27 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Panakajaya Hidayatullah by Panakajaya Hidayatullah
December 30, 2025
in Ulas Musik
Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

SAYA tidak sedang mencari selawat ketika Gambus Hasyimi tiba-tiba muncul di Reels Instagram. Video itu lewat begitu saja, tanpa permisi. Terlihat sekelompok pemuda bersarung, berkopyah, duduk bersilah rapi, memainkan melodi Always With Me, Always With You. Lagu Joe Satriani yang biasanya saya dengarkan sambil merasa sok paling paham gitar sedunia.

Saya kira ini cuma konten iseng. Sampai di tengah lagu, tiba-tiba masuk suara selawat Burdah yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkerudung, dengan sikap yang sangat sopan. Di titik ini, saya berhenti menggulirkan jempol. Bukan karena khusyuk, tapi karena bingung, ini konser apa pengajian sebenarnya?

Kebingungan itu berlanjut ketika saya tergoda untuk lanjut menelusuri penampilan-penampilan mereka yang lain di kanal youtubenya. Secara visual, panggung Gambus Hasyimi tampak seperti konser rock betulan. Lampu menyala-nyala, warna merah biru hijau berkejaran, drum menghantam, gitar listrik meraung dengan distorsinya. Semua elemen visualnya sudah benar. Ini panggung yang secara tradisi seharusnya memicu euforia, teriakan, dan setidaknya satu-dua orang yang oleng kehilangan keseimbangan.

Tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada gestur liar. Tidak ada ajakan lepas kendali.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Rock di sini terdengar serius, tapi bersikap rapi. Distorsinya tebal, tapi tingkah lakunya sopan. Seolah-olah musik keras itu datang sambil mengetuk pintu, lalu duduk manis setelah dipersilakan masuk. Ini rock yang tahu diri.

Kebingungan saya bertambah ketika telinga mulai menangkap motif-motif yang terlalu akrab untuk diabaikan. Suara petikan gitar yang membuat saya refleks berpikir, iniSatriani. Dan rupanya, netizen juga merasakan hal yang sama, lalu dengan santai memberi julukan di kolom komentar: Gus Satriani.


Sebuah istilah yang terdengar main-main, tapi entah kenapa terasa sahih. Karena memang ada sesuatu yang “kesantrian” di sana, skill tinggi tapi ditampilkan dengan penuh pengendalian diri.

Belum sempat mencerna itu, datang kejutan di lagu berikutnya. Tema Home dari Dream Theater, lagu yang biasanya diasosiasikan dengan progresi rumit dan durasi panjang, dipinjam untuk mengantar Selawat Asyghil. Musik yang dulu bikin dahi berkerut karena terlalu banyak hitungan ganjil, kini justru mengiringi doa dengan tenang. Seolah-olah musik yang biasanya mengajak berpikir keras, kini diminta ikut menunduk.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Lalu puncaknya: Enter Sandman dari Metallica bertemu Syaikhona. Di sini, logika benar-benar libur. Ini bukan soal cocok atau tidak cocok. Ini soal bagaimana tubuh seharusnya bereaksi. Rock biasanya meminta respons. Selawat biasanya meminta ketenangan. Di Gambus Hasyimi, keduanya datang bersamaan, tanpa sempat bermusyawarah dulu.

Yang menarik, Gambus Hasyimi tidak pernah tampak ingin pamer kecerdikan musikal. Tidak ada kesan ingin melabrak batas atau membuat sensasi berlebihan. Justru sebaliknya, mereka seperti sangat berhati-hati. Rock diizinkan masuk, asal tidak mengajak rusuh. Dentuman boleh keras, asal tidak memancing kekacauan.

Ini musik yang keras tapi tidak galak. Religius tapi tidak khidmat berlebihan. Semuanya berada di zona aman dan justru itulah yang membuatnya aneh.

Karena biasanya, yang aman itu tidak membingungkan. Tapi di sini, semuanya aman, dan kita tetap tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada larangan, tapi juga tidak ada izin eksplisit untuk lepas kendali.

Kebingungan itu makin terasa ketika saya sadar pada satu hal lain yang tidak kalah lucu, mereka menyebut diri mereka Gambus Hasyimi. Grup gambus. Padahal, sejauh yang bisa saya tangkap, tidak ada gambus-gambusnya sama sekali. Tidak ada instrumen gambus yang khas itu. Yang ada justru gitar listrik, bass, drum, keyboard dan tata cahaya ala konser besar.

Nama “gambus” di sini seperti janji yang sengaja tidak ditepati, tapi dengan sangat percaya diri. Mungkin gambusnya sudah menjelma jadi distorsi. Atau mungkin gambusnya hadir secara spiritual, tidak perlu diwujudkan secara fisik. Siapa tahu. Dalam banyak hal, kita memang sering percaya pada sesuatu yang goib.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Di titik ini saya mulai merasa bahwa Gambus Hasyimi bukan sedang mencampuradukkan genre, melainkan meminjam bahasa. Rock tidak dipakai untuk memberontak, tapi untuk mengantar. Ia bekerja seperti kendaraan. Selawat adalah tujuannya. Setelah sampai, rock pamit tanpa klakson, tanpa encore, tanpa drama.

Atau bisa jadi, yang sebenarnya sedang diuji bukan musiknya, melainkan kebiasaan kita sendiri. Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan klasifikasi genre yang rapi, musik keras di satu sisi, musik religius di sisi lain. Ketika keduanya bertemu tanpa konflik, tanpa drama, tanpa teriakan “ini salah”, yang terguncang justru refleks kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya menonton Gambus Hasyimi terasa lucu sekaligus canggung. Imajinasi kita dibawa ke konser rock, tapi perilaku kita diminta tetap tertib. Kita diajak masuk ke ruang di mana dentuman distorsi dan doa berjalan berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.

Gambus Hasyimi tidak membuat rock jadi religius, dan tidak membuat selawat jadi liar. Mereka hanya memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kita bisa sangat serius, sangat sopan, dan tetap kebingungan dalam waktu yang bersamaan.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya harus jelas dan terklasifikasi, kebingungan yang aman seperti ini justru terasa menyenangkan. Apalagi jika kebingungan itu datang dari grup gambus yang tidak membawa gambus, tapi membawa distorsi dengan penuh adab. [T]

Penulis: Panakajaya Hidayatullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: band rockgambusHasyimimusikmusik rock
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Next Post

Dunia yang Gelisah

Panakajaya Hidayatullah

Panakajaya Hidayatullah

Lahir dan dibesarkan di Situbondo, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Musik (Barat), Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan studi master dan doktoral dengan minat etnomusikologi di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2017, ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Panakajaya Hidayatullah memiliki minat dan ketertarikan khusus pada kajian musik dan seni pertunjukan masyarakat Madura di Tapal Kuda, Jawa Timur. Berbagai publikasinya tentang kajian seni pertunjukan masyarakat Madura telah dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, dan buletin. Instagram: @panakajaya

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Dunia yang Gelisah

Dunia yang Gelisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co