6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhadapan dengan Raja

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 6, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Saya ingin begini. Saya ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali. Itu kalimat seperti lagu masa kanak-kanak tentang kantong ajaib yang berisi segala jenis benda-benda hasil penemuan manusia paling muktahir. Ini memang tentang keinginan yang tidak ada ujungnya. Benar memang pertanyaan, apa yang lebih banyak dari rerumputan? Jawabannya adalah keinginan.

Keinginan bisa bekerja dengan cara yang aneh. Jika keinginan itu dihilangkan, orang yang memilikinya akan kebingungan. Tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya ingin dicapainya dalam hidup. Impian seperti habis, tujuan seperti sudah tercapai. Ingin berjalan ke kanan, tapi bukan itu tujuannya. Belok kekiri, juga bukan. Lurus atau balik arah juga tidak jelas.

Dalam banyak kasus, segala jenis keinginan itu bisa mengarahkan orang untuk melakukan sesuatu yang bahkan sulit dicerna. Keinginan untuk tidak sendiri, bisa membuat orang hiperaktif untuk menarik minat sekelilingnya. Keinginan untuk menyendiri, mengakibatkan orang terkesan ketus tiap menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Keinginan untuk kaya, bisa membuat orang melakukan penipuan. Keinginan untuk selamat, bisa membuat orang mencari pembenar, meski segala yang dilakukannya melanggar kepercayaan yang sudah ia yakini. Dengan demikian, kita sudah punya aktor yang bisa kita salahkan atas segala hal.

Kalau begitu, mari kita pelan-pelan menghilangkan keinginan. Tapi awas, tiap usaha yang dilakukan untuk menghilangkannya justru bisa hilang dengan sendirinya. Bagaimana ini? Makanya, hati-hati dengan keinginan. Jika ia terus diikuti, bukan tidak mungkin nanti pengikutnya jadi sengsara. Seperti laron yang terus mengikuti nyala api. Sayapnya bisa terbakar.

Mirip burung yang selalu memburu makanan lezat, tidak tahu dia kalau makanan yang diburunya ditaruh di dalam keranjang jebakan. Setelah terjebak, bingunglah dia. Bertanya-tanya dalam hati, “mengapa aku dijebak begini?”. Burung sering dijebak karena ia punya suara yang indah. Sayangnya, burung tidak tahu kelebihan itu.

Kelebihan memang bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak disadari. Di sana letak lebihnya, di sana pula letak kurangnya. Bulan sinarnya lembut, kurangnya karena ada gambar kelinci di dalamnya. Bagaimanapun juga, bulan dan gambar kelinci turut pula memperindah malam. Jadi dewi malam yang bernama Sang Hyang Rohini itu, bisa lebih indah sekaligus menyeramkan.

Keinginan manusia, selalu berhadapan dengan godaan yang seperti lautan luas yang tidak pernah surut. Keinginan untuk mendapat ketenangan ditempuh banyak orang dengan merenung sambil menerka-nerka. Di dalam diamnya yang seperti gunung itu, orang banyak membiarkan gejolak terkaannya menilai-nilai segala sesuatu yang dialaminya. Sayangnya, karena asik menerka, ketenangan jadi hilang, dan ia lupa tujuan yang sesungguhnya. Telinga Cangak saya yang mungil ini saat mendengar cerita semacam itu, jadi sedih dan sekaligus ingin tertawa. Sedih karena fenomena itu sering terjadi pada diri sendiri. Tertawa karena ternyata saya tidak sendiri begitu.

Kecenderungan insting Cangak memang begitu. Senang sekali melihat kesusahan yang dialami orang. Lalu bersedih tersungut-sungut karena kebahagiaan orang. Insting semacam itulah yang selalu coba saya singkirkan. Hidup terasa jadi tidak berguna karena sifat yang demikian. Meskipun saya tidak bisa dikatakan berhasil menghilangkannya, setidaknya saya sudah berhasil mengetahuinya. Mengetahui sifat adalah salah satu langkah preventif agar di masa depan tidak terjerumus ke dalam lubang hitam yang terkesan membahagiakan.

