23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mencegah Kanker dengan Gaya Hidup Sehat dan Gizi Seimbang — Refleksi Hari Kanker Sedunia 2026

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 5, 2026
in Esai
Mencegah Kanker dengan Gaya Hidup Sehat dan Gizi Seimbang — Refleksi Hari Kanker Sedunia 2026

Ilustrasi tatkala.co | Canva

KETIKA kanker memasuki kehidupan seseorang, jarang ada yang benar-benar siap menghadapinya. Vonis kanker yang kerap kali datang tiba-tiba, menggoyahkan bahkan mengguncang rencana, kebiasaan sehari-hari, bahkan cara seseorang membayangkan masa depannya. Menjadi penyintas kanker bukanlah kisah singkat, tetapi rangkaian perjalanan panjang yang menuntut daya tahan tubuh, kekuatan batin, dan kestabilan emosi. Setiap fase terapi menghadirkan ujian berbeda—dari rasa lelah berkepanjangan, nyeri, sampai perubahan fisik yang dapat memengaruhi kepercayaan diri serta mutu hidup.

Bagi mereka yang mendampingi, beban yang dirasakan juga besar. Mendampingi penyintas berarti belajar tegar di tengah ketidakpastian, merawat optimisme saat hasil belum menentu, serta menata ulang irama kehidupan keluarga. Tersimpan kegelisahan yang jarang diungkap, keletihan yang kerap dipendam, dan usaha tanpa henti untuk tetap ada bagi orang tercinta, walau diri sendiri pun sebenarnya rentan. Dalam situasi ini, kanker tidak semata menjadi persoalan kesehatan, melainkan juga tekanan emosional dan sosial yang dipikul bersama.

Di sanalah kita belajar bahwa pencegahan bukan sekadar pilihan hidup sehat, melainkan sebuah harapan. Harapan agar lebih sedikit individu dan keluarga harus menjalani jalan yang berat ini. Refleksi inilah yang menjadikan pencegahan—melalui gaya hidup sehat dan gizi seimbang—bukan hanya rekomendasi kesehatan, tetapi sebuah ikhtiar kemanusiaan.

Setiap tanggal 4 Februari, dunia memperingati Hari Kanker Sedunia sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran, mendorong pencegahan, serta memperkuat solidaritas dalam menghadapi kanker. Tema Hari Kanker Sedunia 2026, United by Unique, mengingatkan bahwa setiap individu memiliki pengalaman yang berbeda dalam menghadapi kanker, namun disatukan oleh tujuan yang sama: hidup lebih sehat, lebih adil, dan lebih bermakna.

Di Indonesia, refleksi Hari Kanker Sedunia menjadi semakin relevan mengingat beban kanker yang terus meningkat. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi tumor atau kanker meningkat dari 1,4 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi sekitar 1,8 per 1.000 penduduk pada 2018. Sementara itu, data Globocan mencatat ratusan ribu kasus baru kanker setiap tahunnya, dengan kanker payudara dan serviks pada perempuan serta kanker paru dan kolorektal pada laki-laki sebagai jenis yang paling banyak ditemukan. Fakta ini menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa ditunda lagi dan harus dimulai dari faktor yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: gaya hidup dan gizi.

Kanker, Gaya Hidup, dan Pilihan Sehari-hari

Kanker bukan semata-mata persoalan genetika atau takdir. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa gaya hidup berperan besar dalam meningkatkan maupun menurunkan risiko kanker. Merokok, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, serta pola makan yang tidak seimbang merupakan faktor risiko utama yang sebenarnya dapat dimodifikasi.

Dalam kerangka ini, asupan gizi yang seimbang menjadi faktor yang sangat penting. Pola konsumsi yang banyak bertumpu pada pangan dengan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh yang tinggi, semakin lazim di era dewasa ini dan turut meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker. Sebaliknya, pola makan yang menekankan buah dan sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein bermutu membantu menjaga kesehatan sel dan memberi efek perlindungan bagi tubuh dalam jangka panjang.

