- Judul Buku : Dokter Gila
- Penulis : dr. Putu Arya Nugraha
- Penerbit : Tatkala
- Tahun : 2025
RUMAH itu mungil saja. Kesan pertama saya, unik sekaligus asri. Tanaman bersulur dan peneduh berebut tempat berbagi memberi oksigen. Letaknya yang di pinggir laut memberi aroma segar nan sehat. Sebagai seorang fraghead, saya dapati hidung saya tergelitik sesekali oleh lean, fresh, airy khas aroma laut. So refreshing but warm at the same time.
Saat menjejakkan kaki di Rumah Belajar Komunitas Mahima, suasana ramai dan hangat menyambut saya. Mereka, para undangan bedah buku, nampaknya excited. Om Ole (Made Adnyana Ole) dan nyonya, Bu Sonia (Kadek Sonia Piscayanti), wanita menarik dengan dres batik coklat elegan, si empunya rumah sekaligus sanggar literasi ini menyalami saya dengan ramah.
Kami mengobrol di bangk-bangku kayu sambil menunggu para hadirin. Sesekali saya melepaskan pandangan menyapu ruangan nuansa rustic di depan saya. Ratusan buku berjajar rapi. Saya merasa pasti Bu Sonia-lah yang punya ide menata interior senyaman ini. Atau mungkin saya salah, jangan-jangan justru Om Ole yang eksentrik itu yang menata kediamannya asyik begini? Ah, nanti saya tanyakan.
Para tetamu yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Mahasiswa, sastrawan, bahkan masyarakat umum yang jelas mereka tentunya punya ketertarikan pada event literasi seperti ini.
Suatu kehormatan bagi saya, wanita jelita, jelang lima puluh tahun, seorang ibu rumah tangga tanpa memiliki karya sastra apapun, yang selama ini hanya sekali dua kali mencoba menuangkan isi pikiran yang kebetulan lewat dalam bentuk tulisan di media sosial, duduk manis menjadi “ahli bedah” buku ke-7 sahabat saya. Ia, seorang dokter ahli macam-macam. Mulai dari dokter spesialis penyakit dalam, penulis, filantrofis, ketua ormas, aktivis kemanusiaan pula. Jika saya coba sebut satu-satu, CV beliau yang menyilaukan itu, rasanya tidak akan cukup satu halaman.
Acara dibuka dengan potong tumpeng, tanda syukur terhadap awal usaha baru mereka si empunya rumah unik, Toko Buku Anima. Syukurlah, Bu Sonia akhirnya membuka toko buku di Singaraja, yang saya yakin, sebagian besar masyarakatnya haus akan kemudahan pemenuhan kebutuhan literasi. Buku-buku yang saya lihat tertata rapi di-display kebanyakan buku-buku fiksi berupa novel, kumpulan cerita pendek dan puisi dari penulis dan sastrawan yang tentunya sudah wellknown di dunia kekusastraan Indonesia.
Buku-buku Dokter Arya (Putu Arya Nugraha), the star of the day, juga terpampang rapi mengisi rak-rak yang dipenuhi buku menarik. Hmm…saya jadi ingat impian masa kecil untuk menjadi penulis dan memampang buku saya di rak toko buku. Semoga suatu saat kesempatan itu menghampiri saya.
Saat ini, Pak Bro Arya, mencoba mengeksplorasi kelihaiannya berimajinasi dengan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul bombastis, Dokter Gila. Tentunya, pemilihan judul tersebut tidak lepas dari masukan tangan dingin Om Ole, yang berkontribusi besar dalam penerbitan tulisan-tulisan beliau melalui Mahima.
Di hadapan sekitar 50 orang hadirin, kami duduk santai saling memberi ruang bagi perspektif dalam kepala kami tentang buku kumpulan cerpen (kumcer) Dokter Gila Gia, seorang anthropologist bersuara renyah menjadi moderator pada sesi ini. Nampak wajah-wajah yang saya kenal hadir, tentu saja, karena mereka adalah para dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Ganesha, tempat saya dan Dokter Arya mengajar, notabene mereka adalah murid-murid kami.
