2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

I Wayan Kerti by I Wayan Kerti
September 24, 2019
in Ulasan
Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Sampul buku Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

  • Judul: Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci (kumpulan cerpen
  • Pengarang: Made Adnyana Ole
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Terbit: Cetakan kedua 2019
  • ISBN : 9-786026-106360

____

Buku yang diberi titel “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” yang merupakan kumpulan cerita pendek, cetakan pertama tahun 2018. Sesungguhnya, buku ini merupakan refleksi kegelisahan Made Adnyana Ole akan punahnya cerita-cerita masa lalu yang pernah lekat masa kecilnya bersama orang-orang terdekat di desanya. Cerita seperti itu sepertinya sulit terhubung pada anak-anak masa kini. Upaya itu dilakukan dengan menghubungkan cerita kakeknya di masa lalu, dengan cerita di masa kini yang ia saksikan atau melalui bacaan di koran-koran.

Sejumlah cerpen dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di media massa, seperti “Terumbu Tulang Istri”, “Darah Pembasuh Luka”, dan Lelaki Garam” di Kompas. “Gede Juta” dan “Kerapu Macan” di Majalah Horison, serta “Men Suka dan “4 Dari 100 Lelucon Politik” pernah muat di tatkala.co. Total cerpen yang terangkum pada buku kumpulan cerpen ini adalah 9 cerpen, yang semua isi dan alur ceritanya sangat menarik, misterius, penuh intrik yang membuat para pembaca akan penasaran karena sulit menebak akhir cerita sehingga harus menyelesaikan membaca karya tersebut.

Meminjam istilah Prof. Darma Putra pada acara “Forum Diskusi Bedah Sastra” di Kota Denpasar (Selasa, 21 Agustus 2018),  bahwa pada buku kumpulan cerpen ini ditemukan adanya atavisme, yaitu munculnya kisah-kisah masa lalu yang absen beberapa generasi. Dari situ jelas, Made Adnyana Ole sangat bersemangat ingin menghidupkan kembali kisah-kisah masa lalu agar bersemi kembali pada generasi masa kini.

Pada cerpen “Lelaki Garam” misalnya, Ole berkisah tentang pesisir; “ladang garam”, “petani garam”, serta “keranjang garam”, lalu ditautkan dengan kehidupan di pegunungan dan di pedalaman, yang membuat cerpen ini penuh misteri tentang apa yang akan dikisahkan. Jika dihubungkan dengan kehidupan masa kini, tentu setting cerita tersebut sudah mulai sulit didapatkan. Melalui cerpen ini, setidaknya Made Adnyana Ole memberi gambaran tentang kisah masa lalu tersebut pada generasi sekarang.

Cerpen  “Terumbu Tulang Istri”, Made Adnyana Ole menyuguhkan avatisme tentang kisah adanya tradisi “melarung” bagi pelaku penyimpangan seksual di Bali pada masa lalu, misalnya menyetubuhi binatang (sapi) yang menimbulkan reaksi berupa sanksi adat “menenggelamkan” hal yang dianggap “cemer” (kotor secara niskala). Jika dikaitkan dengan masa kini, rasanya akan menjadi efek jera jika diterapkan bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak (fedofilia) yang marak terjadi sebagai dampak geliat pariwisata.

“Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” yang dijadikan judul dari buku kumpulan cerpen ini memiliki unsur atavisme paling tinggi. Betapa tidak, pada cerpen ini dikisahkan seorang gadis kecil bertubuh mungil dari generasi beberapa abad lalu. Selanjutnya, gadis ini dikisahkan berasal dari keturunan keluarga terusir dari seberang sebuah pulau sebagai akibat bentuk tempat suci keyakinan mereka berbeda.

Di pulau yang baru, mereka lalu memulai hal baru, menikah dan beranak pinak dengan para saudaranya. Gadis suci sendiri tidak menikah karena tidak memiliki pasangan lagi. Ia memilih hidup sendiri dan menyingkir ke tengah hutan. Suatu hari, akibat secara terus-menerus (108 kali) melafalkan mantra yang pernah diajarkan neneknya, tiba-tiba tubuhnya menjadi ringan dan bisa terbang.

Mulai saat itulah Gadis Suci memiliki kemampuan berbeda dengan manusia biasa dan tidak terlihat oleh manusia lainnya. Hal itu pula menyebabkan ia dianggap sudah hilang. Padahal, ia hidup abadi sepanjang zaman. Ketika suatu hari Gadis Suci menandai berbagai tempat suci orang-orang kota dengan adonan kapur sirih berbentuk bintang, penduduk kota yang sudah berpikir modern kebanyakan tidak lagi mempercayai kisah yang dianggap muskil ini.

