1 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Misteri Lukisan yang Hidup

Chusmeru by Chusmeru
February 5, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MENDENGAR nama Bali, setiap orang pasti ingin mengunjunginya. Mendapat julukan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura, Bali memiliki segalanya. Alam yang indah, tradisi dan budaya yang masih kuat, serta beragam objek wisata yang banyak diburu turis asing maupun domestik. Bali menjadi impian banyak orang.

Entah satu kebetulan, nasib, atau apa namanya, di akhir tahun 1986 aku mendapatkan Surat Keputusan (SK) untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi di Denpasar, Bali. Padahal saat itu aku masih menjadi tenaga pengajar di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, Jawa Barat. Lama aku berpikir. Aku memang pernah ke Bali, tapi hanya sebentar ketika piknik bersama teman-teman sekolah. Sedangkan aku akan menjadi dosen yang harus menetap selamanya di Bali.

Aku diskusikan ini dengan istri, kedua orang tua, dan mertuaku. Ada rasa senang dan bingung juga untuk pindah tugas ke Bali. Senang lantaran bekerja di daerah yang sudah tersohor di dunia dan banyak wisatawan. Bingung karena saat itu anakku masih balita. Aku tidak punya sanak famili di Bali. Bagaimana dengan masalah tempat tinggal nanti. Apalagi sebagai dosen yang masih berstatus calon pegawai negeri sipil, gaji saat itu masih di bawah 100 ribu per bulan.

Lama aku dan istri berpikir, hingga pada akhirnya diputuskan untuk melaksanakan tugas itu. Untuk sementara istri dan anakku belum kuajak, karena masih belum ada kejelasan tentang tempat tinggal. Kebetulan aku mendapat cerita dari teman sekolah, ada kakak kelasku di SMP yang bekerja di Bali. Siapa tahu dia dapat menolong untuk aku tinggal sementara.

Berbekal pakaian seadanya dan beberapa dokumen penting aku berangkat naik kereta api ke Yogya, disambung naik bus dari Yogya ke Denpasar. Sepanjang perjalanan aku bayangkan banyak hal, dari yang menyenangkan hingga kemungkinan akan berhadapan dengan banyak masalah selama di Bali. Apakah aku akan betah tinggal di Bali nantinya?

Setelah kapal yang membawa bus menyeberangi Selat Bali, hingga tiba di Gilimanuk, mulai tampak gambaran tentang Bali. Sepanjang perjalanan menuju Denpasar, di kiri dan kanan jalan terlihat rumah-rumah adat Bali dengan pura yang khas. Tampak pula masyarakat Bali yang berjalan dengan pakaian adat sambil membawa sesaji. Sungguh pemandangan yang indah, yang tak pernah aku jumpai saat tinggal di Jawa.

Bersyukur, temanku yang bekerja di sebuah BUMN di Bali menerimaku dengan senang hati. Ia mempersilakan aku tinggal di mess yang ia tempati sampai aku dapat tempat tinggal sendiri. Lelah perjalanan dari Jawa ke Bali terbayarkan oleh sikap baik teman sekolahku yang mengizinkanku tinggal sementara bersamanya. Beberapa bulan setelah itu, aku mengajak istri dan anakku untuk tinggal bersama di Bali di rumah kontrakan. Aku baru bisa memiliki rumah sendiri setelah diangkat menjadi PNS dan telah menyelesaikan pendidikan magister.

***

Awal menjadi dosen di Bali, banyak hal yang harus aku pelajari. Mulai dari bahasa daerah Bali yang masih asing di telingaku, hingga makanan yang halal. Maklum saat itu, Bali belum seramai sekarang. Warung makan yang menyajikan menu halal masih sangat sedikit. Perlahan aku belajar banyak, termasuk belajar tentang tradisi, adat istiadat, sampai budaya Bali.

Untuk masalah tradisi aku tak begitu masalah. Sejak kecil aku memang suka belajar tradisi di kota asalku, Cilacap, Jawa Tengah. Beberapa pura yang dianggap keramat dan sakral sudah aku datangi. Aku juga banyak berteman dengan beberapa pemangku dan pedanda (tokoh agama Hindu) di Bali. Selain itu aku juga mulai banyak mengenal tokoh masyarakat, aktivis mahasiswa, LSM, pengusaha, dan politisi. Aku mulai merasakan kenyamanan tinggal di Bali.