Beberapa sejawat dokter serta paramedis juga hadir dengan antusias. Event invitation memang terbuka untuk umum. Mungkin karena yang menulis adalah seorang dokter sehingga ada keingintahuan mereka untuk mengikuti acara ini.
Saya tidak sendirian duduk di depan sebagai pembedah. Pak, Mas, eh… apa ya sebutan untuk jurnalis murah senyum di sebelah saya ini. Pak Yahya Umar, jurnalis yang juga sastrawan yang sudah malang melintang di dunia persilatan kesusastraan Indonesia. Kabarnya beliau juga sudah merilis beberapa novel fiksi. Om Ole sendiri, editor buku ini, membuka bincang-bicang seru kami dengan menyampaikan alasan mengapa beliau memilih cerpen Dokter Gila sebagai judul buku.
Judulnya, menurut saya cukup anti-mainstream. Demikian juga pemilihan warna cerah (corn yellow) dengan ukuran dan tipe font yang mencolok, tentunya memiliki alasan non-jurnalistik. Sebuah buku, jika sudah diterbitkan maka ia sudah menjadi komoditas, sehingga dari sisi marketing hal-hal ini memang mendukung.
Buku kumcer ini tipis saja menurut saya. Terdiri dari 192 halaman dengan 16 cerpen dengan berbagai tema. Saat membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya sebagai seorang teman yang cukup sering membaca tulisan beliau sejak menulis buku pertamanya, cukup familiar dengan pemilihan diksi, alur pikir, pun gaya bahasa yang dipilihnya. Dengan pengalamannya berkecimpung dalam dunia medis selama 2 dekade lebih, tentunya banyak pengalaman unik yang dimiliki oleh Dokter Arya yang memang piawai dalam meramu berbagai tulisan popular.
Berbagai pengalaman dalam menangani pasien disulap olehnya menjadi beberapa cerpen yang dimuat di buku ini. Demikian pula pengalaman sejawat lain yang juga ia gubah menjadi cerpen. Pengalaman pribadi di kampung halaman, pun saat mengabdikan diri di luar Pulau Bali ia ulik menjadi cerita yang menarik. Tidak hanya berhenti sampai disana, daya khayal dengan back up literasi mumpuni terkait isu sosial serta fenomena ekstrateresterial ia coba tuangkan dalam beberapa cerpen dalam buku ini.
Saya menyebutnya sebagai suatu langkah yang cukup extraordinary mengingat latar belakang beliau yang seorang dokter. Seorang dokter menjadi penulis cerpen saja adalah hal yang tidak biasa, terlebih lagi cerpen dengan tema-tema unik di luar tema medis. Tentunya membuat buku ini memiliki nilai lebih.
Dengan tema yang cukup wide range ini menunjukkan keberaniannya dalam mencoba hal-hal baru tentunya dengan latar belakang literasi serta common knowledge terhadap isu-isu terbaru yang relevan dengan pembaca saat ini. Namun lagi-lagi ada sedikit hal yang perlu saya garisbawahi terkait relevansi peristiwa, latar dengan penokohan pada beberapa cerpen nampak cukup absurd di mata saya.
Mengingat setiap buku sebenarnya, bagaimana pun, akan memiliki pangsa pasar tersendiri berbasis kelompok umur. Saya juga masih belum sempat menanyakan apakah penikmat buku ini yang diharapkan adalah para remaja gen Z atau gen X bahkan boomer? Walaupun, sekali lagi, buku apapun dapat dinikmati oleh pembaca tanpa batasan umur. Yang penting bisa baca dan berminat, monggo! Begitu idealnya.
- Klik untuk lihat info buku
Cerpen ke-10 di buku ini yang justru menarik perhatian saya. Tas untuk Istri Dokter, demikian judulnya. Dilihat dari latar belakang penulis yang seorang dokter, tentunya penulis akan mudah menyelipkan suasana maupun berbagai terminologi medis sebagai bumbu pemanis cerita. Cerita tentang Dokter Nugie yang flamboyant, memiliki soft skill mumpuni dalam menjalin komunikasi dengan klien, cepat tanggap memberi respon setiap pesan yang masuk lewat Whatsapp, termasuk pesan dari Shinta, wanita muda yang telah bersuami, high social status, charming (entah kenapa saya langsung membayangkan Dian Sastro sempurna sebagai tokoh Shinta). Ada cinta yang tidak tersurat dalam cerpen itu, namun samar-samar dilekatkan pada sosok Shinta, yang mencintai Dokter Nugie.
