6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Lina PW by Lina PW
January 3, 2026
in Cerpen
Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Ilustrator: Lina PW

LANGKAH kaki kecil samar tapi sangat jelas di sunyi malam membangunkan Lastri dari tidur tak lelap. Ini malam keempat ia terbangun bahkan sebelum subuh tiba. Matanya nanar, mencoba melihat dalam gelap. 

Tap… tap… tap…krekkk…

Lastri memandang tegang berkeliling. Di mana bunyi-bunyi seperti meniru suara hantu itu? 

Duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke pintu kamar. Lalu ke arah lemari, dan tumpukan baju di lantai. Sekilas ia juga menilik robekan karpet plastik penutup lantai semen kamar. Tiada sesuatupun bergerak. Ia lalu menghadap ke kepala dipan, tak juga ia temukan pembuat suara-suara itu. 

“Shhh… kenapa sih,” suaminya berbisik lirih sambil menggerakkan tangannya lemah, tanpa membuka mata, lalu mendengkur lagi. 

“Halah, nanya cuma sekedar saja,” sahut Lastri ketus. Hanya saat suaminya tak terbangun betul ia berani menjawab. 

Di siang hari Lastri tak berkutik di hadapan suami dan mertua. “Tak elok istri beradu mulut menyanggah suami, istri hanya perlu nurut dan ngangguk saja,” ujar mertuanya. Begitu selalu. 

Sejak menikah bulan lalu, Lastri selalu diam saat berkumpul dengan suami dan keluarga barunya. Ia hanya mengingat dan menyesali keputusannya menikah terlalu cepat. Itu juga karena keluarga Lastri mendesak ia untuk segera berumah tangga, keluar dari rumah gadisnya. 

Lastri masih memendam bara amarah pada ayah dan ibu, juga adik laki-laki yang jauh lebih disayang oleh orangtuanya. Padahal Lastri seorang pemanjat cengkih paling aktif di desanya. Tapi tetap saja mereka menginginkan Lastri segera pergi agar bapak dan ibunya dapat memusatkan perhatian pada sang adik, pewaris hektaran kebun mereka. 

Sejak awal ia meminta agar tidak buru-buru dinikahkan. Bukan dukungan atau permakluman yang ia dapat, malah orangtuanya mengancam akan mengusir. Diusir dari rumah sungguh aib bagi gadis di dusun. Mereka akan menjadi gunjingan, bahan omongan riuh saat panen cengkih. Maka banyak yang mendukung pernikahan secepat kilat oleh keluarga, meski belum tentu mereka akan bahagia. Lastri pun, tiada pilihan, akhirnya menyerah, ia bersedia dinikahi oleh kawan sekolah dasarnya dulu.

Tepat seminggu setelah menikah, di minggu pertama tahun baru, Lastri selalu terbangun lepas tengah malam karena bunyi sesosok mahluk yang tengah menelusuri pojok-pojok kamar, sepanjang kasur dan dipan yang ia tiduri bersama suami. Suara itu sungguh mengganggu, membuatnya gelisah dan muak. Saban malam suara-suara itu datang, namun yang terganggu sepertinya hanya Lastri.

“Ah khayalanmu saja itu, Dik,” jawab suaminya saat Lastri mengadukan keberadaan dan gangguan sosok bersuara menjijikkan itu. 

Lastri tak menyerah, ia bilang juga ke ibu mertua, berharap dapat penjelasan mengenai makhluk yang hidup bersama mereka di rumah kayu tua lapuk berderit. 

“Kami hidup di sini bertahun-tahun, Nak, tak pernah diganggu atau mendengar suara aneh apapun.” 

* * *

Beberapa malam terakhir Lastri makin pening setiap menjelang tidur. Kepalanya berdenyut-denyut, takut pada suara yang tak didengar oleh suami dan mertuanya.

Sesulit apapun ia tetap mencoba untuk tidur, demi bekerja dengan gesit di pagi hari. Dan malam itu ia terbangun bukan karena suara-suara ganjil, tapi karena merasakan gigitan kecil di ujung jari manis kaki kirinya. Ia langsung menarik kaki dan melihat setitik darah menetes dari bekas gigitan itu. Ia meringis, menekuk lutut, meraih telapak kaki dengan kedua tangan. Perih dirasa, keringat dingin membasahi tengkuk. Tubuhnya mematung, matanya membelalak ngeri melihat binatang yang menggigit jari kakinya. Tikus! Tikus nyaris sebesar teko air!

Tikus itu bertubuh gempal, kotoran kering menempel di bulu-bulu coklatnya, moncong tumpul berair bercericit kaget sebelum turun dari dipan. Lastri merasa dirinya akan muntah. Ekor abu-abu gundul si tikus panjang dan meliuk saat kabur lalu menghilang di kegelapan belakang lemari.

Bau sengak tikus culas itu menyergap hidung Lastri, sekejap namun melekat. Meninggalkan bau bangkai busuk bercampur got.

