LAMPU Gedung Sasana Budaya di Singaraja itu dipadamkan ketika para anak Sanggar Seni Nong Nong Kling berkumpul untuk latihan drama modern bersama. Lampu sorot memancarkan sinar kuning ke arah mereka, menggantikan sinar putih lampu dan memudarkan kegelapan — menandakan drama sudah memasuki babak pertama.
Babak pertama dibuka dengan suara kidung khas gaya kesenian Renganis Pengalatan. Alunan merdu yang masyhur menari-menari dalam telinga. Tidak ada musik pada babak itu, hanya dari pita suara anak-anak sanggar yang beriringan bernyanyi, menciptakan musik tersendiri.
Lampu sorot dimatikan, menandakan tirai sudah ditutup untuk ke adegan selanjutnya. Dalam kegelapan semua pemain bergerak. Dengan cekatan dan lihai mereka berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Anak-anak sanggar sangat fokus dengan peran mereka, tak ada canda ataupun tawa, hanya peran palsu yang terlihat.
“Ini adalah scene pertama,” kata Darwin Setia Budi atau yang dikenalkan sebagai “Ajik” oleh si pendiri sanggar. Saat itu, Darwin sedang duduk dengan santai, namun matanya fokus memperhatikan jalannya drama. Sebagai penulis naskah sekaligus sutradara pementasan drama tersebut, sudah dipastikan dirinya harus memberikan perhatian lebih pada drama ini.
***
Tak hanya Ajik Darwin, namun saya dan kedua rekan dari tim tatkala.co ikut fokus memperhatikan jalannya drama. Saking terbawa suasana dan akting dari pemain-pemain di atas panggung, kami bertiga hanya terdiam saja. Duduk dan menatap lurus ke arah panggung. Seketika, fokus kami menjadi pecah ketika salah satu rekan bertanya, “Apa maksud dari pementasan ini?” Sontak kami saling memandang satu sama lain.


Drama Modern ini memiliki judul “Mlancaran Ka Sasak” , sebuah drama modern berbahasa Bali yang dibawakan oleh Sanggar Seni Nong Nong Kling dan akan dipentaskan pada tanggal 20 Februari 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali di Denpasar, berkaitan dengan acara Bulan Bahasa Bali VIII.
Drama ini diambil dari sebuah novel klasik Bali dengan judul “Mlancaran Ka Sasak” dan ditulis oleh Gde Srawana. Buku ini menceritakan tiga tokoh yang masing-masing bernama Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari, melancong bersama ke Sasak (Lombok). Dalam perjalanan mereka, muncul benih-benih cinta dari tokoh Made Sarati dan Dayu Priya. Namun cinta tersebut harus mereka pendam akibat perbedaan kasta.
“Begitu ceritanya!” seru saya ketika menjelaskan panjang lebar kepada rekan-rekan tentang drama ini. Salah seorang rekan mengangguk, tapi satu rekan saya membuka suara. “Oh begitu …. Dramanya berbahasa bali sih, gak paham jadinya.”
***
Drama berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali adalah hal lumrah. Akan jadi aneh apabila sebuah drama berbahasa Indonesia dipentaskan saat Bulan Bahasa Bali. Tapi yang menjadi fokus saya bukan pada penggunaan bahasa, melainkan sebuah kesadaran bahwa masih banyak anak muda (termasuk saya sendiri) yang kurang memahami bahasa ibunya.


Bahasa Bali — sepertinya namanya, adalah sebuah media yang digunakan orang Bali dalam berkomunikasi secara lisan satu sama lain. Tidak hanya bahasa saja, Bali juga memiliki tulisan aksara, aksara Bali. Aksara ini terdiri dari 18 hingga 33 aksara dasar tergantung pemakaiannya. Bahasa Bali pun juga banyak dan beragam. Logat Bahasa Bali Utara dan Bali Selatan akan sangat berbeda, dari daerah kabupaten satu dan kabupaten lainnya pun juga berbeda.
Keberagaman bahasa dan aksara inilah yang kemudian dirasakan secara langsung oleh Nyoman Suardika atau yang sering dikenal sebagai Mang Epo. Ia adalah pendiri Sanggar Seni Nong Nong Kling.
