23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Gita Galih Gumalang by Gita Galih Gumalang
May 23, 2019
in Ulasan
Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Lukisan cover buku Menanam Puisi di Emperan Matamu. (Pelukis: Nanapartha)

  • Judul: Menanam Puisi di Emperan Matamu
  • Penulis: Wayan Esa Bhaskara
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan: Desember 2018
  • Tebal: xi + 106 halaman
  • ISBN: 978-602-51560-3-8

—

Dalam tiap perjalanan selalu ada benturan atau gesekan rasa dan nilai entah dari dalam atau dari luar. Ada yang sekadar berjalan, ada yang merasakan, ada yang mencatat, dan ada yang mencatat rasa-rasa yang mengilhami sukma perjalanan itu. Media tiap orang mencatat perjalanan-perjalanannya tentu relatif. Entah catatan berbentuk tulisan buku harian pada umumnya, dikemas dalam bentuk foto atau video, dan tentu ada segelintir yang mengabadikan perjalanannya dalam bentuk sastra tulis lirik, yaitu puisi.

Pada momen ini, saya diberikan kesempatan untuk menonton catatan perjalanan dari Wayan Esa Bhaskara yang juga adalah seorang penulis giat. Manifestasi catatan perjalanan beliau dikemas dalam bentuk buku kumpulan puisi lirik yang bertajuk “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Mari kita menyelam rasa dan berjalan bersama dengan beliau melalui kumpulan sajak yang sudah dibukukan tersebut.

“Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan buku kumpulan puisi pertama Wayan Esa Bhaskara. Beliau terbilang adalah seorang penulis sajak yang giat. Menurut pengakuan beliau sendiri, periode produktifnya dalam menulis adalah tahun 2017-2018. Hal tersebut terjadi tentu juga karena adanya pengaruh lingkungan, dimana beliau menyelam dalam lingkaran-lingkaran kreatif sastranya yaitu Komunitas Cemara Angin, Komunitas Mahima, dan Teater Kalangan.

Hingga akhirnya pada tahun ini, kumpulan sajaknya yang dahulu terhimpit di dalam catatan dan laptopnya berhasil dibukukan dan diterjunkan ke khalayak, salah satunya adalah saya. Selamat untuk Wayan Esa Bhaskara sebelumnya, atas peluncuran buku kumpulan puisi ini.

Kesan pertama saya saat membaca beberapa sajak di dalam buku ini adalah, “saya sedang membaca buku harian seseorang”. Hal tersebut memang bisa dikatakan rasa yang umum terjadi ketika orang membaca sebuah buku antologi puisi. Tapi dalam buku ini yang menjadi menarik bagi saya pribadi adalah nuansa intim yang disuguhkan ketika awal membaca sajak-sajak ini. Nuansa tersebut hadir tentu didukung oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sajak- sajak tersebut, diksi, pemilihan judul, penggunaan majas, dll.

Saya lebih senang menyebut kegiatan yang saya lakukan ketika menikmati buku ini adalah berjalan bersama si penulis daripada sekadar membaca sajak lirik. Pemilihan judul untuk tiap sajak bagi saya juga sangat terlihat akrab dengan butir-butir baris di dalamnya. Butir baris yang dialiri oleh kesederhanaan rasa dari penulis sangat menyatu disini.

Kecurigaan saya timbul ketika semakin berjalannya saya mengakrabi rasa dari baris-baris ini, adalah rasa yang terkandung di butir baris itu merupakan kepuasan pribadi bagi penulis itu sendiri, tanpa ada maksud tertentu yang lainnya. Tapi kehadiran rasa itu bagi saya pribadi terproyeksi dengan sangat baik bagi pembaca yang membaca sajak-sajak dalam buku ini.

Topik, momen, dan rasa yang diambil dari perjalanan beliau dan menjadi sajak-sajak ini, sebagian besar terbilang hal sederhana yang dibarengi juga dengan rasa sederhana yang kuat dari si penulis. Pemanfaatan momen estetis dalam kumpulan sajak ini sangat istimewa bagi saya. Sikap ketekunan dan kejelian penulis tentu memiliki andil besar dalam fenomena yang saya tangkap setelah membaca buku ini.