Hanya beberapa tetua yang masih memiliki keyakinan akan datangnya bencana di wilayahnya. Anak-anak muda justru beranggapan bahwa itu adalah teror yang dilakukan seseorang untuk meresahkan warganya. Golongan ini memilih berpikir logis dan realistis, dengan melaporkan peristiwa itu ke aparat penegak hukum untuk mengusutnya. Mereka mulai tidak percaya dan keluar dari tradisi turun-temurun para leluhurnya, kecuali para tetua.

Jika dikaitkan dengan kehidupan pada masa sekarang, sesungguhnya fenomena peristiwa “colek pamor” (tanda tambah dari kapur sirih) pada tempat suci dan rumah masyarakat Hindu di Bali  sepertinya ada relevansinya dengan cerita peristiwa di masa lalu. Namun, seperti biasa peristiwa itu pun memunculkan dua keyakinan; antara peristiwa mistis (tanda alam) peristiwa dan realistis (teror).

Pada cerpen “Siat Wengi” juga kental berkisah tentang berbagai pertentangan antara keyakinan atau tradisi masa lalu yang berbau mistis dan tradisional dengan pola pikir masyarakat kekinian yang mengedepankan berpikir logis. Pertentangan seperti itu sampai pada kehidupan sekarang pun masih terjadi. Walaupun kelompok penganut tradisional itu berada pada posisi minoritas dan mulai terpinggirkan oleh kemajuan zaman.

Dari berbagai kisah yang tersaji pada buku kumpulan cerpen ini, pembaca diajak dan diberikan sebuah pembelajaran berharga  bagaimana mengenang dan menghargai kembali kisah-kisah atau tradisi masa lalu. Hal itu dikisahkan oleh Made Adnyana Ole secara gamblang, runut, menarik, sehingga pembaca diajak seolah-olah melihat dan mengalami secara nyata berbagai peristiwa dengan setting di masa lalu. Made Adnyana Ole benar-benar sanggup menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, dengan harapan agar cerita-cerita para tetua di masa lalu tidaklah punah pada masa kini.

Kehadiran Sugi Lanus (ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Sosiety) telah memberikan bobot tersendiri pada karya ini. Dalam pandangan Sugi Lanus, Made Adnyana Ole adalah salah satu sosok orang Bali yang memahami dan menguasai kultur orang Bali, yang bisa menari, memainkan gamelan, hidupnya ke sawah dan mengerti mengurus sawah dan mengenali berbagai penyakitnya. Proses kreatif Made Adnyana Ole dianggap lebih menyerupai bengong petani yang menunggui air subak untuk mengaliri petak sawah sambil bernyanyi kecil, kadang menggerutu, tanpa berniat menciptakan epos atau parade kolosal.

Ilustrasi dari pelukis dan perupa Bali, Dewa Gede Purwita Sukahet yang banyak mengolah ikonik bebatuan dari karya lukis I Ketut Gede memberikan kesan klasik yang sangat mendukung isi cerita yang penuh dengan avatisme. Kemudian, motif awon-awonan, perahu, motif bunga, dedaunan, hingga motif tutul-tutul pada badan telah membalut kekerasan dengan flashback dan metafora garis-garis kuat dan keras.

Oleh sebab itu, kehadiran kumpulan cerita pendek Made Adnyana Ole ini patut disyukuri dan diberikan sambutan antusias oleh berbagai kalangan, seperti; pegiat literasi, pemerhati budaya, pemerintah yang sedang mengaungkan program “Ajeg Bali”, kalangan akademisi maupun dunia pendidikan. Kumpulan cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” sangat baik dan bermutu dijadikan narahubung antara masa lalu dengan masa kini, antara generasi tua dengan generasi muda, serta antara kaum tradisional dengan golongan realistis. [T]

*Tulisan ini disajikan dalam acara Diskusi Buku “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Minggu 22 September 2019.



Tags: BukuCerpenkarangasemkumpulan cerpenMade Adnyana Olepeluncuran buku
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Next Post

Ini Itu-Itu Ini

I Wayan Kerti

I Wayan Kerti

lahir di Sibetan, 29 Juni 1967. Menjalani aktivitas sehari-hari sebagai guru, saat ini bertugas di SMP Negeri 1 Abang. Gemar menulis; puisi, cerpen, opini atau esai di media massa. Saat ini juga masih dipercaya sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kabupaten Karangasem sejak 12 tahun lalu.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ini Itu-Itu Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co