25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dan Kematian – [Kritik Kepada Kaum Jomblo dan Tidak Jomblo]

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 4, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Percaya atau tidak, kedua kata itu, cinta dan kematian, berkaitan. Erat bahkan. Contohnya: “Aku cinta padamu sampai mati”. “Aku cinta mati sama kamu”. “Aku akan terus mencintaimu sampai kematian tiba”. “Gue cinta mati sama elu”. “Tresnan Beline kanti mati”. Dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh kata itu, biasanya digunakan oleh sekelompok kaum yang tidak boleh saya terangkan dalam tulisan ini. I can’t mention mereka. But, saya yakini kita sudah paham siapa mereka. Harus saya yakinkan kalau itu gombal.

Jelas saja itu gombal. Mana ada orang cinta hanya sampai mati. Yang namanya cinta, harusnya bertahan bahkan setelah kematian. Maka katakan, “aku cinta padamu, bahkan maut tak bisa memisahkan”. Gitu. Tapi itu lebih gombal lagi sepertinya. Atau ganti dengan, “aku cinta padamu tanpa kata sampai”.

Cinta kalau dicari di kamus-kamus, artinya sebuah perasaan suka sekali, atau sangat sayang. Kalau sudah terjangkiti, jangan harap ada rasa takut pada setan. Apalagi setan yang beraninya mengganggu hanya saat tidur. Kalau jatuh cinta, jarak jadi tidak berarti. Waktu seperti lenyap. Dan tubuh seperti tidak ada.

Itulah receh-receh cinta. Semacam kembalian sehabis beli sebotol yogurt dan sebungkus roti cokelat. Bisa juga kembalian sehabis beli sebotol bir besar dan sebungkus kacang. Ah, saya ingin melupakan bir-bir itu. Lalu menggantinya dengan segelas susu. Tentu saja tanpa air tuba di dalamnya. Itu karena saya ingin hidup sehat agar lebih lama saya lihat dirinya. Ciehhh…

Tulisan kali ini, saya tidak ingin serius. Di luaran sana sudah banyak yang serius. Saya yakin ada beberapa kawan yang bosan dengan obrolan pengkerut dahi. Tapi saya juga tidak yakin, selama seri Cangak ini ada, saya pernah serius. Mungkin pernah, mungkin tidak. Yang serius itu hanya satu, “aku sayang kamu”. Gombal.

Sepertinya ini tulisan paling receh yang pernah saya tulis [meski semua tulisan saya sepertinya memang receh]. Tapi tak mengapa, toh air masih mengalir, gunung masih tegak, dan Jdanau masih tergenang. Lalu sodara/i masih membacanya. Terimakasih.  

Edisi kali ini, sebenarnya saya ingin menceritakan tentang sebuah lontar yang bicara tentang kematian. Tapi tidak jadi, karena nanti tulisan ini jadi serius. Makanya saya ubah judul di atas menjadi semacam kritik kepada dua klasifikasi manusia.

Isi lontar yang ingin saya ceritakan itu sebenarnya cukup mencengangkan. Di dalamnya ada cara-cara untuk mati [bukan cara mati ala Bali dari teks Sumanasantaka]. Di sana juga ditulis tentang anugerah seorang guru kepada muridnya tentang cara melepaskan atma dari tubuh. Saya masih menimbang, akankah isi teks lontar itu saya sebarkan. Karena menerima artinya mengalirkan.

Biarlah nanti kalau memang harus saya ceritakan, akan saya tulis. Tapi resikonya, kalau berani menulis, haruslah berani mempraktikkan. Kalau tidak, ya tulisan hanya tinggal tulisan. Tidak ada taksunya. Begitu saya diajarkan.

Dari sekian isinya, yang bisa saya telusuri hanya cara menghitung hari baik untuk upacara kematian. Tentu saja selain upakara yang juga ditulis di sana. Percaya atau tidak, setelah membacanya saya benar-benar takjub sendiri. Kok para tetua dulu, bakat baana ngitungang ane keto-keto. Im so proud of you my Panglingsir.

Apalagi pembicaraan tentang aksara dan juga rajahannya. Teks itu sungguh memusingkan. Tapi entah kenapa, juga mengasyikkan. Membaca teks memang begitu, ia sulit tapi menarik. Kadang sehabis membaca sesuatu teks lontar tertentu, kita bisa memetakan apa yang sedang dibicarakan oleh orang lain yang juga menyenangi dunia perlontaran.

Contohnya adalah kata Jarayu yang beberapa waktu lalu dimuat di tatkala.co. Ada dua teks Bali yang kebetulan saya baca memuat kata itu. Yang satunya memberikan terjemahan tegas, apa itu Jarayu. Yang satunya bicara tentang kemunculannya dari Ongkara Pramana sebagai ajaran dari Parama Rahasyopadesa.

