14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cinta dan Kematian – [Kritik Kepada Kaum Jomblo dan Tidak Jomblo]

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
June 4, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Percaya atau tidak, kedua kata itu, cinta dan kematian, berkaitan. Erat bahkan. Contohnya: “Aku cinta padamu sampai mati”. “Aku cinta mati sama kamu”. “Aku akan terus mencintaimu sampai kematian tiba”. “Gue cinta mati sama elu”. “Tresnan Beline kanti mati”. Dan masih banyak lagi.

Contoh-contoh kata itu, biasanya digunakan oleh sekelompok kaum yang tidak boleh saya terangkan dalam tulisan ini. I can’t mention mereka. But, saya yakini kita sudah paham siapa mereka. Harus saya yakinkan kalau itu gombal.

Jelas saja itu gombal. Mana ada orang cinta hanya sampai mati. Yang namanya cinta, harusnya bertahan bahkan setelah kematian. Maka katakan, “aku cinta padamu, bahkan maut tak bisa memisahkan”. Gitu. Tapi itu lebih gombal lagi sepertinya. Atau ganti dengan, “aku cinta padamu tanpa kata sampai”.

Cinta kalau dicari di kamus-kamus, artinya sebuah perasaan suka sekali, atau sangat sayang. Kalau sudah terjangkiti, jangan harap ada rasa takut pada setan. Apalagi setan yang beraninya mengganggu hanya saat tidur. Kalau jatuh cinta, jarak jadi tidak berarti. Waktu seperti lenyap. Dan tubuh seperti tidak ada.

Itulah receh-receh cinta. Semacam kembalian sehabis beli sebotol yogurt dan sebungkus roti cokelat. Bisa juga kembalian sehabis beli sebotol bir besar dan sebungkus kacang. Ah, saya ingin melupakan bir-bir itu. Lalu menggantinya dengan segelas susu. Tentu saja tanpa air tuba di dalamnya. Itu karena saya ingin hidup sehat agar lebih lama saya lihat dirinya. Ciehhh…

Tulisan kali ini, saya tidak ingin serius. Di luaran sana sudah banyak yang serius. Saya yakin ada beberapa kawan yang bosan dengan obrolan pengkerut dahi. Tapi saya juga tidak yakin, selama seri Cangak ini ada, saya pernah serius. Mungkin pernah, mungkin tidak. Yang serius itu hanya satu, “aku sayang kamu”. Gombal.

Sepertinya ini tulisan paling receh yang pernah saya tulis [meski semua tulisan saya sepertinya memang receh]. Tapi tak mengapa, toh air masih mengalir, gunung masih tegak, dan Jdanau masih tergenang. Lalu sodara/i masih membacanya. Terimakasih.  

Edisi kali ini, sebenarnya saya ingin menceritakan tentang sebuah lontar yang bicara tentang kematian. Tapi tidak jadi, karena nanti tulisan ini jadi serius. Makanya saya ubah judul di atas menjadi semacam kritik kepada dua klasifikasi manusia.

Isi lontar yang ingin saya ceritakan itu sebenarnya cukup mencengangkan. Di dalamnya ada cara-cara untuk mati [bukan cara mati ala Bali dari teks Sumanasantaka]. Di sana juga ditulis tentang anugerah seorang guru kepada muridnya tentang cara melepaskan atma dari tubuh. Saya masih menimbang, akankah isi teks lontar itu saya sebarkan. Karena menerima artinya mengalirkan.

Biarlah nanti kalau memang harus saya ceritakan, akan saya tulis. Tapi resikonya, kalau berani menulis, haruslah berani mempraktikkan. Kalau tidak, ya tulisan hanya tinggal tulisan. Tidak ada taksunya. Begitu saya diajarkan.

Dari sekian isinya, yang bisa saya telusuri hanya cara menghitung hari baik untuk upacara kematian. Tentu saja selain upakara yang juga ditulis di sana. Percaya atau tidak, setelah membacanya saya benar-benar takjub sendiri. Kok para tetua dulu, bakat baana ngitungang ane keto-keto. Im so proud of you my Panglingsir.

Apalagi pembicaraan tentang aksara dan juga rajahannya. Teks itu sungguh memusingkan. Tapi entah kenapa, juga mengasyikkan. Membaca teks memang begitu, ia sulit tapi menarik. Kadang sehabis membaca sesuatu teks lontar tertentu, kita bisa memetakan apa yang sedang dibicarakan oleh orang lain yang juga menyenangi dunia perlontaran.

Contohnya adalah kata Jarayu yang beberapa waktu lalu dimuat di tatkala.co. Ada dua teks Bali yang kebetulan saya baca memuat kata itu. Yang satunya memberikan terjemahan tegas, apa itu Jarayu. Yang satunya bicara tentang kemunculannya dari Ongkara Pramana sebagai ajaran dari Parama Rahasyopadesa.

