5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 10, 2026
in Panggung
Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

JALAN Pulau Obi di pinggiran timur kota Singaraja, Buleleng, tampak lengang pada malam ketika saya bersama tim tatkala.co lewat dengan perasaan senang. Senang, karena sebentar lagi kami akan melihat bagaimana sebuah sanggar seni melangsungkan kreativitas saat latihan.

Di jalan yang agak landai, saya mendengar alunan suara memecah keheningan malam. Suara itu bukan berasal dari mesin kendaraan roda dua atau roda empat, bukan pula berasal dari suara jangkrik yang barangkali masih hidup dengan baik pada lahan sawah yang beberapa masih tersisa di wilayah itu,

Alunan suara itu datang dari gema gamelan gong kebyar. Dan, ketika mendengar suara gong itu, saya yakin, sebentar lagi kami akan sampai di  Sanggar Seni Suara Mustika, sebuah sanggar seni tradisional yang cukup terkenal di wilayah Bali utara. Semabri tersenyum-senyum senang kami mencari sumber suara itu.

Tiba, dan masuklah kami ke sebuah tempat yang cukup lapang. Di sebuah bangunan saya dapat melihat puluhan pemuda berbaju kaos merah dengan saput dan udeng, mengerahkan seluruh tenaga untuk menabuh gamelan. Mereka tentu sedang latihan. Gerakan mereka cekatan. Mata berfokus pada bilah-bilah gamelan. Gong besar dipukul mengikuti irama. Sementara tangan-tangan dengan lugas menabuh kendang, yang seluruh paduan itu memperdengarkan ritme dan harmoni yang memanjakan telinga.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Saya didekati oleh seorang pemuda sanggar. Ia berkata, “Bli De-nya ada di sana!”

Mata saya langsung tertuju pada arah yang dituju, seorang lelaki dengan sebuah kendang di sampingnya. Ia tak sedang menabuh kendang. Lelaki itu fokus memperhatikan pemuda-pemuda yang sedang menabuh di depannya. Dengan satu tangan di atas kepala, jari-jarinya bergantian terbuka, berpindah secara cepat. Gerakan jari itu menjadi semacam kode-kode untuk diikuti oleh para penabuh yang sedang latihan. Gerakan jari tangan itu adalah kode atau tanda untuk menunjukkan bilah-bilah gamelan mana yang harus dipukul oleh si penabuh.

Lelaki itulah yang dipanggil Bli De. Nama lengkapnya Made Wira Okta Atmadi. Dia adalah  pendiri sekaligus pengajar di sanggar ini. Kita panggil saja lelaki itu Okta.

Ketika Okta melihat kehadiran kami, ia memberi tanda kepada penabuh untuk istirahat. Ketika itu mendekati kami dan mengajak kami mendekat, duduk di atas karpet merah di sampingnya. Ia kemudian dengan senang hati berbincang-bincang kepada kami.

***

Sanggar Seni Suara Mustika merupakan sebuah sanggar yang didirikan di tahun 2016. Berawal dari kecintaan Okta pada gamelan Bali sedari TK hingga dewasa, ia kemudian terpanggil hatinya untuk mendirikan sanggar dan berbagi ilmu kepada anak-anak muda di Bali utara.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Niatnya makin kuat, apalagi kakeknya dari pihak ibu, I Nyoman Suara (almarhum), mewariskan sejumlah perangkat gamelan dalam kondisi yang masih bagus. Di keluarganya, hanya Okta yang menekuni seni–sampai ia belajar dengan serius di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sehingga ada rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan gamelan warisan kakeknya.

“Tang (saya)awalnya tidak kepikiran mendirikan sanggar. Ini sebenarnya adalah keterpanggilan hati saya. Sehingga saya meminta gamelan kakek saya untuk saya rawat di sini (di sanggar),” kata Okta sembari menunjukkan peninggalan gamelan gong pacek peninggalan kakeknya yang terpajang di panggung sanggarnya.

Tidak hanya gamelan gong pacek, I Nyoman Suara juga mewariskan  gamelan gender wayang. Dulu, semasa hidupnya, I Nyoman Suara memang memiliki sekaa gong gamelan gender yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1980-an. Perkiraan ini muncul dari sebuah kaset CD video yang ditemukan oleh Okta yang berisi aktivitas sekaa gong kakeknya dengan gamelan gender wayang.

