3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Gita Galih Gumalang by Gita Galih Gumalang
May 23, 2019
in Ulasan
Merekam Jejak ke Dalam Sajak –Ulasan Buku Puisi Esa Bhaskara

Lukisan cover buku Menanam Puisi di Emperan Matamu. (Pelukis: Nanapartha)

  • Judul: Menanam Puisi di Emperan Matamu
  • Penulis: Wayan Esa Bhaskara
  • Penerbit: Mahima Institute Indonesia
  • Cetakan: Desember 2018
  • Tebal: xi + 106 halaman
  • ISBN: 978-602-51560-3-8

—

Dalam tiap perjalanan selalu ada benturan atau gesekan rasa dan nilai entah dari dalam atau dari luar. Ada yang sekadar berjalan, ada yang merasakan, ada yang mencatat, dan ada yang mencatat rasa-rasa yang mengilhami sukma perjalanan itu. Media tiap orang mencatat perjalanan-perjalanannya tentu relatif. Entah catatan berbentuk tulisan buku harian pada umumnya, dikemas dalam bentuk foto atau video, dan tentu ada segelintir yang mengabadikan perjalanannya dalam bentuk sastra tulis lirik, yaitu puisi.

Pada momen ini, saya diberikan kesempatan untuk menonton catatan perjalanan dari Wayan Esa Bhaskara yang juga adalah seorang penulis giat. Manifestasi catatan perjalanan beliau dikemas dalam bentuk buku kumpulan puisi lirik yang bertajuk “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Mari kita menyelam rasa dan berjalan bersama dengan beliau melalui kumpulan sajak yang sudah dibukukan tersebut.

“Menanam Puisi di Emperan Matamu” merupakan buku kumpulan puisi pertama Wayan Esa Bhaskara. Beliau terbilang adalah seorang penulis sajak yang giat. Menurut pengakuan beliau sendiri, periode produktifnya dalam menulis adalah tahun 2017-2018. Hal tersebut terjadi tentu juga karena adanya pengaruh lingkungan, dimana beliau menyelam dalam lingkaran-lingkaran kreatif sastranya yaitu Komunitas Cemara Angin, Komunitas Mahima, dan Teater Kalangan.

Hingga akhirnya pada tahun ini, kumpulan sajaknya yang dahulu terhimpit di dalam catatan dan laptopnya berhasil dibukukan dan diterjunkan ke khalayak, salah satunya adalah saya. Selamat untuk Wayan Esa Bhaskara sebelumnya, atas peluncuran buku kumpulan puisi ini.

Kesan pertama saya saat membaca beberapa sajak di dalam buku ini adalah, “saya sedang membaca buku harian seseorang”. Hal tersebut memang bisa dikatakan rasa yang umum terjadi ketika orang membaca sebuah buku antologi puisi. Tapi dalam buku ini yang menjadi menarik bagi saya pribadi adalah nuansa intim yang disuguhkan ketika awal membaca sajak-sajak ini. Nuansa tersebut hadir tentu didukung oleh unsur intrinsik dan ekstrinsik dari sajak- sajak tersebut, diksi, pemilihan judul, penggunaan majas, dll.

Saya lebih senang menyebut kegiatan yang saya lakukan ketika menikmati buku ini adalah berjalan bersama si penulis daripada sekadar membaca sajak lirik. Pemilihan judul untuk tiap sajak bagi saya juga sangat terlihat akrab dengan butir-butir baris di dalamnya. Butir baris yang dialiri oleh kesederhanaan rasa dari penulis sangat menyatu disini.

Kecurigaan saya timbul ketika semakin berjalannya saya mengakrabi rasa dari baris-baris ini, adalah rasa yang terkandung di butir baris itu merupakan kepuasan pribadi bagi penulis itu sendiri, tanpa ada maksud tertentu yang lainnya. Tapi kehadiran rasa itu bagi saya pribadi terproyeksi dengan sangat baik bagi pembaca yang membaca sajak-sajak dalam buku ini.

Topik, momen, dan rasa yang diambil dari perjalanan beliau dan menjadi sajak-sajak ini, sebagian besar terbilang hal sederhana yang dibarengi juga dengan rasa sederhana yang kuat dari si penulis. Pemanfaatan momen estetis dalam kumpulan sajak ini sangat istimewa bagi saya. Sikap ketekunan dan kejelian penulis tentu memiliki andil besar dalam fenomena yang saya tangkap setelah membaca buku ini.

