ALUNAN suling mengalun lebih dulu, lirih dan mendayu, seperti embusan angin yang menyusup di sela dedaunan. Nada-nada itu kemudian disambut denting gong pulu yang tenang, membangun ruang dengar yang sejuk. Dalam beberapa tarikan napas, Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar, Sabtu malam, 24 Januari 2026 berubah menjadi taman imajiner ─ tempat bunyi tumbuh perlahan, menuntun penonton masuk ke suasana alam yang asri dan damai.
Itulah yang terjadi saat garapan karawitan berjudul ‘Tetaman’ dipentaskan. Karya ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian Gelar Karya Kreativitas Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali. Disajikan dalam format gong suling yang lembut dan digambarkan sebagai ruang hidup penuh keindahan ─ sebuah ajakan untuk merenung, menjaga, serta mencintai lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.
‘Tetaman’ digarap oleh tiga mahasiswa semester lima: I Komang Agus Yudha Prawira, I Made Jaya Kusuma, dan Dewa Made Satria Dwipayana Putra. Yudha bercerita, ide karya ini lahir dari pengalaman paling dekat, yaitu desa masing-masing ─ lanskap alam asri yang tumbuh bersama keseharian mereka.
“Konsepnya alam. Kami berkaca dari keindahan alam di desa kami masing-masing, makanya kami memberi judul ‘Tetaman’ yang berarti ‘taman’. Inspirasi kami tidak rumit, kami hanya berusaha merangkai suasana alam itu agar terwujud dan terasa dalam garapan karawitan,” ujar Yudha.

Kesederhanaan konsep itu justru menjadi kekuatan. Alur musikal disusun mengalun, memberi ruang bagi suling untuk bercerita, sementara perangkat gamelan lainnya menghadirkan fondasi yang menenangkan.
Garapan ini juga menarik karena dibagi menjadi tiga bagian, sesuai dengan pembagian peran kreatif ketiganya. Dewa Dwipayana menata bagian pembuka, menekankan pengenalan karakter gending dan suasana awal. Made Jaya mengolah bagian tengah, memperkaya motif serta dinamika sebagai pengembangan rasa musikal. Yudha kemudian menutup keseluruhan rangkaian, menyatukan ide menjadi satu tubuh karya yang utuh. Pembagian ini bukan sekadar teknis, melainkan pernyataan sikap bahwa keberagaman gagasan bisa bertemu dalam satu komposisi yang saling menguatkan.
Pilihan gong suling sendiri bukan tanpa pertimbangan. Menurut mereka, instrumen ini memiliki karakter bunyi yang lembut dan halus, bernafaskan estetika klasik Bali, namun tetap memberi ruang luas untuk eksplorasi rasa. Mereka ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dari garapan lain. Selain itu, juga lebih sederhana secara perangkat, namun kaya secara pengalaman dengar.

Di balik ketenangan yang sampai ke telinga penonton, proses menuju panggung ternyata penuh negosiasi waktu. Ketiganya melibatkan Sanggar Dhanan Jaya, Cemagi ─ tempat mereka magang selama tiga bulan, dengan para pendukung karya yang sebagian besar merupakan remaja SMA hingga yang sudah bekerja.
“Kendala paling berat itu mengatur waktu latihan. Seminggu kami hanya bisa bertemu dua kali, dan seluruh proses tidak sampai sebulan. Walaupun begitu, kemampuan para pendukung karya sangat bisa diandalkan. Keterbatasan waktu justru menempa kekompakan, memadatkan fokus, dan memurnikan tujuan kami,” kata Yudha.
Ada pula dimensi janji yang mengikat proses ini. Jauh sebelum magang dimulai, mereka sudah merencanakan konsep ‘Tetaman’, bahkan berkomitmen kepada ketua Sanggar Dhanan Jaya untuk mempersembahkan sebuah karya gong suling yang melibatkan teman-teman serta anak-anak sanggar. Janji itu akhirnya terbayar di Ksirarnawa.
Ketika pementasan usai dan tepuk tangan mengalir, kebanggaan tak bisa disembunyikan. Bagi mereka, bisa menampilkan karya di gedung semegah Ksirarnawa adalah pengalaman yang menggetarkan. Terlebih, mereka merasa membawa warna berbeda. Dari segi instrumen dan kelengkapan yang relatif sederhana, tanpa membebani penyaji maupun pendukung karya, tetapi tetap mampu menyampaikan pesan secara apik.

Jika ditarik ke dalam kearifan lokal Bali, garapan ‘Tetaman’ juga selaras dengan konsep Tri Hita Karana, terutama aspek Palemahan ─ hubungan harmonis manusia dengan alam. Melalui alunan gong suling yang tenang dan komposisi yang mengalir alami, karya ini menghadirkan refleksi tentang pentingnya menjaga keseimbangan ruang hidup. Alam tidak ditempatkan sebagai latar semata, melainkan sebagai subjek yang diajak berdialog lewat bunyi. Dalam konteks ini, ‘Tetaman’ seolah menerjemahkan prinsip Palemahan ke dalam bahasa karawitan. Menjadi pengingat bahwa manusia tumbuh bersama alam, dan karenanya manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat, bukan hanya menikmati.
Secara tematik, ‘Tetaman’ sejalan dengan tema utama gelar karya, ‘Citta Nirbhana’ ─ ruang pembebasan batin, tempat pikiran yang merdeka melahirkan ekspresi yang jujur, reflektif, dan transformatif. Dalam konteks itu, ‘Tetaman’ hadir sebagai jeda kontemplatif. Ia tidak berteriak tentang krisis ekologis, melainkan mengajak pulang secara perlahan ke ingatan tentang sejuknya alam, tentang relasi manusia dengan alam yang semestinya dirawat.
Ketua Program Studi Pendidikan Sendratasik, I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn., menjelaskan bahwa gelar karya ini merupakan hasil kolaborasi lintas mata kuliah: Teknik Tata Pentas di semester tiga, magang di semester lima, dan Tari Nusantara di semester tujuh. Sebanyak 136 mahasiswa terlibat, didukung Himpunan Mahasiswa Program Studi serta mahasiswa semester satu sebagai wujud solidaritas. Gusman menambahkan, mata kuliah magang merupakan implementasi kurikulum Outcome-Based Education (OBE) di UPMI Bali, dengan muara berbasis produk. Proses kreatif mahasiswa selama magang bersama berbagai mitra, termasuk Sanggar Dhanan Jaya, dipresentasikan kepada publik dalam format gelar karya.
Di titik inilah ‘Tetaman’ menemukan konteksnya. Bukan sekadar tugas akademik, melainkan pertemuan antara pembelajaran, pengabdian pada komunitas, dan keberanian mengekspresikan gagasan. Gong suling yang mengalun malam itu menjadi jembatan penghubung kampus dengan sanggar, teori dengan praktik, serta manusia dengan alam. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























