24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

I Wayan Kerti by I Wayan Kerti
September 24, 2019
in Ulasan
Menelisik Sisi Atavisme pada “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci”

Sampul buku Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci

  • Judul: Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci (kumpulan cerpen
  • Pengarang: Made Adnyana Ole
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Terbit: Cetakan kedua 2019
  • ISBN : 9-786026-106360

____

Buku yang diberi titel “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” yang merupakan kumpulan cerita pendek, cetakan pertama tahun 2018. Sesungguhnya, buku ini merupakan refleksi kegelisahan Made Adnyana Ole akan punahnya cerita-cerita masa lalu yang pernah lekat masa kecilnya bersama orang-orang terdekat di desanya. Cerita seperti itu sepertinya sulit terhubung pada anak-anak masa kini. Upaya itu dilakukan dengan menghubungkan cerita kakeknya di masa lalu, dengan cerita di masa kini yang ia saksikan atau melalui bacaan di koran-koran.

Sejumlah cerpen dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di media massa, seperti “Terumbu Tulang Istri”, “Darah Pembasuh Luka”, dan Lelaki Garam” di Kompas. “Gede Juta” dan “Kerapu Macan” di Majalah Horison, serta “Men Suka dan “4 Dari 100 Lelucon Politik” pernah muat di tatkala.co. Total cerpen yang terangkum pada buku kumpulan cerpen ini adalah 9 cerpen, yang semua isi dan alur ceritanya sangat menarik, misterius, penuh intrik yang membuat para pembaca akan penasaran karena sulit menebak akhir cerita sehingga harus menyelesaikan membaca karya tersebut.

Meminjam istilah Prof. Darma Putra pada acara “Forum Diskusi Bedah Sastra” di Kota Denpasar (Selasa, 21 Agustus 2018),  bahwa pada buku kumpulan cerpen ini ditemukan adanya atavisme, yaitu munculnya kisah-kisah masa lalu yang absen beberapa generasi. Dari situ jelas, Made Adnyana Ole sangat bersemangat ingin menghidupkan kembali kisah-kisah masa lalu agar bersemi kembali pada generasi masa kini.

Pada cerpen “Lelaki Garam” misalnya, Ole berkisah tentang pesisir; “ladang garam”, “petani garam”, serta “keranjang garam”, lalu ditautkan dengan kehidupan di pegunungan dan di pedalaman, yang membuat cerpen ini penuh misteri tentang apa yang akan dikisahkan. Jika dihubungkan dengan kehidupan masa kini, tentu setting cerita tersebut sudah mulai sulit didapatkan. Melalui cerpen ini, setidaknya Made Adnyana Ole memberi gambaran tentang kisah masa lalu tersebut pada generasi sekarang.

Cerpen  “Terumbu Tulang Istri”, Made Adnyana Ole menyuguhkan avatisme tentang kisah adanya tradisi “melarung” bagi pelaku penyimpangan seksual di Bali pada masa lalu, misalnya menyetubuhi binatang (sapi) yang menimbulkan reaksi berupa sanksi adat “menenggelamkan” hal yang dianggap “cemer” (kotor secara niskala). Jika dikaitkan dengan masa kini, rasanya akan menjadi efek jera jika diterapkan bagi para pelaku kejahatan seksual terhadap anak (fedofilia) yang marak terjadi sebagai dampak geliat pariwisata.

“Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” yang dijadikan judul dari buku kumpulan cerpen ini memiliki unsur atavisme paling tinggi. Betapa tidak, pada cerpen ini dikisahkan seorang gadis kecil bertubuh mungil dari generasi beberapa abad lalu. Selanjutnya, gadis ini dikisahkan berasal dari keturunan keluarga terusir dari seberang sebuah pulau sebagai akibat bentuk tempat suci keyakinan mereka berbeda.

Di pulau yang baru, mereka lalu memulai hal baru, menikah dan beranak pinak dengan para saudaranya. Gadis suci sendiri tidak menikah karena tidak memiliki pasangan lagi. Ia memilih hidup sendiri dan menyingkir ke tengah hutan. Suatu hari, akibat secara terus-menerus (108 kali) melafalkan mantra yang pernah diajarkan neneknya, tiba-tiba tubuhnya menjadi ringan dan bisa terbang.

Mulai saat itulah Gadis Suci memiliki kemampuan berbeda dengan manusia biasa dan tidak terlihat oleh manusia lainnya. Hal itu pula menyebabkan ia dianggap sudah hilang. Padahal, ia hidup abadi sepanjang zaman. Ketika suatu hari Gadis Suci menandai berbagai tempat suci orang-orang kota dengan adonan kapur sirih berbentuk bintang, penduduk kota yang sudah berpikir modern kebanyakan tidak lagi mempercayai kisah yang dianggap muskil ini.

