2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
May 23, 2019
in Ulasan
Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas
  • Judul: Menanam Puisi di Emperan Matamu
  • Penulis: Wayan Esa Bhaskara
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan: Desember 2018
  • Tebal: xi + 106 halaman
  • ISBN: 978-602-51560-3-8

—

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati” 

Kalimat milik Pramoedya Ananta Toer ini selalu ingin saya kutip dalam setiap kesempatan yang mengizinkan saya memakainya. Akan tetapi,  selalu ada batasan-batasan pada setiap tempat dan dalam diri setiap orang. Padahal kita hanya perlu merenungkannya bersama.  Kualitas yang sama juga saya temukan setelah membaca puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” karya Wayan Esa Bhaskara yang notabene seorang terpelajar, sekaligus yang senantiasa bersetia pada kata hati, yakni puisi!

Saya tidak dapat menjelaskan Esa sebagai siapa. Setiap kawannya tentu akan memeberinya nama sebagaimana kesan mereka saat bertemu dan saat bersama. Saya sendiri awalnya hanya mengenal Esa sebagai alumni Jurusan Pendidkan Bahasa dan Sastra Indonesia Undiksha.  Kekasih dari seorang teman kekasih saya. Ia suka menulis puisi. Itu hal wajar bagi saya. Lulus dari perguruan tinggi dan memilih mengabdikan diri di sebuah sekolah negeri sebagai guru Bahasa Indonesia juga adalah hal yang sudah sewajarnya. Yang menjadikannya berbeda, Esa tetap menulis dan bergaul dalam komunitas ketika ia menjadi guru.  Tidak banyak yang sanggup melakukannya sebagai pilihan. 

Esa dan karya-karyanya  seharusnya  bisa menjadi rumah belajar bagi saya dan kawan-kawan guru Bahasa Indonesia dalam ruang-ruang pendidikan formal. Ketika Bahasa Indonesia menjadi sebuah mata pelajaran yang sulit dijelaskan, terasa sepele namun sulit dilakukan, terasa tidak dibutuhkan sebagai modal dasar mencari pekerjaan, untuk apa kehadirannya di dalam kelas?

Saya pikir guru Bahasa Indonesia-lah yang punya andil menjadikan mata pelajaran Bahasa Indonesia itu penting dan berguna di mata siswa. Ini memang semakin mengejutkan setelah siswa berada di dalam ruang kelas dengan sebuah tugas membuat karangan cerita pengalaman pribadi.

Kesulitan menulis hampir dialami semua anak.  Bahkan ada pertanyaan salah seorang siswa saya, “Bu, saya mau bilang kalau saya akan datang menemuinya, bagaimana cara menuliskannya?”

Hal itu baru saja dikatakannya tetapi tidak sanggup dijelaskannya dalam tulisan.  Dasar cerita di atas mungkin bisa bagi cerminan untuk saya dan kawan pengajar Bahasa Indonesia yang lain, kenapa kehadiran Esa dan karya puisinya menjadi penting.  

Pada puisi Esa, ulang-alik penyair dan guru tampak hadir silih berganti. Kesadaran Esa dalam berlatih bahasa terlihat pada cara  ia membiasakan kata dalam Bahasa Indonesia yang terasa asing, sengaja dihadirkan dalam puisi. Hal ini tampak secara sadar Esa tuliskan sebagai bentuk ungkapan identitas dirinya sebagai guru Bahasa Indonesia.  Hal ini tercatat pada bait kedua puisi Sajak Tiga Bagian.

.

Pada Tubuh sajak ini

Kita bersepakat kata-kata telah matang

Gampang disergap mata

Rampng di ranjang hingga cecabang

Sementara kau terlalu lelah

Menggubah seluruh kisah tabu

Diceritakan ibu pada malam itu

.

Terdapat penggunaan kata “menggubah” dalam Bahasa Indonesia. Menggubah berasal dari akar kata “gubah”. Ia juga berupa sebuah homonim, atau dapat dikatakan sebuah kata dengan ejaan dan cara pelafalan yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Memiliki makna yang berarti merangkai, mencocokan, dan mengatur. 