Peran Gizi Seimbang dalam Pencegahan Kanker

Gizi yang seimbang bekerja melalui rangkaian proses biologis kompleks yang saling mendukung satu sama lain, dan ini didukung oleh bukti empiris dari penelitian ilmiah. Misalnya, buah-buahan dan sayuran kaya akan antioksidan seperti vitamin C, karotenoid, dan polifenol yang secara biologis melindungi sel dari kerusakan oksidatif dan DNA yang disebabkan oleh radikal bebas. Hal ini tentunya menjadi satu mekanisme penting dalam pencegahan kanker. Penelitian global menunjukkan bahwa rendahnya asupan buah dan sayuran dikaitkan dengan persentase kematian akibat kanker dan penyakit tidak menular lainnya, yang menunjukkan pentingnya antioksidan dalam diet untuk kesehatan jangka panjang.

Selain itu, serat makanan dari biji-bijian utuh, buah, dan sayuran memiliki peran penting dalam menjaga fungsi saluran cerna, memperlancar pencernaan, serta membantu mengatur metabolisme hormon dan kadar gula darah. Pola metabolik yang tidak seimbang, seperti obesitas dan resistensi insulin telah terbukti secara ilmiah meningkatkan risiko beberapa jenis kanker karena pengaruhnya terhadap peradangan kronis dan regulasi hormon. Dengan demikian, diet seimbang tidak hanya memenuhi kebutuhan energi harian, tetapi juga berfungsi sebagai strategi biologis yang berdasar bukti untuk menjaga keseimbangan internal tubuh dan mengurangi risiko penyakit jangka panjang termasuk kanker.

Gizi, Berat Badan, dan Risiko Kanker

Kelebihan berat badan dan obesitas sekarang makin sering dikaitkan dengan risiko kanker. Lemak tubuh yang berlebih ternyata tidak hanya “diam” di dalam tubuh, tetapi bisa memicu peradangan ringan yang terjadi terus-menerus. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat tubuh berada dalam situasi yang kurang sehat dan memberi peluang bagi sel-sel abnormal untuk tumbuh. Obesitas juga berhubungan dengan perubahan hormon dan kadar gula darah yang tidak stabil, yang pada beberapa jenis kanker dapat memperbesar risiko.

Di Indonesia, jumlah orang dengan berat badan berlebih terus meningkat. Pola makan yang tinggi kalori tapi rendah gizi, kebiasaan minum minuman manis, porsi makan yang berlebihan, serta gaya hidup yang makin minim gerak ikut berperan. Banyak orang menghabiskan waktu duduk berjam-jam baik di kantor, di kendaraan, atau bahkan di depan gawai, yang umumnya tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup. Perubahan gaya hidup inilah yang pelan-pelan mendorong naiknya angka obesitas di berbagai usia.

Langkah pencegahan sebenarnya cukup dekat dengan keseharian kita. Menerapkan pola makan gizi seimbang dengan lebih banyak sayur, buah, sumber protein yang baik, dan membatasi makanan tinggi gula, garam, serta lemak tentunya akan menjadi awal yang kuat. Ditambah dengan kebiasaan aktif bergerak, seperti jalan kaki, bersepeda, atau olahraga ringan yang dilakukan rutin, tubuh bisa lebih mudah menjaga berat badan tetap ideal.

Menjaga berat badan sehat bukan sekadar urusan penampilan, tetapi soal merawat tubuh agar tetap kuat dalam jangka panjang. Berat badan yang terkontrol membantu menurunkan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk kanker. Jadi, langkah sederhana seperti memilih makanan yang lebih sehat dan lebih sering bergerak setiap hari sebenarnya adalah investasi besar untuk masa depan kesehatan kita.