Jika Pak Yahya atau Om Ole berhasil diyakinkan oleh penulis bahwa tokoh Shinta memendam perasaan cinta membara pada Dokter Nugie namun tak sebaliknya, tidak demikian dengan saya. Penokohan Dokter Nugie amat ambigu menurut saya. Di satu sisi ia digambarkan lelaki flamboyant (suatu istilah yang menggambarkan suatu kepribadian yang attractive, showy, confident).
Sebagai perempuan, saya tak menemukan itu pada sosok Dokter Nugie, paling tidak, mungkin hanya 50 persen saja ke-flamboyant-an itu tercermin padanya. Ia digambarkan tidak menyukai acara-acara party, menggunakan sepatu converse lama dan celana jeans. Saya lebih setuju bahwa Dokter Nugie merupakan sosok konvensional, old fashion, mungkin introvert. Jika pun Neng Shinta digambarkan tertarik pada dokter introvert ini, justru mungkin penulis perlu menggali sisi menarik lain darinya. Percakapan yang mendalam dan tidak biasa mungkin. Atau gesture yang flawlessly attractive. Istilah orang Bali, melik.
Namun, pada cerpen ini, percakapan mereka tidak menunjukkan ada cinta terpendam membara dari sisi si perempuan. Cukup datar. Tertarik, iya. Saya melihat penulis belum sepenuhnya berhasil membangun percikan rasa cinta terpendam itu dalam interaksi mereka. Justru kesan yang saya tangkap, Dokter Nugie merasa ia memiliki secret admirer yang -dia pikir- mencintai dia, padahal tak terkonfirmasi dalam percakapan manapun. Tak ada kedalaman perasaan di setiap percakapan antara Shinta dan Nugie. Justru harap-harap cemas itu nampak pada sikap yang dibangun Nugie pada setiap kesempatan pertemuan dengan Shinta. Seorang wanita, yang telah jatuh hati pada seorang pria, semokondo apapun pria itu, ia akan berubah menjadi Miss Marple (tokoh detektif wanita kesukaan saya). Ia akan mencari tahu dimana dokter Nugie tinggal, hobinya apa, makanan dan minuman kesukaannya apa.
Jadi sangat janggal jika Shinta digambarkan tak tahu menahu bahwa istri sang dokter tidak ada. Dalam kecermatan logika seorang wanita dengan status sosial tinggi dan mungkin well educated serta mampu mengelola emosi dengan baik (Shinta tidak norak, terbukti ia tidak chitchat terlalu sering dengan Nugie), dengan mudah logika kita akan menuntun ke suatu pertanyaan logis. Kok bisa wanita seperti itu tidak tahu situasi rumah tangga sang dokter? Ini keabsurd-an yang pertama.
Kemudian, apakah penulis ingin membuat hubungan tersebut menjadi semacam parasocial relationship? Ini juga tidak jelas. Shinta tampaknya tak setergila-gila itu. Penulis tidak memberi ruang mengeksplorasi perasaan Nugie pada Shinta. Selalu dan selalu tentang Shinta yang sedemikian rupa memendam perasaan cinta pada Nugie dengan memberi hadiah tas untuk istri Nugie, mendahului mengirim message beberapa kali, mengundang Nugie datang ke acara di rumahnya. Namun lagi-lagi, semuanya dalam batas kewajaran.
Penulis tidak menggambarkan percakapan flirty di sana. Normatif saja, kecuali undangan ke rumahnya yang sedikit agak memaksa. Hanya itu. Penderitaan batin Shinta karena memendam rasa juga tidak dieksplorasi. Padahal kita semua tahu, it’s hurt to love someone we can’t have! Rasanya hal tersebut tidak saya dapatkan. Karakter Nugie di mata saya kok justru menjadi agak NPD. Terlalu overproud berkesimpulanbahwa perempun itu mencintai dia dari hal-hal datar normatif. Padahal jikalau saja Mas Bro penulis mau membuatnya lebih getir dan puitis mungkin akan manis sekali hubungan kedua insan itu.
