12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Gita Galih Gumalang by Gita Galih Gumalang
May 23, 2019
in Ulasan
Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Lukisan cover buku Menanam Puisi di Emperan Matamu. (Pelukis: Nanapartha)

  • Judul: Menanam Puisi di Emperan Matamu
  • Penulis: Wayan Esa Bhaskara
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan: Desember 2018
  • Tebal: xi + 106 halaman
  • ISBN: 978-602-51560-3-8

—

Dalam tiap perjalanan selalu ada benturan atau gesekan rasa dan nilai entah dari dalam atau dari luar. Ada yang sekadar berjalan, ada yang merasakan, ada yang mencatat, dan ada yang mencatat rasa-rasa yang mengilhami sukma perjalanan itu. Media tiap orang mencatat perjalanan-perjalanannya tentu relatif. Entah catatan berbentuk tulisan buku harian pada umumnya, dikemas dalam bentuk foto atau video, dan tentu ada segelintir yang mengabadikan perjalanannya dalam bentuk sastra tulis lirik, yaitu puisi.

Pada momen ini, saya diberikan kesempatan untuk menonton catatan perjalanan dari Wayan Esa Bhaskara yang juga adalah seorang penulis giat. Manifestasi catatan perjalanan beliau dikemas dalam bentuk buku kumpulan puisi lirik yang bertajuk “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Mari kita menyelam rasa dan berjalan bersama dengan beliau melalui kumpulan sajak yang sudah dibukukan tersebut.

“Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan buku kumpulan puisi pertama Wayan Esa Bhaskara. Beliau terbilang adalah seorang penulis sajak yang giat. Menurut pengakuan beliau sendiri, periode produktifnya dalam menulis adalah tahun 2017-2018. Hal tersebut terjadi tentu juga karena adanya pengaruh lingkungan, dimana beliau menyelam dalam lingkaran-lingkaran kreatif sastranya yaitu Komunitas Cemara Angin, Komunitas Mahima, dan Teater Kalangan.

Hingga akhirnya pada tahun ini, kumpulan sajaknya yang dahulu terhimpit di dalam catatan dan laptopnya berhasil dibukukan dan diterjunkan ke khalayak, salah satunya adalah saya. Selamat untuk Wayan Esa Bhaskara sebelumnya, atas peluncuran buku kumpulan puisi ini.

Kesan pertama saya saat membaca beberapa sajak di dalam buku ini adalah, “saya sedang membaca buku harian seseorang”. Hal tersebut memang bisa dikatakan rasa yang umum terjadi ketika orang membaca sebuah buku antologi puisi. Tapi dalam buku ini yang menjadi menarik bagi saya pribadi adalah nuansa intim yang disuguhkan ketika awal membaca sajak-sajak ini. Nuansa tersebut hadir tentu didukung oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sajak- sajak tersebut, diksi, pemilihan judul, penggunaan majas, dll.

Saya lebih senang menyebut kegiatan yang saya lakukan ketika menikmati buku ini adalah berjalan bersama si penulis daripada sekadar membaca sajak lirik. Pemilihan judul untuk tiap sajak bagi saya juga sangat terlihat akrab dengan butir-butir baris di dalamnya. Butir baris yang dialiri oleh kesederhanaan rasa dari penulis sangat menyatu disini.

Kecurigaan saya timbul ketika semakin berjalannya saya mengakrabi rasa dari baris-baris ini, adalah rasa yang terkandung di butir baris itu merupakan kepuasan pribadi bagi penulis itu sendiri, tanpa ada maksud tertentu yang lainnya. Tapi kehadiran rasa itu bagi saya pribadi terproyeksi dengan sangat baik bagi pembaca yang membaca sajak-sajak dalam buku ini.

Topik, momen, dan rasa yang diambil dari perjalanan beliau dan menjadi sajak-sajak ini, sebagian besar terbilang hal sederhana yang dibarengi juga dengan rasa sederhana yang kuat dari si penulis. Pemanfaatan momen estetis dalam kumpulan sajak ini sangat istimewa bagi saya. Sikap ketekunan dan kejelian penulis tentu memiliki andil besar dalam fenomena yang saya tangkap setelah membaca buku ini.