Contoh lainnya adalah kata Kajang. Yang dipakai saat upacara ngaben. Ngaben itu ada banyak istilahnya: Sawa Wedana, Swastagni, Ngelanus. Belum lagi setelah ngaben diikuti upacara nyekah. Nyekah itu juga ada beberapa istilahnya: Nyekah Kakangsen, Kurung, Mamadya. Saya tidak ingin memperdebatkan antara Kajang yang bisa mengantarkan jiwa atau tidak.

Kajang menurut shastranya, adalah salah satu upakara. Sebagaimana umumnya upakara, ia adalah lapis terluar dari tiga lapisan kerangka agama. Karena ia lapis terluar, maka ialah yang sering terlihat dan diperdebatkan. Tidak mengherankan.


BACA TULISAN LAIN TENTANG JARAYU DAN KAJANG:

  • JARAYU-TANTRA – Catatan Kecil dari Percakapan Prof Hooykaas dengan Pedanda Made Sidemen
  • Kematian, Kajang dan Jiwa
  • Sang Jiwa & Suara Aksara –Penjelasan Singkat Upakara Ngeringkes dan Ragam Kajang

Segitu saja tentang kematian. Pusing tidak? Bagi yang tidak, barangkali karena memang senang dengan yang begitu-begitu. Bagi yang pusing, silahkan tidur. Siapa tahu bisa mimpi indah tentang cinta dan kematian. Saya anjurkan tidur lebih banyak bagi kaum jomblo, siapa tahu di mimpi ketemu “ia” yang diharapkan. Biasanya dunia mimpi menyediakan yang kita inginkan. Biasanya! Kalau tidak, berarti tidak biasa.

Tidak ada salahnya jadi jomblo, tidak salah juga untuk tidak jomblo. Kedua kelompok ini tidak boleh saling mencaci maki. Sebaiknya silahturahmi. Saling kunjungi, saling mohon maaf, dan saling memaafkan. Yang jomblo tidak perlu demo agar ada aturan yang mengatur percintaan. Yang tidak jomblo, juga jangan mencibir. Kita ini kan satu negara. Negara Telaga.

Meski telaga akan segera kering, tidak apa-apa kalau kita mencoba dulu menggali sumur. Kan tidak ada kata terlambat. Masak iya, orang disebut bodoh hanya karena terlambat menggali sumur. Orang disebut bodoh, jika orang itu Belog. Menurut orang Bali jaman dahulu, belum tentu yang bodoh adalah yang tidak belajar. Orang terpelajar pun disebutnya bodoh. Orang yang terpelajar disebut bodoh, karena ia pintar. Saking pintarnya, ia asyik sendiri dengan kepintarannya.

Kalau ngomong dengan orang aneh memang begitu. Segalanya seperti kontraproduktif. Kata-katanya seolah kontradiktif. Yang paling kontras itu, kalau nemu orang saat bicara dengan kita dia berkata U, saat dengan orang lain dia berkata I, ketemu dengan koleganya yang kaya raya dia bilang A, ketemu orang miskin dan religious dia berkata T. Bayangkan satu kata apa yang bisa kita katakan untuk orang begitu.

Apapun kata yang bisa kita bayangkan, jangan sampai mengumpat. Karena itu tidak baik. Dilarang oleh segala macam aturan norma-norma hukum dan agama. Kalau tidak percaya, monggo ditakonkan kepada para ahli. Kan banyak tuh sekarang ahlinya ahli.

Ahli pindang sambel matah. Ahli sayur kangkung. Ahli babi guling. Ahli kitab. Ahli daun. Ahli apa lagi? Pokoknya banyak ahlinya ahli. Konyolnya, kita barangkali diam-diam tahu, kalau ada ahli ngaku-ngaku. Ngaku begitu dan ngaku begini. Begini begitu kok ngaku-ngaku? Giliran begitu-begituan tidak pernah ngaku. Konyol.

Tapi sepertinya memang begitu. Hidup ini sekumpulan kekonyolan. Boleh kan kalau kekonyolan yang banyol itu ditertawakan?

Hidup memang ada yang serius. Ada juga yang serius untuk hidup. Bagi yang serius hidup, segala pengalaman di masa lalu dijadikanya guru. Guru-guru masa lalu itulah yang menginisiasinya menjadi sosok bijaksana tiba-tiba. Sehingga bisa memberikan teladan kepada orang lain agar tidak seperti masa lalunya.

Begitulah hidup, konyolnya tiada akhir. Seberapapun konyolnya hidup, pokoknya “aku tetap cinta mati sama kamu sayang”. Auuuu… [T]


  • BACA: CANGAK YANG LAIN

Tags: cintakematianlontarrenungansastra
Share118TweetSendShareSend
Previous Post

Gelaran Hari Lahir Pancasila, Bulan Bung Karno, dan Gebrakan Pak Kadisbud Bali

Next Post

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri —Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Taman Bumi & Etis Pemuja Gambar Diri ---Pesan Amat Penting bagi Pendaki Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co