9 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2026
in Esai
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada malam hari, ketika suasana lebih sunyi dan gangguan lebih sedikit. Ketika orang lain mulai tidur, pikiran saya justru terasa lebih leluasa bekerja. Laptop menyala, buku terbuka, kopi tersedia, sementara rokok menemani jeda di antara kalimat. Begitulah malam perlahan menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai penulis.

Saya tidak merasa sedang menyiksa tubuh. Saya merasa sedang bekerja. Satu tulisan selesai, lalu tulisan lain menyusul. Buku bertambah, esai terbit, pekerjaan berjalan. Saya tidur ketika pagi mulai menjelang, kemudian bangun dan kembali menjalani rutinitas. Begadang akhirnya bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan yang saya anggap wajar.

Kopi pun menjadi semacam ritual. Bukan sekadar minuman, melainkan teman berpikir yang hampir selalu hadir ketika menulis. Rokok menjadi jeda di antara paragraf atau ketika sebuah kalimat terasa buntu. Saya tidak pernah menghitung berapa cangkir kopi dan batang rokok yang menemani sepuluh tahun itu. Yang saya hitung justru tulisan, buku, pekerjaan, dan tenggat yang berhasil saya lewati.

Tubuh saya seperti selalu saya letakkan di belakang produktivitas. Selama masih sanggup duduk di depan laptop, saya merasa semuanya baik-baik saja. Rasa lelah sering saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan. Kantuk dilawan dengan kopi, sementara malam diperpanjang demi menyelesaikan tulisan. Tubuh seolah hanya perlu mengikuti kemauan kepala.

Kini, ketika saya harus menjalani pemeriksaan karena kecurigaan terhadap penyakit pada tubuh, kebiasaan-kebiasaan itu kembali muncul dalam ingatan. Saya mulai bertanya apakah selama ini terlalu lama mengabaikan tubuh sendiri. Pertanyaan berikutnya lebih mengganggu; apakah begadang, kopi, dan rokok ikut membawa saya sampai ke sini? Saya tahu pertanyaan semacam itu mudah muncul ketika seseorang mulai berhadapan dengan kemungkinan penyakit.

Namun saya harus berhati-hati menjawabnya. Kanker bukan persamaan sederhana yang memungkinkan seseorang menunjuk satu kebiasaan sebagai penyebab. Pada Hodgkin lymphoma, misalnya, penyebab pastinya pada kebanyakan orang belum diketahui. Penyakit ini berkaitan dengan perubahan DNA pada sel tertentu, sementara sebagian kasus berhubungan dengan Epstein-Barr virus. Banyak pasien bahkan tidak mempunyai faktor risiko yang jelas.

Karena itu saya tidak bisa berkata, “Saya mengalami ini karena sepuluh tahun begadang.” Kopi pun tidak layak dijadikan terdakwa hanya karena selama ini selalu berada di samping laptop. Untuk rokok, persoalannya lebih jelas; tembakau meningkatkan risiko berbagai kanker. Saya punya alasan untuk berhenti merokok tanpa harus menunggu tubuh memberikan vonis. Keputusan itu seharusnya berdiri sendiri, bukan bergantung pada hasil pemeriksaan.

Begadang juga perlu ditempatkan secara hati-hati. IARC (International Agency for Research on Cancer), lembaga penelitian kanker di bawah WHO, menggolongkan kerja malam yang mengganggu ritme sirkadian sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia atau Kelompok 2A. Namun kerja malam yang teratur tidak bisa begitu saja disamakan dengan kebiasaan seorang penulis yang tidur larut untuk menyelesaikan tulisan. Penilaian IARC menunjukkan kekuatan bukti mengenai bahaya, bukan kepastian bahwa setiap orang dengan kebiasaan tersebut akan terkena kanker.

Barangkali persoalan sebenarnya bukan mencari siapa yang bersalah, melainkan menyadari bagaimana saya selama ini memperlakukan tubuh. Saya terbiasa membaca manusia melalui tulisan; kebudayaan, perilaku, sejarah, percakapan, dan perubahan sosial. Saya menulis tentang kehidupan orang lain sambil berusaha memahami manusia. Ironisnya, tubuh sendiri justru jarang saya baca dengan perhatian yang sama.

