24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra ke Jawa, Rekreasi atau Panggilan Hati?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
July 18, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Tirtayatra ke Gunung Bromo

Kabut mulai turun menyelimuti pegunungan Tengger sore itu. Senja mulai membayang, sang surya tampak bersembunyi di balik kabut.

“Tenang saja, Pak, jam 5 sore pasti kita sudah sampai di atas, untuk melihat sunset di Bromo,” hibur pengemudi mobil travel yang kami tumpangi  ke sana.

“Melihat matahari terbenam dari puncak gunung?” gerutu saya dalam hati. Barangkali ada yang salah dengan pemahamannya tentang ilmu geografi. Atau dia sekedar menghibur kami yang terlihat kecewa, belum sampai juga ke ujung perjalanan ritual  hari itu.

Hari mulai gelap saat kami memasuki kawasan wisata Gunung Bromo. Dalam hati saya berpikir, pantas saja kami mendapatkan kendaraan angkutan mobil berpenggerak ganda (biasanya jenis hardtop) dengan harga jauh lebih murah dari kabar yang kami dengar dari mereka yang lebih dulu berkunjung ke sana.

Karena kami ke puncak saat hari sudah menapak senja. Siapa juga yang datang jauh-jauh ke Bromo tanpa niat menyaksikan fenomena alam terbitnya sang surya di ufuk timur. Yang memaksa para pencari untuk berangkat dini hari dari bawah, melawan gelap malam dan dinginnya pegunungan Tengger.

Sesosok pemotor tampak mengikuti rombongan kami. Dan  saat kami  memasuki kawasan wisata Bromo, dia menghentikan laju kendaraan .

“Selamat sore, Pak, Bapak dan rombongan  mau sembahyang ke Pura Luhur ya? Kebetulan Bapak adalah rombongan terakhir untuk hari ini, mohon berkenan menunggu sebentar di bawah nanti saya jemput pemangkunya.”

Tampak wajah yang ramah dan ketulusan sikap yang tak dibuat-buat dari bapak pemotor tadi, yang ternyata adalah pengempon pura yang ada di tengah areal lautan pasir gunung Bromo. Kemungkinan dari bawah dia sudah melihat rombongan kami dengan pakaian sembahyang , jadi dia beranikan diri untuk memberikan petunjuk.

15 menit kemudian rombongan sampai di areal pura,  tampak bapak yang tadi sudah duluan sampai di sana, dan di bagian dalam Pura sudah duduk dengan khidmat pemangku untuk menghantarkan persembahyangan kami.

Sambutan bersahabat, wajah-wajah antusias untuk membantu, jamak kita temukan saat melaksanakan kegiatan tirtayatra ke Pura-Pura yang ada di luar pulau Bali, khususnya Jawa yang pernah saya kunjungi.

Saat nangkil ke pura di kaki gunung Arjuno, kami melihat komunitas Hindu disana sedang bergotong royong untuk persiapan upacara beberapa hari ke depan. Tampak mereka melaksanakannya dengan antusias dan senyum yang tak lepas dari wajah, disertai gelak canda diantara mereka. Di daerah Blambangan , Jawa timur sisi selatan  sambutan serupa juga telah kami temui.

Antusiasme masyarakat Bali untuk bersembahyang keluar Bali, bukanlah hal yang baru lagi. Mungkin sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat Bali secara umum dan terutama kemajuan penyebaran informasi lewat media sosial belakangan ini.

Terlihat peningkatan yang massif dalam arus perjalanan suci tersebut. Dan sebagai seorang Komuter yang saban hari melintasi jalur Denpasar Gilimanuk, sering saya lihat rombongan dalam jumlah yang besar untuk melaksanakan ritual itu. Sedang beristirahat atau mepamit di Pura dang kahyangan Rambut Siwi yang memang berada di jalur itu.


Penulis dan istri saat tirtayatri ke Bromo

Dan ini menimbulkan sedikit apriori  di hati kecil saya saat melihatnya. “Mengapa mesti jauh-jauh mencari pura sampai keluar pulau melintasi laut, apakah Pura Keluarga atau  merajan di rumah sendiri sudah rutin di sembahyangi?” Begitu gerutu saya dalam hati kalau kebetulan melihat rombongan bis yang berjajar di parkiran Pura tersebut.

Terlepas dari motivasi untuk rekreasi, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Kesempatan untuk melihat sesuatu yang tak kita temui di Bali, merasakan kehangatan dari sesama saudara sekeyakinan seperti yang saya ceritakan diatas, barangkali juga merupakan suatu daya tarik, yang memaksa kita untuk selalu ingin kembali kesana, seperti yang kita alami.

Menjadi minoritas Hindu di tempat yang kebanyakan masyarakatnya  punya keyakinan lain dengan kita, barangkali mempunyai keindahan dan tantangannya sendiri, ada onak dan durinya juga pasti.

Teringat sebuah ungkapan entah oleh siapa. “Saat menjadi  minoritas, keberanian anda diuji, dan saat menjadi mayoritas, toleransi anda dinilai”.

