6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Aksara Caramellia by Aksara Caramellia
February 20, 2026
in Cerpen
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan kecilnya. Buku itu selalu sama: sampul cokelat kusam, sudut-sudutnya melengkung seperti pernah diremas berkali-kali. Di tangannya ada pulpen biru yang kadang diketuk-ketukkan pelan ke permukaan meja.

Ia menulis sesuatu. Lalu berhenti. Menghela napas. Menghapusnya perlahan.

Kadang ia tersenyum sendiri, senyum tipis yang seperti muncul dari tempat yang jauh. Kadang ia tertawa kecil, hampir tak terdengar. Namun lebih sering ia membeku—tatapannya kosong, seolah sedang mendengar percakapan yang tak pernah kami dengar.

Kami, anak-anaknya, menganggap itu sekadar kebiasaan ganjil orang tua yang terlalu banyak waktu luang. Hingga suatu pagi Ibu berkata, tanpa menoleh dari wajan di dapur, “Ayahmu bukan sedang menulis. Ia sedang berusaha mengingat sesuatu yang takut ia lupakan.”

Kalimat itu terdengar seperti lelucon. Kami tertawa. Tapi hari demi hari, suara-suara dari kepala Ayah makin keras. Ia mulai berbicara sendiri, menyebut nama-nama yang tak ada di keluarga kami: Pak Rudi, Bu Elok, Rara. Ia tertawa pada lelucon yang hanya dia tahu. Kadang menangis ketika mendengar lagu dari radio tua yang tak pernah kami nyalakan. Ibu bilang itu bukan gangguan jiwa. Ayah sedang dihuni terlalu banyak kenangan yang tidak pernah berhasil ia buang.

Kami baru benar-benar mengerti setelah Ayah menghilang sehari penuh. Ditemukan malam harinya duduk di halte, membawa koper berisi buku-buku dan surat-surat yang ia tulis untuk orang-orang yang tak pernah membalas.

Ketika Ayah tidur malam itu, kami nekat membuka koper itu. Isinya seperti museum dari hidup yang lain: foto-foto lama, surat cinta untuk seseorang bernama Anjani, puisi-puisi pendek tentang “kehilangan yang tidak punya nama”.

Keesokan harinya, Ayah bangun seperti biasa. Duduk di meja, menulis, menghapus. Kali ini, ia menoleh dan berkata, “Kalian sudah tahu, ya?”

Kami mengangguk pelan. “Tapi kalian masih tinggal di sini, ya?”

Kami tidak menjawab. Hanya duduk menemaninya. Untuk pertama kalinya, kami ikut menulis di kertas kosong itu. Menuliskan kenangan kami bersama Ayah dari suara sandal jepitnya sampai caranya membelah pisang goreng.

Ayah membacanya, lalu tersenyum. “Berarti aku belum gila. Cuma terlalu penuh.”

Di akhir cerita, Ayah berhenti menghapus. Ia menyimpan catatannya. Bukan karena kepala sudah tenang, tapi karena akhirnya, ia tidak menanggung suara-suara itu sendirian.

Sejak malam itu, suasana rumah jadi lebih hening, tapi bukan hening yang mengganggu. Hening yang mendengar. Kami mulai memperhatikan hal-hal kecil: cara Ayah mencuci gelas dengan telaten, cara ia menata sendok dan garpu seolah menyiapkan makan malam untuk tamu yang tak pernah datang. Kadang, ia duduk lama di ruang tamu, menghadap jendela, seolah menunggu seseorang dari masa lalu muncul membawa jawaban.

“Ibu tahu siapa Anjani?” tanyaku pada Ibu, ketika kami sedang melipat cucian. Ibu diam sejenak.

Tangannya berhenti bergerak. “Teman kuliah dulu,” jawabnya akhirnya. “Mereka pernah dekat, sebelum ayahmu memilih pulang kampung untuk menikahiku. Waktu itu, katanya ia takut terlalu banyak hal yang tak bisa ia kejar.”

Aku menatap Ibu. Tidak ada amarah dalam suaranya. Hanya sejenis pengertian yang lahir dari usia dan keikhlasan. “Berarti Ibu tahu tentang semua surat itu?”

