2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Itu-Itu Ini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hati-hati dengan pujian, karena pujian adalah jurus ampuh untuk menaklukkan. Begitu dipuji, engkau akan langsung takluk. Bukan oleh dia yang memuji, tapi oleh keangkuhanmu sendiri.

Ada banyak cara untuk memuji. Dengan kata lain, banyak pula cara untuk menaklukkan. Artinya, banyak juga celah untuk ditaklukkan. Maksudnya, jika ada suatu cara untuk menaklukkan orang, maka dengan itu pula engkau bisa ditaklukkannya. Inilah yang mesti diwaspadai. Lidah seperti ular berbisa yang meliuk-liuk dan membelit. Sekali orang terpatuk, orang bisa jadi kelimpungan dan lupa diri.

Lalu, apakah tidak ada obat dari bisa ular itu? Tentu saja ada. Obat dari racun ular, adalah racun. Jika orang terlanjur teracuni kata-kata, maka kata-kata pula obatnya. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Bukankah dalam banyak kasus, kata-kata adalah lawan sekaligus kawan bagi siapa saja.

Kata-kata yang sakti itu, bisa digunakan untuk mengikat orang lain. Saking saktinya, kata-kata juga bisa mengikat pemiliknya. Contoh kata-kata yang mengikat adalah janji. Entah janji kepada orang lain, makhluk lain, atau pun janji diri.

Saya ini adalah Cangak yang kadang-kadang memang terlalu banyak omong. Dan menurut para tetua, itu jelas salah. Tidak semua orang bisa diajak bicara, apalagi hanya bicara. Semua butuh bukti. Itulah sebabnya, dalam teks-teks tradisi, semisal Kanda Pat, konon satu bukti adalah cara ampuh untuk mengalahkan seribu jenis omongan. Artinya, orang tidaklah cukup hanya diberi omongan, tetapi mereka juga perlu bukti.

Sampai di titik itu, saya beralih kepada isi lontar. Kan banyak lontar-lontar yang isinya sungguh tidak masuk akal. Ada lontar yang membicarakan perihal kehidupan setelah kematian, semisal Putru Sangaskara. Ada juga yang menjelaskan perihal jenis-jenis api yang hidup di dalam tubuh, semisal Aji Lakan. Tidak kurang juga yang mendeskripsikan tubuh mulai dari lapisan-lapisan terluar sampai dengan lapisan terdalam.

Barangkali, sampai di titik itu lontar-lontar tidak lagi hanya mendeskripsikan, tetapi penting juga dibuktikan. Masalahnya, bagaimana caranya? Nah, kalau sudah begitu silahkan ditanyakan kepada praktisi-praktisi yang banyak itu. Beliau-beliau tentulah memiliki pengalaman pribadi yang menarik untuk didengarkan dan juga dipikir-pikirkan kembali.

Sekali waktu, dalam suatu percakapan klasik di antara orang-orang yang sama-sama paham ajaran tentang ini dan itu, terjadilah diskusi penting. Isi diskusinya, diawali dengan pembacaan sebuah teks lontar berjudul Dwijendra Aksara. Begini bunyinya.

“īti śāstra wӗkasing sūkṣma, panugrahan ida bhaṭārī stri, jumӗnӗng ring purā pulaki, ring ngūni ngūni, kawit duk ida padaṇdha dwijendra kesaḥ saking wilatikta, praya lunghā ka gelgel, kāturan andikṣain dalӗm, kāla abhīṣeka madӗg ratu ring bali rājya, pinaka catraning jagat sira, sinӗmbaḥ dening para raja bali […]”

“inilah Sastra Wekasing Suksma, anugerah Ida Bhatari Stri, yang tinggal di Pura Pulaki dahulu, diawali ketika Ida Pedanda Dwijendra pergi dari Wilatikta, akan pergi ke Gelgel, dimohonkan agar andiksain Dalem, saat diangkat menjadi raja di kerajaan Bali, sebagai payungnya dunia, disembah oleh para Raja Bali […]”

Ada beberapa hal penting yang mengemuka dalam percakapan itu. Pertama, ada suatu ajaran yang disebut Sastra Wekasing Suksma. Ajaran itu adalah otoritas dari Bhatari yang berada di Pura Pulaki. Kedua, ajaran tadi diberikan saat Ida Pedanda Dwijendra pergi meninggalkan Wilatikta. Ketiga, Ida Pedanda pergi ke Wilatikta adalah untuk menggelar ritual Diksa kepada Dalem yang menjadi raja baru di Bali. Percakapan singkat itu, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu contoh pertanyaannya: ajaran tentang apakah Sastra Wekasing Suksma itu?