Peran Gizi Tidak Berhenti pada Pencegahan

Peran gizi tidak berhenti pada upaya pencegahan, tetapi tetap penting setelah seseorang didiagnosis kanker. Banyak pasien mengalami penurunan selera makan, berat badan yang terus turun, bahkan kekurangan gizi. Kondisi ini bisa membuat tubuh semakin lemah, proses pemulihan melambat, dan terapi menjadi terasa lebih berat. Karena itu, asupan makan yang tepat membantu menjaga tenaga, memperkuat daya tahan tubuh, dan membuat pasien merasa lebih nyaman menjalani pengobatan.

Dalam praktiknya, pemenuhan gizi bagi pasien kanker tidak bisa disamaratakan. Setiap orang memiliki kondisi tubuh, efek samping terapi, kebiasaan makan, dan latar budaya yang berbeda. Ada pasien yang sulit makan karena mual, ada yang cepat kenyang, ada pula yang mengalami perubahan rasa pada makanan. Semua ini perlu dipahami agar strategi makan bisa benar-benar membantu, bukan sekadar memenuhi anjuran umum.

Sejalan dengan semangat United by Unique, pendekatan gizi sebaiknya disesuaikan secara personal. Artinya, rencana makan dibuat berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masing-masing pasien, dengan mempertimbangkan makanan yang familiar, mudah diterima, dan sesuai kondisi kesehatannya. Dengan pendekatan yang lebih individual, dukungan gizi tidak hanya membantu kondisi fisik, tetapi juga memberi rasa diperhatikan dan didampingi dalam proses pengobatan.

Pencegahan Kanker sebagai Tanggung Jawab Bersama

Hari Kanker Sedunia mengingatkan bahwa pencegahan kanker bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan. Edukasi gizi dan promosi gaya hidup sehat perlu melibatkan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas. Meja makan keluarga, kantin sekolah, dan pilihan pangan sehari-hari merupakan ruang strategis untuk membangun kebiasaan sehat sejak dini.

Tanpa lingkungan yang mendukung, perubahan perilaku individu akan sulit dipertahankan. Oleh karena itu, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang lebih sadar gizi dan berorientasi pada pencegahan penyakit.

Penutup

Di tengah meningkatnya beban kanker di Indonesia, gaya hidup sehat dan gizi seimbang merupakan strategi pencegahan yang rasional, terjangkau, dan berkelanjutan. Meskipun tidak semua kanker dapat dicegah, bukti ilmiah menunjukkan bahwa risiko dapat ditekan melalui pilihan hidup yang lebih sehat. Pada Hari Kanker Sedunia 2026, refleksi ini menjadi pengingat bahwa upaya melawan kanker tidak selalu dimulai di ruang perawatan atau teknologi canggih, melainkan dari keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari—apa yang kita makan, bagaimana kita bergerak, dan bagaimana kita merawat tubuh sendiri.

Dalam perspektif kebijakan kesehatan publik, pencegahan kanker melalui gaya hidup sehat dan gizi seimbang perlu ditempatkan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar tanggung jawab individu. Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat integrasi edukasi gizi dalam program pencegahan penyakit tidak menular, mulai dari layanan kesehatan primer, sekolah, hingga komunitas. Kebijakan pangan yang mendorong ketersediaan dan keterjangkauan pangan sehat, pengendalian pemasaran makanan ultra-olahan, serta penguatan kapasitas tenaga kesehatan dalam konseling gizi preventif merupakan langkah strategis yang berdampak luas. Tanpa pendekatan kebijakan yang sistemik dan berkelanjutan, beban kanker akan terus meningkat dan menekan sistem kesehatan nasional. Hari Kanker Sedunia 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa pencegahan kanker harus dimulai dari hulu—melalui kebijakan yang berpihak pada hidup sehat. [T]

Penulis: I Putu Suiraoka
Editor: Adnyana Ole

Tags: giziHari Kanker Seduniakesehatanmakanan bergizi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Kokurikuler Menjadi Gerakan: ‘ECO-VOICES’ dan Suara Bumi dari Generasi Muda Griasta

Next Post

Misteri Lukisan yang Hidup

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Misteri Lukisan yang Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co