23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
November 12, 2019
in Esai
Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Poster pameran dan karya I Nyoman Darya

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan seorang brahamana Hindu (pedanda) dari Bali, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran. Ia begitu tenang, arif, dan bersahabat. Cara bertuturnya yang jernih, serta jalan pikirannya yang sistematis, amat memudahkan saya memasuki wawasan spiritual yang beliau kemukakan, yaitu tentang doktrin dan tahapan ritual dalam Yoga Patanjali, sehingga seakan-akan saya tengah menyimak sutra (aforisma) Yogatattwa secara langsung dari Upanishad.

Menurut sang brahmana, Yoga merupakan ritual yang menyatukan (bukan sekedar menghubungkan) manusia dengan alam dan Ilahi. Ia membutuhkan disiplin jasmani dan ruhani dengan sama baiknya. Sebelum mengamalkan Yoga, seseorang perlu memiliki kualifikasi tinggi dalam etika dan moral dengan mengetahui dan menjalani hal-hal yang diharuskan serta meninggalkan hal-hal yang dilarang (nama dan niyama). Setelah itu, ia dapat memulai latihan jasmani, meliputi keseimbangan tubuh (asana) dan pernafasan (pranayama).

Jika seseorang telah berhasil dalam hal etika dan jasmani, barulah ia memasuki tahap esoterik dengan menarik seluruh indera dari kuasa dunia material (pratihara), agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi.  Setelah tahap itu selesai, kemudian ia mulai melatih panca inderanya secara terus menerus untuk fokus pada sebuah objek hingga dapat mengerti serta menguasai dengan baik objek tersebut (darana). Pada tahap akhir, barulah ia melakukan proses peleburan dengan objek-objek tersebut (alam, dunia) hingga menyatu secara keseluruhan dengan alam dan dunia (diyana). Pada tahap terakhir itulah praktik semedi yang sesungguhnya terjadi, di mana Tuhan menyatu dengan hambanya yang telah menyatu dengan seluruh alam ciptaan.


Karya I Nyoman Darya

Seorang Yogin sejati akan menempuh tahap-tahap ritual tersebut dengan disiplin, khusyuk dan khidmat, serta dengan bimbingan seorang guru yang telah mencapai tahap paripurna dalam Yoga. Seseorang yang melanggar aturan tersebut, demikian penuturan sang brahmana, bisa berakibat fatal, mulai mengalami derita akibat jatuh dari level spiritual hingga menjelma menjadi entitas jahat yang bertentangan dengan moral dan etika (nama, niyama) yang berbahaya bagi alam dan sesama, sehingga justru bertentangan dengan tujuan hakiki dari Yoga.

Wawasan yang disarikan dari penuturan brahmana tersebut menggambarkan tentang proses dan puncak dari tatanan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam tatanan tersebut, seluruh entitas menjadi subjek yang menyatu dalam wahana suci yang intens hingga menjelma menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan secara keseluruhan. Doktrin itulah yang membuat Yoga memiliki daya tarik bagi masyarakat kontemporer yang mengalami fragmentasi dan pengasingan sedemikian rupa, baik secara natural, sosial maupun spiritual. 

Realitas kontemporer kita ditandai dengan hilangnya panduan utama dalam menjalani kehidupan bersama. Kita mengalami keretakan dan ketimpangan dalam pandangan hidup (world view), jalan hidup (way of life), maupun orientasi hidup (telos), sehingga terjadi pluralitas tanpa kesepakatan yang menghubungkan (nexus) antar kelompok sosial, manusia dengan alam, serta manusia dengan entitas spiritual. Hidup kita sehari-hari bukan lagi sebuah persembahan menuju keabadian, melainkan usaha menikmati kesementaran secara berkelanjutan. Setiap momentum yang kita jalani bukan lagi bagian dari siklus waktu spiritual, bukan pula penggalan dari gerak waktu linear menuju masa depan, melainkan sebuah entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari tatanan universal, sebagai kepingan kefanaan. 

