24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Itu-Itu Ini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hati-hati dengan pujian, karena pujian adalah jurus ampuh untuk menaklukkan. Begitu dipuji, engkau akan langsung takluk. Bukan oleh dia yang memuji, tapi oleh keangkuhanmu sendiri.

Ada banyak cara untuk memuji. Dengan kata lain, banyak pula cara untuk menaklukkan. Artinya, banyak juga celah untuk ditaklukkan. Maksudnya, jika ada suatu cara untuk menaklukkan orang, maka dengan itu pula engkau bisa ditaklukkannya. Inilah yang mesti diwaspadai. Lidah seperti ular berbisa yang meliuk-liuk dan membelit. Sekali orang terpatuk, orang bisa jadi kelimpungan dan lupa diri.

Lalu, apakah tidak ada obat dari bisa ular itu? Tentu saja ada. Obat dari racun ular, adalah racun. Jika orang terlanjur teracuni kata-kata, maka kata-kata pula obatnya. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Bukankah dalam banyak kasus, kata-kata adalah lawan sekaligus kawan bagi siapa saja.

Kata-kata yang sakti itu, bisa digunakan untuk mengikat orang lain. Saking saktinya, kata-kata juga bisa mengikat pemiliknya. Contoh kata-kata yang mengikat adalah janji. Entah janji kepada orang lain, makhluk lain, atau pun janji diri.

Saya ini adalah Cangak yang kadang-kadang memang terlalu banyak omong. Dan menurut para tetua, itu jelas salah. Tidak semua orang bisa diajak bicara, apalagi hanya bicara. Semua butuh bukti. Itulah sebabnya, dalam teks-teks tradisi, semisal Kanda Pat, konon satu bukti adalah cara ampuh untuk mengalahkan seribu jenis omongan. Artinya, orang tidaklah cukup hanya diberi omongan, tetapi mereka juga perlu bukti.

Sampai di titik itu, saya beralih kepada isi lontar. Kan banyak lontar-lontar yang isinya sungguh tidak masuk akal. Ada lontar yang membicarakan perihal kehidupan setelah kematian, semisal Putru Sangaskara. Ada juga yang menjelaskan perihal jenis-jenis api yang hidup di dalam tubuh, semisal Aji Lakan. Tidak kurang juga yang mendeskripsikan tubuh mulai dari lapisan-lapisan terluar sampai dengan lapisan terdalam.

Barangkali, sampai di titik itu lontar-lontar tidak lagi hanya mendeskripsikan, tetapi penting juga dibuktikan. Masalahnya, bagaimana caranya? Nah, kalau sudah begitu silahkan ditanyakan kepada praktisi-praktisi yang banyak itu. Beliau-beliau tentulah memiliki pengalaman pribadi yang menarik untuk didengarkan dan juga dipikir-pikirkan kembali.

Sekali waktu, dalam suatu percakapan klasik di antara orang-orang yang sama-sama paham ajaran tentang ini dan itu, terjadilah diskusi penting. Isi diskusinya, diawali dengan pembacaan sebuah teks lontar berjudul Dwijendra Aksara. Begini bunyinya.

“īti śāstra wӗkasing sūkṣma, panugrahan ida bhaṭārī stri, jumӗnӗng ring purā pulaki, ring ngūni ngūni, kawit duk ida padaṇdha dwijendra kesaḥ saking wilatikta, praya lunghā ka gelgel, kāturan andikṣain dalӗm, kāla abhīṣeka madӗg ratu ring bali rājya, pinaka catraning jagat sira, sinӗmbaḥ dening para raja bali […]”

“inilah Sastra Wekasing Suksma, anugerah Ida Bhatari Stri, yang tinggal di Pura Pulaki dahulu, diawali ketika Ida Pedanda Dwijendra pergi dari Wilatikta, akan pergi ke Gelgel, dimohonkan agar andiksain Dalem, saat diangkat menjadi raja di kerajaan Bali, sebagai payungnya dunia, disembah oleh para Raja Bali […]”

Ada beberapa hal penting yang mengemuka dalam percakapan itu. Pertama, ada suatu ajaran yang disebut Sastra Wekasing Suksma. Ajaran itu adalah otoritas dari Bhatari yang berada di Pura Pulaki. Kedua, ajaran tadi diberikan saat Ida Pedanda Dwijendra pergi meninggalkan Wilatikta. Ketiga, Ida Pedanda pergi ke Wilatikta adalah untuk menggelar ritual Diksa kepada Dalem yang menjadi raja baru di Bali. Percakapan singkat itu, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu contoh pertanyaannya: ajaran tentang apakah Sastra Wekasing Suksma itu?

