30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2026
in Esai
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada malam hari, ketika suasana lebih sunyi dan gangguan lebih sedikit. Ketika orang lain mulai tidur, pikiran saya justru terasa lebih leluasa bekerja. Laptop menyala, buku terbuka, kopi tersedia, sementara rokok menemani jeda di antara kalimat. Begitulah malam perlahan menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai penulis.

Saya tidak merasa sedang menyiksa tubuh. Saya merasa sedang bekerja. Satu tulisan selesai, lalu tulisan lain menyusul. Buku bertambah, esai terbit, pekerjaan berjalan. Saya tidur ketika pagi mulai menjelang, kemudian bangun dan kembali menjalani rutinitas. Begadang akhirnya bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan yang saya anggap wajar.

Kopi pun menjadi semacam ritual. Bukan sekadar minuman, melainkan teman berpikir yang hampir selalu hadir ketika menulis. Rokok menjadi jeda di antara paragraf atau ketika sebuah kalimat terasa buntu. Saya tidak pernah menghitung berapa cangkir kopi dan batang rokok yang menemani sepuluh tahun itu. Yang saya hitung justru tulisan, buku, pekerjaan, dan tenggat yang berhasil saya lewati.

Tubuh saya seperti selalu saya letakkan di belakang produktivitas. Selama masih sanggup duduk di depan laptop, saya merasa semuanya baik-baik saja. Rasa lelah sering saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan. Kantuk dilawan dengan kopi, sementara malam diperpanjang demi menyelesaikan tulisan. Tubuh seolah hanya perlu mengikuti kemauan kepala.

Kini, ketika saya harus menjalani pemeriksaan karena kecurigaan terhadap penyakit pada tubuh, kebiasaan-kebiasaan itu kembali muncul dalam ingatan. Saya mulai bertanya apakah selama ini terlalu lama mengabaikan tubuh sendiri. Pertanyaan berikutnya lebih mengganggu; apakah begadang, kopi, dan rokok ikut membawa saya sampai ke sini? Saya tahu pertanyaan semacam itu mudah muncul ketika seseorang mulai berhadapan dengan kemungkinan penyakit.

Namun saya harus berhati-hati menjawabnya. Kanker bukan persamaan sederhana yang memungkinkan seseorang menunjuk satu kebiasaan sebagai penyebab. Pada Hodgkin lymphoma, misalnya, penyebab pastinya pada kebanyakan orang belum diketahui. Penyakit ini berkaitan dengan perubahan DNA pada sel tertentu, sementara sebagian kasus berhubungan dengan Epstein-Barr virus. Banyak pasien bahkan tidak mempunyai faktor risiko yang jelas.

Karena itu saya tidak bisa berkata, “Saya mengalami ini karena sepuluh tahun begadang.” Kopi pun tidak layak dijadikan terdakwa hanya karena selama ini selalu berada di samping laptop. Untuk rokok, persoalannya lebih jelas; tembakau meningkatkan risiko berbagai kanker. Saya punya alasan untuk berhenti merokok tanpa harus menunggu tubuh memberikan vonis. Keputusan itu seharusnya berdiri sendiri, bukan bergantung pada hasil pemeriksaan.

Begadang juga perlu ditempatkan secara hati-hati. IARC (International Agency for Research on Cancer), lembaga penelitian kanker di bawah WHO, menggolongkan kerja malam yang mengganggu ritme sirkadian sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia atau Kelompok 2A. Namun kerja malam yang teratur tidak bisa begitu saja disamakan dengan kebiasaan seorang penulis yang tidur larut untuk menyelesaikan tulisan. Penilaian IARC menunjukkan kekuatan bukti mengenai bahaya, bukan kepastian bahwa setiap orang dengan kebiasaan tersebut akan terkena kanker.

Barangkali persoalan sebenarnya bukan mencari siapa yang bersalah, melainkan menyadari bagaimana saya selama ini memperlakukan tubuh. Saya terbiasa membaca manusia melalui tulisan; kebudayaan, perilaku, sejarah, percakapan, dan perubahan sosial. Saya menulis tentang kehidupan orang lain sambil berusaha memahami manusia. Ironisnya, tubuh sendiri justru jarang saya baca dengan perhatian yang sama.

