6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
July 21, 2019
in Ulasan
Pentas “Barabah” Teater Sadewa: Hanyut pada Pemanggungan Konteks Lama

pementasan naskah Barabah ini oleh Teater Sadewa dan disutradarai Hendra Utay yang digelar dalam rangka Program Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Art Center Tahun 2019, Sabtu, 20 Juli malam. (Foto; Dok Teater Sadewa)

Saya tidak tahu pasti bagaimana konteks zaman penulisan naskah “Barabah” karya Motinggo Busye. Saya berusaha melepas pikiran itu untuk menikmati pementasan naskah Barabah ini oleh Teater Sadewa dan disutradarai Hendra Utay yang digelar dalam rangka Program Penyajian dan Pengembangan Seni UPTD Taman Budaya Art Center Tahun 2019, Sabtu, 20 Juli malam.

Mungkin, memang seperti itulah harusnya pementasan yang memilih corak realis, menghanyutkan penonton pada adegang demi adegang yang dibangun. Saya menikmati pementasan ini, dan pada bagian tertentu, sangat beruntung bagi saya lampu di area penonton dimatikan, sebab kalau tidak, maka akan kentara penonton yang menangis karena hanyut pada adegang akhir. Saya sendiri dengan sangat pelan agar tak kentara oleh beberapa penonton di sebelah, sedikit mengangkat tangan untuk menekan mata yang tiba-tiba seperti kelilipan.

Naskah ini saya rasa memang naskah yang sangat menarik. Polanya pun mirip seperti naskah tersohor Motinggo Busye, yaitu “Malam Jahanam”. Barabah sendiri bercerita tentang seorang tokoh perempuan yang memiliki suami bernama Banio. Banio diceritakan sebagai seorang laki-laki tua yang sudah sempat 12 kali beristri namun tak memiliki anak laki-laki. Barabah sebagai istri keduabelas sangatlah pencemburu. Inilah penyebab  terbangunnya beberapa konflik dalam kisah ini.

Pada suatu hari datang seorang perempuan yang bernama Zaitun. Perempuan ini mencari Banio untuk membicarakan masalah pernikahan. Tidak jelas bertanya, Barabah malah buru-buru cemburu dengan perempuan itu dan mengira suaminya akan menikahi perempuan itu.

Konflik pertama terjadi. Lalu perempuan itu diusir. Kemudian seorang lelaki tak dikenal datang ketika suami barabah keluar untuk memastikan siapa sesungguhnya perempuan yang datang ke rumah dan mencarinya agar Barabah tidak cemburu dan masalah keluarga itu selesai.

Lelaki lain itu masuk dan diusir oleh Barabah sebab suaminya pernah berpesan agar tidak menerima tamu laki-laki ketika ia tak di rumah. Tapi laki-laki itu tidak mau pergi hingga suami Barabah itu datang. situasi ini justru menimbulkan kecemburuan pada suami barabah. Sampai laki-laki itu pun juga diusir.

Cukup membuat saya terkejut dengan cerita ini, ternyata perempuan yang dicemburui Barabah adalah anak dari suaminya dengan istrinya yang keenam, sementara lelaki kedua itu adalah seorang kusir yang menjadi calon suaminya. Keriuhan dalam rumah itu berganti menjadi haru ketika Banio tahu bahwa itu adalah anaknya. Cerita ini berakhir dengan haru dan kepergian calon pengantin itu dengan terburu-buru sebab kereta yang dipesan akan segera berangkat.

Barabah sendiri diperankan dengan baik oleh Agung Istri Indah. Seorang pencemburu dan istri kedua belas saya rasa cukup berat untuk dipahami. Saya sendiri sulit memahami bagaimana situasi mental seseorang yang menjadi istri keduabelas dan masih mempunyai perasaan cemburu seperti itu.

Tetapi kekuatan bermainnya cukup mengagumkan seperti misalnya pada adegang Zaitun perempuan yang dicemburui barabah yang diperankan oleh April Artison ingin dicincang oleh Barabah. Tiba-tiba pada adengan itu tepuk tangan, saya menduga hal itu diakibatkan begitu terasanya permainan tubuh Istri Indah dalam bergerak dan dialog—di samping hal-hal teknis seperti beberapa dialog yang lepas dari karakter Barabah.

