23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhadapan dengan Raja

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 6, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Saya ingin begini. Saya ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali. Itu kalimat seperti lagu masa kanak-kanak tentang kantong ajaib yang berisi segala jenis benda-benda hasil penemuan manusia paling muktahir. Ini memang tentang keinginan yang tidak ada ujungnya. Benar memang pertanyaan, apa yang lebih banyak dari rerumputan? Jawabannya adalah keinginan.

Keinginan bisa bekerja dengan cara yang aneh. Jika keinginan itu dihilangkan, orang yang memilikinya akan kebingungan. Tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya ingin dicapainya dalam hidup. Impian seperti habis, tujuan seperti sudah tercapai. Ingin berjalan ke kanan, tapi bukan itu tujuannya. Belok kekiri, juga bukan. Lurus atau balik arah juga tidak jelas.

Dalam banyak kasus, segala jenis keinginan itu bisa mengarahkan orang untuk melakukan sesuatu yang bahkan sulit dicerna. Keinginan untuk tidak sendiri, bisa membuat orang hiperaktif untuk menarik minat sekelilingnya. Keinginan untuk menyendiri, mengakibatkan orang terkesan ketus tiap menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Keinginan untuk kaya, bisa membuat orang melakukan penipuan. Keinginan untuk selamat, bisa membuat orang mencari pembenar, meski segala yang dilakukannya melanggar kepercayaan yang sudah ia yakini. Dengan demikian, kita sudah punya aktor yang bisa kita salahkan atas segala hal.

Kalau begitu, mari kita pelan-pelan menghilangkan keinginan. Tapi awas, tiap usaha yang dilakukan untuk menghilangkannya justru bisa hilang dengan sendirinya. Bagaimana ini? Makanya, hati-hati dengan keinginan. Jika ia terus diikuti, bukan tidak mungkin nanti pengikutnya jadi sengsara. Seperti laron yang terus mengikuti nyala api. Sayapnya bisa terbakar.

Mirip burung yang selalu memburu makanan lezat, tidak tahu dia kalau makanan yang diburunya ditaruh di dalam keranjang jebakan. Setelah terjebak, bingunglah dia. Bertanya-tanya dalam hati, “mengapa aku dijebak begini?”. Burung sering dijebak karena ia punya suara yang indah. Sayangnya, burung tidak tahu kelebihan itu.

Kelebihan memang bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak disadari. Di sana letak lebihnya, di sana pula letak kurangnya. Bulan sinarnya lembut, kurangnya karena ada gambar kelinci di dalamnya. Bagaimanapun juga, bulan dan gambar kelinci turut pula memperindah malam. Jadi dewi malam yang bernama Sang Hyang Rohini itu, bisa lebih indah sekaligus menyeramkan.

Keinginan manusia, selalu berhadapan dengan godaan yang seperti lautan luas yang tidak pernah surut. Keinginan untuk mendapat ketenangan ditempuh banyak orang dengan merenung sambil menerka-nerka. Di dalam diamnya yang seperti gunung itu, orang banyak membiarkan gejolak terkaannya menilai-nilai segala sesuatu yang dialaminya. Sayangnya, karena asik menerka, ketenangan jadi hilang, dan ia lupa tujuan yang sesungguhnya. Telinga Cangak saya yang mungil ini saat mendengar cerita semacam itu, jadi sedih dan sekaligus ingin tertawa. Sedih karena fenomena itu sering terjadi pada diri sendiri. Tertawa karena ternyata saya tidak sendiri begitu.

Kecenderungan insting Cangak memang begitu. Senang sekali melihat kesusahan yang dialami orang. Lalu bersedih tersungut-sungut karena kebahagiaan orang. Insting semacam itulah yang selalu coba saya singkirkan. Hidup terasa jadi tidak berguna karena sifat yang demikian. Meskipun saya tidak bisa dikatakan berhasil menghilangkannya, setidaknya saya sudah berhasil mengetahuinya. Mengetahui sifat adalah salah satu langkah preventif agar di masa depan tidak terjerumus ke dalam lubang hitam yang terkesan membahagiakan.

