3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dan Kematian – [Kritik Kepada Kaum Jomblo dan Tidak Jomblo]

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 4, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Percaya atau tidak, kedua kata itu, cinta dan kematian, berkaitan. Erat bahkan. Contohnya: “Aku cinta padamu sampai mati”. “Aku cinta mati sama kamu”. “Aku akan terus mencintaimu sampai kematian tiba”. “Gue cinta mati sama elu”. “Tresnan Beline kanti mati”. Dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh kata itu, biasanya digunakan oleh sekelompok kaum yang tidak boleh saya terangkan dalam tulisan ini. I can’t mention mereka. But, saya yakini kita sudah paham siapa mereka. Harus saya yakinkan kalau itu gombal.

Jelas saja itu gombal. Mana ada orang cinta hanya sampai mati. Yang namanya cinta, harusnya bertahan bahkan setelah kematian. Maka katakan, “aku cinta padamu, bahkan maut tak bisa memisahkan”. Gitu. Tapi itu lebih gombal lagi sepertinya. Atau ganti dengan, “aku cinta padamu tanpa kata sampai”.

Cinta kalau dicari di kamus-kamus, artinya sebuah perasaan suka sekali, atau sangat sayang. Kalau sudah terjangkiti, jangan harap ada rasa takut pada setan. Apalagi setan yang beraninya mengganggu hanya saat tidur. Kalau jatuh cinta, jarak jadi tidak berarti. Waktu seperti lenyap. Dan tubuh seperti tidak ada.

Itulah receh-receh cinta. Semacam kembalian sehabis beli sebotol yogurt dan sebungkus roti cokelat. Bisa juga kembalian sehabis beli sebotol bir besar dan sebungkus kacang. Ah, saya ingin melupakan bir-bir itu. Lalu menggantinya dengan segelas susu. Tentu saja tanpa air tuba di dalamnya. Itu karena saya ingin hidup sehat agar lebih lama saya lihat dirinya. Ciehhh…

Tulisan kali ini, saya tidak ingin serius. Di luaran sana sudah banyak yang serius. Saya yakin ada beberapa kawan yang bosan dengan obrolan pengkerut dahi. Tapi saya juga tidak yakin, selama seri Cangak ini ada, saya pernah serius. Mungkin pernah, mungkin tidak. Yang serius itu hanya satu, “aku sayang kamu”. Gombal.

Sepertinya ini tulisan paling receh yang pernah saya tulis [meski semua tulisan saya sepertinya memang receh]. Tapi tak mengapa, toh air masih mengalir, gunung masih tegak, dan Jdanau masih tergenang. Lalu sodara/i masih membacanya. Terimakasih.  

Edisi kali ini, sebenarnya saya ingin menceritakan tentang sebuah lontar yang bicara tentang kematian. Tapi tidak jadi, karena nanti tulisan ini jadi serius. Makanya saya ubah judul di atas menjadi semacam kritik kepada dua klasifikasi manusia.

Isi lontar yang ingin saya ceritakan itu sebenarnya cukup mencengangkan. Di dalamnya ada cara-cara untuk mati [bukan cara mati ala Bali dari teks Sumanasantaka]. Di sana juga ditulis tentang anugerah seorang guru kepada muridnya tentang cara melepaskan atma dari tubuh. Saya masih menimbang, akankah isi teks lontar itu saya sebarkan. Karena menerima artinya mengalirkan.

Biarlah nanti kalau memang harus saya ceritakan, akan saya tulis. Tapi resikonya, kalau berani menulis, haruslah berani mempraktikkan. Kalau tidak, ya tulisan hanya tinggal tulisan. Tidak ada taksunya. Begitu saya diajarkan.

Dari sekian isinya, yang bisa saya telusuri hanya cara menghitung hari baik untuk upacara kematian. Tentu saja selain upakara yang juga ditulis di sana. Percaya atau tidak, setelah membacanya saya benar-benar takjub sendiri. Kok para tetua dulu, bakat baana ngitungang ane keto-keto. Im so proud of you my Panglingsir.

Apalagi pembicaraan tentang aksara dan juga rajahannya. Teks itu sungguh memusingkan. Tapi entah kenapa, juga mengasyikkan. Membaca teks memang begitu, ia sulit tapi menarik. Kadang sehabis membaca sesuatu teks lontar tertentu, kita bisa memetakan apa yang sedang dibicarakan oleh orang lain yang juga menyenangi dunia perlontaran.

Contohnya adalah kata Jarayu yang beberapa waktu lalu dimuat di tatkala.co. Ada dua teks Bali yang kebetulan saya baca memuat kata itu. Yang satunya memberikan terjemahan tegas, apa itu Jarayu. Yang satunya bicara tentang kemunculannya dari Ongkara Pramana sebagai ajaran dari Parama Rahasyopadesa.