Gamelan gong pacek warisan I Nyoman Suara

Nama Suara Mustika untuk sanggarnya sendiri sebenarnya juga diambil dari nama sekaa gong yang dibentuk kakeknya, yakni “Sekaa Gong Suara Mustika”. Menurut Okta, ia menggunakan nama Suara Mustika sebagai bentuk penghormatan kepada kakeknya. “Tang pakai sebagai tanda penghormatan saja sih. Nama Suara Mustika itu saya gunakan sebagai nama sanggar,” katanya.

Walaupun dengan nama yang indah, Wira Okta Atmadi sampai hari ini tidak bisa memastikan kenapa kakeknya memberi nama Suara Mustika untuk sekaa yang dibentuknya dulu.  Ia hanya bisa menebak-nebak barangkali Suara Mustika berasal dari nama kakeknya sendiri, Suara, yang kemudian ditambahkan dengan Mustika yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang gemerlap.

Atau, biasa saja Suara Mustika itu memang masksudnya sebagai suara yang gemerlap. Atau jika mengacu pada KBBI, di mana mustika berarti “keberkahan” atau “keajaiban”, maka Suara Msutika bisa berarti suara yang penuh berkah, atau suara penuah keajaiban.

Selain gamelan gong kebyar peninggalan almarhum kakek Okta, sanggar ini juga memiliki beberapa gamelan gong yang dibelinya sendiri, seperti Gamelan Semar Pengulingan dan Gamelan Gender Wayang, serta Rindik. Sanggar seni ini juga memiliki kostum tarian. 

***

Dalam kurun satu dekade ini, anak didik yang belajar di Sanggar Seni Suara Mustika jumlahnya lebih dari 150 anak, dari anak yang belajar menabuh hingga menari. Anak sanggar terdiri dari anak sekolah dasar hingga dewasa, dan asal mereka mayoritas dari daerah Banyuning.

Wira Okta Atmadi (kiri)

Para penabuh dan penari itu hampir semuanya sudah pernah mendapatkan pengalaman tampil di atas panggung besar, seperti Buleleng Festival atau pada festival seni lain, atau tampil ngayah saat upacara keagamaan, dan acara-acara dalam acara keluarga.

Sanggar Suara Mustika pernah terpilih menjadi Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di tahun 2018 dan Duta Gong Kebyar Dewasa Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV di tahun 2023.

Terpilih Kembali Menjadi Duta Gong Kebyar Anak

Sanggar Suara Mustika kembali terpilih menjadi Duta GKA (Gong Kebyar Anak) Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di tahun 2026. PKB dilaksanakan di bulan Juni-Juli. Untuk itulah Sanggar Suara Mustika saat ini sedang mempersiapkan diri dengan latihan, termasuk latihan yang dilaksanakan pada malam ketika kami mendatangi sanggar itu.

Berbagai piagam penghargaan untuk Sanggar Suara Mustika

Terpilihnya Sanggar Suara Mustika ke PKB 2026 diawali dengan ikut seleksi di Sasana Budaya Singaraja, 25 Januari 2026, Seleksi yang digelar Dinas Kebudayaan Buleleng itu diikuti empat sanggar yang berbeda. Empat sanggar tersebut adalah Sanggar Seni Dharma Shanti, Sanggar Pentas Marak Lestari, Sanggar Seni Wahyu Semara Shanti, dan tentunya Sanggar Seni Suara Mustika. 

Setelah menentukan empat sanggar yang akan tampil, Disbud melakukan rapat membahas materi yang akan ditampilkan. Berkumpulah keempat sanggar pada meja yang sama. Sampai disepakati bahwa materi yang akan ditampilkan adalah Tabuh Kreasi Hujan Mas style kedis yang merupakan tabuh khas Buleleng. Serta Tari Taruna Jaya. Selain pembahasan mengenai materi, rapat ini juga membahas mengenai aturan untuk seleksi GKA, seperti batas umur. Penabuh yang akan tampil tidak boleh  lebih dari 17 tahun.

Mengetahui materi yang akan ditampilkan serta aturan untuk seleksi GKA, Wira Okta Atmadi dengan anak-anak senior lantas melakukan persiapan —  latihan setiap hari dari pukul 16.00-21.00 WITA, bahkan bisa sampai jam 22.00 WITA. Walau terlihat berat, latihan dibawakan dengan menyenangkan dan tidak menekan. Sebab sanggar ini menggunakan konsep Tri Hita Karanadengan sangat efektif.