Ibu mengangguk. “Ayahmu tak pernah kirim surat-surat itu. Tapi menuliskannya membuat ia tetap hidup. Aku biarkan saja.”

Sejak saat itu, kami tak lagi merasa perlu mencari makna dari suara-suara yang Ayah sebut. Ia mungkin sedang hidup di dua dunia: satu yang nyata, satu lagi yang tak kasat mata tapi menyala kuat di kepalanya.

Yang mengejutkan, sejak koper itu dibuka, Ayah seperti lebih ringan. Ia masih bicara sendiri, tapi mulai mengajak kami ikut tertawa. Suatu kali ia menatapku lama, lalu berkata, “Dulu kamu pernah jatuh dari sepeda, ingat?”

Aku mengangguk.

“Ayah menangis malam itu. Tapi diam-diam. Karena katanya, lelaki yang baik itu yang kuat.”

Ia mengucapkan kalimat itu seolah sedang membaca ulang dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku sadar, menjadi Ayah tidak pernah mudah. Ia bukan hanya tulang punggung keluarga, tapi juga tempat menampung duka yang tak sempat ditunjukkan.

Hari demi hari, kami mulai menuliskan kenangan bersama. Setiap malam, satu anak akan duduk bersama Ayah, membawa satu lembar kertas dan menulis hal-hal kecil yang dulu luput: seperti cara Ayah meniup teh sebelum menyeruputnya, atau kebiasaannya mengecek pintu tiga kali sebelum tidur. Kertas-kertas itu disimpan Ayah di kotak kayu kecil, dan ia beri nama: “Hal-hal yang Membuktikan Aku Pernah Ada.”

Suatu sore, adikku yang paling kecil bertanya, “Yah, kalau kepala Ayah sudah tenang, kita masih boleh nulis, kan?”

Ayah tertawa. “Boleh. Nulis bukan buat kepala yang gaduh. Tapi buat hati yang ingin diingat.”

Malam-malam kami berubah menjadi ritual. Tak ada gawai, tak ada televisi. Hanya teh, selembar kertas, dan cerita-cerita kecil yang mengendap jadi cahaya. Ayah mulai membaca kembali puisi-puisi lamanya, lalu menuliskan yang baru, tentang hal-hal yang sebelumnya tak ia beri tempat: tentang Ibu yang selalu diam tapi tahu segalanya, tentang anak-anak yang ternyata tumbuh dengan luka-luka kecil yang tidak sempat ia lihat.

Dan pada suatu pagi yang cerah, Ayah berkata, “Kepala ini mungkin tak akan pernah benar-benar sunyi. Tapi sekarang, aku tahu aku tidak sendirian.”

Hari itu, Ayah menyimpan buku catatannya, lalu mengajak kami ke luar rumah. Ia ingin ke pasar, katanya, beli pisang untuk digoreng bersama. Kami tertawa, Ibu mengangguk, dan pagi itu, rumah kami tak lagi diisi suara-suara dari masa lalu.

Tapi tetap riuh. Riuh oleh tawa yang dibiarkan tumbuh, oleh cerita yang tak lagi dibisikkan pada kertas kosong, tapi dibagikan. Dan ketika Ayah duduk di beranda dengan wajah lelah tapi tenang, aku tahu: akhirnya, kami sudah jadi bagian dari suara di kepalanya. Bukan sebagai bayang-bayang, tapi sebagai gema yang menenangkan. [T]

Penulis: Aksara Caramellia
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-Puisi Chusmeru | Aku Tanpa-Mu

Next Post

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Aksara Caramellia

Aksara Caramellia

Pengeja Sastra, Penyuka Musik dan Penikmat Kopi. Instagram: nur.kamalia___

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails

0411 | Cerpen Yuditeha

by Yuditeha
February 7, 2026
0
0411 | Cerpen Yuditeha

TATIK, perempuan berumur limapuluhan dengan rambut yang selalu digelung dan wajah yang tampaknya sulit tersenyum. Ia jarang bicara, tapi sekali...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Mencari Jejak Keluhuran 20 Februari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co