Pertanyaan pada baris terakhir lahir itu adalah pertanyaan saya setelah mendengar diskusi berat tadi. Menjadi pendengar bukanlah tanpa resiko, karena setelahnya akan ada kelindan di dalam pikiran. Satu hal yang terkesan dari proses mendengarkan itu adalah kesimpulan yang saya dapat setelahnya. Nyatanya, di antara sekian banyak teks yang didiskusikan oleh banyak orang, selalu ada pertanyaan yang akan lahir. Pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah dapat dijawab secara tuntas karena antara pertanyaan dan jawaban sudah saling terjalin dan membentuk lingkaran tanpa ujung. Melepaskan diri dari ikatan pertanyaan-jawaban, tentu saja tidak mudah.

Mendengar percakapan penting yang didasarkan atas berbagai jenis sumber-sumber pustaka, akan menjadi pengalaman yang penting juga untuk dicatat. Tidak hanya perihal isi diskusi, tetapi juga situasinya. Situasi diskusi tentang hal-hal yang sublime semacam itu, lebih sering dilakukan sambil tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya, ajaran-ajaran penting yang dibicarakan tidak lebih dari sekadar lelucon bagi mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, menyeringai, tersenyum, sementara orang yang tidak mengerti hanya bisa ikut-ikutan tersenyum, menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak. Perbedaannya, kelompok yang satunya tertawa karena paham, yang satunya tertawa karena tidak mengerti. Mereka tertawa sama-sama, tetapi tertawanya tidak sama.

Saya juga tertawa. Saya tertawa karena melihat mereka semua tertawa. Bukanlah topik pembicaraan yang saya tertawakan, tetapi orangnya. Akhirnya semua tertawa dan terlihat bahagia. Mereka dan saya sama-sama punya alasan untuk tertawa.

Bukan hal baru bahwa ada orang-orang yang tertawa bahkan saat menghadapi permasalahan besar. Ada banyak konflik yang bisa ditertawakan. Konflik-konflik itu bisa ditafsir dengan berbagai macam cara. Saya berpendapat, ada suatu hal yang serius sedang terjadi dan menggerogoti sisi kemanusiaan dari berbagai sudut. Sayangnya, saya belum tahu mengapa itu terjadi. Yang lebih menarik lagi adalah hasil dari segala macam konflik itu. Tidak mungkin ada konflik tanpa hasil. Konflik seperti orang tua yang melahirkan anak. Anak konflik, tidak pernah satu, selalu banyak. Anak-anak itu hidup di dalam pikiran orang-orang yang berkonflik. Pada saatnya nanti, anak-anak itu akan besar dan menjadi konflik-konflik lainnya.

“Vishnugupta Chanakya — yang konon penulis Arthasastra itu – mengatakan bahwa penyebab konflik adalah ketidaksetaraan sosial dan kepentingan diri orang-orang”. Demikian ditulis oleh Ravindra Kumar dalam bukunya The Gandhian Way. Mengutip pernyataan dengan cara seperti ini bagi saya juga dilahirkan atas suatu konflik. Konflik batinlah sebabnya.

Pada masa ini, banyak aturan-aturan yang mengatur cara-cara penulisan dari A sampai Z. Dari Ha sampai Nya dalam aksara Bali. Mengutip dengan cara demikian saya sebut konflik batin, sebab cara itu didasarkan atas pembelaan diri jika nanti ada yang menuduh plagiat atau pun menuntut pertanggungjawaban atas pendapat yang telah dikemukakan.

Selain itu, dengan mengutip kata-kata ilmuan terdahulu, maka orang akan terlihat lebih cerdas dengan berdasarkan pada bahan bacaan yang luas dan dalam. Tetapi jika terlalu banyak mengutip, tulisan konon seperti rangkuman atas berbagai macam sumber. Disebutlah si penulis seperti burung beo kehujanan.

Segitu rumitnya hidup, sebaiknya memang dijalani dengan santai. Alis sudah terlalu sering mengkerut. Pencari bahagia tertimbun kebahagiaan, sampai mabuk dan lupa diri. Tidak sedikit orang yang tersenyum, saat tidak sedang ingin senyum. Ada yang menangis saat tidak ingin. Semuanya seperti drama kolosal yang sudah kita ketahui, tapi tidak mau kita akui. Ini hidup macam apa? [T]

Kacang [Kamus Cangak]

Cinta   : alasan untuk tidak saling menyakiti



Tags: cangakfilsafat balirenungansastra
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co