kehidupan bersama. Kita mengalami keretakan dan ketimpangan dalam pandangan hidup (world view), jalan hidup (way of life), maupun orientasi hidup (telos), sehingga terjadi pluralitas tanpa kesepakatan yang menghubungkan (nexus) antar kelompok sosial, manusia dengan alam, serta manusia dengan entitas spiritual. Hidup kita sehari-hari bukan lagi sebuah persembahan menuju keabadian, melainkan usaha menikmati kesementaran secara berkelanjutan. Setiap momentum yang kita jalani bukan lagi bagian dari siklus waktu spiritual, bukan pula penggalan dari gerak waktu linear menuju masa depan, melainkan sebuah entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari tatanan universal, sebagai kepingan kefanaan. 

Di tengah keadaan demikian, I Nyoman Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual. Dalam fenomena tersebut, tradisi-tradisi kuno dianggap memiliki kebajikan yang relevan untuk menghadapi kehampaan dan kecemasan yang melanda masayarakat saat ini. Mereka lantas mengolah tradisi tersebut dengan mengambil serta mengembangkan doktrin yang dianggap sesuai, misalnya tentang tradisi meditasi dari agama-agama Timur (terutama Hindu dan Buddha), untuk keperluan psikologis dan biologis dari masyarakat kontempororer yang penuh tekanan, friksi dan kehampaan.


Karya I Nyoman Darya

Fenomena tersebut memiliki sejumlah dimensi dan implikasi. Maraknya praktik meditasi tersebut, mislanya Yoga, di satu sisi merupakan solusi praktis untuk meredakan ketegangan sosial dan kecemasan psikologis—bahkan dalam beberapa hal dianggap sebagai bentuk pelestarian tradisi kuno yang hampir punah. Namun, di sisi lain, praktik-praktik tersebut dilakukan secara parsial; yaitu lebih untuk tujuan penyehatan insan yang bekerja dalam pasar yang sekuler daripada ketaatan terhadap tradisi leluhur dan para Dewa. Praktik-praktik tersebut, pada akhirnya justru melakukan profanisasi dan sekularusasi entitas-entitas spiritual daripada spiritualisasi insan-insan yang telah masuk dalam kehampaan dunia sekular.  Inilah yang kurang lebih disebut sebagai komodifikasi tradisi demi keperluan masyarakat urban daripada pelestarian tradisi ke dalam bentuk-bentuk baru.  

I Nyoman Darya menangkap fenomena tersebut sebagai persoalan masyarakat kontemporer yang perlu direspon secara kritis dan artistik. Dalam lukisan-lukisannya, di satu sisi kita dapat melihat berbagai praktik meditasi Yoga sesuai konsep kebutuhan psikologis, biologis dan gaya hidup masa kini, dengan mengambil aspek jasmani pada tahap asana (meditasi tubuh) dan pratihara (olah pernafasan), dengan tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangannya (nama dan niyama). Tak heran jika Darya menggambarkan fenomena tersebut dengan nuansa karikatural yang mengandung satire dan kritisisme.

Bukan kebetulan jika Darya dapat melakukannya dengan fasih dan indah. Sebagai seorang Bali, ia amat akrab dengan tradisi leluhurnya yang masih melembaga dalam adat-istiadanya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas—kalau bukan malah ikut mengamalkannya dengan perasaan takdzim dan khidmat sesuai tradisi Hindusebagaimana insan-insan terbaik daari agamanya. Di sisi lain, sebagai seniman yang memiliki pengalaman profesional di bidang periklanan, ia juga mengetahui praktik komodifikasi, profanisasi dan sekularisasi terhadap entitas-entitas spiritual untuk kebutuhan pasar.


Karya I Nyoman Darya

Dua latar belakang tersebut membuat Darya mampu melangkah jauh dalam mengolah topik ini dengan tak semata mengafirmasi fenomena tersebut sebagaimana para seniman pop-art melakukannnya, namun berusaha mengubahnya dengan memberi kritik dalam bentuk satire yang kontemplatif, sehingga karya-karyanya bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga layak direnungkan. Bagi Darya, implikasi dari fenomena komodifaksi dan profanisasi Yoga bukan semata pendangkalan terhadap dimensi spiritual dari ritual Yoga khususnya dan Hindu umumnya, melainkan dan terutama—seperti disampaikan oleh brahmana Ida Putra Kekeran—kejatuhan manusia dalam bentuk penurunan kualitas sebagai insan yang memiliki akal, budi dan tanggung jawab. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYoga
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Pan Balang Tamak Mebarung di Art Center Denpasar – Catatan Telat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co