Ia lapar, saya beri makan. Ia mengantuk, saya suruh bertahan. Ia lelah, saya beri kopi. Ketika pikiran ingin terus bekerja, tubuh harus menyesuaikan diri. Bahkan ketika malam sudah terlalu larut, saya masih mengatakan kepada diri sendiri bahwa tulisan ini tinggal sedikit lagi. Tubuh akhirnya seperti pekerja yang tidak pernah ikut menentukan jam kerjanya.

Barangkali itulah yang paling mengganggu dari kesadaran saya sekarang. Bukan karena saya menemukan bukti bahwa gaya hidup tersebut menyebabkan penyakit, melainkan karena saya menyadari betapa lama tubuh saya perlakukan sebagai alat produksi. Saya merawat tulisan dengan teliti, mengedit kalimat berkali-kali, menghapus kata yang berlebihan, lalu membaca ulang paragraf yang terasa kurang tepat. Terhadap tubuh, saya justru sering tidak melakukan penyuntingan apa pun.

Saya membiarkannya berjalan dengan kebiasaan lama. Ketika tubuh mengirimkan sinyal, saya sering menganggapnya gangguan kecil yang akan hilang sendiri. Padahal tubuh mempunyai bahasa yang tidak selalu berbentuk kata, yakni lelah, sakit, perubahan berat badan, gangguan tidur, benjolan, atau sesuatu yang akhirnya membawa kita ke ruang pemeriksaan. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membaca dunia sampai lupa bahwa tubuh juga sedang menulis.

Saya belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuh saya. Pemeriksaan masih berjalan, sehingga saya tidak ingin mendahului diagnosis dengan ketakutan. Saya juga tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai terdakwa. Jika nanti penyakit benar-benar ditemukan, pertanyaan “Apa kesalahan saya?” tidak akan banyak membantu. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apa yang bisa saya lakukan mulai sekarang?”

Saya bisa mulai tidur lebih teratur. Kopi dapat saya perlakukan sebagai minuman, bukan bahan bakar untuk melawan kantuk. Rokok bisa saya tinggalkan. Saya juga perlu belajar mendengarkan tubuh sebelum ia terpaksa berbicara lebih keras. Menulis tetap akan menjadi bagian penting dari hidup saya, tetapi mungkin tidak lagi dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun terakhir.

Tidak semua tulisan harus selesai malam itu juga. Laptop boleh ditutup ketika tubuh membutuhkan tidur. Kopi boleh dibiarkan dingin ketika pikiran belum menemukan kalimat yang tepat. Sebuah tulisan bisa menunggu sampai pagi. Saya tidak kehilangan identitas sebagai penulis hanya karena memilih tidur lebih awal. Mungkin justru dengan tidur, saya sedang memberi kesempatan kepada penulis di dalam diri saya untuk hidup lebih lama.

Selama ini saya berpikir tugas seorang penulis adalah membaca dunia; manusia, zaman, kebudayaan, dan perubahan yang berlangsung di sekitar saya. Semua saya coba pahami, saya catat, lalu saya ubah menjadi kata-kata. Tetapi ada satu teks yang luput saya baca selama bertahun-tahun. Teks itu tidak berada di buku, layar laptop, atau halaman koran. Ia berada di dalam diri saya sendiri, tubuh saya.

Sepuluh tahun saya menyuruhnya begadang demi tulisan. Kini ia mengirimkan tanda yang memaksa saya berhenti dan membaca. Saya belum tahu bagaimana kalimat terakhirnya. Saya bahkan belum tahu apakah ini benar sebuah akhir. Tetapi untuk pertama kalinya, saya mengerti satu hal: sebuah tulisan boleh dipaksa sampai pagi. Tubuh tidak. Dan kalau selama ini saya begitu takut tulisan saya tidak selesai, mungkin sekarang saya harus belajar takut pada sesuatu yang lebih nyata; kehabisan waktu untuk menulisnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: begadangTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

Next Post

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails
Next Post
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co