16 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Radha Dwi Pradnyani by Radha Dwi Pradnyani
February 10, 2026
in Panggung
Sanggar Suara Mustika, Buleleng: Dari Gong Warisan Kakek Menuju Pesta Kesenian Bali

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

JALAN Pulau Obi di pinggiran timur kota Singaraja, Buleleng, tampak lengang pada malam ketika saya bersama tim tatkala.co lewat dengan perasaan senang. Senang, karena sebentar lagi kami akan melihat bagaimana sebuah sanggar seni melangsungkan kreativitas saat latihan.

Di jalan yang agak landai, saya mendengar alunan suara memecah keheningan malam. Suara itu bukan berasal dari mesin kendaraan roda dua atau roda empat, bukan pula berasal dari suara jangkrik yang barangkali masih hidup dengan baik pada lahan sawah yang beberapa masih tersisa di wilayah itu,

Alunan suara itu datang dari gema gamelan gong kebyar. Dan, ketika mendengar suara gong itu, saya yakin, sebentar lagi kami akan sampai di  Sanggar Seni Suara Mustika, sebuah sanggar seni tradisional yang cukup terkenal di wilayah Bali utara. Semabri tersenyum-senyum senang kami mencari sumber suara itu.

Tiba, dan masuklah kami ke sebuah tempat yang cukup lapang. Di sebuah bangunan saya dapat melihat puluhan pemuda berbaju kaos merah dengan saput dan udeng, mengerahkan seluruh tenaga untuk menabuh gamelan. Mereka tentu sedang latihan. Gerakan mereka cekatan. Mata berfokus pada bilah-bilah gamelan. Gong besar dipukul mengikuti irama. Sementara tangan-tangan dengan lugas menabuh kendang, yang seluruh paduan itu memperdengarkan ritme dan harmoni yang memanjakan telinga.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Saya didekati oleh seorang pemuda sanggar. Ia berkata, “Bli De-nya ada di sana!”

Mata saya langsung tertuju pada arah yang dituju, seorang lelaki dengan sebuah kendang di sampingnya. Ia tak sedang menabuh kendang. Lelaki itu fokus memperhatikan pemuda-pemuda yang sedang menabuh di depannya. Dengan satu tangan di atas kepala, jari-jarinya bergantian terbuka, berpindah secara cepat. Gerakan jari itu menjadi semacam kode-kode untuk diikuti oleh para penabuh yang sedang latihan. Gerakan jari tangan itu adalah kode atau tanda untuk menunjukkan bilah-bilah gamelan mana yang harus dipukul oleh si penabuh.

Lelaki itulah yang dipanggil Bli De. Nama lengkapnya Made Wira Okta Atmadi. Dia adalah  pendiri sekaligus pengajar di sanggar ini. Kita panggil saja lelaki itu Okta.

Ketika Okta melihat kehadiran kami, ia memberi tanda kepada penabuh untuk istirahat. Ketika itu mendekati kami dan mengajak kami mendekat, duduk di atas karpet merah di sampingnya. Ia kemudian dengan senang hati berbincang-bincang kepada kami.

***

Sanggar Seni Suara Mustika merupakan sebuah sanggar yang didirikan di tahun 2016. Berawal dari kecintaan Okta pada gamelan Bali sedari TK hingga dewasa, ia kemudian terpanggil hatinya untuk mendirikan sanggar dan berbagi ilmu kepada anak-anak muda di Bali utara.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Niatnya makin kuat, apalagi kakeknya dari pihak ibu, I Nyoman Suara (almarhum), mewariskan sejumlah perangkat gamelan dalam kondisi yang masih bagus. Di keluarganya, hanya Okta yang menekuni seni–sampai ia belajar dengan serius di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, sehingga ada rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan gamelan warisan kakeknya.

“Tang (saya)awalnya tidak kepikiran mendirikan sanggar. Ini sebenarnya adalah keterpanggilan hati saya. Sehingga saya meminta gamelan kakek saya untuk saya rawat di sini (di sanggar),” kata Okta sembari menunjukkan peninggalan gamelan gong pacek peninggalan kakeknya yang terpajang di panggung sanggarnya.

Tidak hanya gamelan gong pacek, I Nyoman Suara juga mewariskan  gamelan gender wayang. Dulu, semasa hidupnya, I Nyoman Suara memang memiliki sekaa gong gamelan gender yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1980-an. Perkiraan ini muncul dari sebuah kaset CD video yang ditemukan oleh Okta yang berisi aktivitas sekaa gong kakeknya dengan gamelan gender wayang.