Baginya, Bahasa Bali bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan cara orang Bali memahami dirinya sendiri. “Bali itu hebat! Pulau yang kecil ini punya bahasa dan juga aksara, tidak semua daerah bisa punya bahasa dan aksara sekaligus!” jelas Mang Epo dengan tegas bersuara. Pemikiran yang serupa juga menggema dari Ajik Darwin. “Aksara Bali itu kan tidak semua daerah memilikinya. Jadi Bali itu istimewa sekali!”
Walaupun dengan keberagaman bahasa dan aksara yang tersebar di seluruh pulau dewata, generasi anak muda terlihat tidak tertarik bahkan melupakan bahasa Bali. Fenomena ini membuat miris Mang Epo. Baginya masyarakat Bali mulai melenceng, “tyang (saya)miris melihat banyak orang tua yang tidak berbicara berbahasa bali dengan anaknya. Kalau saya selalu mengusahakan berbicara Bahasa Bali dengan anak dan cucu saya,” jelasnya dengan raut kekecewaan.
Tantangan tidak hanya datang dari pelestarian bahasa dan aksara, namun juga dari pelestarian budaya. Sebagai sanggar seni, Sanggar Nong Nong Kling memiliki berbagai aktivitas kesenian. Dimulai dari tarian, tabuh, drama gong, bahkan menciptakan drama kesenian bernama ladrak (lawak drama kreatif) yang sedang digencar mendapatkan Haki oleh Sanggar Nong Nong Kling.
Namun tetap saja peminatan akan seni tetap berkurang. Menurut Ajik Darwin, untuk mendapatkan pemeran putri atau pangeran yang berparas indah, dengan proporsi tubuh yang bagus itu sangat susah — jika dapat pun, menyuruh pemain untuk bermain peran dan mau berbicara Bahasa Bali adalah masalah selanjutnya. Baginya, ini menjadi kekhawatiran. Terlebih Sanggar Nong Nong Kling selalu mendapatkan job untuk mengisi acara di Pesta Kesenian Bali atau sering dikenal dengan PKB.
Sebenarnya Ajik Darwin tidak pesimis, ia hanya menerangkan fenomena yang ia lihat saat ini. Dalam hatinya, ia yakin bahwa kesenian Bali akan kembali dilirik anak muda apabila kesenian tersebut dihadirkan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan dan cara berpikir mereka. Sehingga meningkatkan daya tarik menonton pentas seni, salah satunya adalah pementasan drama modern dengan Bahasa Bali.
Drama Anti Kasta dalam Bulan Bahasa Bali
Sanggar Nong Nong Kling diberikan kesempatan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Bali untuk ikut memeriahkan Bulan Bahasa Bali dengan menampilkan sebuah drama modern berbahasa Bali. Disbud memberikan sebuah cerita novel Mlancaran Ka Sasak dalam bentuk 5 halaman, dan sebuah ketentuan bahwa drama harus ditampilkan selama minimal 45 menit dan kurang dari 1 jam, serta pemain harus berjumlah 41 orang dengan 4 orang sebagai panitia dari Sanggar Nong Nong Kling.
Setelah melakukan pertemuan dan rapat, pada pertengahan bulan Januari, Ajik Darwin mulai menulis naskah untuk dramanya. Dengan bermodal pengalaman menulis beberapa naskah drama gong untuk mengiringi upacara di pura serta mengisi acara di PKB, ia mampu menulis naskah drama ini dalam waktu 10 hari.
Ajik Darwin mengaku dalam proses kreatifnya, ia mengalami banyak kesulitan yang terjadi karena naskah tersebut adalah naskah drama modern pertama yang pernah ia buat. Memang sebelumnya, sanggar ini tidak pernah membuat dan menampilkan penampilan drama modern. “Pernah dulu Disbud beri kami cerita untuk PKB, dan kami jadikan sebagai drama gong. Tapi kali ini baru disuruh bikin drama modern,” terangnya.

Tak hanya Ajik Darwin, Mang Epo selaku pendiri sanggar juga kaget, “Ini sebuah tantangan. Padahal banyak sanggar mementaskan drama modern. Kenapa Nong Nong Kling yang terpilih?” Tapi bagi saya sendiri, Disbud melihat sanggar ini memiliki potensi dan ingin menantang mereka. Sehingganya Sanggar Nong Nong Kling diberikan kepercayaan untuk membuat drama modern.
