21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 9, 2026
in Esai
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada malam hari, ketika suasana lebih sunyi dan gangguan lebih sedikit. Ketika orang lain mulai tidur, pikiran saya justru terasa lebih leluasa bekerja. Laptop menyala, buku terbuka, kopi tersedia, sementara rokok menemani jeda di antara kalimat. Begitulah malam perlahan menjadi bagian dari kehidupan saya sebagai penulis.

Saya tidak merasa sedang menyiksa tubuh. Saya merasa sedang bekerja. Satu tulisan selesai, lalu tulisan lain menyusul. Buku bertambah, esai terbit, pekerjaan berjalan. Saya tidur ketika pagi mulai menjelang, kemudian bangun dan kembali menjalani rutinitas. Begadang akhirnya bukan lagi kejadian sesekali, melainkan kebiasaan yang saya anggap wajar.

Kopi pun menjadi semacam ritual. Bukan sekadar minuman, melainkan teman berpikir yang hampir selalu hadir ketika menulis. Rokok menjadi jeda di antara paragraf atau ketika sebuah kalimat terasa buntu. Saya tidak pernah menghitung berapa cangkir kopi dan batang rokok yang menemani sepuluh tahun itu. Yang saya hitung justru tulisan, buku, pekerjaan, dan tenggat yang berhasil saya lewati.

Tubuh saya seperti selalu saya letakkan di belakang produktivitas. Selama masih sanggup duduk di depan laptop, saya merasa semuanya baik-baik saja. Rasa lelah sering saya anggap sebagai bagian dari pekerjaan. Kantuk dilawan dengan kopi, sementara malam diperpanjang demi menyelesaikan tulisan. Tubuh seolah hanya perlu mengikuti kemauan kepala.

Kini, ketika saya harus menjalani pemeriksaan karena kecurigaan terhadap penyakit pada tubuh, kebiasaan-kebiasaan itu kembali muncul dalam ingatan. Saya mulai bertanya apakah selama ini terlalu lama mengabaikan tubuh sendiri. Pertanyaan berikutnya lebih mengganggu; apakah begadang, kopi, dan rokok ikut membawa saya sampai ke sini? Saya tahu pertanyaan semacam itu mudah muncul ketika seseorang mulai berhadapan dengan kemungkinan penyakit.

Namun saya harus berhati-hati menjawabnya. Kanker bukan persamaan sederhana yang memungkinkan seseorang menunjuk satu kebiasaan sebagai penyebab. Pada Hodgkin lymphoma, misalnya, penyebab pastinya pada kebanyakan orang belum diketahui. Penyakit ini berkaitan dengan perubahan DNA pada sel tertentu, sementara sebagian kasus berhubungan dengan Epstein-Barr virus. Banyak pasien bahkan tidak mempunyai faktor risiko yang jelas.

Karena itu saya tidak bisa berkata, “Saya mengalami ini karena sepuluh tahun begadang.” Kopi pun tidak layak dijadikan terdakwa hanya karena selama ini selalu berada di samping laptop. Untuk rokok, persoalannya lebih jelas; tembakau meningkatkan risiko berbagai kanker. Saya punya alasan untuk berhenti merokok tanpa harus menunggu tubuh memberikan vonis. Keputusan itu seharusnya berdiri sendiri, bukan bergantung pada hasil pemeriksaan.

Begadang juga perlu ditempatkan secara hati-hati. IARC (International Agency for Research on Cancer), lembaga penelitian kanker di bawah WHO, menggolongkan kerja malam yang mengganggu ritme sirkadian sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia atau Kelompok 2A. Namun kerja malam yang teratur tidak bisa begitu saja disamakan dengan kebiasaan seorang penulis yang tidur larut untuk menyelesaikan tulisan. Penilaian IARC menunjukkan kekuatan bukti mengenai bahaya, bukan kepastian bahwa setiap orang dengan kebiasaan tersebut akan terkena kanker.

Barangkali persoalan sebenarnya bukan mencari siapa yang bersalah, melainkan menyadari bagaimana saya selama ini memperlakukan tubuh. Saya terbiasa membaca manusia melalui tulisan; kebudayaan, perilaku, sejarah, percakapan, dan perubahan sosial. Saya menulis tentang kehidupan orang lain sambil berusaha memahami manusia. Ironisnya, tubuh sendiri justru jarang saya baca dengan perhatian yang sama.

