2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Faisal Kamandobat by Faisal Kamandobat
November 12, 2019
in Esai
Imbang: Meditasi Visual I Nyoman Darya

Poster pameran dan karya I Nyoman Darya

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan seorang brahamana Hindu (pedanda) dari Bali, Ida Pedanda Gede Putra Kekeran. Ia begitu tenang, arif, dan bersahabat. Cara bertuturnya yang jernih, serta jalan pikirannya yang sistematis, amat memudahkan saya memasuki wawasan spiritual yang beliau kemukakan, yaitu tentang doktrin dan tahapan ritual dalam Yoga Patanjali, sehingga seakan-akan saya tengah menyimak sutra (aforisma) Yogatattwa secara langsung dari Upanishad.

Menurut sang brahmana, Yoga merupakan ritual yang menyatukan (bukan sekedar menghubungkan) manusia dengan alam dan Ilahi. Ia membutuhkan disiplin jasmani dan ruhani dengan sama baiknya. Sebelum mengamalkan Yoga, seseorang perlu memiliki kualifikasi tinggi dalam etika dan moral dengan mengetahui dan menjalani hal-hal yang diharuskan serta meninggalkan hal-hal yang dilarang (nama dan niyama). Setelah itu, ia dapat memulai latihan jasmani, meliputi keseimbangan tubuh (asana) dan pernafasan (pranayama).

Jika seseorang telah berhasil dalam hal etika dan jasmani, barulah ia memasuki tahap esoterik dengan menarik seluruh indera dari kuasa dunia material (pratihara), agar tidak dikuasai oleh hal-hal duniawi.  Setelah tahap itu selesai, kemudian ia mulai melatih panca inderanya secara terus menerus untuk fokus pada sebuah objek hingga dapat mengerti serta menguasai dengan baik objek tersebut (darana). Pada tahap akhir, barulah ia melakukan proses peleburan dengan objek-objek tersebut (alam, dunia) hingga menyatu secara keseluruhan dengan alam dan dunia (diyana). Pada tahap terakhir itulah praktik semedi yang sesungguhnya terjadi, di mana Tuhan menyatu dengan hambanya yang telah menyatu dengan seluruh alam ciptaan.


Karya I Nyoman Darya

Seorang Yogin sejati akan menempuh tahap-tahap ritual tersebut dengan disiplin, khusyuk dan khidmat, serta dengan bimbingan seorang guru yang telah mencapai tahap paripurna dalam Yoga. Seseorang yang melanggar aturan tersebut, demikian penuturan sang brahmana, bisa berakibat fatal, mulai mengalami derita akibat jatuh dari level spiritual hingga menjelma menjadi entitas jahat yang bertentangan dengan moral dan etika (nama, niyama) yang berbahaya bagi alam dan sesama, sehingga justru bertentangan dengan tujuan hakiki dari Yoga.

Wawasan yang disarikan dari penuturan brahmana tersebut menggambarkan tentang proses dan puncak dari tatanan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam tatanan tersebut, seluruh entitas menjadi subjek yang menyatu dalam wahana suci yang intens hingga menjelma menjadi kekuatan yang menjaga kehidupan secara keseluruhan. Doktrin itulah yang membuat Yoga memiliki daya tarik bagi masyarakat kontemporer yang mengalami fragmentasi dan pengasingan sedemikian rupa, baik secara natural, sosial maupun spiritual. 

Realitas kontemporer kita ditandai dengan hilangnya panduan utama dalam menjalani kehidupan bersama. Kita mengalami keretakan dan ketimpangan dalam pandangan hidup (world view), jalan hidup (way of life), maupun orientasi hidup (telos), sehingga terjadi pluralitas tanpa kesepakatan yang menghubungkan (nexus) antar kelompok sosial, manusia dengan alam, serta manusia dengan entitas spiritual. Hidup kita sehari-hari bukan lagi sebuah persembahan menuju keabadian, melainkan usaha menikmati kesementaran secara berkelanjutan. Setiap momentum yang kita jalani bukan lagi bagian dari siklus waktu spiritual, bukan pula penggalan dari gerak waktu linear menuju masa depan, melainkan sebuah entitas yang berdiri sendiri, terpisah dari tatanan universal, sebagai kepingan kefanaan. 

