23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Itu-Itu Ini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hati-hati dengan pujian, karena pujian adalah jurus ampuh untuk menaklukkan. Begitu dipuji, engkau akan langsung takluk. Bukan oleh dia yang memuji, tapi oleh keangkuhanmu sendiri.

Ada banyak cara untuk memuji. Dengan kata lain, banyak pula cara untuk menaklukkan. Artinya, banyak juga celah untuk ditaklukkan. Maksudnya, jika ada suatu cara untuk menaklukkan orang, maka dengan itu pula engkau bisa ditaklukkannya. Inilah yang mesti diwaspadai. Lidah seperti ular berbisa yang meliuk-liuk dan membelit. Sekali orang terpatuk, orang bisa jadi kelimpungan dan lupa diri.

Lalu, apakah tidak ada obat dari bisa ular itu? Tentu saja ada. Obat dari racun ular, adalah racun. Jika orang terlanjur teracuni kata-kata, maka kata-kata pula obatnya. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Bukankah dalam banyak kasus, kata-kata adalah lawan sekaligus kawan bagi siapa saja.

Kata-kata yang sakti itu, bisa digunakan untuk mengikat orang lain. Saking saktinya, kata-kata juga bisa mengikat pemiliknya. Contoh kata-kata yang mengikat adalah janji. Entah janji kepada orang lain, makhluk lain, atau pun janji diri.

Saya ini adalah Cangak yang kadang-kadang memang terlalu banyak omong. Dan menurut para tetua, itu jelas salah. Tidak semua orang bisa diajak bicara, apalagi hanya bicara. Semua butuh bukti. Itulah sebabnya, dalam teks-teks tradisi, semisal Kanda Pat, konon satu bukti adalah cara ampuh untuk mengalahkan seribu jenis omongan. Artinya, orang tidaklah cukup hanya diberi omongan, tetapi mereka juga perlu bukti.

Sampai di titik itu, saya beralih kepada isi lontar. Kan banyak lontar-lontar yang isinya sungguh tidak masuk akal. Ada lontar yang membicarakan perihal kehidupan setelah kematian, semisal Putru Sangaskara. Ada juga yang menjelaskan perihal jenis-jenis api yang hidup di dalam tubuh, semisal Aji Lakan. Tidak kurang juga yang mendeskripsikan tubuh mulai dari lapisan-lapisan terluar sampai dengan lapisan terdalam.

Barangkali, sampai di titik itu lontar-lontar tidak lagi hanya mendeskripsikan, tetapi penting juga dibuktikan. Masalahnya, bagaimana caranya? Nah, kalau sudah begitu silahkan ditanyakan kepada praktisi-praktisi yang banyak itu. Beliau-beliau tentulah memiliki pengalaman pribadi yang menarik untuk didengarkan dan juga dipikir-pikirkan kembali.

Sekali waktu, dalam suatu percakapan klasik di antara orang-orang yang sama-sama paham ajaran tentang ini dan itu, terjadilah diskusi penting. Isi diskusinya, diawali dengan pembacaan sebuah teks lontar berjudul Dwijendra Aksara. Begini bunyinya.

“īti śāstra wӗkasing sūkṣma, panugrahan ida bhaṭārī stri, jumӗnӗng ring purā pulaki, ring ngūni ngūni, kawit duk ida padaṇdha dwijendra kesaḥ saking wilatikta, praya lunghā ka gelgel, kāturan andikṣain dalӗm, kāla abhīṣeka madӗg ratu ring bali rājya, pinaka catraning jagat sira, sinӗmbaḥ dening para raja bali […]”

“inilah Sastra Wekasing Suksma, anugerah Ida Bhatari Stri, yang tinggal di Pura Pulaki dahulu, diawali ketika Ida Pedanda Dwijendra pergi dari Wilatikta, akan pergi ke Gelgel, dimohonkan agar andiksain Dalem, saat diangkat menjadi raja di kerajaan Bali, sebagai payungnya dunia, disembah oleh para Raja Bali […]”

Ada beberapa hal penting yang mengemuka dalam percakapan itu. Pertama, ada suatu ajaran yang disebut Sastra Wekasing Suksma. Ajaran itu adalah otoritas dari Bhatari yang berada di Pura Pulaki. Kedua, ajaran tadi diberikan saat Ida Pedanda Dwijendra pergi meninggalkan Wilatikta. Ketiga, Ida Pedanda pergi ke Wilatikta adalah untuk menggelar ritual Diksa kepada Dalem yang menjadi raja baru di Bali. Percakapan singkat itu, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu contoh pertanyaannya: ajaran tentang apakah Sastra Wekasing Suksma itu?