Bagi saya ada beberapa topik yang jika saya alami sendiri hanya akan menjadi angin lalu, tapi bagi Wayan Esa Bhaskara hal tersebut adalah momen penting dan bahan spesial baginya untuk diubah dan diramu menjadi sebuah sajak. Alhasil, hal itu menjadi keistimewaan maupun daya tarik dari sajak dan penulisnya bagi saya.

Jika kita bicara hakikat dari karya tulis, tentu pembahasan tersebut sarat tentang hasil penelitian, pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu yang disusun ke dalam media tulis secara sistematis dan estetis. Terutama topik yang kita bicarakan saat ini adalah karya tulis puisi. Disamping penjabaran secara teoritis tersebut, pandangan saya terhadap sebuah karya tulis (puisi) merupakan media bagi penulis untuk melahirkan dirinya lagi ke dunia.

Sehingga keberadaan manifestasi diri dalam bentuk karya tulis (puisi) merupakan cerminan dari penulis dan juga media bagi kita penikmat untuk mengenal penulis itu sendiri. Jika boleh dibilang ketika menikmati buku ini, saya secara tidak langsung sekaligus mengenal sosok dari Wayan Esa Bhaskara penulis dari sajak-sajak ini sendiri. Ketulusan, kesederhanaan, dan kelembutan. Ketiga kata tersebut adalah kesan pribadi saya tentang si penulis kumpulan puisi ini. Poin tersebut bagi saya merupakan kelebihan dari kumpulan puisi ini.

Buku kumpulan puisi ini membawa keistimewaan dari bagaimana cara pandang penulis tentang hal-hal yang mengisi perjalanannya. Bagaimana beliau memandang hal sederhana, seperti bagaimana ia memandang secangkir kopinya di pagi hari, bagaimana dingin malam yang ia lewati, dan yang teristimewa bagaimana ia memandang momennya bersama orang yang terspesial dalam hidupnya. Semua hal itu terkemas dengan apik dan hangat ke dalam tiap baris sajak yang ditulisnya. Pribadi, ini merupakan buku harian sederhana yang menakjubkan.

Baris-baris sajaknya yang penuh rasa itu juga diperkaya dengan diksi indah dan penggunaan majas yang menarik. Majas yang digunakan terbilang menarik karena berhasil membuat alis saya berkerut sebelum berhasil memahami apa dari maksud dari larik tersebut. Dilihat dari diksi puisi-puisi ini, beliau cenderung sering menggunakan kata mata.

Mata secara harfiah adalah organ yang digunakan manusia untuk melihat, dan sekaligus menjadi jendela dua sisi bagi manusia itu sendiri. Jendela untuk melihat isi dari manusia tersebut dan juga jendela bagi manusia untuk menerima apa yang terjadi dihadapannya secara visual. Penggunaan kata mata menjadi kuat dalam puisi ini karena makna dan nilai dari kata tersebut digunakan tidak hanya terjebak di dalam pakem definisi dari kata itu. Ini bagi saya merupakan perluasan fungsi salah satu unsur alat puitika yaitu citraan indera pengelihatan.

Buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu” karya Wayan Esa Bhaskara merupakan konsumsi yang tepat bagi para pembaca yang ingin memenuhi asupan sastra mereka atau hanya ingin mengisi waktu senggang dengan membaca sebuah buku. Kesederhanaan dan sajak-sajak yang kaya akan rasa dan pengalaman mampu terproyeksikan dengan baik, selain itu buku ini secara pribadi dapat mengajak pembacanya untuk berjalan bersama dalam perjalanan-perjalanan yang tertuang dalam buku kumpulan puisi ini.

Sekali lagi, selamat kepada Wayan Esa Bhaskara atas suksesnya peluncuran buku kumpulan puisi “Menanam Puisi di Emperan Matamu”. Sukses selalu.

Akhir kata, saya ingin mengutip salah satu butir baris dari sajak “Mengaduk Pagi” dalam buku ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya.

“Terus kuaduk secangkir pagi tanpa gula. Ritual setahun belakangan setelah mengenal senyummu. Beginilah, kunikmati hidupku. [T]

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti

Next Post

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Gita Galih Gumalang

Gita Galih Gumalang

Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Udayana. Kerap aktif berproses sastra, musik, teater dengan berbagai kelompok pergaulan kreatif di Denpasar. Kini menjabat sebagai Ketua Teater Cakrawala, semacam kelompok sastra yang beranggotakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Unud.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Buku Puisi Esa Bhaskara: Puisi-puisi yang Melintas Batas Hingga ke Ruang Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co