29 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

38 Tahun Desa Pakisan Jadi Sarang Atlet Sepak Takraw Buleleng

Kardian Narayana by Kardian Narayana
September 1, 2025
in Khas
38 Tahun Desa Pakisan Jadi Sarang Atlet Sepak Takraw Buleleng

Ni Kadek Keisi Kusuma dan Luh Purnama Asih saat bertanding di Porprov Bali 2025 | Foto: Humas KONI Buleleng

INI untuk kedua kalinya, saya menjadi panitia Kontingen Buleleng Pekan Olahraga Provinsi Bali (Porprov Bali). Sebelumnya di Porprov XV Bali tahun 2023, dan saat ini Porprov XVI Bali 2025. Menjadi panitia kontingen, merupakan salah satu tugas menjadi pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Buleleng Masa Bakti 2021-2025. Di tahun ini, saya ditugaskan untuk mendampingi kontingen cabang olahraga (cabor) sepak takraw, selam kolam, yong moo do dan taekwondo.

Sepak takraw adalah cabor yang pertama saya dampingi. Jadwal pertandingannya dimulai 7 hari lebih awal dari jadwal Porprov XVI Bali. Jadwal Porprov 9-17 September 2025, sementara pertandingan sepak takraw dilaksanakan di Lapangan Bulutangkis Praja, Dalung-Badung, 31 Agustus-6 September 2025.

Di sinilah perkenalan pertama saya dengan tim sepak takraw Buleleng. Maklum saja, di kepengurusan KONI Buleleng saya tidak di Bidang Bimpres. Jadi sangat jarang terhubung dengan pengurus cabor.

Foto bersama kontingen takraw Buleleng | Foto: Humas KONI Buleleng

Pertanyaan basa-basi pun muncul hingga akhirnya ada kesempatan berbincang yang lebih dalam. Siapa yang menyangka, jika tim sepak takraw Buleleng, dipenuhi oleh warga Desa Pakisan, Kecamatan Kubutambahan. Dari total anggota tim (atlet, pelatih dan official) 25 orang, 90% warga Desa Pakisan. Jika di kesenian Bali, itu disebut sebunan (satu sarang).

Sebunan adalah kelompok seni yang berasal dari satu banjar atau satu desa dan biasanya berkembang secara turun-temurun. Jadi, untuk olahraga, atlet-atlet sepak takraw Buleleng bisa disebut sebagai atlet sebunan dari Desa Pakisan.

Riwayat Sepak Takraw di Desa Pakisan 

Sepak takraw masuk Desa Pakisan, sekitar tahun 1987. Pertama kali diperkenalkan oleh seorang guru Pendidikan Moral Pancasila (PMP) asal Kelurahan Banjar Paketan bernama Made Wijana. Made Wijana, saat itu bertugas di SD N 1 Pakisan. Dia saat itu tinggal di mess sekolah, dan mulai mengajarkan sepak takraw kepada anak didiknya.

“Saya salah satu murid beliau, dulu jadi atlet sampai sekarang jadi pengurus,” kata I Gede Sudarmika, pelatih sepak takraw Buleleng.

I Gede Sudarmika, pelatih sepak takraw Buleleng, berdiri untuk memberi arahan kepada atlet sepak takraw Buleleng sebelum bertanding | Foto: Humas KONI Buleleng

Awalnya sepak takraw ini berkembang di SD-SD Desa Pakisan. Lalu, ke SMP dan masyarakat umum. Selain berkembang di Desa Pakisan, sepak takraw ini pun berkembang sampai ke Desa Bila. Hal ini dikarenakan Made Wijaya pindah tugas ke Desa Bila.

Desa Pakisan benar-benar menjadi sebun atlet sepak takraw Buleleng. Jika dikumpulkan lebih dari seratus orang mahir bermain sepak takraw dan sebagian besar mantan atlet. Proses pembibitannya pun dilakukan sejak dini, dari SD-SMP.

Saat ini, SD N 4 Pakisan secara khusus mempunyai ekstrakulikurer sepak takraw. Anak-anak yang lain berlatih bersama di GOR Desa Pakisan. Nah, untuk jenjang SMP, ada di SMP N 4 Kubutambahan, yang juga terletak di Desa Pakisan.

