SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Namun, dalam ajang Bulan Bahasa Bali 2026 ini, sanggar itu mementaskan teater atau drama Bali modern dengan begitu apik.
Meski sama-sama menggunakan bahasa Bali, drama gong dan drama Bali modern punya perbedaan terutama dari segi bentuk pemanggungan. Jika drama gong memiliki pakem yang cukup ketat, drama modern justru menantang munculnya gagasan-gagasan baru, bahkan sering memberontak pakem yang biasa dijadikan pedoman para seniman drama sebelumnya.
Sanggar Nong Nong Kling tampaknya bisa menyesuaikan konsep panggung dari kebiasaan bermain drama gong menjadi drama modern ketika menyajikan Drama Bali Modern berjudul “Mlantjaran ka Sasak” dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Jumat 20 Pebruari 2026.
Dalam penyajiannya sekitar satu jam itu, mereka menawarkan konsep-konsep baru, sehingga tak hanya menghibur, tetapi mampu menyampaikan pesan kepada penonton. Yang menarik, musik bukan dimainkan secara mandiri di sebuah panggung khusus, tetapi para pemain yang langsung memainkan musik melalui mulut, tembang dan celetukan-celetukan bermakna. Mereka biasa menyebutnya dengan istilah gamelan bungut, atau gamelan mulut.
Pertunjukan Sanggar Nong Nong Kling yang didukung sekitar 42 pemain itu mirip seperti sajian kesenian kecak, genjek, yang mengandalkan suara mulut sebagai iringan. Terkadang ngongkek, berbicara salaing sahutin, menyanyi bersama, terkadang pula melantunkan tembang yang menceritakan kisah dari adegan itu.
Dalam penyajiannya, mereka juga berhasil menguasai panggung Gedung Ksirarnawa, panggung presenium yang tergolong besar. Maka wajar, setiap adegannya selalu mendapat apresiasi pengunjung Bulan Bahasa Bali itu.

Sebagian besar pemain memang terbiasa bermaian drama gong, juga biasa menari Bali. Bisa disebut tubuh mereka masih tampak “tradisional”, namun sepertinya tubuh semacam itulah yang menjadi modal Nong Nong Kling untuk menghidupkan pertunjukan mereka.
Yang menarik, tata artistik juga digarap secara serius sebagaimana cara kerja artistik drama modern. Selain sepeda ontel yang masuk ke tengah panggung, properti lain yang diatur secara simbolik juga membuat garapan drama modern itu menjadi enak ditonton. Tentu saja, karena, selain kerap memainkan drama gong, sejumlah pemain, seperti Mang Aji, juga kerap ikut bermain dalam tetaer modern garapan Teater Selem Putih.
Drama ini mengisahkan di daerah Denbukit/ Buleleng sekitar tahun 1936 ada orang berkasta sudah tua. Beliau memiliki anak bernama Ida Ayu Priya, dan memiliki punakawan bernama Luh Sari dan I Made Sarati untuk punakawan pria. Dayu Priya senang belajar dan bersekolah, sama dengan I Made Sarati. Keduanya kemudian belajar hingga ke Jawa, sehingga keduanya berhasil pintar.
I Made Sarati adalah orang sudra atau jaba. Pada suatu hari sekolahnya libur, Dayu Priya jelan-jalan ke Sasak bersama Luh Sari dan Made Sarati. Itu karena perintah dari Ajiknya Dayu Priya agar Sarati ikut anaknya Dayu Priya ke Sasak. Di Sasak, Dayu Priya dan Made Sarati sudah tumbuh benih cinta. Namun, karena perbedaan kasta mereka tidak mau menyatakan cinta.
“Carita ini diangkat dari Novel berbahasa Bali merupakan karya Wayan Badra atau Gede Srawana nama di pena, Novel ini sempat dimuat di majalah Djatadjoe sekitar 1935-1939, lalu dibukukan tahun 1978,” kata Mang Ajik didampingi Mang Epo selaku sutradara di sela-sela pementasan itu.
Memang, sanggar asal Buleleng ini identik dengan pertunjukan drama gong tradisional, namun kali ini justru menyajikan sajian seni kekinian yang berhasil memkat pengunjung festival Bahasa, aksara dan sastra itu. Novel “Mlantjaran ka Sasak” itu diangkat ke dalam sebuah garapan drama modern dengan menggunakan konsep teater rakyat, seperti Lenong. Maka, wajar, sanggar yang memiliki besik drama gong itu, tampak tampil sederhana, tetapi penuh dengan kreativitas dan inovasi.
Anak-anak yang berperan sebagai penabuh dalam pementasan drama gong, kini terlibat sebagai pemain yang tak hanya melengkapi setiap adegan, tetapi juga berfungsi sebagai pengiring drama itu melalui suara-suara mulut. Terlebih, penyajian drama ini membutuhkan pemain yang cukup banyak, sehingga keterlibatan para penabuh itu menjadi solusi. “Karena itu, kami memakai konsep garapan Rengganis, kesenian tradisional dari daerah Penglatan, Buleleng. Kami adaptasi dari kesenian klasik itu,” kata Mang Ajik.
Memang, sajian drama modern ini mirip, seperti genggong, kecak bahkan genjek. Hanya saja, dipaduk dengan narasinya, sehingga pesan-pesan itu sampai kepada penonton. Sebut saja ketika ketika Dayu Priya dan Made Sarati ingin berjalan-jalan ke Sasak maka lagu yang ditembangkan menceritakan kisah mereka sudah sampai di Sasak. “Pertujukan ini murni menampilkan koreografi dan alur cerita yang utuh,” ujarnya.