Mengajar di program studi pariwisata membuatku sering melakukan perjalanan ke objek wisata untuk kepentingan penelitian dan pengabdian masyarakat. Hampir semua objek wisata di Bali sudah aku datangi, mulai dari barat di Jembrana, di timur Karangasem, dan di utara Buleleng. Semua membuat aku semakin betah di Bali.

Hingga suatu waktu di tahun 2000, ada pameran tunggal lukisan di Forum Merah Putih, di kompleks pertokoan Renon, Denpasar.  Pelukis yang tampil bernama Putu “Bonuz” Sudiana yang berasal dari Nusa Penida. Pelukis muda kelahiran tahun 1972 itu menurutku luar biasa. Lukisannya yang abstrak begitu kuat dari sisi goresan garis dan warna.

Hampir semua karya pelukis yang biasa dipanggil Bonuz itu metaksu, atau memiliki kekuatan magis. Tak heran jika banyak pengunjung yang datang saat itu. Aku memprediksi dia akan menjadi pelukis besar di Bali kelak.

Aku tidak mengenal pelukis itu. Tapi entah kenapa aku ingin bertemu dan berkenalan dengannya. Di sela-sela pameran, dan di saat pengunjung sudah tampak sepi, aku mendekati Bonuz untuk berbincang. Orangnya ramah, banyak tawa, dan ceplas-ceplos gaya bicaranya. Namun saya melihat dia memiliki kharisma yang tersembunyi. Ada pancaran supranatural yang keluar dari tubuhnya.

Perbincangan mengalir. Entah mengapa, muncul gagasan dariku untuk meminta Bonuz melukis tentang sosok yang selama ini dianggap mitos, tapi banyak dipercaya orang, Nyi Roro Kidul. Perempuan mitologis dari Pantai Selatan. Di daerah asalku Cilacap, Nyi Roro Kidul dipercaya masyarakat nelayan sebagai sosok penguasa lautan. Karenanya, setiap bulan Suro kalender Jawa, dilakukan tradisi sedekah laut.

“Bisa minta tolong dilukiskan Nyi Roro Kidul, Tu?” pintaku saat itu. Meskipun aku tahu Putu Bonuz Sudiana adalah pelukis abstrak.

Bonuz terkejut. Lama dia memandangi aku, seolah tak percaya pada permintaanku. Wajahnya tampak ragu, takut, dan merinding. Cukup lama dia terdiam. Aku pun tak tahu apa yang ada di benaknya. Sambil mengisap rokoknya, ia berkata.

“Tiyang nyungsung Kanjeng Ratu, Pak,” ucapnya lirih. Kurang lebih artinya: “Saya menghormati atau memuja Kanjeng Ratu.”

Aku kaget juga. Kupikir Nyi Roro Kidul hanya dikenal di Jawa. Ternyata mitologi Penguasa Pantai Selatan itu juga dikenal di Bali. Ada yang menyebutnya Kanjeng Ratu, ada juga yang menyebut Ibu Ratu. Rupanya pelukis muda ini juga mengagumi Nyi Roro Kidul. Aku pikir mungkin karena dia berasal dari Nusa Penida, pulau kecil di selatan Bali yang dikelilingi pantai.

Putu Bonuz Sudiana akhirnya menyanggupi untuk melukis Nyi Roro Kidul. Memang banyak beredar di masyarakat lukisan Nyi Roro Kidul di berbagai tempat. Banyak versi. Namun umumnya berlatar belakang lautan. Digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik.

Hanya perlu waktu kurang dari satu minggu, Bonuz menyelesaikan lukisan itu. Ia membawa sendiri lukisan itu ke rumahku siang hari, tepat di hari Kamis, Mapag Kajeng Kliwon. Hari  yang sakral di Bali. Begitu diserahkan, aku merasa merinding. Ada sesuatu yang aneh pada lukisan itu. Seolah lukisan itu hidup. Tersenyum tipis, namun tampak berwibawa. Lama aku pandangi lukisan Nyi Roro Kidul yang dibuat oleh pelukisnya sedikit abstrak. Semakin lama memandang, bulu kuduk semakin berdiri.