Dari sekelebat pengalaman menengok saudara kita penganut agama Hindu di pulau Jawa, barangkali ungkapan itu terasa jauh. Sepertinya mereka tak perlu keberanian extra untuk menjalankan kewajiban dan keyakinannya tersebut di daerah mayoritas umat lain itu.

Untuk menjelaskan situasi ini, ada baiknya saya mengingatkan kembali beberapa peristiwa yang gamblang menggambarkan situasi ini.

Beberapa tahun yang lalu, Iwan Fals, penyanyi kesayangan sebagian rakyat Indonesia, termasuk saya. Pernah disangkakan hendak melecehkan agama Hindu, dengan memasang gambar seorang Dewa agama Hindu di cover depan albumnya. Dengan diplomatis dia menjawab : “Hindu adalah agama tertua di Indonesia, agama nenek moyang kita. Itu artinya dalam diri saya pun ada setidaknya ada percikan keyakinan tersebut. Jadi tak ada niat sedikitpun dari saya untuk menghina agama Hindu”.

Dan kebetulan saya sedang menyelesaikan membaca buku Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ada sebuah dialog yang  sangat menyentuh. Sandisman, seorang anggota legiun Mangkunegaran, pasukan elite Mataram waktu itu. Melarikan diri dari kesatuannya karena menolak untuk ikut berperang, melawan kerajaan Klungkung di Bali . Alasannya saat di tanya oleh tokoh sentral cerita (Minke), “Kenapa kau tak mau berangkat ke Bali bersama pasukanmu?“

Jawabnya lirih, “Yang saya tahu, nenek moyang kami, orang Jawa dan orang Bali sama, jadi mengapa kami memerangi saudara sendiri? “

Terlepas dari alasan di atas, saya sendiri meyakini dari lubuk hati terdalam sampai saat ini. Toleransi adalah watak alami masyarakat Indonesia yang sudah mendarah daging bagi kita. Dan kita berharap tetap bisa kita pertahankan sampai akhir zaman. Dan kalaupun ada beberapa orang atau golongan yang saat ini terlihat begitu gencar meneriakkan semangat intoleransi-nya. Marilah kita yakini bersama, bahwa merekalah minoritas yang sebenar benarnya di negeri ini.

Akhirnya, kalau ditanyakan tujuan, alasan, maupun motivasi mereka yang gemar menempuh perjalanan jauh untuk mencapai  Pura ataupun tempat suci yang ada di seberang selat Bali itu. Mungkin  akan ada puluhan alasan yang berbeda pada setiap orang yang ditanya. Tapi dari berbagai sudut pandang, tak akan ditemukan satu suara sumbang pun.

Secara ekonomi, kegiatan ini menggerakkan roda perekonomian cukup massif, pemilik travel/angkutan, penjual oleh-oleh, penjual makanan dan minuman di dekat lokasi, penginapan. Semua akan kecipratan kuenya. Secara sosial budaya pun, akan terjadi komunikasi yang intens antar budaya, karena kesamaan keyakinan walaupun beda suku ini.


Keceriaan tirtayatra

Secara pribadi akhirnya saya pun tak akan alergi dengan kegiatan kegiatan seperti ini lagi. Karena saya sendiri merasakan kenikmatannya. Khusus perjalanan terakhir ini, saya merasa ada sesuatu yang cukup istimewa. Anak sulung saya memulai perjalanan dengan kondisi sakit, badannya demam dan dia mulai pilek ringan.

Kami sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisinya di perjalanan yang panjang nanti. Ternyata setelah perjalanan , tiga hari tiga malam. Sembahyang di beberapa pura, terpapar cuaca dingin dan padang pasir Bromo, melukat (setengah mandi) tengah malam di Gresik. Akhirnya sampai pulang kembali ke Bali pun dia dalam kondisi sehat walafiat. Barangkali saya punya dua penjelasan tentang  hal ini.

Secara medis, suatu kegiatan yang menyenangkan, dalam hal anak saya bisa berkumpul dengan semua sepupunya sebaya,melihat daerah baru,menikmati  situasi baru ( kami menyelingi kegiatan dengan wisata ke tempat yang indah ) akan merangsang keluarnya adrenalin  dan endomorfin (morfin alami), yang berfungsi meningkatkan vitalitas dan menjaga kebugaran tubuh. Ini yang membuatnya terhindar dari serangan sakit yang lebih parah.

Dan yang kedua, saya sendiri menganggap perjalanan kami  , sudah direstui oleh para leluhur, karena perjalanan  inipun salah satunya bertujuan  untuk memuja beliau, karena tanpa adanya leluhur kita tak kan ada di dunia ini sekarang, seperti dialog di buku Pram tadi. “ Bukankah nenek moyang orang Jawa dan orang Bali sama ?”

Kalaupun suatu saat nanti  istri atau anak saya tiba-tiba menuntut, “Ayah liburan nanti, kita mau tirtayatra ke mana lagi nih?”

Pasti akan saya jawab dengan lugas: “Ayo, siapa takut?” [T]   

Tags: Gunung BromojawaJawa TimurPurarekreasitirtayatra
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Atmosfir Perbatasan -[Kenangan Jurnalis dari Sebatik]

Next Post

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co