Ia lapar, saya beri makan. Ia mengantuk, saya suruh bertahan. Ia lelah, saya beri kopi. Ketika pikiran ingin terus bekerja, tubuh harus menyesuaikan diri. Bahkan ketika malam sudah terlalu larut, saya masih mengatakan kepada diri sendiri bahwa tulisan ini tinggal sedikit lagi. Tubuh akhirnya seperti pekerja yang tidak pernah ikut menentukan jam kerjanya.

Barangkali itulah yang paling mengganggu dari kesadaran saya sekarang. Bukan karena saya menemukan bukti bahwa gaya hidup tersebut menyebabkan penyakit, melainkan karena saya menyadari betapa lama tubuh saya perlakukan sebagai alat produksi. Saya merawat tulisan dengan teliti, mengedit kalimat berkali-kali, menghapus kata yang berlebihan, lalu membaca ulang paragraf yang terasa kurang tepat. Terhadap tubuh, saya justru sering tidak melakukan penyuntingan apa pun.

Saya membiarkannya berjalan dengan kebiasaan lama. Ketika tubuh mengirimkan sinyal, saya sering menganggapnya gangguan kecil yang akan hilang sendiri. Padahal tubuh mempunyai bahasa yang tidak selalu berbentuk kata, yakni lelah, sakit, perubahan berat badan, gangguan tidur, benjolan, atau sesuatu yang akhirnya membawa kita ke ruang pemeriksaan. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membaca dunia sampai lupa bahwa tubuh juga sedang menulis.

Saya belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuh saya. Pemeriksaan masih berjalan, sehingga saya tidak ingin mendahului diagnosis dengan ketakutan. Saya juga tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai terdakwa. Jika nanti penyakit benar-benar ditemukan, pertanyaan “Apa kesalahan saya?” tidak akan banyak membantu. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apa yang bisa saya lakukan mulai sekarang?”

Saya bisa mulai tidur lebih teratur. Kopi dapat saya perlakukan sebagai minuman, bukan bahan bakar untuk melawan kantuk. Rokok bisa saya tinggalkan. Saya juga perlu belajar mendengarkan tubuh sebelum ia terpaksa berbicara lebih keras. Menulis tetap akan menjadi bagian penting dari hidup saya, tetapi mungkin tidak lagi dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun terakhir.

Tidak semua tulisan harus selesai malam itu juga. Laptop boleh ditutup ketika tubuh membutuhkan tidur. Kopi boleh dibiarkan dingin ketika pikiran belum menemukan kalimat yang tepat. Sebuah tulisan bisa menunggu sampai pagi. Saya tidak kehilangan identitas sebagai penulis hanya karena memilih tidur lebih awal. Mungkin justru dengan tidur, saya sedang memberi kesempatan kepada penulis di dalam diri saya untuk hidup lebih lama.

Selama ini saya berpikir tugas seorang penulis adalah membaca dunia; manusia, zaman, kebudayaan, dan perubahan yang berlangsung di sekitar saya. Semua saya coba pahami, saya catat, lalu saya ubah menjadi kata-kata. Tetapi ada satu teks yang luput saya baca selama bertahun-tahun. Teks itu tidak berada di buku, layar laptop, atau halaman koran. Ia berada di dalam diri saya sendiri, tubuh saya.

Sepuluh tahun saya menyuruhnya begadang demi tulisan. Kini ia mengirimkan tanda yang memaksa saya berhenti dan membaca. Saya belum tahu bagaimana kalimat terakhirnya. Saya bahkan belum tahu apakah ini benar sebuah akhir. Tetapi untuk pertama kalinya, saya mengerti satu hal: sebuah tulisan boleh dipaksa sampai pagi. Tubuh tidak. Dan kalau selama ini saya begitu takut tulisan saya tidak selesai, mungkin sekarang saya harus belajar takut pada sesuatu yang lebih nyata; kehabisan waktu untuk menulisnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: begadangTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

Next Post

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails
Next Post
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas
Pendidikan

490 Mahasiswa Baru UPMI Bali Memulai Kehidupan Kampus lewat Malam Kreativitas

SEBANYAK 490 mahasiswa baru Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali memulai kehidupan kampus melalui Malam Kreativitas Kampus dan Pembukaan Pengenalan...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”
Pop

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
Tubuh yang Saya Suruh Begadang
Esai

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

by Angga Wijaya
September 9, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

by Chusmeru
September 9, 2026
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional
Khas

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”
Esai

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?
Khas

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

by tatkala
September 7, 2026
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten
Tualang

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co