 ***

Menjelang senja lukisan itu aku pasang di teras rumah. Harapanku agar bisa kulihat setiap aku duduk di teras sambil menikmati sebatang rokok. Aku juga ingin agar tamu yang datang ke rumah dapat melihat lukisan itu.

Malam pun tiba. Entah mengapa, tengah malam aku ingin ke teras melihat lukisan Nyi Roro Kidul. Mendadak suasana merinding aku rasakan. Angin lembut bertiup ke arah teras rumah. Tercium aroma bunga melati. Padahal tetanggaku tidak ada yang menanam bunga melati. Kunyalakan sebatang rokok sambil terus memandangi lukisan itu dengan dada berdebar.

Tepat pukul 12 malam lampu di teras tiba-tiba padam. Bukan hanya di rumahku. Lampu di semua perumahan tempat aku tinggal juga padam. Aku terkejut. Aroma bunga melati kian keras tercium. Bulu kudukku berdiri. Cukup lama lampu padam. Aku menduga ada pemadaman dari PLN. Tapi mengapa tengah malam? Biasanya pemadaman listrik terjadi pagi atau siang hari.

“Silakan kalau berkenan tinggal di rumah saya..,” ucapku spontan tertuju pada lukisan itu.

Aneh. Begitu ucapanku selesai, lampu kembali menyala. Aku semakin merinding. Kupandangi lagi lukisan yang penuh misteri itu, seolah tersenyum kepadaku. Aku jadi ingat Putu Bonuz Sudiana, sang pelukis. Dia pernah mengatakan nyungsung Nyi Roro Kidul. Apakah lukisan itu dipasopati oleh Bonuz sehingga metaksu, seolah memiliki kekuatan magis yang hidup?

Kejadian misterius muncul setelah lukisan itu terpajang di rumahku. Malam Jumat Kliwon berikutnya, istriku antara sadar dan tidur, didatangi wanita cantik berbaju hijau sambil membawa gebogan. Di Bali, gebogan merupakan sesaji atau persembahan umat Hindu yang berbentuk tumpukan buah-buahan, jajanan, dan bunga yang disusun menyerupai gunung dengan bagian atas yang lebih mengerucut, dilengkapi hiasan janur. Wanita itu tersenyum ke arah istriku. Wajah wanita itu mirip seperti Nyi Roro Kidul yang sering terlihat di banyak lukisan. Tentu saja istriku kaget, dan terbangun.

Peristiwa misterius juga dialami tetanggaku di perumahan, dan hal itu ia ceritakan kepadaku. Suatu malam, saat ia dapat giliran ronda, ia mendengar gemerincing suara kereta kuda melintas di jalanan. Ia penasaran, tengah malam ada delman masuk ke area perumahan. Perlahan ia ikuti dari jarak yang agak jauh, ke mana arah kereta itu.

Betapa terkejut dia, delman itu mirip kereta kencana yang berhenti di depan rumahku. Bau harum bunga melati mengiringi kereta itu. Ia merinding, sedikit ketakutan. Ketika ia mencoba mendekat untuk mengetahui siapa penumpang di dalamnya, kereta kencana itu tiba-tiba menghilang.

Suatu saat, Jro Mangku Lanang Pura Melanting di banjar (lingkungan) perumahanku datang ke rumah. Ia didampingi Jro Mangku Istri. Jro Mangku adalah orang atau pemangku yang bertanggung jawab mengabdi dan melayani umat di pura, sedangkan Jro Mangku Istri adalah sebutan untuk pemangku wanita atau istri dari Jro Mangku Lanang. Mereka berdua memang akrab denganku, sering diskusi masalah-masalah spiritual. Kebetulan ada beberapa kemiripan antara konsep spiritualitas di Jawa dan di Bali. Mereka berdua memandangi lukisan Nyi Roro Kidul di teras rumahku.