Walau ini kali pertama dengan banyak proses belajar, Ajik Darwin tetap menyelesaikan naskahnya. Dengan terus mengikuti kegiatan teater Sanggar Selem Putih, dan mendapatkan inspirasi dari mereka. “Ya kita curi-curi idelah dari Putu Satria Kusuma.” Dan dari ilmu-ilmu di sanggar tersebut, dirinya bisa mendapatkan ide adegan dan suasana dalam panggung teater.
***
Ajik Darwin juga seperti mayoritas penulis, membutuhkan tempat yang tenang dan sepi agar bisa lancar berimajinasi. Aktivitas seperti membaca juga tak pernah ia lewatkan. Setelah ia membaca buku novel Mlancaran Ka Sasak, Ajik Darwin menulis ulang cerita tersebut sesuai ketentuan dari pusat dan interpretasi dirinya sendiri.
Menurutnya kisah dalam novel tersebut memiliki makna “anti-feodalisme” atau anti atas sistem kasta di Bali. Buku ini ditulis di tahun 1930-an, sebuah periode ketika perang masih berkecamuk di bumi nusantara, serta kasta masih kental-kental nya dalam sistem bermasyarakat di Bali. Dengan suasana kasta yang kental, buku ini seolah ingin melawan sistem dengan penulisan roman.
Interpretasi ini akhirnya ia kembangkan menjadi sebuah dialog naskah drama. Ia menjelaskan, pada babak pertama dan ketiga, tokoh Ratu Ajik (ayah dari Dayu Priya) selalu memberikan sebuah dialog yang memberikan kesan bahwa walaupun dirinya adalah orang berkasta, Ratu Ajik tidak menjatuhkan orang bawahannya.

Selain dari tokoh Ratu Ajik, interpretasi anti kasta dari Ajik Darwin juga dikembangkan dalam dialog antara Made Sarati dan Dayu Priya. Alih-alih memberikan percakapan romantis untuk menjelaskan hubungan mereka, Ajik Darwin membuat dialog dengan bumbu bladbadan (perumpamaan/teguran yang bersifat humoris) yang biasanya digunakan dalam drama gong.
Cerita ini ditutup dengan tidak memberitahu kepastian dari hubungan antara Made Sarati dan juga Dayu Priya. Ajik Darwin menutup kisah drama dengan membawakan bladbadan yang serupa. “Biarkan saja penonton interpretasikan sendiri hubungan Made sarati dan Dayu Priya,” jawab Ajik Darwin.
Selain itu, ia juga menonton beberapa film untuk proses kreativitasnya, salah satunya adalah Jagad X Code yang memberikannya sebuah ide dalam penataan properti dalam dramanya. Pada babak kedua, ketika Made Sarati, Dayu Priya, dan Luh Sari berada di dalam penginapan daerah Sasak, Ajik Darwin mengambil penataan properti yang mirip pada salah satu adegan di film tersebut — adegan malam hari dengan tiang-tiang sebagai ruangan. Ajik Darwin menggunakan ide properti agar babak kedua terasa lebih hidup.
Setelah naskah sudah dihadirkan, para anak sanggar mulai dilatih. Berawal dari latihan per individu seperti menghafal naskah dengan peran masing-masing, sampai latihan blocking (posisi)antar pemain. Para aktor tidak hanya dari anak sanggar yang berasal dari latar belakang teater tapi juga dari anak sekaa gong Sanggar Nong Nong Kling.
Membawa anak sekaa gong dalam drama teater memberikan rintangan baru bagi Ajik Darwin. Anak sekaa gong yang biasanya bebas bergerak dan bersikap ketika berada di belakang panggung, harus menyesuaikan sikap sesuai peran ketika di atas panggung. “Kalau mereka bercanda atau ketawa-ketawa di atas panggung kan jelek kelihatannya, seperti tidak (serius) digarap,” kata Ajik Darwin kepada saya.