Percakapan mendalam tentang hati yang mungkin terpaut kadang-kadang lebih memberi sentuhan romantis ketimbang penggambaran adanya kata-kata lugas tentang cinta atau sentuhan fisik. Atau mungkin saja beliau hanya ingin menyampaikan pesan implisit bahwa membina hubungan dokter-pasien itu adalah hal rumit yang seharusnya memang selalu dimaknai dan direspon oleh dokter secara profesional dan dingin.
- BACA JUGA:
Suatu prosa memang menjadi menarik dengan alur yang tidak biasa dan memberi ledakan emosi pada pembaca jika penulis berhasil menutupnya dengan unpredictable plot twist. Pada cerpen ini, memberi plot twist yang dramatis merupakan tujuan penulis. Klimaks dengan penutup yang getir, bahwa sang istri sudah tiada, bahwa tas itu merupakan hadiah yang tak mungkin tersampaikan dan bahwa ada remaja putra kelas dua SMP yang berhasil menambah vibes getir dan pilu suasana.
Seorang duda menarik, dokter, single parent. Ia dan (mungkin) cinta yang besar pada mendiang istrinya. Lagi-lagi absurditas menggelitik saya untuk mengomentari. Nugie bisa saja menyampaikan fakta itu sejak awal. Namun ia memilih menyampaikannya dengan pola-pola dramatis namun manipulatif (bagaimana tidak, dari semua perasaan yang bergulat dalam benak Shinta, terutama mungkin rasa bersalah yang ia rasakan sebagai wanita). Memberi hadiah pada seseorang yang berarti namun telah tiada tentunya akan mengorek luka orang bersangkutan. Ngapain coba Nugie melakukan itu, padahal dengan mudah ia bisa langsung menyampaikan sejak awal pada Shinta.
Ya, tentu saja agar cerpen tersebut menjadi menarik. Bukankah memang itu yang diharapkan dari sebuah cerpen? Dramatisasi. Semakin dramatis semakin nice. Dalam konteks ini saya sependapat dan berpikir bahwa trik ini berhasil. Saran saya, cerpen ini sebaiknya dibuat menjadi novel sehingga setiap rasa dan perasaan serta interaksi antar karakter lebih mendalam.
Walaupun buku ini adalah debutnya dalam penulisan cerpen namun menurut saya, beliau berhasil menciptakan berbagai wisata perasaan dalam tiap cerita yang ditawarkan. Optimisme, harapan, humanisme terselip pada beberapa cerita. Demikian pula kegalauan, rasa hampa, dan lagi-lagi getir pada cerpen lainnya. Rahim Yang Kelu akan membawa kita pada nuansa latar belakang adat Bali yang kental dengan pilihan tokoh otentik. Konflik internal tokoh utama maupun antar tokoh mampu dihadirkan dengan dramatis.
Penulis berusaha menghadirkan konflik dalam kultur budaya Bali yang mengakar, tabu, sangat terasa namun sering tidak mudah untuk dibicarakan, patriarchy-minded perspective dan misogyny. Entah terinspirasi dari Tarian Bumi karya Oka Rusmini, saya merasa sedikit deja-vu dengan tema-tema demikian.
Lagi-lagi kenyinyiran saya sebagai perempuan terusik dengan gaya lelaki mendeskripsikan tubuh wanita. Bukan karena ia menggambarkan kedua payudara Dayu Inten yang ranum mendamba, atau lekuk tubuh wanita Bali tulen yang padat berisi (paling tidak, itu yang saya bayangkan dari penggambaran sosok Dayu Inten, the main character. Ada satu kalimat yang menggelitik saya. Kira-kira begini, …ia memandangi organ bagian bawah perutnya, bagian yang suci.
Waduh, kesucian suatu organ tubuh tertentu seorang manusia ditentukan oleh apa? Jika ada yang suci tentunya ada yang kurang suci bahkan tidak suci. Hehehe, just kidding. Tentunya diksi-diksi semacam itu memang diperlukan oleh seorang penulis untuk mendramatisir situasi yang coba dibangun dalam suatu fiksi. Kalau datar-datar saja tentunya kurang greget.