Sebagai guru Esa sangat tahu itu kata yang begitu asing untuk siswa, atau untuk  sebagian besar masyarakat umum.  Meski demikian, penggunaan bahasa baku yang kerap kali Esa gunakan mungkin perlu dipertimbangkan kembali, sebab hal itu mungkin dapat menghancurkan bangunan kata lainnya. Semisal penggunaan bahasa baku  dalam karyanya yang berjudul “Ruang” Esa menggunakan beberapa kata  seperti “Relevan” dan “Merespons”. Secara pribadi, kata itu justru mengganggu bangunan puisi karena terkesan kaku. 

Uniknya, kendatipun Esa tampak begitu kukuh dalam menyampaikan visi personalnya sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, pada beberapa bagian, permainan  kata yang tidak biasa rupanya telah coba dilakukan  Esa.  Masih pada puisi yang sama, saya ingin mengutip bait terakhir Sajak Tiga Bagian.

.

Pada akhir sajak ini

Ribuan kata memilih jadi hujan

Hingga lelaron berlayang

Agar ka tak letih berlari

Dari satu sudut ke sudut lainnya

Mengembara satu dua kenangan

Yang mulai tampak tenang

.

Penggunaan “kata lelaron” semisal. Dalam pemakaian teori bentukan kata memakai imbuhan, di Bahasa Indonesia “le” tidak termasuk ke dalam imbuhan Bahas Indonesia. Demikian Juga dengan beberapa kata seperti “bebutiran” pada puisi ”Mengajak Putri ke Sawah” kata “bebutiran” yang berasal dari kata “butir” dapat berubah bentuk menjadi berbutir-butir, atau butir-butir. Hal ini bisa jadi adalah tanda bagi ciri khas karya-karya Esa. Di satu sisi Esa sangat ketat dalam penggunaan Bahasa Indonesia, dan di sisi lain ia mencoba mempermainkan kata di luar aturan kebahasaan.

Saya kira potensi Esa dalam menyikapi ulang-alik perjalanannya sebagai penyair dan guru begitu besar. Hal ini menjadi penting jika dikaitkan dengan konteks yang terjadi di lingkngan sekolah. Sudah jadi rahasia umum jika pelajaran bahasa cenderung disepelekan diantara siswa. Bahasa yang disepelekan terjadi karena pembelajarnya telah menggunakan bahasa yang mereka pelajari.

Menjadi terasa sulit kemudian karena bahasa itu disusun dalam bentuk-bentuk teks yang berbeda. Meski demikian, bagi saya pribadi bentuk teks itu hanya persoalan meletakan strukturnya. Masalah bagi siswa tidak terletak di sana, sebab secara teori dan praktik pelajaran Bahasa Indonesia saat ini memang telah berupa rumus-rumus penghafalan dan siswa jauh lebih dari kata sanggup untuk melakukannya. 

Kesulitan itu justru saya temukan tentang daya ungkap siswa, memaknai kata sehingga tepat diletakan di mana. Dalam hal ini saya memandang Esa sangat menyadari posisinya sebagai seorang guru Bhahasa Indonesia tentang pentingya merawat kata sebagai modal dasar daya ungkap.

Kelahiran karyanya dalam bentuk kumpulan buku puisi, saya rasa adalah wadah yang Esa gunakan untuk proses latihan. Saya katakan demikian karena bagi saya pribadi puisi dapat memberi kita kebebasan mempermainkan kata-kata. Menjadikannya pasif atau aktif. Memebebaskan kata bergulat  dengan perasaan apapun. Membiarkannya hanya jadi kata atu kalimat sempurna, dan kemngkinan-kemngkinan permainan bahasa lainnya yang Esa lakukan. 

Upaya-upaya pegukuhan dan permainan kata dalam puisi Esa ini, barangkali bisa menjadi salah satu pedoman bagi kita selaku guru Bahasa Indonesia dalam menerapkan sistem pengajaran Bahasa Indonesia di kelas. Setidaknya upaya menulis dapat kita perkenalkan sebagai usaha mengukuhkan dan memepermainkan kata menjadi rangkaian-rangkaian kalimat yang lebih sempurna.

Atau setidaknya, mengajarkan anak merumuskan kata menjadi lebih terasa pantas di dengar dibandingkan dengan hanya mengatakan seperti, “Butuh mengoleskan balsem penahan hujatan” untuk mengatakan perasaan jengkel. Sebagaimana kerap kita temukan pada status media sosial hari ini. Betapa tak berdaya guna, betapa tak bergaya bahasa! [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share38TweetSendShareSend
Previous Post

Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Next Post

Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Mozaik dari Personalitas Si Penyair –Catatan Buku Puisi Esa Bhaskara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co