Bagi saya ada beberapa topik yang jika saya alami sendiri hanya akan menjadi angin lalu, tapi bagi Wayan Esa Bhaskara hal tersebut adalah momen penting dan bahan spesial baginya untuk diubah dan diramu menjadi sebuah sajak. Alhasil, hal itu menjadi keistimewaan maupun daya tarik dari sajak dan penulisnya bagi saya.

Jika kita bicara hakikat dari karya tulis, tentu pembahasan tersebut sarat tentang hasil penelitian, pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu yang disusun ke dalam media tulis secara sistematis dan estetis. Terutama topik yang kita bicarakan saat ini adalah karya tulis puisi. Disamping penjabaran secara teoritis tersebut, pandangan saya terhadap sebuah karya tulis (puisi) merupakan media bagi penulis untuk melahirkan dirinya lagi ke dunia.

Sehingga keberadaan manifestasi diri dalam bentuk karya tulis (puisi) merupakan cerminan dari penulis dan juga media bagi kita penikmat untuk mengenal penulis itu sendiri. Jika boleh dibilang ketika menikmati buku ini, saya secara tidak langsung sekaligus mengenal sosok dari Wayan Esa Bhaskara penulis dari sajak-sajak ini sendiri. Ketulusan, kesederhanaan, dan kelembutan. Ketiga kata tersebut adalah kesan pribadi saya tentang si penulis kumpulan puisi ini. Poin tersebut bagi saya merupakan kelebihan dari kumpulan puisi ini.

Buku kumpulan puisi ini membawa keistimewaan dari bagaimana cara pandang penulis tentang hal-hal yang mengisi perjalanannya. Bagaimana beliau memandang hal sederhana, seperti bagaimana ia memandang secangkir kopinya di pagi hari, bagaimana dingin malam yang ia lewati, dan yang teristimewa bagaimana ia memandang momennya bersama orang yang terspesial dalam hidupnya. Semua hal itu terkemas dengan apik dan hangat ke dalam tiap baris sajak yang ditulisnya. Pribadi, ini merupakan buku harian sederhana yang menakjubkan.

Baris-baris sajaknya yang penuh rasa itu juga diperkaya dengan diksi indah dan penggunaan majas yang menarik. Majas yang digunakan terbilang menarik karena berhasil membuat alis saya berkerut sebelum berhasil memahami apa dari maksud dari larik tersebut. Dilihat dari diksi puisi-puisi ini, beliau cenderung sering menggunakan kata mata.

Mata secara harfiah adalah organ yang digunakan manusia untuk melihat, dan sekaligus menjadi jendela dua sisi bagi manusia itu sendiri. Jendela untuk melihat isi dari manusia tersebut dan juga jendela bagi manusia untuk menerima apa yang terjadi dihadapannya secara visual. Penggunaan kata mata menjadi kuat dalam puisi ini karena makna dan nilai dari kata tersebut digunakan tidak hanya terjebak di dalam pakem definisi dari kata itu. Ini bagi saya merupakan perluasan fungsi salah satu unsur alat puitika yaitu citraan indera pengelihatan.

Buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” karya Wayan Esa Bhaskara merupakan konsumsi yang tepat bagi para pembaca yang ingin memenuhi asupan sastra mereka atau hanya ingin mengisi waktu senggang dengan membaca sebuah buku. Kesederhanaan dan sajak-sajak yang kaya akan rasa dan pengalaman mampu terproyeksikan dengan baik, selain itu buku ini secara pribadi dapat mengajak pembacanya untuk berjalan bersama dalam perjalanan-perjalanan yang tertuang dalam buku kumpulan puisi ini.

Sekali lagi, selamat kepada Wayan Esa Bhaskara atas suksesnya peluncuran buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Sukses selalu.

Akhir kata, saya ingin mengutip salah satu butir baris dari sajak “Mengaduk Pagi” dalam buku ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya.

“Terus kuaduk secangkir pagi tanpa gula. Ritual setahun belakangan setelah mengenal senyummu. Beginilah, kunikmati hidupku. [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Next Post

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Gita Galih Gumalang

Gita Galih Gumalang

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana. Kerap aktif berproses sastra, musik, teater dengan berbagai kelompok pergaulan kreatif di Denpasar. Kini menjabat sebagai Ketua Teater Cakrawala, semacam kelompok sastra yang beranggotakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Unud.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co