MALAM itu, 28 Februari 2026, udara di Gedung Ksirarnawa Art Centre Denpasar terasa bergetar oleh ekspektasi yang tinggi. Sebagai sutradara sekaligus koreografer, saya berdiri di belakang panggung, menatap barisan penonton yang dipenuhi tokoh penting, termasuk Gubernur Bali yang hadir untuk menyaksikan penutupan Bulan Bahasa Bali VIII. Pementasan I Sigir Jlema Tuah Asibak yang kami usung bukan sekadar pertunjukan teatrikal biasa; ia adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan dan rekonstruksi spiritual atas narasi-narasi pinggiran yang sering kali dianggap remeh dalam hirarki sastra Bali.
Kisah I Sigir yang lahir “asibak” atau separuh adalah metafora paling brutal tentang eksklusi sosial. Namun, dalam garapan Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa ini, saya menolak untuk menjadikan kecacatan sebagai pusat kesedihan. Sebaliknya, pementasan ini adalah laboratorium kritis untuk menguji sejauh mana kita mampu memahami konsep Atma Kertih: Udiana Purnaning Jiwa (tema Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026). Sesuai dengan apa yang ditulis oleh I Ketut Wiana dalam jurnalnya, Sad Kertih adalah “noble behavior” atau perilaku mulia yang menjadi basis kehidupan manusia Bali (Wiana, 2018, hlm. 1). Atma Kertih, secara khusus, menuntut penyucian jiwa yang melampaui sekat-sekat ragawi.
Dari sudut pandang hermeneutika, pementasan ini merupakan upaya interpretatif untuk menyuarakan apa yang disebut Friedrich Schleiermacher sebagai “kesadaran batin penulis” yang termanifestasikan dalam teks. Schleiermacher menekankan bahwa memahami sebuah karya berarti melakukan rekonstruksi historis dan psikologis terhadap subjeknya (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 74). Saya ingin penonton tidak hanya melihat I Sigir sebagai tokoh dongeng, tetapi sebagai refleksi dari jiwa-jiwa kita sendiri yang sering kali merasa terbelah antara ambisi duniawi dan kerinduan spiritual.
Penerapan tema Udiana Purnaning Jiwa (taman tempat jiwa disempurnakan) saya manifestasikan melalui tata ruang panggung yang masif. Penggunaan LED Tron yang membentang besar bukan sekadar pamer teknologi, melainkan perluasan dari ruang batin I Sigir. Ketika I Sigir berinteraksi dengan video, terjadi apa yang disebut Hans-Georg Gadamer sebagai “peleburan horison” (fusion of horizons), di mana batas antara realitas aktor dan bayangan digital menjadi kabur. Ini adalah kritik saya terhadap modernitas: bahwa manusia sering kali lebih “utuh” dalam dunia imajiner ketimbang dalam realitas sosial yang menghakiminya.

Kehadiran Gubernur Bali di barisan depan memberikan penekanan bahwa diskursus tentang Atma Kertih harus menjadi napas dalam kebijakan pembangunan manusia. Dalam konteks ini, I Sigir adalah simbol rakyat yang mungkin “cacat” secara akses atau ekonomi, namun memiliki hak yang sama untuk mencapai “Ujung Timur” atau kesejahteraan. Pementasan ini sengaja saya buka dengan adegan masatua anak-anak yang bertengkar karena ejekan fisik. Ini adalah strategi hermeneutika praktis untuk mendekatkan teks klasik dengan problem perundungan (bullying) yang hari ini menjadi penyakit kronis di masyarakat kita.
Secara semiotik, tubuh I Sigir yang separuh adalah tanda (sign) yang harus dibaca secara dekonstruktif. Jika masyarakat melihatnya sebagai kegagalan biologis, saya justru melihatnya sebagai keberhasilan spiritual. Wilhelm Dilthey dalam teorinya tentang Erlebnis atau pengalaman hidup yang dihayati, menyatakan bahwa ekspresi seni adalah hasil dari pemahaman mendalam terhadap kehidupan (dalam Mueller-Vollmer, 1985, hlm. 152). Penderitaan I Sigir dan ibunya, Ni Ubuh, adalah Erlebnis yang kemudian bertransformasi menjadi energi estetik di atas panggung melalui gerak-gerak yang asimetris namun tetap harmonis.