Pertanyaan pada baris terakhir lahir itu adalah pertanyaan saya setelah mendengar diskusi berat tadi. Menjadi pendengar bukanlah tanpa resiko, karena setelahnya akan ada kelindan di dalam pikiran. Satu hal yang terkesan dari proses mendengarkan itu adalah kesimpulan yang saya dapat setelahnya. Nyatanya, di antara sekian banyak teks yang didiskusikan oleh banyak orang, selalu ada pertanyaan yang akan lahir. Pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah dapat dijawab secara tuntas karena antara pertanyaan dan jawaban sudah saling terjalin dan membentuk lingkaran tanpa ujung. Melepaskan diri dari ikatan pertanyaan-jawaban, tentu saja tidak mudah.

Mendengar percakapan penting yang didasarkan atas berbagai jenis sumber-sumber pustaka, akan menjadi pengalaman yang penting juga untuk dicatat. Tidak hanya perihal isi diskusi, tetapi juga situasinya. Situasi diskusi tentang hal-hal yang sublime semacam itu, lebih sering dilakukan sambil tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya, ajaran-ajaran penting yang dibicarakan tidak lebih dari sekadar lelucon bagi mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, menyeringai, tersenyum, sementara orang yang tidak mengerti hanya bisa ikut-ikutan tersenyum, menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak. Perbedaannya, kelompok yang satunya tertawa karena paham, yang satunya tertawa karena tidak mengerti. Mereka tertawa sama-sama, tetapi tertawanya tidak sama.

Saya juga tertawa. Saya tertawa karena melihat mereka semua tertawa. Bukanlah topik pembicaraan yang saya tertawakan, tetapi orangnya. Akhirnya semua tertawa dan terlihat bahagia. Mereka dan saya sama-sama punya alasan untuk tertawa.

Bukan hal baru bahwa ada orang-orang yang tertawa bahkan saat menghadapi permasalahan besar. Ada banyak konflik yang bisa ditertawakan. Konflik-konflik itu bisa ditafsir dengan berbagai macam cara. Saya berpendapat, ada suatu hal yang serius sedang terjadi dan menggerogoti sisi kemanusiaan dari berbagai sudut. Sayangnya, saya belum tahu mengapa itu terjadi. Yang lebih menarik lagi adalah hasil dari segala macam konflik itu. Tidak mungkin ada konflik tanpa hasil. Konflik seperti orang tua yang melahirkan anak. Anak konflik, tidak pernah satu, selalu banyak. Anak-anak itu hidup di dalam pikiran orang-orang yang berkonflik. Pada saatnya nanti, anak-anak itu akan besar dan menjadi konflik-konflik lainnya.

“Vishnugupta Chanakya — yang konon penulis Arthasastra itu – mengatakan bahwa penyebab konflik adalah ketidaksetaraan sosial dan kepentingan diri orang-orang”. Demikian ditulis oleh Ravindra Kumar dalam bukunya The Gandhian Way. Mengutip pernyataan dengan cara seperti ini bagi saya juga dilahirkan atas suatu konflik. Konflik batinlah sebabnya.

Pada masa ini, banyak aturan-aturan yang mengatur cara-cara penulisan dari A sampai Z. Dari Ha sampai Nya dalam aksara Bali. Mengutip dengan cara demikian saya sebut konflik batin, sebab cara itu didasarkan atas pembelaan diri jika nanti ada yang menuduh plagiat atau pun menuntut pertanggungjawaban atas pendapat yang telah dikemukakan.

Selain itu, dengan mengutip kata-kata ilmuan terdahulu, maka orang akan terlihat lebih cerdas dengan berdasarkan pada bahan bacaan yang luas dan dalam. Tetapi jika terlalu banyak mengutip, tulisan konon seperti rangkuman atas berbagai macam sumber. Disebutlah si penulis seperti burung beo kehujanan.

Segitu rumitnya hidup, sebaiknya memang dijalani dengan santai. Alis sudah terlalu sering mengkerut. Pencari bahagia tertimbun kebahagiaan, sampai mabuk dan lupa diri. Tidak sedikit orang yang tersenyum, saat tidak sedang ingin senyum. Ada yang menangis saat tidak ingin. Semuanya seperti drama kolosal yang sudah kita ketahui, tapi tidak mau kita akui. Ini hidup macam apa? [T]

Kacang [Kamus Cangak]

Cinta   : alasan untuk tidak saling menyakiti



Tags: cangakfilsafat balirenungansastra
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co