12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ini Itu-Itu Ini

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
September 24, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Hati-hati dengan pujian, karena pujian adalah jurus ampuh untuk menaklukkan. Begitu dipuji, engkau akan langsung takluk. Bukan oleh dia yang memuji, tapi oleh keangkuhanmu sendiri.

Ada banyak cara untuk memuji. Dengan kata lain, banyak pula cara untuk menaklukkan. Artinya, banyak juga celah untuk ditaklukkan. Maksudnya, jika ada suatu cara untuk menaklukkan orang, maka dengan itu pula engkau bisa ditaklukkannya. Inilah yang mesti diwaspadai. Lidah seperti ular berbisa yang meliuk-liuk dan membelit. Sekali orang terpatuk, orang bisa jadi kelimpungan dan lupa diri.

Lalu, apakah tidak ada obat dari bisa ular itu? Tentu saja ada. Obat dari racun ular, adalah racun. Jika orang terlanjur teracuni kata-kata, maka kata-kata pula obatnya. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk dikuasai. Bukankah dalam banyak kasus, kata-kata adalah lawan sekaligus kawan bagi siapa saja.

Kata-kata yang sakti itu, bisa digunakan untuk mengikat orang lain. Saking saktinya, kata-kata juga bisa mengikat pemiliknya. Contoh kata-kata yang mengikat adalah janji. Entah janji kepada orang lain, makhluk lain, atau pun janji diri.

Saya ini adalah Cangak yang kadang-kadang memang terlalu banyak omong. Dan menurut para tetua, itu jelas salah. Tidak semua orang bisa diajak bicara, apalagi hanya bicara. Semua butuh bukti. Itulah sebabnya, dalam teks-teks tradisi, semisal Kanda Pat, konon satu bukti adalah cara ampuh untuk mengalahkan seribu jenis omongan. Artinya, orang tidaklah cukup hanya diberi omongan, tetapi mereka juga perlu bukti.

Sampai di titik itu, saya beralih kepada isi lontar. Kan banyak lontar-lontar yang isinya sungguh tidak masuk akal. Ada lontar yang membicarakan perihal kehidupan setelah kematian, semisal Putru Sangaskara. Ada juga yang menjelaskan perihal jenis-jenis api yang hidup di dalam tubuh, semisal Aji Lakan. Tidak kurang juga yang mendeskripsikan tubuh mulai dari lapisan-lapisan terluar sampai dengan lapisan terdalam.

Barangkali, sampai di titik itu lontar-lontar tidak lagi hanya mendeskripsikan, tetapi penting juga dibuktikan. Masalahnya, bagaimana caranya? Nah, kalau sudah begitu silahkan ditanyakan kepada praktisi-praktisi yang banyak itu. Beliau-beliau tentulah memiliki pengalaman pribadi yang menarik untuk didengarkan dan juga dipikir-pikirkan kembali.

Sekali waktu, dalam suatu percakapan klasik di antara orang-orang yang sama-sama paham ajaran tentang ini dan itu, terjadilah diskusi penting. Isi diskusinya, diawali dengan pembacaan sebuah teks lontar berjudul Dwijendra Aksara. Begini bunyinya.

“īti śāstra wӗkasing sūkṣma, panugrahan ida bhaṭārī stri, jumӗnӗng ring purā pulaki, ring ngūni ngūni, kawit duk ida padaṇdha dwijendra kesaḥ saking wilatikta, praya lunghā ka gelgel, kāturan andikṣain dalӗm, kāla abhīṣeka madӗg ratu ring bali rājya, pinaka catraning jagat sira, sinӗmbaḥ dening para raja bali […]”

“inilah Sastra Wekasing Suksma, anugerah Ida Bhatari Stri, yang tinggal di Pura Pulaki dahulu, diawali ketika Ida Pedanda Dwijendra pergi dari Wilatikta, akan pergi ke Gelgel, dimohonkan agar andiksain Dalem, saat diangkat menjadi raja di kerajaan Bali, sebagai payungnya dunia, disembah oleh para Raja Bali […]”

Ada beberapa hal penting yang mengemuka dalam percakapan itu. Pertama, ada suatu ajaran yang disebut Sastra Wekasing Suksma. Ajaran itu adalah otoritas dari Bhatari yang berada di Pura Pulaki. Kedua, ajaran tadi diberikan saat Ida Pedanda Dwijendra pergi meninggalkan Wilatikta. Ketiga, Ida Pedanda pergi ke Wilatikta adalah untuk menggelar ritual Diksa kepada Dalem yang menjadi raja baru di Bali. Percakapan singkat itu, masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan. Salah satu contoh pertanyaannya: ajaran tentang apakah Sastra Wekasing Suksma itu?

