23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
May 23, 2019
in Ulasan
Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas
  • Judul: Menanam Puisi di Emperan Matamu
  • Penulis: Wayan Esa Bhaskara
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan: Desember 2018
  • Tebal: xi + 106 halaman
  • ISBN: 978-602-51560-3-8

—

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” 

Kalimat milik Pramoedya Ananta Toer ini selalu ingin saya kutip dalam setiap kesempatan yang mengizinkan saya memakainya. Akan tetapi,  selalu ada batasan-batasan pada setiap tempat dan dalam diri setiap orang. Padahal kita hanya perlu merenungkannya bersama.  Kualitas yang sama juga saya temukan setelah membaca puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” karya Wayan Esa Bhaskara yang notabene seorang terpelajar, sekaligus yang senantiasa bersetia pada kata hati, yakni puisi!

Saya tidak dapat menjelaskan Esa sebagai siapa. Setiap kawannya tentu akan memeberinya nama sebagaimana kesan mereka saat bertemu dan saat bersama. Saya sendiri awalnya hanya mengenal Esa sebagai alumni Jurusan Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha.  Kekasih dari seorang teman kekasih saya. Ia suka menulis puisi. Itu hal wajar bagi saya. Lulus dari perguruan tinggi dan memilih mengabdikan diri di sebuah sekolah negeri sebagai guru Bahasa Indonesia juga adalah hal yang sudah sewajarnya. Yang menjadikannya berbeda, Esa tetap menulis dan bergaul dalam komunitas ketika ia menjadi guru.  Tidak banyak yang sanggup melakukannya sebagai pilihan. 

Esa dan karya-karyanya  seharusnya  bisa menjadi rumah belajar bagi saya dan kawan-kawan guru Bahasa Indonesia dalam ruang-ruang pendidikan formal. Ketika Bahasa Indonesia menjadi sebuah mata pelajaran yang sulit dijelaskan, terasa sepele namun sulit dilakukan, terasa tidak dibutuhkan sebagai modal dasar mencari pekerjaan, untuk apa kehadirannya di dalam kelas?

Saya pikir guru Bahasa Indonesia-lah yang punya andil menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia itu penting dan berguna di mata siswa. Ini memang semakin mengejutkan setelah siswa berada di dalam ruang kelas dengan sebuah tugas membuat karangan cerita pengalaman pribadi.

Kesulitan menulis hampir dialami semua anak.  Bahkan ada pertanyaan salah seorang siswa saya, “Bu, saya mau bilang kalau saya akan datang menemuinya, bagaimana cara menuliskannya?”

Hal itu baru saja dikatakannya tetapi tidak sanggup dijelaskannya dalam tulisan.  Dasar cerita di atas mungkin bisa bagi cerminan untuk saya dan kawan pengajar Bahasa Indonesia yang lain, kenapa kehadiran Esa dan karya puisinya menjadi penting.  

Pada puisi Esa, ulang-alik penyair dan guru tampak hadir silih berganti. Kesadaran Esa dalam berlatih bahasa terlihat pada cara  ia membiasakan kata dalam Bahasa Indonesia yang terasa asing, sengaja dihadirkan dalam puisi. Hal ini tampak secara sadar Esa tuliskan sebagai bentuk ungkapan identitas dirinya sebagai guru Bahasa Indonesia.  Hal ini tercatat pada bait kedua puisi Sajak Tiga Bagian.

.

Pada Tubuh sajak ini

Kita bersepakat kata-kata telah matang

Gampang disergap mata

Rampng di ranjang hingga cecabang

Sementara kau terlalu lelah

Menggubah seluruh kisah tabu

Diceritakan ibu pada malam itu

.

Terdapat penggunaan kata “menggubah” dalam Bahasa Indonesia. Menggubah berasal dari akar kata “gubah”. Ia juga berupa sebuah homonim, atau dapat dikatakan sebuah kata dengan ejaan dan cara pelafalan yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Memiliki makna yang berarti merangkai, mencocokan, dan mengatur. 