Karakter yang sesekali lepas juga terjadi pada Banio yang diperankan oleh Cristyan A S. Adengan Marah seperti menjadi pemicu warna vocalnya lepas. Tetapi, tidak hanya itu, pada adegan Banio cemburu dengan Adibul karena cemburu dan salah paham, Banio mengeluarkan golok namun, sarung golok itu jatuh.

Saya menduga ini bukan suatu kesengajaan, namun saya rasa kurang berani Cristyan sebagai Banio mengambil sarung yang jatuh itu, meskipun diambil tetapi temponya kurang tepat. Banio yang digambarkan pada naskah sebagai orang yang bungkuk sepertinya belum sampai dengan baik walau hal itu ditambal dengan penambahan benda di punggung Cristyan.

Meskipun saya sangat menikmati pementasan ini, namun hal-hal kecil terkadang luput dan terlihat sebagai rakaian adegan yang bagi saya perlu diperhitungkan. Naskah ini banyak menghadirkan konteks zaman yang berjarak dengan masa kini yang barangkali memang sulit untuk diadopsi. Semisal pada adegan Banio dengan Adibul. Banio berkata dia pernah membunuh 7 ekor macan.

Sesampai di kampungnya macan itu ditawar dengan harga tinggi yaitu dua ratus ribu rupiah. Dalam pentas, hal itu tetap disampaikan. Tentu jumlah uang itu tidak lagi menjadi jumlah yang besar. Di samping itu, Banio pernah jatuh miskin karena membagi-bagi tanahnya sebab mengikuti aturan pemerintah.

Hal ini juga tidak terjadi saat ini yang barangkali jika diubah pada konteks kekinian akan sulit ditemukan padanannya. Hal yang lain adalah ketika dengan tegas Banio berkata bahwa ia selalu menang dalam banyak hal kecuali naik pesawat dan ingin sekali naik pesawat. Ia menceritakan pesawat dengan mengagumkan yang barangkali pada zaman sekarang orang yang pernah kaya tak kan luput dengan kegiatan ini.

Bertambah yakinlah saya kalaa konteks cerita ini adalah zaman dulu ketika Adibul berkata bahwa dia menaiki pesawat tempur jepang ketika umur remaja. Dari semua itu saya berkesimpulan bahwa pementasan ini memang ingin memainkan naskah ini secara utuh tanpa perubahan atau penyesuaian dengan zaman sekarang. Tentu itu hal yang bagi saya sah-sah saja.

Namun, permainan utuh justru dipatahkan dengan beberapa hal. Saya rasa naskah lama yang disampaikan saat ini dengan niat menyampaikan secara utuh bukanlah perkara mudah. Sebab, pada penampilan tertentu, Adibul yang merupakan seorang kusir mengenakan pakaian necis bahkan sepatu yang sangat keren. Saya tak tahu betul, zaman itu apakah sepatu seperti itu sudah ada dan apakah mewakili seorang kusir atau tidak.

Di luar benturan itu, tokoh Adibul ini ketika di atas panggung diciptakan memiliki karakter yang mungkin karena gelisah, menjadi banyak tingkah. Lelucon yang ia mainkan di panggung beberapa kali menpar tawa penonton hingga pecah. Saya sendiri melepas tawa menikmati permainan Adibul yang diperankan oleh Turah Krishna ini. ia begitu mencolok ketika bertemu dengan Barabah tetapi untungnya pemeran Barabah tak kalah kuat ketika di atas panggung. Ia menimpali permainan Krishna dengan seimbang sehingga gerak-gerik Adibul yang banyak itu diseimbangkan dengan gerakan kecil namun mengimbangi oleh Barabah.

Pementasan ini sangat didukung oleh para pemain musik dengan musiknya yang turut membangun pementasan ini. Saya sangat merasakannya terutama pada adegang terakhir yang mengharukan itu. Secara keutuhan pertunjukkan, saya menikmati permainan ini disamping hal-hal kecil yang menurut saya perlu diperhitungkan lagi.  

Pada akhir pementasan, tak ragu lagi semua penonton sadar lagi bahwa yang menghanyutkan itu adalah sebuah tontonan sehingga riuh tepuk tangan pecah memenuhi Gedung Ksirarnawa Art Center meski kursi penonton tidak penuh. [T]

Tags: denpasarTeaterTeater Sadewa
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Bioskop di Tukad Badung, Ada Film tentang Sungai, Ada tentang Petani

Next Post

Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Jodoh saat Ospek adalah Cinta Sejati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co