Karena itu, dekorasi menjadi bagian terkecil dari penyajiannya. Dekosasi dibuat minimalis, seperti menggunakan latar dari kain hitam, level, dan sepeda untuk mendukung adegan agar lebih reel dan nyata. Level itu memiliki multi fungsi, yakni bisa menjadi kapal, menjadi kamar khusus untuk adegan di penginapan. “Itu karena kami ingin menggarap pertunjukannya. Kami ingin pertunjukan ini dinamis dan tidak bertele-tele. Artinya, mengandalkan kekuatan dari para actor, sehingga meminalisir penggunaan property yang hanya sebagai simbol-simbol saja,” ungkapnya.
Drama ini menceritakan masalah sistem kasta di Bali yang ditentang oleh orang-orang yang berkasta. Padahal, orang-orang di Bali itu menghormati hak dasar sebagai manusia yang memiliki hak asasi. Seorang jaba cinta terhadap orang berkasta itu sah-sah saja, dan tidak ada sekat. “Dalam drama ini, kami ingin tegaskan, sekarang ini penting ada rasa keadailan. Semua orang berhak mendapat pendidikan, kesehatan, dan sama dihadapan hukum. Itu sesungguhnya pesan yang ingin disampaikan dalam sasolah drama ini,” jelasnya.
Ilmu pengetahuan itu sangat berharga sekali, ketimbang berkutat pada kasta itu sendiri. Ilmu pengetahuan itu lebih penting dari memperdebatkan kasta itu sendiri. Ilmu pengatahuan itu berharga, siapapun boleh mencari ilmu pengetahuan. “Dulu saat novel ini dibuat masih kental-kentalnya kasta itu dihormati di Bali,” ceritanya.
Ketua sanggar yang juga sutradara, Nyoman Suardika alias Mang Epo mengatakan, drama ini lebih banyak menampilkan pemain-pemain muda. Karena drama ini digarap seperti kolosal yang harius 41 orang, maka mengambil sekaa tabuh drama itu. “Kami tidak memnggunakan alat music gamelan, juga sebagai upaya meminalisir pembawaan property jauh-jauah ke Denpasar, maka membuat musik dengan lirik sesederhana mungkin, namun tetap bisa menyampaika pesan,” ucapnya.
Nong Nong Kling yang identik dengan drama gong, maka kali ini merasa ada tantangan menyajikan drama modern. “Kebetulan anak-anak sanggar ini tak hanya bermain drama gong, tetapi sudah ada yang pernah ikut di teater di kampus ataupun luar kampus, sehingga sudah mempunyai bibit-bibit drama modern tersebut, maka dari itu kami tidak merasa ada tantangan yang serius. Mudah-mudahan masyarakat seniman modern bisa menikmatinya, harapnya.

Mang Epo mengatakan, dari cerita ini tentu ada manfaatnya baik untuk pemain itu sendiri ataupun penonton. Pertama jelas pelestarian Bahasa Bali, karena di puri atau geria sekarang ini sudah menggunakan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, sehingga ini ajang untuk pelestarian budaya. Kedua ini suatau agak kritikan dimana cerita ini kesetaraan. Artinya tidak memperdebatkan kasta itu. Ketiga karena ini ajang Bulan Bahasa Bali, maka secara otomatis anak-anak dipakasakan untuk belajar Bahasa Bali, Sastra dan termasuk aksara. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