Sedangkan untuk SMA-SMK tersebar di Kecamatan Kubutambahan, Sawan dan Buleleng. Dengan banyaknya warga Desa Pakisan yang mahir bermain sepak takraw, sekedar menggelar turnamen fun game, pesertanya bisa lebih dari sepuluh regu (1 regu 5 orang, 3 inti 2 cadangan).

“Bahkan bisa diklasifikasikan pertandingannya, untuk umum, dewasa, remaja dan pemula,” kata I Gede Sudarmika saat ditemui di Hotel Abhi, Mengwitani.

Tim takraw Buleleng bertandi di ajang Porprov Bali 2025 | Foto: Humas KONI Buleleng

Dengan banyaknya jumlah pemain sepak takraw dari Desa Pakisan, pertandingan hari pertama sepak takraw, Minggu, 31 Agustus, di Lapangan Bulutangkis Praja, Dalung-Badung, menjadi ajang temu kangen warga perantau Desa Pakisan di Bali selatan, sekaligus menjadi suporter kontingen Buleleng.

“Itu yang tadi jadi suporter, semuanya mantan atlet,” kata I Gede Sudarmika sambil tersenyum.

Atlet-atlet Muda Desa Pakisan

Pertandingan hari pertama, tim beregu putra menyumbangkan satu medeli perunggu, setelah kalah oleh Badung 1:2 di semifinal. Sedangkan tim double putri masih harus melanjutkan pertandingan pada Senin, 1 September, bertemu dengan Denpasar untuk memastikan bisa lolos ke semi final.

Kontingen sepak takraw Buleleng kali ini, lebih banyak menurunkan atlet muda. Di tim putra yang berjumlah 12 orang, 50%-nya atlet muda, sisanya atlet senior. Sedangkan, di tim putri dari 8 orang atlet, 70% atlet muda. Atlet muda Buleleng ini rata-rata berusia 15-20 tahun, dan baru pertama kali mengikuti ajang Porprov Bali.

Ni Kadek Keisi Kusuma (16), salah satu atlet putri Buleleng yang baru pertama kali mengikuti Porprov. Sekarang ia masih kelas 10 di SMK Negeri 1 Singaraja. Walau baru pertama kali mengikuti Porpov, tampilannya sangat gils saat bertanding.

Apalagi gaya selebrasinya saat berhasil mencetak point, seakan-akan menari di lapangan sepak takraw. Pelatihnya terkadang geleng-geleng kepala melihat tingkah Keisi di dalam lapangan. Tampilanya pun cukup charming dan mudah bergaul.

Ni Kadek Keisi Kusuma (handuk merah di kepala) dan Luh Purnama Asih (paling kanan) sedang latihan sebelum bertanding di Porprov Bali 2025 | Foto: Humas KONI Buleleng

Di hari pertama Keisi turun di nomor tim double putri, berpasangan dengan Luh Purnama Asih yang juga baru kelas 10. Duet atlet putri muda Buleleng, yang sering kali membuat lawan kewalahan mengahadapinya.

Di sela-sela, istirahat setelah pertandingan saya bertanya ke Keisi dan Purnama.  “Kalian satu banjar ya?”

“Semua ini (kontingen sepak takraw Buleleng) dari satu desa, Desa Pakisan, he…he…he…,” jawab Keisi sambil menoleh ke saya dengan jari tangan tetap asik scroll sosmed.

Pertanyaan saya pun tak berlanjut, dan kembali fokus menonton pertandingan. Pertandingan tim putri lebih panjang dibandingkan tim putra. Nomor tim double putri dilakukan dengan sistem setengah kompetisi, diikuti oleh Badung, Buleleng, Denpasar, Gianyar dan Jembrana. Pertandingan nomor tim double putri berlangsung dari pagi hingga jam 8 malam.

Berpasangan Sejak Lahir, Ha ha ha

Seperti biasa, menunggu  sesi petandingan tiga pasang tim double Putri, melakukan pemanasan di luar gedung, tepat di halaman depan. Beberapa atlet putra Buleleng yang telah selesai bertanding duduk juga di undakan lantai termasuk saya.

Karena tahu sebagian besar atlet dari Desa Pakisan, saya kembali meleparkan pertanyan ke atlet yang sedang duduk dan atlet yang sedang pemanasan.

“Kalian ini sudah saling kenal dari SD dong ya?”