Hanya beberapa tetua yang masih memiliki keyakinan akan datangnya bencana di wilayahnya. Anak-anak muda justru beranggapan bahwa itu adalah teror yang dilakukan seseorang untuk meresahkan warganya. Golongan ini memilih berpikir logis dan realistis, dengan melaporkan peristiwa itu ke aparat penegak hukum untuk mengusutnya. Mereka mulai tidak percaya dan keluar dari tradisi turun-temurun para leluhurnya, kecuali para tetua.

Jika dikaitkan dengan kehidupan pada masa sekarang, sesungguhnya fenomena peristiwa “colek pamor” (tanda tambah dari kapur sirih) pada tempat suci dan rumah masyarakat Hindu di Bali  sepertinya ada relevansinya dengan cerita peristiwa di masa lalu. Namun, seperti biasa peristiwa itu pun memunculkan dua keyakinan; antara peristiwa mistis (tanda alam) peristiwa dan realistis (teror).

Pada cerpen “Siat Wengi” juga kental berkisah tentang berbagai pertentangan antara keyakinan atau tradisi masa lalu yang berbau mistis dan tradisional dengan pola pikir masyarakat kekinian yang mengedepankan berpikir logis. Pertentangan seperti itu sampai pada kehidupan sekarang pun masih terjadi. Walaupun kelompok penganut tradisional itu berada pada posisi minoritas dan mulai terpinggirkan oleh kemajuan zaman.

Dari berbagai kisah yang tersaji pada buku kumpulan cerpen ini, pembaca diajak dan diberikan sebuah pembelajaran berharga  bagaimana mengenang dan menghargai kembali kisah-kisah atau tradisi masa lalu. Hal itu dikisahkan oleh Made Adnyana Ole secara gamblang, runut, menarik, sehingga pembaca diajak seolah-olah melihat dan mengalami secara nyata berbagai peristiwa dengan setting di masa lalu. Made Adnyana Ole benar-benar sanggup menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, dengan harapan agar cerita-cerita para tetua di masa lalu tidaklah punah pada masa kini.

Kehadiran Sugi Lanus (ahli lontar dan pendiri Hanacaraka Sosiety) telah memberikan bobot tersendiri pada karya ini. Dalam pandangan Sugi Lanus, Made Adnyana Ole adalah salah satu sosok orang Bali yang memahami dan menguasai kultur orang Bali, yang bisa menari, memainkan gamelan, hidupnya ke sawah dan mengerti mengurus sawah dan mengenali berbagai penyakitnya. Proses kreatif Made Adnyana Ole dianggap lebih menyerupai bengong petani yang menunggui air subak untuk mengaliri petak sawah sambil bernyanyi kecil, kadang menggerutu, tanpa berniat menciptakan epos atau parade kolosal.

Ilustrasi dari pelukis dan perupa Bali, Dewa Gede Purwita Sukahet yang banyak mengolah ikonik bebatuan dari karya lukis I Ketut Gede memberikan kesan klasik yang sangat mendukung isi cerita yang penuh dengan avatisme. Kemudian, motif awon-awonan, perahu, motif bunga, dedaunan, hingga motif tutul-tutul pada badan telah membalut kekerasan dengan flashback dan metafora garis-garis kuat dan keras.

Oleh sebab itu, kehadiran kumpulan cerita pendek Made Adnyana Ole ini patut disyukuri dan diberikan sambutan antusias oleh berbagai kalangan, seperti; pegiat literasi, pemerhati budaya, pemerintah yang sedang mengaungkan program “Ajeg Bali”, kalangan akademisi maupun dunia pendidikan. Kumpulan cerpen “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” sangat baik dan bermutu dijadikan narahubung antara masa lalu dengan masa kini, antara generasi tua dengan generasi muda, serta antara kaum tradisional dengan golongan realistis. [T]

*Tulisan ini disajikan dalam acara Diskusi Buku “Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci” di Museum Pustaka Lontar Dukuh Penaban, Karangasem, Minggu 22 September 2019.



Tags: BukuCerpenkarangasemkumpulan cerpenMade Adnyana Olepeluncuran buku
Share45TweetSendShareSend
Previous Post

Menulis dan Pendosa Kebudayaan – Catatan dari Dukuh Penaban

Next Post

Ini Itu-Itu Ini

I Wayan Kerti

I Wayan Kerti

lahir di Sibetan, 29 Juni 1967. Menjalani aktivitas sehari-hari sebagai guru, saat ini bertugas di SMP Negeri 1 Abang. Gemar menulis; puisi, cerpen, opini atau esai di media massa. Saat ini juga masih dipercaya sebagai ketua MGMP Bahasa Indonesia SMP/MTs. Kabupaten Karangasem sejak 12 tahun lalu.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Ini Itu-Itu Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co