Ia lapar, saya beri makan. Ia mengantuk, saya suruh bertahan. Ia lelah, saya beri kopi. Ketika pikiran ingin terus bekerja, tubuh harus menyesuaikan diri. Bahkan ketika malam sudah terlalu larut, saya masih mengatakan kepada diri sendiri bahwa tulisan ini tinggal sedikit lagi. Tubuh akhirnya seperti pekerja yang tidak pernah ikut menentukan jam kerjanya.

Barangkali itulah yang paling mengganggu dari kesadaran saya sekarang. Bukan karena saya menemukan bukti bahwa gaya hidup tersebut menyebabkan penyakit, melainkan karena saya menyadari betapa lama tubuh saya perlakukan sebagai alat produksi. Saya merawat tulisan dengan teliti, mengedit kalimat berkali-kali, menghapus kata yang berlebihan, lalu membaca ulang paragraf yang terasa kurang tepat. Terhadap tubuh, saya justru sering tidak melakukan penyuntingan apa pun.

Saya membiarkannya berjalan dengan kebiasaan lama. Ketika tubuh mengirimkan sinyal, saya sering menganggapnya gangguan kecil yang akan hilang sendiri. Padahal tubuh mempunyai bahasa yang tidak selalu berbentuk kata, yakni lelah, sakit, perubahan berat badan, gangguan tidur, benjolan, atau sesuatu yang akhirnya membawa kita ke ruang pemeriksaan. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membaca dunia sampai lupa bahwa tubuh juga sedang menulis.

Saya belum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi pada tubuh saya. Pemeriksaan masih berjalan, sehingga saya tidak ingin mendahului diagnosis dengan ketakutan. Saya juga tidak ingin menjadikan masa lalu sebagai terdakwa. Jika nanti penyakit benar-benar ditemukan, pertanyaan “Apa kesalahan saya?” tidak akan banyak membantu. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Apa yang bisa saya lakukan mulai sekarang?”

Saya bisa mulai tidur lebih teratur. Kopi dapat saya perlakukan sebagai minuman, bukan bahan bakar untuk melawan kantuk. Rokok bisa saya tinggalkan. Saya juga perlu belajar mendengarkan tubuh sebelum ia terpaksa berbicara lebih keras. Menulis tetap akan menjadi bagian penting dari hidup saya, tetapi mungkin tidak lagi dengan cara yang sama seperti sepuluh tahun terakhir.

Tidak semua tulisan harus selesai malam itu juga. Laptop boleh ditutup ketika tubuh membutuhkan tidur. Kopi boleh dibiarkan dingin ketika pikiran belum menemukan kalimat yang tepat. Sebuah tulisan bisa menunggu sampai pagi. Saya tidak kehilangan identitas sebagai penulis hanya karena memilih tidur lebih awal. Mungkin justru dengan tidur, saya sedang memberi kesempatan kepada penulis di dalam diri saya untuk hidup lebih lama.

Selama ini saya berpikir tugas seorang penulis adalah membaca dunia; manusia, zaman, kebudayaan, dan perubahan yang berlangsung di sekitar saya. Semua saya coba pahami, saya catat, lalu saya ubah menjadi kata-kata. Tetapi ada satu teks yang luput saya baca selama bertahun-tahun. Teks itu tidak berada di buku, layar laptop, atau halaman koran. Ia berada di dalam diri saya sendiri, tubuh saya.

Sepuluh tahun saya menyuruhnya begadang demi tulisan. Kini ia mengirimkan tanda yang memaksa saya berhenti dan membaca. Saya belum tahu bagaimana kalimat terakhirnya. Saya bahkan belum tahu apakah ini benar sebuah akhir. Tetapi untuk pertama kalinya, saya mengerti satu hal: sebuah tulisan boleh dipaksa sampai pagi. Tubuh tidak. Dan kalau selama ini saya begitu takut tulisan saya tidak selesai, mungkin sekarang saya harus belajar takut pada sesuatu yang lebih nyata; kehabisan waktu untuk menulisnya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: begadangTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

Next Post

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails
Next Post
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co