Adegan Ni Ubuh (ibu Sigir) yang dijauhi masyarakat karena kehamilannya yang misterius menjadi penggambaran betapa kejamnya stigma sosial. Dalam perspektif Atma Kertih, pemurnian jiwa tidak bisa dilakukan selama kita masih memiliki polusi pikiran berupa kebencian terhadap sesama. Melalui visualisasi pada LED Tron yang menampilkan lanskap kelabu, saya ingin penonton merasakan dinginnya pengucilan sosial, sebelum akhirnya cahaya keemasan dari Bhatara Surya datang untuk memberikan kehangatan spiritual.
Cahaya adalah elemen paling krusial dalam lakon ini. Penari cahaya berkostum emas yang saya hadirkan bukan hanya sekadar ornamen panggung. Mereka adalah representasi dari energi Surya yang menghidupkan. Secara teologis, ini adalah perwujudan dari Atman yang menyinari kegelapan raga. Dalam ajaran Hindu Bali, Surya adalah saksi agung (Saksi Jagat). Hadirnya penari cahaya ini menegaskan bahwa dalam setiap kekurangan fisik, selalu ada cahaya ketuhanan yang menyempurnakan batin manusia, sesuai dengan visi Atma Kertih yang diusung.

Saat I Sigir tumbuh dan bertanya tentang ayahnya, ibunya mengungkap semuanya, bahwa ayahnya adalah Ida Bhatara Surya dan bersthana di ufuk timur (tanggu kangin langite barak). Seketika itu I Sigir membulatkan tekad, meminta bekal berupa tipat dan taluh abungkul untuk perjalananya. Analisis mendalam saya terhadap perbekalan I Sigir membawa kita pada wilayah semiotika budaya yang sangat dalam. Tipat (ketupat) melambangkan raga atau Pradhana yang terikat oleh jalinan karma (anyaman janur). Sementara telur utuh melambangkan Purusa atau spirit yang bersifat bulat dan kekal. I Sigir membawa keduanya sebagai pengingat bahwa perjalanan menuju kesempurnaan membutuhkan keseimbangan antara beban fisik dan keutuhan batin.
Gamelan Semarandhana yang diorkestrasi oleh sahabat saya Praptika Kamalia Jaya memberikan dimensi emosional yang sangat dinamis. Karakter suara Semarandhana yang manis sekaligus gagah mampu menangkap dualitas emosi I Sigir: antara rasa malu pada dunia dan keberanian untuk menghadapi Tuhan. Musik ini menjadi “benang merah” hermeneutik yang menghubungkan setiap adegan, memastikan bahwa pesan Atma Kertih tidak hanya sampai di telinga, tapi meresap ke dalam kesadaran penonton.
Koreografi yang saya bangun untuk I Sigir sengaja menantang hukum keseimbangan tari Bali yang konvensional. Biasanya, tari Bali sangat mementingkan simetri (agem kanan dan kiri), namun I Sigir bergerak dengan satu sisi tubuh yang dominan. Ini adalah pernyataan estetik bahwa keindahan tidak harus lahir dari kesimetrisan. Kesempurnaan batin justru sering kali ditemukan dalam penerimaan atas ketidakseimbangan fisik. Ini adalah inti dari Udiana Purnaning Jiwa, di mana jiwa menemukan kedamaian justru saat ia berhenti memaksakan kehendak ragawi.
Kritik sosial yang paling tajam muncul saat warga desa berteriak “ada memedi, ada tonya” saat melihat I Sigir (dalam perjalananya ke timur). Adegan ini mencerminkan ketakutan manusia terhadap “Yang Lain” (The Other). Kita cenderung menganggap yang berbeda sebagai ancaman atau makhluk halus karena kita tidak mampu melihat Atman di balik rupa yang aneh. Melalui pementasan ini, saya ingin menyentil ego kolektif penonton bahwa sering kali kitalah yang bersifat “monster” karena ketidaktulusan hati kita sendiri.