“Bagus lukisan Kanjeng Ratu ini, Pak. Seperti hidup..,” kata Jro Mangku Istri sambil menunjukkan raut muka seperti merinding dan ketakutan.

Aku hanya mengucapkan terima kasih sambil ikut memandangi lukisan itu. Setiap tamu yang datang ke rumah selalu mengomentari lukisan itu. Muncul di benakku untuk menyimpan lukisan itu di dalam kamar saja. Jika terpasang di teras, aku khawatir lukisan itu akan kotor terkena debu.

***

Pertemanan aku dengan Putu Bonuz Sudiana semakin akrab. Aku beberapa kali berkunjung ke rumahnya. Dia pun sering berkunjung ke rumahku. Bahkan beberapa kali ia tangkil (bersembahyang) di Pura Pasar Agung dan Pura Melanting yang ada di banjar perumahanku.

Suatu saat, Bonuz juga membuatkan aku lukisan Semar, salah satu tokoh punakawan dalam pewayangan Jawa. Sama seperti lukisan Nyi Roro Kidul, lukisan Semar juga dibuat sedikit abstrak. Namun hasilnya luar biasa. Lukisan Semar memiliki aura magis, seolah hidup.

Hubungan pertemanan semakin kuat, seolah seperti layaknya saudara sendiri. Aku mencoba mengenalkan Bonuz dengan beberapa tokoh masyarakat, pejabat, dan pengusaha di Bali. Maklum saat itu Bonuz baru sedang melangkah untuk menjadi pelukis, di tengah persaingan dunia seni rupa yang begitu ketat di Bali. Setiap Bonuz pameran, aku kirim undangan kepada teman-teman sejawatku untuk hadir. Beberapa ada yang sempat hadir. Satu kebanggaan saat itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali hadir dan mengoleksi lukisannya.

Suatu waktu, Bonuz aku ajak berkunjung ke rumah Wakil Gubernur Bali sambil membawa satu lukisan yang dberi judul “Lorong Waktu”. Wakil Gubernur takjub dengan lukisan Bonuz, dan langsung mengoleksinya. Bangga tentu. Lukisan itu dipajang di rumah seorang pejabat penting di Bali.

Nama Putu Bonuz Sudiana mulai dikenal publik. Agenda pameran lukisan tunggal maupun bersama rekan mulai sering dilakukan. Beberapa kali ia memberikan lukisan yang dipamerkan kepadaku. Dia akan marah bila aku tak mau menerimanya. Serba tidak enak bagiku, sebab lukisan Bonuz saat itu sudah dibandrol dengan harga di atas satu juta rupiah. Namun sebagai bentuk keikhlasan dan persahabatan, aku terima lukisan itu dan aku pajang di rumah.

Pernah suatu kali Bonuz aku ajak menemui putra seorang pemilik media cetak ternama di Bali. Selain berdiskusi masalah seni dan spiritual, Bonuz juga membawa lukisan Bathara Narada, tokoh dewa dalam pewayangan. Lukisan itu disambut dengan suka cita, dan dipasang di ruang kerja anak pemilik koran terbesar di Bali itu.

Pelukis muda dari Nusa Penida itu kian bersinar. Berbagai media meliput aktivitas berkeseniannya. Ia mulai pameran tunggal bukan hanya di Bali, tetapi juga di beberapa kota di Indonesia, dan juga di luar negeri. Putu Bonuz Sudiana menjadi pelukis yang memiliki jatidiri yang khas, unik, nyentrik, dan humoris.

Hingga tiba suatu ketika, aku mengabarkan sesuatu yang membuatnya terkejut. Di penghujung tahun 2007 aku memberitahunya, bahwa aku akan pindah tugas ke Purwokerto, Jawa Tengah. Bonuz terkejut dan terdiam. Persahabatan ini terasa begitu cepat berlalu. Namun kenangan indah bersama tentu akan teringat sepanjang masa.