Sebagai guru Esa sangat tahu itu kata yang begitu asing untuk siswa, atau untuk  sebagian besar masyarakat umum.  Meski demikian, penggunaan bahasa baku yang kerap kali Esa gunakan mungkin perlu dipertimbangkan kembali, sebab hal itu mungkin dapat menghancurkan bangunan kata lainnya. Semisal penggunaan bahasa baku  dalam karyanya yang berjudul “Ruang” Esa menggunakan beberapa kata  seperti “Relevan” dan “Merespons”. Secara pribadi, kata itu justru mengganggu bangunan puisi karena terkesan kaku. 

Uniknya, kendatipun Esa tampak begitu kukuh dalam menyampaikan visi personalnya sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, pada beberapa bagian, permainan  kata yang tidak biasa rupanya telah coba dilakukan  Esa.  Masih pada puisi yang sama, saya ingin mengutip bait terakhir Sajak Tiga Bagian.

.

Pada akhir sajak ini

Ribuan kata memilih jadi hujan

Hingga lelaron berlayang

Agar ka tak letih berlari

Dari satu sudut ke sudut lainnya

Mengembara satu dua kenangan

Yang mulai tampak tenang

.

Penggunaan “kata lelaron” semisal. Dalam pemakaian teori bentukan kata memakai imbuhan, di Bahasa Indonesia “le” tidak termasuk ke dalam imbuhan Bahas Indonesia. Demikian Juga dengan beberapa kata seperti “bebutiran” pada puisi ”Mengajak Putri ke Sawah” kata “bebutiran” yang berasal dari kata “butir” dapat berubah bentuk menjadi berbutir-butir, atau butir-butir. Hal ini bisa jadi adalah tanda bagi ciri khas karya-karya Esa. Di satu sisi Esa sangat ketat dalam penggunaan Bahasa Indonesia, dan di sisi lain ia mencoba mempermainkan kata di luar aturan kebahasaan.

Saya kira potensi Esa dalam menyikapi ulang-alik perjalanannya sebagai penyair dan guru begitu besar. Hal ini menjadi penting jika dikaitkan dengan konteks yang terjadi di lingkngan sekolah. Sudah jadi rahasia umum jika pelajaran bahasa cenderung disepelekan diantara siswa. Bahasa yang disepelekan terjadi karena pembelajarnya telah menggunakan bahasa yang mereka pelajari.

Menjadi terasa sulit kemudian karena bahasa itu disusun dalam bentuk-bentuk teks yang berbeda. Meski demikian, bagi saya pribadi bentuk teks itu hanya persoalan meletakan strukturnya. Masalah bagi siswa tidak terletak di sana, sebab secara teori dan praktik pelajaran Bahasa Indonesia saat ini memang telah berupa rumus-rumus penghafalan dan siswa jauh lebih dari kata sanggup untuk melakukannya. 

Kesulitan itu justru saya temukan tentang daya ungkap siswa, memaknai kata sehingga tepat diletakan di mana. Dalam hal ini saya memandang Esa sangat menyadari posisinya sebagai seorang guru Bhahasa Indonesia tentang pentingya merawat kata sebagai modal dasar daya ungkap.

Kelahiran karyanya dalam bentuk kumpulan buku puisi, saya rasa adalah wadah yang Esa gunakan untuk proses latihan. Saya katakan demikian karena bagi saya pribadi puisi dapat memberi kita kebebasan mempermainkan kata-kata. Menjadikannya pasif atau aktif. Memebebaskan kata bergulat  dengan perasaan apapun. Membiarkannya hanya jadi kata atu kalimat sempurna, dan kemngkinan-kemngkinan permainan bahasa lainnya yang Esa lakukan. 

Upaya-upaya pegukuhan dan permainan kata dalam puisi Esa ini, barangkali bisa menjadi salah satu pedoman bagi kita selaku guru Bahasa Indonesia dalam menerapkan sistem pengajaran Bahasa Indonesia di kelas. Setidaknya upaya menulis dapat kita perkenalkan sebagai usaha mengukuhkan dan memepermainkan kata menjadi rangkaian-rangkaian kalimat yang lebih sempurna.

Atau setidaknya, mengajarkan anak merumuskan kata menjadi lebih terasa pantas di dengar dibandingkan dengan hanya mengatakan seperti, “Butuh mengoleskan balsem penahan hujatan” untuk mengatakan perasaan jengkel. Sebagaimana kerap kita temukan pada status media sosial hari ini. Betapa tak berdaya guna, betapa tak bergaya bahasa! [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Next Post

Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co