Di tengah keadaan demikian, I Nyoman Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual. Dalam fenomena tersebut, tradisi-tradisi kuno dianggap memiliki kebajikan yang relevan untuk menghadapi kehampaan dan kecemasan yang melanda masayarakat saat ini. Mereka lantas mengolah tradisi tersebut dengan mengambil serta mengembangkan doktrin yang dianggap sesuai, misalnya tentang tradisi meditasi dari agama-agama Timur (terutama Hindu dan Buddha), untuk keperluan psikologis dan biologis dari masyarakat kontempororer yang penuh tekanan, friksi dan kehampaan.


Karya I Nyoman Darya

Fenomena tersebut memiliki sejumlah dimensi dan implikasi. Maraknya praktik meditasi tersebut, mislanya Yoga, di satu sisi merupakan solusi praktis untuk meredakan ketegangan sosial dan kecemasan psikologis—bahkan dalam beberapa hal dianggap sebagai bentuk pelestarian tradisi kuno yang hampir punah. Namun, di sisi lain, praktik-praktik tersebut dilakukan secara parsial; yaitu lebih untuk tujuan penyehatan insan yang bekerja dalam pasar yang sekuler daripada ketaatan terhadap tradisi leluhur dan para Dewa. Praktik-praktik tersebut, pada akhirnya justru melakukan profanisasi dan sekularusasi entitas-entitas spiritual daripada spiritualisasi insan-insan yang telah masuk dalam kehampaan dunia sekular.  Inilah yang kurang lebih disebut sebagai komodifikasi tradisi demi keperluan masyarakat urban daripada pelestarian tradisi ke dalam bentuk-bentuk baru.  

I Nyoman Darya menangkap fenomena tersebut sebagai persoalan masyarakat kontemporer yang perlu direspon secara kritis dan artistik. Dalam lukisan-lukisannya, di satu sisi kita dapat melihat berbagai praktik meditasi Yoga sesuai konsep kebutuhan psikologis, biologis dan gaya hidup masa kini, dengan mengambil aspek jasmani pada tahap asana (meditasi tubuh) dan pratihara (olah pernafasan), dengan tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangannya (nama dan niyama). Tak heran jika Darya menggambarkan fenomena tersebut dengan nuansa karikatural yang mengandung satire dan kritisisme.

Bukan kebetulan jika Darya dapat melakukannya dengan fasih dan indah. Sebagai seorang Bali, ia amat akrab dengan tradisi leluhurnya yang masih melembaga dalam adat-istiadanya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas—kalau bukan malah ikut mengamalkannya dengan perasaan takdzim dan khidmat sesuai tradisi Hindusebagaimana insan-insan terbaik daari agamanya. Di sisi lain, sebagai seniman yang memiliki pengalaman profesional di bidang periklanan, ia juga mengetahui praktik komodifikasi, profanisasi dan sekularisasi terhadap entitas-entitas spiritual untuk kebutuhan pasar.


Karya I Nyoman Darya

Dua latar belakang tersebut membuat Darya mampu melangkah jauh dalam mengolah topik ini dengan tak semata mengafirmasi fenomena tersebut sebagaimana para seniman pop-art melakukannnya, namun berusaha mengubahnya dengan memberi kritik dalam bentuk satire yang kontemplatif, sehingga karya-karyanya bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga layak direnungkan. Bagi Darya, implikasi dari fenomena komodifaksi dan profanisasi Yoga bukan semata pendangkalan terhadap dimensi spiritual dari ritual Yoga khususnya dan Hindu umumnya, melainkan dan terutama—seperti disampaikan oleh brahmana Ida Putra Kekeran—kejatuhan manusia dalam bentuk penurunan kualitas sebagai insan yang memiliki akal, budi dan tanggung jawab. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYoga
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Pan Balang Tamak Mebarung di Art Center Denpasar – Catatan Telat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co