Contoh lainnya adalah kata Kajang. Yang dipakai saat upacara ngaben. Ngaben itu ada banyak istilahnya: Sawa Wedana, Swastagni, Ngelanus. Belum lagi setelah ngaben diikuti upacara nyekah. Nyekah itu juga ada beberapa istilahnya: Nyekah Kakangsen, Kurung, Mamadya. Saya tidak ingin memperdebatkan antara Kajang yang bisa mengantarkan jiwa atau tidak.

Kajang menurut shastranya, adalah salah satu upakara. Sebagaimana umumnya upakara, ia adalah lapis terluar dari tiga lapisan kerangka agama. Karena ia lapis terluar, maka ialah yang sering terlihat dan diperdebatkan. Tidak mengherankan.


BACA TULISAN LAIN TENTANG JARAYU DAN KAJANG:

  • JARAYU-TANTRA – Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Made Sidemen
  • Kematian, Kajang dan Jiwa
  • Sang Jiwa & Suara Aksara –Penjelasan Singkat Upakara Ngeringkes dan Ragam Kajang

Segitu saja tentang kematian. Pusing tidak? Bagi yang tidak, barangkali karena memang senang dengan yang begitu-begitu. Bagi yang pusing, silahkan tidur. Siapa tahu bisa mimpi indah tentang cinta dan kematian. Saya anjurkan tidur lebih banyak bagi kaum jomblo, siapa tahu di mimpi ketemu “ia” yang diharapkan. Biasanya dunia mimpi menyediakan yang kita inginkan. Biasanya! Kalau tidak, berarti tidak biasa.

Tidak ada salahnya jadi jomblo, tidak salah juga untuk tidak jomblo. Kedua kelompok ini tidak boleh saling mencaci maki. Sebaiknya silahturahmi. Saling kunjungi, saling mohon maaf, dan saling memaafkan. Yang jomblo tidak perlu demo agar ada aturan yang mengatur percintaan. Yang tidak jomblo, juga jangan mencibir. Kita ini kan satu negara. Negara Telaga.

Meski telaga akan segera kering, tidak apa-apa kalau kita mencoba dulu menggali sumur. Kan tidak ada kata terlambat. Masak iya, orang disebut bodoh hanya karena terlambat menggali sumur. Orang disebut bodoh, jika orang itu Belog. Menurut orang Bali jaman dahulu, belum tentu yang bodoh adalah yang tidak belajar. Orang terpelajar pun disebutnya bodoh. Orang yang terpelajar disebut bodoh, karena ia pintar. Saking pintarnya, ia asyik sendiri dengan kepintarannya.

Kalau ngomong dengan orang aneh memang begitu. Segalanya seperti kontraproduktif. Kata-katanya seolah kontradiktif. Yang paling kontras itu, kalau nemu orang saat bicara dengan kita dia berkata U, saat dengan orang lain dia berkata I, ketemu dengan koleganya yang kaya raya dia bilang A, ketemu orang miskin dan religious dia berkata T. Bayangkan satu kata apa yang bisa kita katakan untuk orang begitu.

Apapun kata yang bisa kita bayangkan, jangan sampai mengumpat. Karena itu tidak baik. Dilarang oleh segala macam aturan norma-norma hukum dan agama. Kalau tidak percaya, monggo ditakonkan kepada para ahli. Kan banyak tuh sekarang ahlinya ahli.

Ahli pindang sambel matah. Ahli sayur kangkung. Ahli babi guling. Ahli kitab. Ahli daun. Ahli apa lagi? Pokoknya banyak ahlinya ahli. Konyolnya, kita barangkali diam-diam tahu, kalau ada ahli ngaku-ngaku. Ngaku begitu dan ngaku begini. Begini begitu kok ngaku-ngaku? Giliran begitu-begituan tidak pernah ngaku. Konyol.

Tapi sepertinya memang begitu. Hidup ini sekumpulan kekonyolan. Boleh kan kalau kekonyolan yang banyol itu ditertawakan?

Hidup memang ada yang serius. Ada juga yang serius untuk hidup. Bagi yang serius hidup, segala pengalaman di masa lalu dijadikanya guru. Guru-guru masa lalu itulah yang menginisiasinya menjadi sosok bijaksana tiba-tiba. Sehingga bisa memberikan teladan kepada orang lain agar tidak seperti masa lalunya.

Begitulah hidup, konyolnya tiada akhir. Seberapapun konyolnya hidup, pokoknya “aku tetap cinta mati sama kamu sayang”. Auuuu… [T]


  • BACA: CANGAK YANG LAIN

Tags: cintakematianlontarrenungansastra
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Gelaran Hari Lahir Pancasila, Bulan Bung Karno, dan Gebrakan Pak Kadisbud Bali

Next Post

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri ---Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co