24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tirtayatra ke Jawa, Rekreasi atau Panggilan Hati?

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
July 18, 2019
in Esai
Si Perantau Tanggung: Asal Tabanan, Lahir di Buleleng, Domisili Negaroa

Tirtayatra ke Gunung Bromo

Kabut mulai turun menyelimuti pegunungan Tengger sore itu. Senja mulai membayang, sang surya tampak bersembunyi di balik kabut.

“Tenang saja, Pak, jam 5 sore pasti kita sudah sampai di atas, untuk melihat sunset di Bromo,” hibur pengemudi mobil travel yang kami tumpangi  ke sana.

“Melihat matahari terbenam dari puncak gunung?” gerutu saya dalam hati. Barangkali ada yang salah dengan pemahamannya tentang ilmu geografi. Atau dia sekedar menghibur kami yang terlihat kecewa, belum sampai juga ke ujung perjalanan ritual  hari itu.

Hari mulai gelap saat kami memasuki kawasan wisata Gunung Bromo. Dalam hati saya berpikir, pantas saja kami mendapatkan kendaraan angkutan mobil berpenggerak ganda (biasanya jenis hardtop) dengan harga jauh lebih murah dari kabar yang kami dengar dari mereka yang lebih dulu berkunjung ke sana.

Karena kami ke puncak saat hari sudah menapak senja. Siapa juga yang datang jauh-jauh ke Bromo tanpa niat menyaksikan fenomena alam terbitnya sang surya di ufuk timur. Yang memaksa para pencari untuk berangkat dini hari dari bawah, melawan gelap malam dan dinginnya pegunungan Tengger.

Sesosok pemotor tampak mengikuti rombongan kami. Dan  saat kami  memasuki kawasan wisata Bromo, dia menghentikan laju kendaraan .

“Selamat sore, Pak, Bapak dan rombongan  mau sembahyang ke Pura Luhur ya? Kebetulan Bapak adalah rombongan terakhir untuk hari ini, mohon berkenan menunggu sebentar di bawah nanti saya jemput pemangkunya.”

Tampak wajah yang ramah dan ketulusan sikap yang tak dibuat-buat dari bapak pemotor tadi, yang ternyata adalah pengempon pura yang ada di tengah areal lautan pasir gunung Bromo. Kemungkinan dari bawah dia sudah melihat rombongan kami dengan pakaian sembahyang , jadi dia beranikan diri untuk memberikan petunjuk.

15 menit kemudian rombongan sampai di areal pura,  tampak bapak yang tadi sudah duluan sampai di sana, dan di bagian dalam Pura sudah duduk dengan khidmat pemangku untuk menghantarkan persembahyangan kami.

Sambutan bersahabat, wajah-wajah antusias untuk membantu, jamak kita temukan saat melaksanakan kegiatan tirtayatra ke Pura-Pura yang ada di luar pulau Bali, khususnya Jawa yang pernah saya kunjungi.

Saat nangkil ke pura di kaki gunung Arjuno, kami melihat komunitas Hindu disana sedang bergotong royong untuk persiapan upacara beberapa hari ke depan. Tampak mereka melaksanakannya dengan antusias dan senyum yang tak lepas dari wajah, disertai gelak canda diantara mereka. Di daerah Blambangan , Jawa timur sisi selatan  sambutan serupa juga telah kami temui.

Antusiasme masyarakat Bali untuk bersembahyang keluar Bali, bukanlah hal yang baru lagi. Mungkin sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Seiring dengan meningkatnya perekonomian masyarakat Bali secara umum dan terutama kemajuan penyebaran informasi lewat media sosial belakangan ini.

Terlihat peningkatan yang massif dalam arus perjalanan suci tersebut. Dan sebagai seorang Komuter yang saban hari melintasi jalur Denpasar Gilimanuk, sering saya lihat rombongan dalam jumlah yang besar untuk melaksanakan ritual itu. Sedang beristirahat atau mepamit di Pura dang kahyangan Rambut Siwi yang memang berada di jalur itu.


Penulis dan istri saat tirtayatri ke Bromo

Dan ini menimbulkan sedikit apriori  di hati kecil saya saat melihatnya. “Mengapa mesti jauh-jauh mencari pura sampai keluar pulau melintasi laut, apakah Pura Keluarga atau  merajan di rumah sendiri sudah rutin di sembahyangi?” Begitu gerutu saya dalam hati kalau kebetulan melihat rombongan bis yang berjajar di parkiran Pura tersebut.

Terlepas dari motivasi untuk rekreasi, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Kesempatan untuk melihat sesuatu yang tak kita temui di Bali, merasakan kehangatan dari sesama saudara sekeyakinan seperti yang saya ceritakan diatas, barangkali juga merupakan suatu daya tarik, yang memaksa kita untuk selalu ingin kembali kesana, seperti yang kita alami.

Menjadi minoritas Hindu di tempat yang kebanyakan masyarakatnya  punya keyakinan lain dengan kita, barangkali mempunyai keindahan dan tantangannya sendiri, ada onak dan durinya juga pasti.

Teringat sebuah ungkapan entah oleh siapa. “Saat menjadi  minoritas, keberanian anda diuji, dan saat menjadi mayoritas, toleransi anda dinilai”.