Pertanyaan pada baris terakhir lahir itu adalah pertanyaan saya setelah mendengar diskusi berat tadi. Menjadi pendengar bukanlah tanpa resiko, karena setelahnya akan ada kelindan di dalam pikiran. Satu hal yang terkesan dari proses mendengarkan itu adalah kesimpulan yang saya dapat setelahnya. Nyatanya, di antara sekian banyak teks yang didiskusikan oleh banyak orang, selalu ada pertanyaan yang akan lahir. Pertanyaan-pertanyaan itu, tidaklah dapat dijawab secara tuntas karena antara pertanyaan dan jawaban sudah saling terjalin dan membentuk lingkaran tanpa ujung. Melepaskan diri dari ikatan pertanyaan-jawaban, tentu saja tidak mudah.

Mendengar percakapan penting yang didasarkan atas berbagai jenis sumber-sumber pustaka, akan menjadi pengalaman yang penting juga untuk dicatat. Tidak hanya perihal isi diskusi, tetapi juga situasinya. Situasi diskusi tentang hal-hal yang sublime semacam itu, lebih sering dilakukan sambil tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya, ajaran-ajaran penting yang dibicarakan tidak lebih dari sekadar lelucon bagi mereka. Mereka tertawa terbahak-bahak, menyeringai, tersenyum, sementara orang yang tidak mengerti hanya bisa ikut-ikutan tersenyum, menyeringai, lalu tertawa terbahak-bahak. Perbedaannya, kelompok yang satunya tertawa karena paham, yang satunya tertawa karena tidak mengerti. Mereka tertawa sama-sama, tetapi tertawanya tidak sama.

Saya juga tertawa. Saya tertawa karena melihat mereka semua tertawa. Bukanlah topik pembicaraan yang saya tertawakan, tetapi orangnya. Akhirnya semua tertawa dan terlihat bahagia. Mereka dan saya sama-sama punya alasan untuk tertawa.

Bukan hal baru bahwa ada orang-orang yang tertawa bahkan saat menghadapi permasalahan besar. Ada banyak konflik yang bisa ditertawakan. Konflik-konflik itu bisa ditafsir dengan berbagai macam cara. Saya berpendapat, ada suatu hal yang serius sedang terjadi dan menggerogoti sisi kemanusiaan dari berbagai sudut. Sayangnya, saya belum tahu mengapa itu terjadi. Yang lebih menarik lagi adalah hasil dari segala macam konflik itu. Tidak mungkin ada konflik tanpa hasil. Konflik seperti orang tua yang melahirkan anak. Anak konflik, tidak pernah satu, selalu banyak. Anak-anak itu hidup di dalam pikiran orang-orang yang berkonflik. Pada saatnya nanti, anak-anak itu akan besar dan menjadi konflik-konflik lainnya.

“Vishnugupta Chanakya — yang konon penulis Arthasastra itu – mengatakan bahwa penyebab konflik adalah ketidaksetaraan sosial dan kepentingan diri orang-orang”. Demikian ditulis oleh Ravindra Kumar dalam bukunya The Gandhian Way. Mengutip pernyataan dengan cara seperti ini bagi saya juga dilahirkan atas suatu konflik. Konflik batinlah sebabnya.

Pada masa ini, banyak aturan-aturan yang mengatur cara-cara penulisan dari A sampai Z. Dari Ha sampai Nya dalam aksara Bali. Mengutip dengan cara demikian saya sebut konflik batin, sebab cara itu didasarkan atas pembelaan diri jika nanti ada yang menuduh plagiat atau pun menuntut pertanggungjawaban atas pendapat yang telah dikemukakan.

Selain itu, dengan mengutip kata-kata ilmuan terdahulu, maka orang akan terlihat lebih cerdas dengan berdasarkan pada bahan bacaan yang luas dan dalam. Tetapi jika terlalu banyak mengutip, tulisan konon seperti rangkuman atas berbagai macam sumber. Disebutlah si penulis seperti burung beo kehujanan.

Segitu rumitnya hidup, sebaiknya memang dijalani dengan santai. Alis sudah terlalu sering mengkerut. Pencari bahagia tertimbun kebahagiaan, sampai mabuk dan lupa diri. Tidak sedikit orang yang tersenyum, saat tidak sedang ingin senyum. Ada yang menangis saat tidak ingin. Semuanya seperti drama kolosal yang sudah kita ketahui, tapi tidak mau kita akui. Ini hidup macam apa? [T]

Kacang [Kamus Cangak]

Cinta   : alasan untuk tidak saling menyakiti



Tags: cangakfilsafat balirenungansastra
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Next Post

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Etos Kerja Orang Bali, “Jengah” & “De Ngadén Awak Bisa”

“Ngayah” Bukan “Lelah Sing Mabayah”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co