Membaca buku ini seperti mengajak saya berpetualang ke masa remaja, di tahun 90-an. Sebagai pecinta cerpen popular saat itu tentunya masa remaja saya akrab dengan Lupus, tokoh remaja fenomenal besutan Hilman Hariwijaya, Roy, si remaja bad-boy (secara penampilan) besutan Gol A Gong. Lelaki muda bercelana jeans belel dengan sneaker usang. Ia nampak menginspirasi tokoh-tokoh rekaan Dokter Arya dalam buku ini. Sebut saja Dokter Nugie, atau tokoh Dokter Gila yang dipilih dengan cerdik sebagai judul kumcer ini.
Tentunya referensi outfit tampilan tokoh utama itu tidak lepas dari background penulis yang tergolong GenX. Kami akrab dengan Levi’s, Converse, Doc Mart, Ossella, dan segudang merk outfit yang menunjukkan apakah kita tergolong anak gaul atau tidak pada jamannya (catat ya, akrab bukan berarti memiliki, hanya menyaksikan iklan barang-barang tersebut dari majalah Mode atau Hai pun, sudah membuat kami, remaja saat itu, merasa akrab dengan harapan untuk dapat membelinya).
Memori akan masa muda pun mau tak mau terbawa kembali di cerpen lain. Sebuah kisah cinta agak lain, antara seorang remaja tanggung dengan alien. Dengan menghadirkan Britney Spears, world beauty pop icon pada jamannya, tentunya akan membawa kenangan masa remaja pembaca setua kami ini mengelana. Terbayang oleh saya Britney Spears, dengan rambut blonde berkepang dua dengan mata bulat, menampakkan pusarnya yang seksi aduhai, meliuk-liuk sensual lengkap dengan rok mini dalam single Baby One More Time. Lagu sejuta umat kami waktu itu.
Ahaiii…di kalangan GenX siapa yang tak tahu Britney Spears? Tapi jika penulis ingin membawa alur cerita di masa kini (mengingat dalam cerpen itu, hubungan dua insan antar planet dihubungkan dengan smartphone canggih kekinian, menilik waktu, mungkin lebih cucok bagi pembaca GenZ, jika tokoh itu adalah Taylor Swift, Beyonce atau Rihanna. Tapi tentunya kembali pada preferensi penulis. Sak karepe penulis, sih.
Romansa berbau ekstrateresterial ini juga merupakan salah satu cerpen berkarakter kuat di buku ini. Perlu pengalaman literasi astronomi yang memadai agar seorang penulis dapat membuat suatu fiksi dengan nuansa cosmic-science fiction. Bagi saya, beliau cukup berhasil mencuil hati pecinta genre tersebut. Dengan flawless istilah kosmik diselipkannya dalam diskusi mesra kedua insan. Hasilnya, taraaaa… sebuah cerpen yang harus membuat saya bolak balik mengkonfirmasi beberapa informasi dalam cerpen itu pada beberapa sumber terkait dengan ketepatan terminologi yang ia gunakan. Bukan karena tak percaya pada kapabilitas penulis terhadap pengetahuan yang bukan bidangnya, akan tetapi lebih kepada kekaguman saya terhadap kelihaiannya meramu cerita tematik yang cukup fantastis.
Cerpen lain yang menyita perhatian saya, mungkin akan sama dengan pembaca lainnya. Judulnya sudah unik. Seorang Pemetik Cengkeh dan Pelacur yang Penuh Perhatian. Pemilihan judul yang nyastra. Demikian pula jalinan kisah “unrequited love” si pemetik cengkeh dengan Mbak Nur. Di mata Mbak Nur, segala perhatian yang ia berikan untuk pelanggan tubuhnya adalah jualan sehingga menghasilkan hubungan yang sekedar transaksional. Namun dalam kalbu si pengguna jasa, ia tak hanya menikmati ledakan seksual di sana. Pergumulannya bukan semata untuk mendapat kenikmatan badaniah. Sang pelanggan mungkin salah menafsirkan layanan ekstra berupa perhatian kecil dari Mbak Nur yang ia terjemahkan sendiri mungkin sebagai rasa sayang dua insan saling mencintai dan memperhatikan.