Tri Hita Karanaadalah konsep spiritual masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan guna mendapatkan kebahagian. Konsep ini mencakupi hubungan harmonis kepada Tuhan, sesama, dan alam. Konsep seperti ini yang ditekankan oleh Wira Okta Atmadi dalam berinteraksi dengan siapapun.  “Misalnya, saya sering ngobrol sama tetangga, ya berbaur sama masyarakat. Begitupun dengan anak-anak sanggar,” kata Okta.

***

“Kegiatan latihan setiap hari tidak hanya bertabuh, ada kalanya kita akan memasak bersama atau bersih-bersih,” ujar Perdi (18), seorang anak didik di Sanggar Suara Mustika.

Perdi

Ia adalah salah satu senior di sanggar tersebut. Perdi mengakui dia sangat menyukai aktivitas belajar dan mengajar di sanggar ini — selain menggunakan konsep Tri Hita Karana, sanggar ini juga menggunakan konsep yang ia sebut sebagai “linear atas bawah”, di mana senior akan mengajari juniornya, begitupun sebaliknya. Ia juga adalah salah satu pengajar di sanggar ini, dan mengajar adik juniornya untuk persiapan GKA dan PKB nantinya.

Salah seorang penabuh muda bernama Wikan (12) ikut nimbrung bersama kami. Ia sudah ingin menjadi anak Sanggar Suara Mustika dari saat dirinya TK, namun karena sanggar waktu itu belum menerima penabuh cilik TK, Wikan harus menunggu hingga dirinya kelas satu SD.

Wikan bercerita, bahwa ketika ia menjadi anak sanggar Mustika, ia belajar banyak hal seperti etika dan kedisiplinan — setiap baru datang ke sanggar, ia dibiasakan untuk  mengucapkan “Om Swastiastu” dan menjalankan piket kebersihan.

“Aku bisa menyapu setelah masuk sanggar ini!” serunya.

Hasil keringat, jerih payah, dan keraguan mereka terbayarkan pada tanggal 25 Januari 2026. Empat sanggar diseleksi hari itu di Gedung Sasanan Budaya, Singaraja. Terdapat tim juri yang terdiri dari tiga orang — dua juri sebagai juri tabuh dan satu juri sebagai juri tari. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa Sanggar Suara Mustika ditetapkan sebagai Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk PKB XLVIII tahun 2026.

Wikan

Ketika saya dan rekan-rekan datang ke sanggar, mendengarkan cerita yang mereka ceritakan, hal itu membuat saya mengetahui alasan sanggar ini bisa berhasil mendapatkan Duta GKA. Ada tiga hal yang mempengaruhi; rasa semangat dari anak-anak sanggar, komitmen dari kakak-kakak senior dan pengajar, dan konsistensi latihan dan sikap merupakan tiga jawaban dari keberhasilan mereka. Keberhasilan mereka juga tidak lepas dari ketetapan mereka mengikuti aturan yang sudah ditentukan oleh dewan juri.

“Harapannya, saya harap Sanggar Mustika bisa membawa nama Buleleng dengan hormat dan membentuk generasi selanjutnya agar bisa meraih PKB selanjutnya,” kata Perdi. Dan ia mengaku akan terus belajar mendidik juniornya dan berkontribusi mencetak generasi yang berkualitas.

Di Peta Kesenian Bali 2026 ini Sanggar Suara Mustika akan menampilkan tiga materi pementasan sesuai dengan ketentuan pantia PKB di Provinsi Bali. Tiga materi itu adalah Tabuh Kreasi Pepanggulan, Tari Penyambutan Kembang Deeng dan Dolanan.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Salah satu materi pementasan PKB 2026 nanti adalah Dolanan. Okta mengatakan, dolanan digarap berdasarkan permainan rakyat yang ada di Bali, dan ia belum memikirkan permainan tradisional apa yang akan diangkat untuk pementasan nanti. Tapi yang jelas, ia akan berusaha memikirkan secepatnya. “Nanti liat aja di PKB 2026,” katanya. [T]

Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: bulelenggong kebyargong kebyar ank anakPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Next Post

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? ---Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co