“Dari sejak baru dilahirkan kami sudah dipasangkan jadi atlet takraw, bahkan dari dalam kandungan,” sambar Keisi. Cetukannya sontak membuat semua atlet tertawa.

Jawaban Keisi itu seolah-olah menebalkan kesimpulan bahwa warga Desa Pakisan memang terlahir untuk menjadi atlet sepak takraw, satu jenis olahraga yang popular di kawasan Asia Tenggara yang berawal dari permaianan tradisional dan kini menjadi olah raga prestasi.

Made Tresna Wijaya (baju merah, tengah) | Foto: Humas KONI Buleleng

Dulu sepak takraw menggunakan bola rotan kini bola fiber yang dianyam. Dimainkan dengan kaki, kepala, atau dada. Olah raga ini masuk ke Buleleng sejak tahun 1986 dan terus bertahan selama 38 tahun di Desa Pakisan.

Ketua Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Kabupaten Buleleng, Made Tresna Wijaya, juga menjadi saksi sejarah berkembangnya takwaw di Bali.

“Saya dan beberapa orang di Bali, generasi pertama pengembangan olah raga ini. Sudah puluhan tahun saya di takraw. Takraw di Bali sedang krisis. Porprov sekarang, hanya diikuti oleh 6 kabupaten. Tabanan, Klungkung dan Karangasem absen. Olahraga lama tapi belum bisa berkembang baik. Di Buleleng hanya di Desa Pakisan sekitarnya, ya Kubutambahan yang lain tidak ada,” demikian kata Tresna Wijaya. [T]  

Reporter/Penulis: Kardian Narayana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa PakisanKONI BulelengolahragaPorprov Balisepak takraw
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Subak ke Super-App Digitalisasi yang Mengalir di Bali

Next Post

Enak dan Banyak Pilihan — Deretan Stand Kuliner UMKM di Pesta Rakyat Kementerian Kebudayaan RI

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails
Next Post
Enak dan Banyak Pilihan — Deretan Stand Kuliner UMKM di Pesta Rakyat Kementerian Kebudayaan RI

Enak dan Banyak Pilihan -- Deretan Stand Kuliner UMKM di Pesta Rakyat Kementerian Kebudayaan RI

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu
Esai

Alvin Tedjo: Potensi, Kesadaran, dan Ujian Waktu

Potensi Manusia dan Lingkungan yang Membentuknya Kisah Alvin Tedjo menarik untuk direnungkan, bukan semata-mata karena ia merupakan keturunan Indonesia yang...

by Agung Sudarsa
October 29, 2026
Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam
Panggung

Menulis yang Tak Tertahankan, Menyuarakan yang Terbungkam

BAGAIMANA menuliskan luka yang sulit diungkapkan? Ketika trauma, kehilangan, dan ketidakadilan terasa begitu berat, mampukah kata-kata menggambarkan pengalaman yang menyakitkan...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia
Panggung

Labdanation Fashion Week Season III, Padukan Fashion Berkelanjutan dan Ambisi Rekor Dunia

PERAGAAN busana yang mengusung konsep tekstil berkelanjutan tampil memikat dalam Labdanation Fashion Week Season III di panggung terbuka Sira Village,...

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan
Khas

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
Melancaran ke Desa Les: Melihat Les dari Sisi yang Lain
Liputan Khusus

Pemberdayaan Produk Lokal Setelah Desa Les Diganjar Penghargaan ADWI 2024

“MAKANYA, pengembangannya lebih kepada CBT sebenarnya—Community Based Tourism.” Nyoman Nadiana, yang akrab disapa Don Rare, mengucapkan kalimat itu ketika menjelaskan...

by Jaswanto
October 29, 2026
Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen
Panggung

Luncurkan “Penasaran”, Henry Manampiring Ingin Marah-Marah Lewat Cerpen

SELAMA ini Henry Manampiring dikenal sebagai penulis nonfiksi, terutama melalui Filosofi Teras yang mengupas filsafat Stoikisme. Namun, lewat kumpulan cerpen...

by Dede Putra Wiguna
October 29, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Ujian Menuju Kedewasaan: Saat  Cinta Tidak Lagi Menuntut Kesempurnaan

Tidak semua masalah dalam hubungan dapat diselesaikan dengan percakapan ringan atau kompromi sederhana. Fase Ujian Perjalanan relasi cinta pasangan yang...

by Tri Nugroho Adi
October 29, 2026
B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co