Inovasi visual interaktif yang kami gunakan membantu menciptakan atmosfer “niskala” (gaib) yang megah. Saat I Sigir menempuh perjalanan ke ufuk timur, LED Tron menampilkan transisi waktu dan alam yang bergerak secara sinkron dengan gerak penari. Ini menggambarkan bahwa perjalanan spiritual adalah proses yang dinamis, bukan statis. Perjalanan ke Timur adalah simbolisasi dari pencarian pencerahan, sebuah perjalanan mendaki menuju matahari kesadaran yang merupakan puncak dari Atma Kertih.

Asisten sutradara Sang Nyoman Gede Adhi Santika bekerja sangat detail dalam mengatur transisi antara adegan masa kecil I Sigir hingga dewasa. Perubahan karakter ini penting untuk menunjukkan bahwa jiwa mengalami evolusi. Meskipun fisiknya tetap “asibak”, mentalitas I Sigir bertumbuh dari rasa takut menjadi rasa bakti yang luar biasa kepada ibunya. Bakti inilah yang menjadi kunci bagi I Sigir untuk membuka pintu gerbang Udiana Purnaning Jiwa.
Seratusan seniman yang terlibat, dari penari, penabuh, hingga kru panggung, menunjukkan kekuatan kolektif yang luar biasa. Saya melihat pementasan ini sebagai Yajna atau persembahan tulus dari civitas akademika UHN IGB Sugriwa untuk Bali. Kehadiran mahasiswa UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan membuktikan bahwa generasi muda Bali masih memiliki gairah yang besar untuk membedah teks-teks klasik dengan cara yang sangat progresif dan berani. Meskipun hanya 1 bulan berproses, di tengah kesibukan akdemik dan keseharian mereka, namun rasa haru dan bangga masih membekas hingga saat ini karena totalitas yang mereka lakukan.
Pesan penutup melalui adegan penutur yang menasehati anak-anak adalah titik balik didaktis. Saya ingin pementasan ini memiliki dampak nyata setelah lampu panggung padam. Bahasa dan sastra Bali harus menjadi instrumen untuk membangun karakter yang inklusif. Atma Kertih bukan hanya teori di atas kertas jurnal, melainkan praktik nyata untuk berhenti merendahkan sesama dan mulai menghargai keunikan setiap ciptaan Tuhan. Secara kritis, saya melihat bahwa transformasi fisik I Sigir di akhir cerita, menjadi pemuda tampan setelah mandi di kolam suci (pancoran sindhuratna) sebenarnya adalah metafora dari pencapaian kebahagiaan batin (Moksartham Jagadhita). Ketampanan itu adalah pantulan dari kemurnian jiwa yang telah tuntas melewati ujian Tapa. Di sini, Udiana Purnaning Jiwa mencapai puncaknya: jiwa yang purna akan memancarkan aura kesempurnaan yang tidak bisa dipalsukan oleh kosmetik atau rupa fisik semata.
Kehadiran Gubernur Bali hingga akhir pertunjukan memberikan sinyal kuat bahwa narasi-narasi lokal seperti I Sigir memiliki nilai strategis dalam membangun identitas Bali yang modern namun tetap berakar pada nilai Sad Kertih. Pementasan ini membuktikan bahwa dengan kreativitas, sastra Bali dapat bertransformasi menjadi tontonan global tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Saya merasa puas karena misi untuk mengedukasi masyarakat melalui keindahan visual telah tercapai malam itu di Ksirarnawa.
Sebagai sutradara, pementasan ini adalah perjalanan spiritual pribadi bagi saya. I Sigir mengajarkan saya bahwa dalam membuat karya, kita tidak perlu menunggu semua elemen menjadi “sempurna” atau lengkap. Dengan “setengah” modal sekalipun, asalkan dilakukan dengan niat yang bulat, kita dapat menciptakan keajaiban yang menyentuh hati banyak orang. Itulah esensi sejati dari Atma Kertih: memuliakan jiwa di tengah keterbatasan raga.
Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh semua pihak. Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada segenap pihak yang terlibat. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa adalah energi utama yang membuat pementasan kolosal ini memiliki napas yang sangat segar namun tetap berwibawa. Terima kasih khusus kepada asisten sutradara saya, Sang Nyoman Gede Adhi Santika, yang dengan sabar dan teliti menerjemahkan visi saya ke dalam detail-detail panggung yang presisi. Kepada komposer Praptika Kamalia Jaya, terima kasih atas aransemen Semarandhana yang begitu puitis dan menggetarkan sukma. Tanpa dentuman musik yang tepat, perjalanan I Sigir menuju ufuk timur tidak akan memiliki jiwa yang sekuat ini. Juga rasa terimakasih pada Ibu Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama, Ibu Gek Diah Desi Sentana, yang selalu setia menemani proses latihan serta berperan sebagai Ni Ubuh dengan sangat menyentuh hati. Serta tak lupa pada Cokorda Krisna Dwiyoga, yang sudah begadang beberapa hari dengan tim untuk menyelesaikan segala urusan properti panggung dan tari.
Apresiasi setinggi-tingginya saya tujukan kepada seluruh anggota UKM Tari Tabuh Ratna Saraswati dan UKM Pedalangan. Kalian adalah penjaga gawang tradisi yang luar biasa. Dedikasi kalian berlatih siang dan malam, melatih gerak “asibak” yang tidak mudah, hingga mengoordinasikan seratusan orang di atas panggung adalah bentuk Atma Kertih yang nyata, sebuah kerja keras untuk memuliakan jiwa melalui dedikasi seni.

Terima kasih juga kepada Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Dinas Kebudayaan, yang telah memfasilitasi ruang bagi seni tradisi untuk terus berevolusi dalam ajang Bulan Bahasa Bali. Kehadiran Bapak Gubernur Bali memberikan suntikan semangat bagi kami para akademisi dan seniman untuk terus menggali mutiara-mutiara kearifan lokal yang tersembunyi dalam Satua-satua Bali yang kaya akan nilai filosofis. Kepada para penonton dan masyarakat Bali, terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan I Sigir. Melalui tepuk tangan dan haru kalian, saya merasa bahwa pesan inklusivitas dan pemurnian jiwa ini telah sampai ke tujuannya. Semoga setelah menyaksikan lakon ini, kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih bijak dalam melihat kekurangan diri dan kelebihan orang lain.
Akhir kata, lakon I Sigir Jlema Tuah Asibak ini saya persembahkan bagi mereka yang pernah merasa terpinggirkan, bagi mereka yang sedang mencari jati diri, dan bagi masa depan Bali yang lebih inklusif. Mari kita terus merawat “taman jiwa” kita masing-masing hingga mencapai kesempurnaan. Semoga cahaya Bhatara Surya senantiasa menuntun langkah kita menuju Ujung Timur yang penuh kedamaian dan pencerahan.
Matur Suksma. Terima kasih kepada semua tim yang terlibat. Sampai jumpa di palagan estetika berikutnya, di mana kita akan terus memuliakan bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai rumah bagi jiwa yang merdeka. I Sigir bukan lagi manusia separuh, ia kini telah utuh dalam setiap ingatan kita. [T]
Refrensi:
Mueller-Vollmer, K. (Ed.). (1985). The Hermeneutics Reader: Texts of the German Tradition from the Enlightenment to the Present. New York: Continuum. (Mencakup pemikiran Friedrich Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Hans-Georg Gadamer).
Wiana, I. K. (2018). “Sad Kertih”: Sastra Agama, Filosofi, dan Aktualisasinya. Bali Membangun Bali: Jurnal Bappeda Litbang, 1(3), 179-201. ISSN 2615-0956.
Penulis: I Gede Tilem Pastika
Editor: Adnyana Ole



