Komunikasi dengan Bonuz tak pernah terhenti. Sesekali ia juga menelpon aku dan melakukan panggilan video. Putu Bonuz Sudiana kini telah menjadi pelukis papan atas di Bali. Dan hasil karyanya, lukisan Nyi Roro Kidul itu masih aku simpan dengan baik di kamar tidurku. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mencegah Kanker dengan Gaya Hidup Sehat dan Gizi Seimbang — Refleksi Hari Kanker Sedunia 2026

Next Post

21 Kantong Harapan di HUT ke-17 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar: Ketika Donor Darah Menjadi Pelajaran Kemanusiaan

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Kemping yang Mencekam

by Chusmeru
October 15, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Suara dari Dalam Lemari

by Chusmeru
September 17, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails
Next Post
21 Kantong Harapan di HUT ke-17 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar: Ketika Donor Darah Menjadi Pelajaran Kemanusiaan

21 Kantong Harapan di HUT ke-17 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar: Ketika Donor Darah Menjadi Pelajaran Kemanusiaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026
Bahasa

Menakar Diksi “Pemuda Bersuara dan Berdaya”: Refleksi Kebahasaan di Panggung KPB 2026

SAYA merasa bangga dan terharu melihat pemuda Bali dalam ajang Konferensi Pemuda Bali (KPB 2026). Betapa tidak, tagar #PemudaBersuaraBerdaya ini membuat...

by I Made Sudiana
November 1, 2026
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik
Esai

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual
Esai

Sapi Bali, Ayah, dan Kenangan yang Tak Pernah Dijual

SETIAP kali melihat lukisan sapi, ingatan saya selalu kembali ke masa kecil di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali....

by I Wayan Artika
November 1, 2026
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak
Khas

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

by Emi Suy
November 1, 2026
Saraswati dan Kenaikan Kelas
Esai

Saraswati dan Kenaikan Kelas

ADA suasana yang hampir selalu sama setiap kali tahun pelajaran berakhir. Wajah-wajah murid tampak sumringah ketika menerima rapor. Sebagian tersenyum...

by I Wayan Yudana
October 31, 2026
Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital
Esai

Duta Pustaka Bergerak: Dosen UPNVJ Dorong Gen-Z SMAN 7 Kota Bengkulu Jatuh Cinta pada Perpustakaan Digital

BAGAIMANA jika perpustakaan sekolah tidak lagi sekadar ruang sunyi berisi rak buku, tetapi tempat yang "hidup" dan ada di genggaman...

by tatkala
October 31, 2026
Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda
Kuliner

Legenda Warung Kopi Tak Bernama di Kota Pelabuhan, Seberang Gardu Listrik Belanda

PAGI-PAGI, Jalan Surapati di Singaraja memiliki kehidupan yang berbeda. Di antara bangunan-bangunan tua yang menyimpan ingatan masa kolonial, ada sebuah...

by I Wayan Artika
October 31, 2026
Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung
Panggung

Ketika Novel “Yang Mulia (The Majesties)” karya Tiffany Tsao Pulang Kampung

HUJAN deras mengguyur Ubud pada Sabtu sore, 24 Oktober 2026. Namun, di Rumah Kayu, Taman Baca Ubud, suasana tetap hangat...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?
Esai

Buku-Buku yang Dipuja, Sudahkah Kita Baca?

ADA satu hari ketika buku-buku diupacarai. Buku pelajaran, buku cerita, kitab suci, hingga lontar-lontar tua mendapat perlakuan istimewa. Semuanya ditata...

by Dede Putra Wiguna
October 31, 2026
Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan
Esai

Saraswati dan Wajah Kedamaian Bali — Ketika Ilmu Pengetahuan Diuji oleh Realitas Kehidupan

BALI dikenal sebagai Pulau Dewata, sebuah pulau yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan tradisi, spiritualitas, dan nilai-nilai...

by Luh Irma Susanthi
October 31, 2026
Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari
Budaya

Taman Pecangakan Disulap Jadi Playground Kreatif, Jembrana Creative Festival Digelar Dua Hari

AKHIR pekan ini, Taman Pecangakan di jantung Kota Negara, Jembrana, punya agenda yang berbeda dari biasanya. Selama dua hari, Sabtu–Minggu,...

by tatkala
October 30, 2026
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek
Khas

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co