Dari sekelebat pengalaman menengok saudara kita penganut agama Hindu di pulau Jawa, barangkali ungkapan itu terasa jauh. Sepertinya mereka tak perlu keberanian extra untuk menjalankan kewajiban dan keyakinannya tersebut di daerah mayoritas umat lain itu.

Untuk menjelaskan situasi ini, ada baiknya saya mengingatkan kembali beberapa peristiwa yang gamblang menggambarkan situasi ini.

Beberapa tahun yang lalu, Iwan Fals, penyanyi kesayangan sebagian rakyat Indonesia, termasuk saya. Pernah disangkakan hendak melecehkan agama Hindu, dengan memasang gambar seorang Dewa agama Hindu di cover depan albumnya. Dengan diplomatis dia menjawab : “Hindu adalah agama tertua di Indonesia, agama nenek moyang kita. Itu artinya dalam diri saya pun ada setidaknya ada percikan keyakinan tersebut. Jadi tak ada niat sedikitpun dari saya untuk menghina agama Hindu”.

Dan kebetulan saya sedang menyelesaikan membaca buku Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ada sebuah dialog yang  sangat menyentuh. Sandisman, seorang anggota legiun Mangkunegaran, pasukan elite Mataram waktu itu. Melarikan diri dari kesatuannya karena menolak untuk ikut berperang, melawan kerajaan Klungkung di Bali . Alasannya saat di tanya oleh tokoh sentral cerita (Minke), “Kenapa kau tak mau berangkat ke Bali bersama pasukanmu?“

Jawabnya lirih, “Yang saya tahu, nenek moyang kami, orang Jawa dan orang Bali sama, jadi mengapa kami memerangi saudara sendiri? “

Terlepas dari alasan di atas, saya sendiri meyakini dari lubuk hati terdalam sampai saat ini. Toleransi adalah watak alami masyarakat Indonesia yang sudah mendarah daging bagi kita. Dan kita berharap tetap bisa kita pertahankan sampai akhir zaman. Dan kalaupun ada beberapa orang atau golongan yang saat ini terlihat begitu gencar meneriakkan semangat intoleransi-nya. Marilah kita yakini bersama, bahwa merekalah minoritas yang sebenar benarnya di negeri ini.

Akhirnya, kalau ditanyakan tujuan, alasan, maupun motivasi mereka yang gemar menempuh perjalanan jauh untuk mencapai  Pura ataupun tempat suci yang ada di seberang selat Bali itu. Mungkin  akan ada puluhan alasan yang berbeda pada setiap orang yang ditanya. Tapi dari berbagai sudut pandang, tak akan ditemukan satu suara sumbang pun.

Secara ekonomi, kegiatan ini menggerakkan roda perekonomian cukup massif, pemilik travel/angkutan, penjual oleh-oleh, penjual makanan dan minuman di dekat lokasi, penginapan. Semua akan kecipratan kuenya. Secara sosial budaya pun, akan terjadi komunikasi yang intens antar budaya, karena kesamaan keyakinan walaupun beda suku ini.


Keceriaan tirtayatra

Secara pribadi akhirnya saya pun tak akan alergi dengan kegiatan kegiatan seperti ini lagi. Karena saya sendiri merasakan kenikmatannya. Khusus perjalanan terakhir ini, saya merasa ada sesuatu yang cukup istimewa. Anak sulung saya memulai perjalanan dengan kondisi sakit, badannya demam dan dia mulai pilek ringan.

Kami sebenarnya sangat mengkhawatirkan kondisinya di perjalanan yang panjang nanti. Ternyata setelah perjalanan , tiga hari tiga malam. Sembahyang di beberapa pura, terpapar cuaca dingin dan padang pasir Bromo, melukat (setengah mandi) tengah malam di Gresik. Akhirnya sampai pulang kembali ke Bali pun dia dalam kondisi sehat walafiat. Barangkali saya punya dua penjelasan tentang  hal ini.

Secara medis, suatu kegiatan yang menyenangkan, dalam hal anak saya bisa berkumpul dengan semua sepupunya sebaya,melihat daerah baru,menikmati  situasi baru ( kami menyelingi kegiatan dengan wisata ke tempat yang indah ) akan merangsang keluarnya adrenalin  dan endomorfin (morfin alami), yang berfungsi meningkatkan vitalitas dan menjaga kebugaran tubuh. Ini yang membuatnya terhindar dari serangan sakit yang lebih parah.

Dan yang kedua, saya sendiri menganggap perjalanan kami  , sudah direstui oleh para leluhur, karena perjalanan  inipun salah satunya bertujuan  untuk memuja beliau, karena tanpa adanya leluhur kita tak kan ada di dunia ini sekarang, seperti dialog di buku Pram tadi. “ Bukankah nenek moyang orang Jawa dan orang Bali sama ?”

Kalaupun suatu saat nanti  istri atau anak saya tiba-tiba menuntut, “Ayah liburan nanti, kita mau tirtayatra ke mana lagi nih?”

Pasti akan saya jawab dengan lugas: “Ayo, siapa takut?” [T]   

Tags: Gunung BromojawaJawa TimurPurarekreasitirtayatra
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Atmosfir Perbatasan -[Kenangan Jurnalis dari Sebatik]

Next Post

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Broken Beach, Legenda Ular Raksasa dan Lemahnya Nilai Integritas serta Nilai Religius

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co