Pertanyaan pada baris terakhir lahir itu adalah pertanyaan saya setelah mendengar diskusi berat tadi. Menjadi pendengar bukanlah tanpa resiko, karena setelahnya akan ada kelindan di dalam pikiran. Satu hal yang terkesan dari proses mendengarkan itu adalah kesimpulan yang saya dapat setelahnya. Nyatanya, di antara sekian banyak teks yang didiskusikan oleh banyak orang, selalu ada pertanyaan yang akan lahir. Pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah dapat dijawab secara tuntas karena antara pertanyaan dan jawaban sudah saling terjalin dan membentuk lingkaran tanpa ujung. Melepaskan diri dari ikatan pertanyaan-jawaban, tentu saja tidak mudah.

Mendengar percakapan penting yang didasarkan atas berbagai jenis sumber-sumber pustaka, akan menjadi pengalaman yang penting juga untuk dicatat. Tidak hanya perihal isi diskusi, tetapi juga situasinya. Situasi diskusi tentang hal-hal yang sublime semacam itu, lebih sering dilakukan sambil tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya, ajaran-ajaran penting yang dibicarakan tidak lebih dari sekadar lelucon bagi mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, menyeringai, tersenyum, sementara orang yang tidak mengerti hanya bisa ikut-ikutan tersenyum, menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak. Perbedaannya, kelompok yang satunya tertawa karena paham, yang satunya tertawa karena tidak mengerti. Mereka tertawa sama-sama, tetapi tertawanya tidak sama.

Saya juga tertawa. Saya tertawa karena melihat mereka semua tertawa. Bukanlah topik pembicaraan yang saya tertawakan, tetapi orangnya. Akhirnya semua tertawa dan terlihat bahagia. Mereka dan saya sama-sama punya alasan untuk tertawa.

Bukan hal baru bahwa ada orang-orang yang tertawa bahkan saat menghadapi permasalahan besar. Ada banyak konflik yang bisa ditertawakan. Konflik-konflik itu bisa ditafsir dengan berbagai macam cara. Saya berpendapat, ada suatu hal yang serius sedang terjadi dan menggerogoti sisi kemanusiaan dari berbagai sudut. Sayangnya, saya belum tahu mengapa itu terjadi. Yang lebih menarik lagi adalah hasil dari segala macam konflik itu. Tidak mungkin ada konflik tanpa hasil. Konflik seperti orang tua yang melahirkan anak. Anak konflik, tidak pernah satu, selalu banyak. Anak-anak itu hidup di dalam pikiran orang-orang yang berkonflik. Pada saatnya nanti, anak-anak itu akan besar dan menjadi konflik-konflik lainnya.

“Vishnugupta Chanakya — yang konon penulis Arthasastra itu – mengatakan bahwa penyebab konflik adalah ketidaksetaraan sosial dan kepentingan diri orang-orang”. Demikian ditulis oleh Ravindra Kumar dalam bukunya The Gandhian Way. Mengutip pernyataan dengan cara seperti ini bagi saya juga dilahirkan atas suatu konflik. Konflik batinlah sebabnya.

Pada masa ini, banyak aturan-aturan yang mengatur cara-cara penulisan dari A sampai Z. Dari Ha sampai Nya dalam aksara Bali. Mengutip dengan cara demikian saya sebut konflik batin, sebab cara itu didasarkan atas pembelaan diri jika nanti ada yang menuduh plagiat atau pun menuntut pertanggungjawaban atas pendapat yang telah dikemukakan.

Selain itu, dengan mengutip kata-kata ilmuan terdahulu, maka orang akan terlihat lebih cerdas dengan berdasarkan pada bahan bacaan yang luas dan dalam. Tetapi jika terlalu banyak mengutip, tulisan konon seperti rangkuman atas berbagai macam sumber. Disebutlah si penulis seperti burung beo kehujanan.

Segitu rumitnya hidup, sebaiknya memang dijalani dengan santai. Alis sudah terlalu sering mengkerut. Pencari bahagia tertimbun kebahagiaan, sampai mabuk dan lupa diri. Tidak sedikit orang yang tersenyum, saat tidak sedang ingin senyum. Ada yang menangis saat tidak ingin. Semuanya seperti drama kolosal yang sudah kita ketahui, tapi tidak mau kita akui. Ini hidup macam apa? [T]

Kacang [Kamus Cangak]

Cinta   : alasan untuk tidak saling menyakiti



Tags: cangakfilsafat balirenungansastra
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co