Nengah Sadra, si pemetik cengkeh nan polos itu terjebak dalam kenaifannya sendiri. Mbak Nur, si penjual jasa, tidak hanya menunggunya, ia juga menunggu nengah-nengah lain yang membawa uang banyak dalam setiap transaksi mereka. Ia juga tentunya memberi perhatian yang sama kepada mereka. Jika suatu saat ia pergi begitu saja, maka itu tak mengherankan karena baper tak seharusnya ada dalam model transaksi tersebut. Ke-GR-an membawa kegetiran. Love hurts, and it hurts so bad. Saya terpukaudengan cara penulis menggambarkan sudut kamar, lorong-lorong gang, warung remang-remang lokalisasi seolah nyata dalam narasi yang diciptakannya. He nailed it!
Cerpen-cerpen lain memiliki cerita dan keunikannya sendiri. Baik itu dari pemilihan setting atau pun alur yang meloncat-loncat. Beberapa memberi tema medis khas, gambaran seorang dokter ideal dan humanis yang mungkin, nyaris hanya ada di angan. Semacam utopis dalam dunia kedokteran yang saat ini mungkin sudah banyak mengalami down grade. Tokoh itu nyata dirindukan penulis pada cerpen Dokter Gila, atau pada cerpen yang mirip memoir beliau saat sebagai pegawai tidak tetap (PTT) di Kalimantan Timur, Dokter yang Tak Pernah Pulang.
Di sini pun ia berhasil bermain-main dalam antropologi sosial budaya dengan menyematkan begitu banyak istilah bahasa suku Dayak Kenyah. Ia paham melakukan pelafalan pada setiap kalimat dalam bahasa Dayak bercampur Bahasa Indonesia di cerpen tersebut. Ini tentu saja bukan persoalan mudah. Dibutuhkan pemahaman yang cukup agar seorang yang bukan suku bersangkutan menggunakan bahasa dan budaya dari sukunya dengan tepat. Agar tak ada cultural appropriation yang bisa disalahpahami pembaca nantinya. Sekali lagi, sebagai seorang pengamat cerpen dadakan amatir, saya sangat mengapresiasi usaha beliau.
Membuat suatu cerita fiksi mungkin bukan hal yang sulit bagi setiap penulis profesional maupun amatir. Namun membuat cerita itu masuk akal tanpa membuat pembacanya mengernyitkan dahi adalah hal yang beda lagi. Insight seluas samudera dan kemampuan untuk menyampaikan narasi secara articulate merupakan keniscayaan bagi penyampai informasi dalam bentuk fiksi/non-fiksi agar mendapat kepercayaan dan menyentuh hati pembacanya. Hal itu tentunya merupakan hasil latihan bertahun-tahun, jika tidak mau saya bilang bahwa ini adalah inner talent.
Dalam konteks ini, menurut pandangan saya, Mas bro Arya berhasil mendeliver dengan mulus. Bagi saya keunikan pada tema-tema yang beragam, kekuatan narasi untuk menyampaikan misi mulia bagaimana sebuah profesi seharusnya dijalankan merupakan keberhasilan pada debutnya sebagai penulis cerpen. Ada banyak pesan yang ingin disampaikan penulis melalui romansa dokter-pasien, pekerja seks -pelanggan, kerigidan budaya, dan tentu saja satu hal yang selalu ingin diselipkan dari tulisannya di buku itu. Humanity is the most beautiful way to face life, neither winning nor losing. Jika ada hal lain yang saya ingin saya tambahkan pula, bukan karena beliau teman saya (trying my best as objective as possible), this book is worth buying! [T]
Catatan: Ulasan buku ini disampaikan dalam acara bedah buku “Dokter Gila” yang diselenggarakan Anima tokobuku di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Sabtu 24 Januari 2026
Penulis: Lina Kamelia
Editor: Adnyana Ole



























