7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Panakajaya Hidayatullah by Panakajaya Hidayatullah
December 30, 2025
in Ulas Musik
Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

SAYA tidak sedang mencari selawat ketika Gambus Hasyimi tiba-tiba muncul di Reels Instagram. Video itu lewat begitu saja, tanpa permisi. Terlihat sekelompok pemuda bersarung, berkopyah, duduk bersilah rapi, memainkan melodi Always With Me, Always With You. Lagu Joe Satriani yang biasanya saya dengarkan sambil merasa sok paling paham gitar sedunia.

Saya kira ini cuma konten iseng. Sampai di tengah lagu, tiba-tiba masuk suara selawat Burdah yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkerudung, dengan sikap yang sangat sopan. Di titik ini, saya berhenti menggulirkan jempol. Bukan karena khusyuk, tapi karena bingung, ini konser apa pengajian sebenarnya?

Kebingungan itu berlanjut ketika saya tergoda untuk lanjut menelusuri penampilan-penampilan mereka yang lain di kanal youtubenya. Secara visual, panggung Gambus Hasyimi tampak seperti konser rock betulan. Lampu menyala-nyala, warna merah biru hijau berkejaran, drum menghantam, gitar listrik meraung dengan distorsinya. Semua elemen visualnya sudah benar. Ini panggung yang secara tradisi seharusnya memicu euforia, teriakan, dan setidaknya satu-dua orang yang oleng kehilangan keseimbangan.

Tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada gestur liar. Tidak ada ajakan lepas kendali.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Rock di sini terdengar serius, tapi bersikap rapi. Distorsinya tebal, tapi tingkah lakunya sopan. Seolah-olah musik keras itu datang sambil mengetuk pintu, lalu duduk manis setelah dipersilakan masuk. Ini rock yang tahu diri.

Kebingungan saya bertambah ketika telinga mulai menangkap motif-motif yang terlalu akrab untuk diabaikan. Suara petikan gitar yang membuat saya refleks berpikir, iniSatriani. Dan rupanya, netizen juga merasakan hal yang sama, lalu dengan santai memberi julukan di kolom komentar: Gus Satriani.


Sebuah istilah yang terdengar main-main, tapi entah kenapa terasa sahih. Karena memang ada sesuatu yang “kesantrian” di sana, skill tinggi tapi ditampilkan dengan penuh pengendalian diri.

Belum sempat mencerna itu, datang kejutan di lagu berikutnya. Tema Home dari Dream Theater, lagu yang biasanya diasosiasikan dengan progresi rumit dan durasi panjang, dipinjam untuk mengantar Selawat Asyghil. Musik yang dulu bikin dahi berkerut karena terlalu banyak hitungan ganjil, kini justru mengiringi doa dengan tenang. Seolah-olah musik yang biasanya mengajak berpikir keras, kini diminta ikut menunduk.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Lalu puncaknya: Enter Sandman dari Metallica bertemu Syaikhona. Di sini, logika benar-benar libur. Ini bukan soal cocok atau tidak cocok. Ini soal bagaimana tubuh seharusnya bereaksi. Rock biasanya meminta respons. Selawat biasanya meminta ketenangan. Di Gambus Hasyimi, keduanya datang bersamaan, tanpa sempat bermusyawarah dulu.

Yang menarik, Gambus Hasyimi tidak pernah tampak ingin pamer kecerdikan musikal. Tidak ada kesan ingin melabrak batas atau membuat sensasi berlebihan. Justru sebaliknya, mereka seperti sangat berhati-hati. Rock diizinkan masuk, asal tidak mengajak rusuh. Dentuman boleh keras, asal tidak memancing kekacauan.

Ini musik yang keras tapi tidak galak. Religius tapi tidak khidmat berlebihan. Semuanya berada di zona aman dan justru itulah yang membuatnya aneh.

Karena biasanya, yang aman itu tidak membingungkan. Tapi di sini, semuanya aman, dan kita tetap tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada larangan, tapi juga tidak ada izin eksplisit untuk lepas kendali.

Kebingungan itu makin terasa ketika saya sadar pada satu hal lain yang tidak kalah lucu, mereka menyebut diri mereka Gambus Hasyimi. Grup gambus. Padahal, sejauh yang bisa saya tangkap, tidak ada gambus-gambusnya sama sekali. Tidak ada instrumen gambus yang khas itu. Yang ada justru gitar listrik, bass, drum, keyboard dan tata cahaya ala konser besar.

Nama “gambus” di sini seperti janji yang sengaja tidak ditepati, tapi dengan sangat percaya diri. Mungkin gambusnya sudah menjelma jadi distorsi. Atau mungkin gambusnya hadir secara spiritual, tidak perlu diwujudkan secara fisik. Siapa tahu. Dalam banyak hal, kita memang sering percaya pada sesuatu yang goib.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Di titik ini saya mulai merasa bahwa Gambus Hasyimi bukan sedang mencampuradukkan genre, melainkan meminjam bahasa. Rock tidak dipakai untuk memberontak, tapi untuk mengantar. Ia bekerja seperti kendaraan. Selawat adalah tujuannya. Setelah sampai, rock pamit tanpa klakson, tanpa encore, tanpa drama.

Atau bisa jadi, yang sebenarnya sedang diuji bukan musiknya, melainkan kebiasaan kita sendiri. Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan klasifikasi genre yang rapi, musik keras di satu sisi, musik religius di sisi lain. Ketika keduanya bertemu tanpa konflik, tanpa drama, tanpa teriakan “ini salah”, yang terguncang justru refleks kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya menonton Gambus Hasyimi terasa lucu sekaligus canggung. Imajinasi kita dibawa ke konser rock, tapi perilaku kita diminta tetap tertib. Kita diajak masuk ke ruang di mana dentuman distorsi dan doa berjalan berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.

Gambus Hasyimi tidak membuat rock jadi religius, dan tidak membuat selawat jadi liar. Mereka hanya memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kita bisa sangat serius, sangat sopan, dan tetap kebingungan dalam waktu yang bersamaan.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya harus jelas dan terklasifikasi, kebingungan yang aman seperti ini justru terasa menyenangkan. Apalagi jika kebingungan itu datang dari grup gambus yang tidak membawa gambus, tapi membawa distorsi dengan penuh adab. [T]

Penulis: Panakajaya Hidayatullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: band rockgambusHasyimimusikmusik rock
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Next Post

Dunia yang Gelisah

Panakajaya Hidayatullah

Panakajaya Hidayatullah

Lahir dan dibesarkan di Situbondo, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Musik (Barat), Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan studi master dan doktoral dengan minat etnomusikologi di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2017, ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Panakajaya Hidayatullah memiliki minat dan ketertarikan khusus pada kajian musik dan seni pertunjukan masyarakat Madura di Tapal Kuda, Jawa Timur. Berbagai publikasinya tentang kajian seni pertunjukan masyarakat Madura telah dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, dan buletin. Instagram: @panakajaya

Related Posts

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails
Next Post
Dunia yang Gelisah

Dunia yang Gelisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co