“Mustahil tidak ada penghuni rumah ini yang tak menyadari keberadaanya,” bisik Lastri tak percaya. 

Pelan, ia turun dari dipan, berjingkat bak kilat menelusuri pojok-pojok kamar bagai kesetanan, tanpa hasil. Lastri mencoba melihat ke mana tikus itu menghilang. Sia-sia. Tikus itu lenyap! Mungkin langsung lompat ke luar atau turun ke bawah rumah. Binatang pengerat itu jauh lebih cepat dari ketangkasan seorang pemanjat cengkih kampung.

Dengkur suami menyadarkan dia untuk kembali ke dipan, mencoba tidur sembari bertanya-tanya mungkinkah tikus tadi hanya halusinasi. 

Beberapa menit ia berbaring memandang langit-langit kamar dengan penerangan remang dari lampu lima watt di teras samping, masuk lewat kisi-kisi jendela berkaca nako. 

Yakin tikus itu bukan khayalannya semata, Lastri menajamkan pendengaran, mengarahkan telinga kanan ke suara-suara paling pelan sekalipun. 

Tap…tap…tap…krkeeeekk…

Kan! Suara itu kembali. Gelisik langkah kaki kecil itu seolah mengejek Lastri, menggerogoti jatah tidur malam-malam pertama seorang pengantin perempuan. Derap kecil yang berarti si pengerat akan datang menuntaskan gigitan di jari kaki Lastri. 

Ia tahu tikus bisa menggigit jari kaki dan tangan manusia hingga putus, seperti kelingking kanan kawan sekolahnya dulu, Fiyah. Luka itu infeksi, bonyok, sebulan lebih bolak-balik ke puskesmas baru kering. Dokter yang merawat menjelaskan ludah tikus itu dijejali bermacam bakteri. 

Bahkan Rahmi, teman pemetik cengkih dari kampung tetangga, daun telinganya robek digigit tikus. Lastri percaya kisah itu karena ia melihat sendiri telinga Rahmi hilang sepertiga digigit binatang pengerat. Lastri tak habis pikir, bagaimana seseorang tidak menyadari ada tikus mengoyak daging telinga. 

Tak kalah parah yang dialami Usman, paman Lastri yang bekerja di pengolahan ikan asin, kehilangan kelingking kaki kiri dan dua jari kaki kanan, buntung digasak tikus. Kejadiannya tiga kali dalam dua bulan. Ini membuat Lastri merinding, sering mual, teringat penderita diabetes yang kakinya diamputasi, atau persendian jari terlepas penderita lepra.

Bagi Lastri, tikus-tikus di kampungnya suatu ketika bisa menjadi bencana, menebar wabah. Ia tak ingin menjadi bagian dari malapetaka itu. Samar-samar ia ingat, air liur tikus membuat seseorang tidak merasa bagian tubuhnya digigit, layaknya dibius, seperti dialami Kakek Rajaf, yang bagian ujung betisnya digigit tikus, bernanah, sehingga sepekan ke kebun ia harus berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. 

Pikiran Lastri penuh oleh bayangan gigitan, ia merutuki si tikus hingga tertidur, namun terbangun lagi saat tikus itu kembali. Ia merasa ada elusan dan usapan jilatan di jari yang sama, perlahan-lahan, halus sekali. Lastri dengan cepat menendangnya, langsung menghidupkan lampu. Tapi si tikus tak kalah gesit meloncat, mengalahkan kecepatan cahaya, entah menikung ke sudut mana, tak berjejak.

Suaminya terbangun, berkerjap melihat lampu yang menyala, lalu melirik Lastri. Hanya sejenak, ngorok lagi, seperti tak terjadi apa-apa.

Lastri mematikan lampu, lalu duduk di dipan, mengusap-usap ujung jarinya. Meski ada bekas cakar kecil, tidak ada luka baru. Sekuat-kuatnya ia memelekkan mata, berkerjap-kerjap, khawatir tertidur.

Sekarang ia hanya bisa berbaring, dibalut takut, cemas dan geram. Hal buruk apa yang telah ia lakukan selama ini hingga bernasib begini? Ibu-ayahnya berkata, menikah akan membuat hidup lebih baik. Hidup siapa? Yang pasti bukan hidup Lastri. 

Lama Lastri berbaring, mata terbuka, menahan isak penuh amarah. Tanpa ia tahu si tikus mengintip dari pojok kamar. Di gelap kamar, samar Lastri merasakan gerakan tikus dalam gelap, mendekat ke arahnya. Lastri langsung bangun dan berusaha mengejar. Namun, seperti mencium bahaya, tikus lebih gesit kabur, masuk kembali ke lubang ia datang. 

Lastri makin geram. Ia menilik sekitar dalam samar cahaya. Perlahan ia bangkit mengambil beberapa sobekan karpet penutup semen yang teronggok di pojok kamar. Ia juga menyiapkan tas plastik kresek putih besar yang biasa ia pakai menampung sampah di samping dipannya. Lalu ia pura-pura tidur, ia kini berharap binatang itu datang. Lastri siap menghadapi bajingan perampas tidur itu.