Keinginan itu seperti raja, ia memerintahkan agar selalu dilayani. Selain pelayanan, ia juga senang jika disanjung-sanjung. Dipuji-puji bak dewa sakala. Kegemarannya mencela kekurangan orang. Kalau sudah mencela, bahagianya minta ampun. Giliran ia dicela, marahnya seperti mau kiamat. Cilakanya, sang keinginan selalu punya cara untuk menutupi kebusukannya. Caranya gampang saja, yaitu dengan menunjukkan segala kebaikan-kebaikan. Itu jurus paling jitu untuk menutupi.

Cara lainnya adalah dengan mencari-cari kesalahan orang. Cara selanjutnya dengan berlindung atas nama Tuhan. Kata-katanya selalu menuturkan tentang cara mati yang benar. Juga cara hidup yang paling benar. Menurut dirinya. Konon juga buanyak sekali ajaran yang sudah dipahaminya bahkan sampai ke akar-akar. Cara lidahnya berbelok sudah sangat halus, sehingga pendengarnya tidak akan tahu kapan ia akan menikung dari belakang.

Yang begitu-begitu, tidak akan sadar meski ditertawakan. Jangankan yang tertawa hanya satu orang, satu banjar pun yang tertawa dia tidak akan sadar. Kata mengalah tidak ada dalam kamusnya. Karena mengalah berarti lebih bodoh dari yang mengalahkan. Jangan sampai terlihat bodoh di depan banyak orang. Apalagi di hadapan orang-orang yang sudah terlanjur memanggilnya guru.

Guru artinya berat. Kata romantis semacam itu dipahami oleh seluruh umat manusia yang belajar tentang guru-murid. Tapi kok banyak yang suka disebut guru? Oh, mungkin karena dengan sebutan guru, wibawa lebih terjaga. Kaki lebih ringan melangkah. Senyum jadi lebih lebar. Meski tugasnya berat, tapi bisa diserahkan kepada murid yang dididik.

Menyerahkan pekerjaan kepada murid adalah salah satu cara guru untuk memeriksa anak didiknya. Sang Arunika diperiksa dengan memberikan pekerjaan di sawah. Sang Utamanyu diperiksa dengan menugaskannya menjaga lembu. Sang Weda ditugaskan menjaga dapur. Ketiganya adalah murid baik yang menuruti perintah gurunya. Jadi mereka diberikan ilmu super dahsyat oleh Bhagawan Domya. Artinya, yang akan diberikan ilmu adalah murid-murid penurut. Demikian cerita memberitahu kita tentang murid-murid dan guru ideal. Beda dalam cerita, beda lagi dalam fakta. Kita sudah tahu apa yang terjadi antara guru-murid, tapi selalu kita pura-pura diam tidak mengetahuinya. Bagi mereka yang tahu, keseringan otoritas tidak ada di genggamannya.

Tidak sedikit yang ingin menjaga kebaikan, tapi karena alasan otoritas, hasilnya tidak ada. Mirip seperti lilin yang jatuh di lautan. Keinginan yang besar tidak diikuti oleh kemampuan. Banyak anak-anak yang besar keinginannya menjadi murid, tapi para guru yang konon mengabdi tanpa tanda-tanda jasa juga harus berurusan dengan isi perut. Pengetahuan masih begitu mahal di negara telaga ini kawan-kawan. Itu kenyataannya. Meski pahit, harus kita telan sama-sama.

Banyak juga yang mengikuti keinginanya untuk mengabdi pada negara. Tapi kemudian ia terkulai lemas seperti teratai tanpa air yang berharap dapat memeluk langit. Petani kata hanya mampu bicara. Yang dipelosok, semakin terperosok. Dan kita adalah orang-orang berdosa karena membiarkan kekejaman intelektual menyerobot hak-hak mereka.

Pada akhirnya kita haruslah mulai memikirkan lagi, tentang banyak hal. Terutama apa jadinya negara telaga ini tanpa anak-anak ikan yang cerdas? Kecerdasan adalah kekuatan. Kekuatan adalah kunci pembuka pintu yang berabad-abad tertutup rapat. Jangan lupa, kecerdasan harus dilengkapi dengan rasa. Kalau tidak, kita hanya akan jadi raksasa yang pura-pura jadi dewa [T]

Tags: filsafatPengetahuanrajasastra
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Duka dan Jurang (Ritual) Kebersamaan

Next Post

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Denpasar Documentary Film Festival  2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co