Gamelan gong pacek warisan I Nyoman Suara

Nama Suara Mustika untuk sanggarnya sendiri sebenarnya juga diambil dari nama sekaa gong yang dibentuk kakeknya, yakni “Sekaa Gong Suara Mustika”. Menurut Okta, ia menggunakan nama Suara Mustika sebagai bentuk penghormatan kepada kakeknya. “Tang pakai sebagai tanda penghormatan saja sih. Nama Suara Mustika itu saya gunakan sebagai nama sanggar,” katanya.

Walaupun dengan nama yang indah, Wira Okta Atmadi sampai hari ini tidak bisa memastikan kenapa kakeknya memberi nama Suara Mustika untuk sekaa yang dibentuknya dulu.  Ia hanya bisa menebak-nebak barangkali Suara Mustika berasal dari nama kakeknya sendiri, Suara, yang kemudian ditambahkan dengan Mustika yang biasa diartikan sebagai sesuatu yang gemerlap.

Atau, biasa saja Suara Mustika itu memang masksudnya sebagai suara yang gemerlap. Atau jika mengacu pada KBBI, di mana mustika berarti “keberkahan” atau “keajaiban”, maka Suara Msutika bisa berarti suara yang penuh berkah, atau suara penuah keajaiban.

Selain gamelan gong kebyar peninggalan almarhum kakek Okta, sanggar ini juga memiliki beberapa gamelan gong yang dibelinya sendiri, seperti Gamelan Semar Pengulingan dan Gamelan Gender Wayang, serta Rindik. Sanggar seni ini juga memiliki kostum tarian. 

***

Dalam kurun satu dekade ini, anak didik yang belajar di Sanggar Seni Suara Mustika jumlahnya lebih dari 150 anak, dari anak yang belajar menabuh hingga menari. Anak sanggar terdiri dari anak sekolah dasar hingga dewasa, dan asal mereka mayoritas dari daerah Banyuning.

Wira Okta Atmadi (kiri)

Para penabuh dan penari itu hampir semuanya sudah pernah mendapatkan pengalaman tampil di atas panggung besar, seperti Buleleng Festival atau pada festival seni lain, atau tampil ngayah saat upacara keagamaan, dan acara-acara dalam acara keluarga.

Sanggar Suara Mustika pernah terpilih menjadi Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di tahun 2018 dan Duta Gong Kebyar Dewasa Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLV di tahun 2023.

Terpilih Kembali Menjadi Duta Gong Kebyar Anak

Sanggar Suara Mustika kembali terpilih menjadi Duta GKA (Gong Kebyar Anak) Buleleng untuk Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII di tahun 2026. PKB dilaksanakan di bulan Juni-Juli. Untuk itulah Sanggar Suara Mustika saat ini sedang mempersiapkan diri dengan latihan, termasuk latihan yang dilaksanakan pada malam ketika kami mendatangi sanggar itu.

Berbagai piagam penghargaan untuk Sanggar Suara Mustika

Terpilihnya Sanggar Suara Mustika ke PKB 2026 diawali dengan ikut seleksi di Sasana Budaya Singaraja, 25 Januari 2026, Seleksi yang digelar Dinas Kebudayaan Buleleng itu diikuti empat sanggar yang berbeda. Empat sanggar tersebut adalah Sanggar Seni Dharma Shanti, Sanggar Pentas Marak Lestari, Sanggar Seni Wahyu Semara Shanti, dan tentunya Sanggar Seni Suara Mustika. 

Setelah menentukan empat sanggar yang akan tampil, Disbud melakukan rapat membahas materi yang akan ditampilkan. Berkumpulah keempat sanggar pada meja yang sama. Sampai disepakati bahwa materi yang akan ditampilkan adalah Tabuh Kreasi Hujan Mas style kedis yang merupakan tabuh khas Buleleng. Serta Tari Taruna Jaya. Selain pembahasan mengenai materi, rapat ini juga membahas mengenai aturan untuk seleksi GKA, seperti batas umur. Penabuh yang akan tampil tidak boleh  lebih dari 17 tahun.

Mengetahui materi yang akan ditampilkan serta aturan untuk seleksi GKA, Wira Okta Atmadi dengan anak-anak senior lantas melakukan persiapan —  latihan setiap hari dari pukul 16.00-21.00 WITA, bahkan bisa sampai jam 22.00 WITA. Walau terlihat berat, latihan dibawakan dengan menyenangkan dan tidak menekan. Sebab sanggar ini menggunakan konsep Tri Hita Karanadengan sangat efektif.