Tap… tap… tap… krrrkkkk…

Aha. Si tikus datang. Lastri tetap diam, mencoba telentang sekaku mungkin. Nafasnya mulai cepat. Si tikus mendekat. Lastri bergeming, sepenuhnya memusatkan pikiran dan raga untuk menunggu, seperti pemburu menilik mangsa. 

Lastri merasakan bulu binatang pengerat itu mengelus jemari kakinya. Ia menunggu sampai si tikus mengolesi jemari kaki Lastri dengan liur untuk membuat kulit dan daging kebas. Saat tikus asyik menjilat, Lastri, secepat ia sanggup, menerkam dengan tangan kanannya. 

Perhitungannya jitu, ia mencengkeram tikus dengan robekan karpet di tangan, membuat lapisan layaknya perisai, tak mau mengotori tangannya menyentuh langsung tubuh si penggerogot kedamaian itu.

Si tikus tak menyerah begitu saja, ia meronta dan bercericit tertahan, mungkin kaget dengan gerak dan tenaga manusia yang sudah muak. Lastri merasakan perlawanan si tikus, kakinya yang bercakar kecil menendang-nendang dari dalam buntelan yang dibuat dari sobekan karpet. Tambah geram, Lastri mencengkeram semakin kuat. Sang tikus tetap mencoba loncat dari kurungan karpet. Ekornya yang ramping, abu, panjang, dengan beberapa helai rambut, bergerak cepat, meronta, berusaha melepaskan diri, namun tak kuasa. 

Menahan muntah, Lastri mengerang pelan. Ia menambah sobekan karpet dengan tangan kiri yang bebas, membuat bundel makin besar mengunci tikus di dalamnya. Jemari kanan Lastri masih mencengkeram badan si tikus, berusaha mencekik semakin kuat. 

Suaminya tetap mendengkur tak terganggu oleh jerit tikus dan kegaduhan cericit binatang yang bergulat untuk melepaskan diri. Mimpi apa gerangan laki-laki itu, ketika Lastri sedang bertempur untuk merebut kemenangan melawan seekor pengerat?

Gerakan tikus melemah. Lastri memasukkan bundelan ke dalam kresek putih yang sudah ia siapkan. Mengikat kresek dengan kuat, memastikan tikus itu sudah tak bergerak, ia lalu berjinjit ke arah pintu. Sambil berjongkok, ia mengambil batu bata penyangga pintu, menaruh bata di atas buntalan tikus dalam plastik, memposisikan paha kiri di atas bata, menumpukan seluruh tenaganya, lalu menggencet si tikus sekuat-kuatnya. Bunyi kresek tertahan dan kriuk patah tulang tikus tertindas bata tak menghentikan Latri. Ia menekan makin kencang.

Tikus itu ia rasa seperti tuntutan ibu ayahnya untuk cepat-cepat menikah, suaminya yang selalu menyuruh-nyuruh, mengecilkan keberadaan Lastri sebagai manusia, dan mertuanya yang mencibiri apapun yang ia lakukan. 

Ia berulang kali menekan-gencet tikus dalam plastik itu, bertubi-tubi, sehabis-habisnya, hingga tas menjadi gelap oleh darah.

Lastri tersenyum puas, emosinya meleleh. Ia melenggang ke tempat tidur, lega, merasa bebas, beban pikirannya lenyap sudah. 

Tak sampai enam langkah Lastri beringsut kembali ke pelukan kasur, tap… tap… tap… krrrkkk…

Suara itu terdengar lagi. Lastri menoleh ke kresek putih di pojok kamar dekat pintu. Kresek itu masih tergumpal di tempatnya. Belum juga ia sampai di dipan, suarakaki-kaki kecil itu kembali, melangkah dalam gelap. Suara-suara itu lagi-lagi mengitari kamarnya.

Lastri mendekap mukanya dengan kedua tangan. Ia berbisik dengan tangis pecah, lebih ke dirinya sendiri, “Oh, Tuhan, berapa banyak binatang busuk berkeliaran di rumah ini? Bagaimana mungkin hamba membesarkan anak-anak dengan baik di sebuah rumah yang dikuasai pengerat-pengerat dari kegelapan? Yang menggerayangi seisi kamar dan menggerogoti tubuh kami?”

Ia melirik suami, pendamping, pengemong kehidupan yang sepantasnya diajak bertanggung jawab membasmi tikus, tempat ia seharusnya menggantungkan perlindungan. Namun laki-laki itu tetap pulas mendengkur. [T]

Penulis: Lina PW
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Next Post

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Lina PW

Lina PW

Menulis cerpen, esai, serta menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, 2019, dan 2021 serta antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Ia juga mendirikan Nawang English, sebuah wadah belajar bahasa dan literasi di Denpasar.

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co