Contoh lainnya adalah kata Kajang. Yang dipakai saat upacara ngaben. Ngaben itu ada banyak istilahnya: Sawa Wedana, Swastagni, Ngelanus. Belum lagi setelah ngaben diikuti upacara nyekah. Nyekah itu juga ada beberapa istilahnya: Nyekah Kakangsen, Kurung, Mamadya. Saya tidak ingin memperdebatkan antara Kajang yang bisa mengantarkan jiwa atau tidak.

Kajang menurut shastranya, adalah salah satu upakara. Sebagaimana umumnya upakara, ia adalah lapis terluar dari tiga lapisan kerangka agama. Karena ia lapis terluar, maka ialah yang sering terlihat dan diperdebatkan. Tidak mengherankan.


BACA TULISAN LAIN TENTANG JARAYU DAN KAJANG:

  • JARAYU-TANTRA – Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Made Sidemen
  • Kematian, Kajang dan Jiwa
  • Sang Jiwa & Suara Aksara –Penjelasan Singkat Upakara Ngeringkes dan Ragam Kajang

Segitu saja tentang kematian. Pusing tidak? Bagi yang tidak, barangkali karena memang senang dengan yang begitu-begitu. Bagi yang pusing, silahkan tidur. Siapa tahu bisa mimpi indah tentang cinta dan kematian. Saya anjurkan tidur lebih banyak bagi kaum jomblo, siapa tahu di mimpi ketemu “ia” yang diharapkan. Biasanya dunia mimpi menyediakan yang kita inginkan. Biasanya! Kalau tidak, berarti tidak biasa.

Tidak ada salahnya jadi jomblo, tidak salah juga untuk tidak jomblo. Kedua kelompok ini tidak boleh saling mencaci maki. Sebaiknya silahturahmi. Saling kunjungi, saling mohon maaf, dan saling memaafkan. Yang jomblo tidak perlu demo agar ada aturan yang mengatur percintaan. Yang tidak jomblo, juga jangan mencibir. Kita ini kan satu negara. Negara Telaga.

Meski telaga akan segera kering, tidak apa-apa kalau kita mencoba dulu menggali sumur. Kan tidak ada kata terlambat. Masak iya, orang disebut bodoh hanya karena terlambat menggali sumur. Orang disebut bodoh, jika orang itu Belog. Menurut orang Bali jaman dahulu, belum tentu yang bodoh adalah yang tidak belajar. Orang terpelajar pun disebutnya bodoh. Orang yang terpelajar disebut bodoh, karena ia pintar. Saking pintarnya, ia asyik sendiri dengan kepintarannya.

Kalau ngomong dengan orang aneh memang begitu. Segalanya seperti kontraproduktif. Kata-katanya seolah kontradiktif. Yang paling kontras itu, kalau nemu orang saat bicara dengan kita dia berkata U, saat dengan orang lain dia berkata I, ketemu dengan koleganya yang kaya raya dia bilang A, ketemu orang miskin dan religious dia berkata T. Bayangkan satu kata apa yang bisa kita katakan untuk orang begitu.

Apapun kata yang bisa kita bayangkan, jangan sampai mengumpat. Karena itu tidak baik. Dilarang oleh segala macam aturan norma-norma hukum dan agama. Kalau tidak percaya, monggo ditakonkan kepada para ahli. Kan banyak tuh sekarang ahlinya ahli.

Ahli pindang sambel matah. Ahli sayur kangkung. Ahli babi guling. Ahli kitab. Ahli daun. Ahli apa lagi? Pokoknya banyak ahlinya ahli. Konyolnya, kita barangkali diam-diam tahu, kalau ada ahli ngaku-ngaku. Ngaku begitu dan ngaku begini. Begini begitu kok ngaku-ngaku? Giliran begitu-begituan tidak pernah ngaku. Konyol.

Tapi sepertinya memang begitu. Hidup ini sekumpulan kekonyolan. Boleh kan kalau kekonyolan yang banyol itu ditertawakan?

Hidup memang ada yang serius. Ada juga yang serius untuk hidup. Bagi yang serius hidup, segala pengalaman di masa lalu dijadikanya guru. Guru-guru masa lalu itulah yang menginisiasinya menjadi sosok bijaksana tiba-tiba. Sehingga bisa memberikan teladan kepada orang lain agar tidak seperti masa lalunya.

Begitulah hidup, konyolnya tiada akhir. Seberapapun konyolnya hidup, pokoknya “aku tetap cinta mati sama kamu sayang”. Auuuu… [T]


  • BACA: CANGAK YANG LAIN

Tags: cintakematianlontarrenungansastra
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Gelaran Hari Lahir Pancasila, Bulan Bung Karno, dan Gebrakan Pak Kadisbud Bali

Next Post

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri ---Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co