Tri Hita Karanaadalah konsep spiritual masyarakat Bali dalam menjaga keharmonisan guna mendapatkan kebahagian. Konsep ini mencakupi hubungan harmonis kepada Tuhan, sesama, dan alam. Konsep seperti ini yang ditekankan oleh Wira Okta Atmadi dalam berinteraksi dengan siapapun.  “Misalnya, saya sering ngobrol sama tetangga, ya berbaur sama masyarakat. Begitupun dengan anak-anak sanggar,” kata Okta.

***

“Kegiatan latihan setiap hari tidak hanya bertabuh, ada kalanya kita akan memasak bersama atau bersih-bersih,” ujar Perdi (18), seorang anak didik di Sanggar Suara Mustika.

Perdi

Ia adalah salah satu senior di sanggar tersebut. Perdi mengakui dia sangat menyukai aktivitas belajar dan mengajar di sanggar ini — selain menggunakan konsep Tri Hita Karana, sanggar ini juga menggunakan konsep yang ia sebut sebagai “linear atas bawah”, di mana senior akan mengajari juniornya, begitupun sebaliknya. Ia juga adalah salah satu pengajar di sanggar ini, dan mengajar adik juniornya untuk persiapan GKA dan PKB nantinya.

Salah seorang penabuh muda bernama Wikan (12) ikut nimbrung bersama kami. Ia sudah ingin menjadi anak Sanggar Suara Mustika dari saat dirinya TK, namun karena sanggar waktu itu belum menerima penabuh cilik TK, Wikan harus menunggu hingga dirinya kelas satu SD.

Wikan bercerita, bahwa ketika ia menjadi anak sanggar Mustika, ia belajar banyak hal seperti etika dan kedisiplinan — setiap baru datang ke sanggar, ia dibiasakan untuk  mengucapkan “Om Swastiastu” dan menjalankan piket kebersihan.

“Aku bisa menyapu setelah masuk sanggar ini!” serunya.

Hasil keringat, jerih payah, dan keraguan mereka terbayarkan pada tanggal 25 Januari 2026. Empat sanggar diseleksi hari itu di Gedung Sasanan Budaya, Singaraja. Terdapat tim juri yang terdiri dari tiga orang — dua juri sebagai juri tabuh dan satu juri sebagai juri tari. Dan sudah kita ketahui bersama bahwa Sanggar Suara Mustika ditetapkan sebagai Duta Gong Kebyar Anak Buleleng untuk PKB XLVIII tahun 2026.

Wikan

Ketika saya dan rekan-rekan datang ke sanggar, mendengarkan cerita yang mereka ceritakan, hal itu membuat saya mengetahui alasan sanggar ini bisa berhasil mendapatkan Duta GKA. Ada tiga hal yang mempengaruhi; rasa semangat dari anak-anak sanggar, komitmen dari kakak-kakak senior dan pengajar, dan konsistensi latihan dan sikap merupakan tiga jawaban dari keberhasilan mereka. Keberhasilan mereka juga tidak lepas dari ketetapan mereka mengikuti aturan yang sudah ditentukan oleh dewan juri.

“Harapannya, saya harap Sanggar Mustika bisa membawa nama Buleleng dengan hormat dan membentuk generasi selanjutnya agar bisa meraih PKB selanjutnya,” kata Perdi. Dan ia mengaku akan terus belajar mendidik juniornya dan berkontribusi mencetak generasi yang berkualitas.

Di Peta Kesenian Bali 2026 ini Sanggar Suara Mustika akan menampilkan tiga materi pementasan sesuai dengan ketentuan pantia PKB di Provinsi Bali. Tiga materi itu adalah Tabuh Kreasi Pepanggulan, Tari Penyambutan Kembang Deeng dan Dolanan.

Para penabuh Gong Kebyar Anak-anak dari Sanggar Suara Mustika

Salah satu materi pementasan PKB 2026 nanti adalah Dolanan. Okta mengatakan, dolanan digarap berdasarkan permainan rakyat yang ada di Bali, dan ia belum memikirkan permainan tradisional apa yang akan diangkat untuk pementasan nanti. Tapi yang jelas, ia akan berusaha memikirkan secepatnya. “Nanti liat aja di PKB 2026,” katanya. [T]

Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co
Tags: bulelenggong kebyargong kebyar ank anakPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Agung Rai dan Tata Ulang Nama-nama Jalan di Ubud: Literasi Budaya Lewat Nama Tokoh

Next Post

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Radha Dwi Pradnyani

Radha Dwi Pradnyani

Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, siswa SMKTI Global, Singaraja

Related Posts

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

Read moreDetails

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
0
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails
Next Post
Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? —Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Pecalang, Sabar atau Harus Diburu-Buru? ---Antara Janji, Urgensi dan Bali Hari Ini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co