Bagi saya ada beberapa topik yang jika saya alami sendiri hanya akan menjadi angin lalu, tapi bagi Wayan Esa Bhaskara hal tersebut adalah momen penting dan bahan spesial baginya untuk diubah dan diramu menjadi sebuah sajak. Alhasil, hal itu menjadi keistimewaan maupun daya tarik dari sajak dan penulisnya bagi saya.

Jika kita bicara hakikat dari karya tulis, tentu pembahasan tersebut sarat tentang hasil penelitian, pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu yang disusun ke dalam media tulis secara sistematis dan estetis. Terutama topik yang kita bicarakan saat ini adalah karya tulis puisi. Disamping penjabaran secara teoritis tersebut, pandangan saya terhadap sebuah karya tulis (puisi) merupakan media bagi penulis untuk melahirkan dirinya lagi ke dunia.

Sehingga keberadaan manifestasi diri dalam bentuk karya tulis (puisi) merupakan cerminan dari penulis dan juga media bagi kita penikmat untuk mengenal penulis itu sendiri. Jika boleh dibilang ketika menikmati buku ini, saya secara tidak langsung sekaligus mengenal sosok dari Wayan Esa Bhaskara penulis dari sajak-sajak ini sendiri. Ketulusan, kesederhanaan, dan kelembutan. Ketiga kata tersebut adalah kesan pribadi saya tentang si penulis kumpulan puisi ini. Poin tersebut bagi saya merupakan kelebihan dari kumpulan puisi ini.

Buku kumpulan puisi ini membawa keistimewaan dari bagaimana cara pandang penulis tentang hal-hal yang mengisi perjalanannya. Bagaimana beliau memandang hal sederhana, seperti bagaimana ia memandang secangkir kopinya di pagi hari, bagaimana dingin malam yang ia lewati, dan yang teristimewa bagaimana ia memandang momennya bersama orang yang terspesial dalam hidupnya. Semua hal itu terkemas dengan apik dan hangat ke dalam tiap baris sajak yang ditulisnya. Pribadi, ini merupakan buku harian sederhana yang menakjubkan.

Baris-baris sajaknya yang penuh rasa itu juga diperkaya dengan diksi indah dan penggunaan majas yang menarik. Majas yang digunakan terbilang menarik karena berhasil membuat alis saya berkerut sebelum berhasil memahami apa dari maksud dari larik tersebut. Dilihat dari diksi puisi-puisi ini, beliau cenderung sering menggunakan kata mata.

Mata secara harfiah adalah organ yang digunakan manusia untuk melihat, dan sekaligus menjadi jendela dua sisi bagi manusia itu sendiri. Jendela untuk melihat isi dari manusia tersebut dan juga jendela bagi manusia untuk menerima apa yang terjadi dihadapannya secara visual. Penggunaan kata mata menjadi kuat dalam puisi ini karena makna dan nilai dari kata tersebut digunakan tidak hanya terjebak di dalam pakem definisi dari kata itu. Ini bagi saya merupakan perluasan fungsi salah satu unsur alat puitika yaitu citraan indera pengelihatan.

Buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” karya Wayan Esa Bhaskara merupakan konsumsi yang tepat bagi para pembaca yang ingin memenuhi asupan sastra mereka atau hanya ingin mengisi waktu senggang dengan membaca sebuah buku. Kesederhanaan dan sajak-sajak yang kaya akan rasa dan pengalaman mampu terproyeksikan dengan baik, selain itu buku ini secara pribadi dapat mengajak pembacanya untuk berjalan bersama dalam perjalanan-perjalanan yang tertuang dalam buku kumpulan puisi ini.

Sekali lagi, selamat kepada Wayan Esa Bhaskara atas suksesnya peluncuran buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Sukses selalu.

Akhir kata, saya ingin mengutip salah satu butir baris dari sajak “Mengaduk Pagi” dalam buku ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya.

“Terus kuaduk secangkir pagi tanpa gula. Ritual setahun belakangan setelah mengenal senyummu. Beginilah, kunikmati hidupku. [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Next Post

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Gita Galih Gumalang

Gita Galih Gumalang

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana. Kerap aktif berproses sastra, musik, teater dengan berbagai kelompok pergaulan kreatif di Denpasar. Kini menjabat sebagai Ketua Teater Cakrawala, semacam kelompok sastra yang beranggotakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Unud.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co