Keinginan itu seperti raja, ia memerintahkan agar selalu dilayani. Selain pelayanan, ia juga senang jika disanjung-sanjung. Dipuji-puji bak dewa sakala. Kegemarannya mencela kekurangan orang. Kalau sudah mencela, bahagianya minta ampun. Giliran ia dicela, marahnya seperti mau kiamat. Cilakanya, sang keinginan selalu punya cara untuk menutupi kebusukannya. Caranya gampang saja, yaitu dengan menunjukkan segala kebaikan-kebaikan. Itu jurus paling jitu untuk menutupi.

Cara lainnya adalah dengan mencari-cari kesalahan orang. Cara selanjutnya dengan berlindung atas nama Tuhan. Kata-katanya selalu menuturkan tentang cara mati yang benar. Juga cara hidup yang paling benar. Menurut dirinya. Konon juga buanyak sekali ajaran yang sudah dipahaminya bahkan sampai ke akar-akar. Cara lidahnya berbelok sudah sangat halus, sehingga pendengarnya tidak akan tahu kapan ia akan menikung dari belakang.

Yang begitu-begitu, tidak akan sadar meski ditertawakan. Jangankan yang tertawa hanya satu orang, satu banjar pun yang tertawa dia tidak akan sadar. Kata mengalah tidak ada dalam kamusnya. Karena mengalah berarti lebih bodoh dari yang mengalahkan. Jangan sampai terlihat bodoh di depan banyak orang. Apalagi di hadapan orang-orang yang sudah terlanjur memanggilnya guru.

Guru artinya berat. Kata romantis semacam itu dipahami oleh seluruh umat manusia yang belajar tentang guru-murid. Tapi kok banyak yang suka disebut guru? Oh, mungkin karena dengan sebutan guru, wibawa lebih terjaga. Kaki lebih ringan melangkah. Senyum jadi lebih lebar. Meski tugasnya berat, tapi bisa diserahkan kepada murid yang dididik.

Menyerahkan pekerjaan kepada murid adalah salah satu cara guru untuk memeriksa anak didiknya. Sang Arunika diperiksa dengan memberikan pekerjaan di sawah. Sang Utamanyu diperiksa dengan menugaskannya menjaga lembu. Sang Weda ditugaskan menjaga dapur. Ketiganya adalah murid baik yang menuruti perintah gurunya. Jadi mereka diberikan ilmu super dahsyat oleh Bhagawan Domya. Artinya, yang akan diberikan ilmu adalah murid-murid penurut. Demikian cerita memberitahu kita tentang murid-murid dan guru ideal. Beda dalam cerita, beda lagi dalam fakta. Kita sudah tahu apa yang terjadi antara guru-murid, tapi selalu kita pura-pura diam tidak mengetahuinya. Bagi mereka yang tahu, keseringan otoritas tidak ada di genggamannya.

Tidak sedikit yang ingin menjaga kebaikan, tapi karena alasan otoritas, hasilnya tidak ada. Mirip seperti lilin yang jatuh di lautan. Keinginan yang besar tidak diikuti oleh kemampuan. Banyak anak-anak yang besar keinginannya menjadi murid, tapi para guru yang konon mengabdi tanpa tanda-tanda jasa juga harus berurusan dengan isi perut. Pengetahuan masih begitu mahal di negara telaga ini kawan-kawan. Itu kenyataannya. Meski pahit, harus kita telan sama-sama.

Banyak juga yang mengikuti keinginanya untuk mengabdi pada negara. Tapi kemudian ia terkulai lemas seperti teratai tanpa air yang berharap dapat memeluk langit. Petani kata hanya mampu bicara. Yang dipelosok, semakin terperosok. Dan kita adalah orang-orang berdosa karena membiarkan kekejaman intelektual menyerobot hak-hak mereka.

Pada akhirnya kita haruslah mulai memikirkan lagi, tentang banyak hal. Terutama apa jadinya negara telaga ini tanpa anak-anak ikan yang cerdas? Kecerdasan adalah kekuatan. Kekuatan adalah kunci pembuka pintu yang berabad-abad tertutup rapat. Jangan lupa, kecerdasan harus dilengkapi dengan rasa. Kalau tidak, kita hanya akan jadi raksasa yang pura-pura jadi dewa [T]

Tags: filsafatPengetahuanrajasastra
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Duka dan Jurang (Ritual) Kebersamaan

Next Post

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Denpasar Documentary Film Festival  2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co