Di tengah keadaan demikian, I Nyoman Darya melihat sebagian besar manusia mengalami kejenuhan, kehampaan dan kecemasan. Beberapa di antara mereka berusaha mencari jalan keluar dengan kembali ke akar primordial dan tradisional, entah entis, agama atau ajaran-ajaran spiritual. Dalam fenomena tersebut, tradisi-tradisi kuno dianggap memiliki kebajikan yang relevan untuk menghadapi kehampaan dan kecemasan yang melanda masayarakat saat ini. Mereka lantas mengolah tradisi tersebut dengan mengambil serta mengembangkan doktrin yang dianggap sesuai, misalnya tentang tradisi meditasi dari agama-agama Timur (terutama Hindu dan Buddha), untuk keperluan psikologis dan biologis dari masyarakat kontempororer yang penuh tekanan, friksi dan kehampaan.


Karya I Nyoman Darya

Fenomena tersebut memiliki sejumlah dimensi dan implikasi. Maraknya praktik meditasi tersebut, mislanya Yoga, di satu sisi merupakan solusi praktis untuk meredakan ketegangan sosial dan kecemasan psikologis—bahkan dalam beberapa hal dianggap sebagai bentuk pelestarian tradisi kuno yang hampir punah. Namun, di sisi lain, praktik-praktik tersebut dilakukan secara parsial; yaitu lebih untuk tujuan penyehatan insan yang bekerja dalam pasar yang sekuler daripada ketaatan terhadap tradisi leluhur dan para Dewa. Praktik-praktik tersebut, pada akhirnya justru melakukan profanisasi dan sekularusasi entitas-entitas spiritual daripada spiritualisasi insan-insan yang telah masuk dalam kehampaan dunia sekular.  Inilah yang kurang lebih disebut sebagai komodifikasi tradisi demi keperluan masyarakat urban daripada pelestarian tradisi ke dalam bentuk-bentuk baru.  

I Nyoman Darya menangkap fenomena tersebut sebagai persoalan masyarakat kontemporer yang perlu direspon secara kritis dan artistik. Dalam lukisan-lukisannya, di satu sisi kita dapat melihat berbagai praktik meditasi Yoga sesuai konsep kebutuhan psikologis, biologis dan gaya hidup masa kini, dengan mengambil aspek jasmani pada tahap asana (meditasi tubuh) dan pratihara (olah pernafasan), dengan tanpa terlebih dahulu mengetahui dan mengamalkan kewajiban dan menjauhi larangannya (nama dan niyama). Tak heran jika Darya menggambarkan fenomena tersebut dengan nuansa karikatural yang mengandung satire dan kritisisme.

Bukan kebetulan jika Darya dapat melakukannya dengan fasih dan indah. Sebagai seorang Bali, ia amat akrab dengan tradisi leluhurnya yang masih melembaga dalam adat-istiadanya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas—kalau bukan malah ikut mengamalkannya dengan perasaan takdzim dan khidmat sesuai tradisi Hindusebagaimana insan-insan terbaik daari agamanya. Di sisi lain, sebagai seniman yang memiliki pengalaman profesional di bidang periklanan, ia juga mengetahui praktik komodifikasi, profanisasi dan sekularisasi terhadap entitas-entitas spiritual untuk kebutuhan pasar.


Karya I Nyoman Darya

Dua latar belakang tersebut membuat Darya mampu melangkah jauh dalam mengolah topik ini dengan tak semata mengafirmasi fenomena tersebut sebagaimana para seniman pop-art melakukannnya, namun berusaha mengubahnya dengan memberi kritik dalam bentuk satire yang kontemplatif, sehingga karya-karyanya bukan hanya enak dinikmati, tetapi juga layak direnungkan. Bagi Darya, implikasi dari fenomena komodifaksi dan profanisasi Yoga bukan semata pendangkalan terhadap dimensi spiritual dari ritual Yoga khususnya dan Hindu umumnya, melainkan dan terutama—seperti disampaikan oleh brahmana Ida Putra Kekeran—kejatuhan manusia dalam bentuk penurunan kualitas sebagai insan yang memiliki akal, budi dan tanggung jawab. [T]

Tags: Pameran Seni RupaSeni RupaYoga
Share87TweetSendShareSend
Previous Post

Pan Balang Tamak Mebarung di Art Center Denpasar – Catatan Telat Festival Seni Bali Jani

Next Post

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Faisal Kamandobat

Faisal Kamandobat

kurator pameran; penyair dan peminat seni rupa, peneliti di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia (AWCPH-UI), Jakarta

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Ekspansi Pariwisata Atas “Rompok-Rompok” (Ruang Agraris) di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co