Dengan kondisi seperti ini, pendekatan melalui evaluasi setiap berakhirnya latihan selalu dilakukan. Untuk saling memberikan ilmu, pendapat, dan penilaian kepada masing-masing aktor agar bisa mengecilkan kekurangan yang masih dirasakan. Ajik Darwin berharap dengan pendekatan seperti ini, para aktor — terlebih anak-anak dari sekaa gong — tidak merasa tertekan atau bahkan menyerah di tengah jalan. “Ya mudah-mudahan mereka tidak seperti itu …. Mau ikut belajar, kami semua juga dalam belajar.”
Ada kelompok anak sanggar yang terdiri dari Dea, Nia, Sri dan Santhi yang ingin membagikan cerita. Mereka berasal dari anak teater, bahkan salah satu dari mereka merupakan anggota UKM Teater Kampus Seribu Jendela Undiksha. Walaupun berlatar dari dunia bermain peran, mereka mengaku bahwa latihan blocking membutuhkan tenaga ekstra untuk dikuasai. Dan itu bisa diatasi dengan kekompakan dan latihan bersama-sama.


Selain kesulitan dalam blocking antar pemain, penggunaan dialog Bahasa Bali juga menyulitkan kelancaran pentas mereka. Shanti — aktor dari karakter Luh Sari sekaligus anak dari Mang Epo merasa kesulitan dalam mendalami perannya karena harus menggunakan Bahasa Bali Alus Sor Singgih yang tak ia kuasai, “Kan udah biasa di kota pakai Bahasa Indonesia, jadi saat pakai Basa Alus, sulit untuk mengimbanginya.” Sedangkan untuk ketiga temannya mengaku tidak mengalami masalah karena dialog mereka menggunakan Bahasa Bali sehari-hari, yaitu Bahasa Bali Andap.
Dengan kemampuan berbahasa yang berbeda-beda, tidak mengurangi semangat mereka dalam mempelajari bahasa ibu. Dan dengan adanya drama ini, mereka mempelajari pakem Bahasa Bali dan pelafalannya. Mereka akhirnya menyepakati bersama bahwa penggunaan Bahasa Bali sendiri sangat diperlukan, “Yang disayangkan, banyak sekarang orang Bali gak bisa berbahasa Bali …. Dengan pementasan ini, kita belajar untuk melestarikannya,” kata salah satu dari mereka.
***
Mang Epo, Ajik Darwin, Dea, Nia, Sri, dan Shanti memiliki sekucup harapan dari penampilan mereka pada Bulan Bahasa ini. Harapan untuk mampu melestarikan serta memberikan inspirasi kepada khalayak ramai — terutama anak muda — untuk ikut berpartisipasi untuk menjaga kebudayaan Bali.
Sanggar Nong Nong Kling tidak hanya menjadi perwakilan daerah Banyuning untuk Bulan Bahasa Bali, namun mereka juga perwakilan dari pelestarian budaya dan bahasa daerah Banyuning. Sanggar Nong Nong Kling ada untuk mencoba menghidupkan kembali daya tarik kesenian Bali — terlebih kesenian gong drama. Sanggar ini membangkitkan kesenian tersebut, menjadikan mereka satu-satunya sanggar yang memiliki drama gong.
Sama halnya dengan Bahasa Inggris maupun Bahasa Jepang, Bahasa Bali juga bisa dikuasai dengan keinginan, konsistensi, dan praktik berbicara sehari-hari. Dengan lampu sorot dan alunan kidung Renganis yang khas, anak-anak Sanggar Nong Nong Kling — baik muda maupun lanjut usia — seolah kembali ke sebuah masa yang jauh. Di sanalah bahasa tidak lagi berdiri sebagai hafalan atau aturan, melainkan sebagai perilaku: cara berbicara, bersikap, dan memandang dunia, yang diwariskan oleh para leluhur dari satu generasi ke generasi berikutnya. [T]
Reporter: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani, Amanda Harum Puspita, Ni Ketut Winda Ari Yanti
Fotografer: Ni Ketut Winda Ari Yanti
Penulis: Made Ayu Radha Dwi Pradnyani
Editor: Adnyana Ole
- Catatan: Artikel ini adalah hasil pelatihan menulis dalam program PKL atau magang siswa SMK TI Global di tatkala.co



























