14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Panakajaya Hidayatullah by Panakajaya Hidayatullah
December 30, 2025
in Ulas Musik
Rock Tapi Tahu Diri: Kebingungan Menikmati Gambus Hasyimi

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

SAYA tidak sedang mencari selawat ketika Gambus Hasyimi tiba-tiba muncul di Reels Instagram. Video itu lewat begitu saja, tanpa permisi. Terlihat sekelompok pemuda bersarung, berkopyah, duduk bersilah rapi, memainkan melodi Always With Me, Always With You. Lagu Joe Satriani yang biasanya saya dengarkan sambil merasa sok paling paham gitar sedunia.

Saya kira ini cuma konten iseng. Sampai di tengah lagu, tiba-tiba masuk suara selawat Burdah yang dinyanyikan oleh penyanyi perempuan berkerudung, dengan sikap yang sangat sopan. Di titik ini, saya berhenti menggulirkan jempol. Bukan karena khusyuk, tapi karena bingung, ini konser apa pengajian sebenarnya?

Kebingungan itu berlanjut ketika saya tergoda untuk lanjut menelusuri penampilan-penampilan mereka yang lain di kanal youtubenya. Secara visual, panggung Gambus Hasyimi tampak seperti konser rock betulan. Lampu menyala-nyala, warna merah biru hijau berkejaran, drum menghantam, gitar listrik meraung dengan distorsinya. Semua elemen visualnya sudah benar. Ini panggung yang secara tradisi seharusnya memicu euforia, teriakan, dan setidaknya satu-dua orang yang oleng kehilangan keseimbangan.

Tapi tidak ada tanda-tanda kekacauan. Tidak ada gestur liar. Tidak ada ajakan lepas kendali.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Rock di sini terdengar serius, tapi bersikap rapi. Distorsinya tebal, tapi tingkah lakunya sopan. Seolah-olah musik keras itu datang sambil mengetuk pintu, lalu duduk manis setelah dipersilakan masuk. Ini rock yang tahu diri.

Kebingungan saya bertambah ketika telinga mulai menangkap motif-motif yang terlalu akrab untuk diabaikan. Suara petikan gitar yang membuat saya refleks berpikir, iniSatriani. Dan rupanya, netizen juga merasakan hal yang sama, lalu dengan santai memberi julukan di kolom komentar: Gus Satriani.


Sebuah istilah yang terdengar main-main, tapi entah kenapa terasa sahih. Karena memang ada sesuatu yang “kesantrian” di sana, skill tinggi tapi ditampilkan dengan penuh pengendalian diri.

Belum sempat mencerna itu, datang kejutan di lagu berikutnya. Tema Home dari Dream Theater, lagu yang biasanya diasosiasikan dengan progresi rumit dan durasi panjang, dipinjam untuk mengantar Selawat Asyghil. Musik yang dulu bikin dahi berkerut karena terlalu banyak hitungan ganjil, kini justru mengiringi doa dengan tenang. Seolah-olah musik yang biasanya mengajak berpikir keras, kini diminta ikut menunduk.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Lalu puncaknya: Enter Sandman dari Metallica bertemu Syaikhona. Di sini, logika benar-benar libur. Ini bukan soal cocok atau tidak cocok. Ini soal bagaimana tubuh seharusnya bereaksi. Rock biasanya meminta respons. Selawat biasanya meminta ketenangan. Di Gambus Hasyimi, keduanya datang bersamaan, tanpa sempat bermusyawarah dulu.

Yang menarik, Gambus Hasyimi tidak pernah tampak ingin pamer kecerdikan musikal. Tidak ada kesan ingin melabrak batas atau membuat sensasi berlebihan. Justru sebaliknya, mereka seperti sangat berhati-hati. Rock diizinkan masuk, asal tidak mengajak rusuh. Dentuman boleh keras, asal tidak memancing kekacauan.

Ini musik yang keras tapi tidak galak. Religius tapi tidak khidmat berlebihan. Semuanya berada di zona aman dan justru itulah yang membuatnya aneh.

Karena biasanya, yang aman itu tidak membingungkan. Tapi di sini, semuanya aman, dan kita tetap tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tidak ada larangan, tapi juga tidak ada izin eksplisit untuk lepas kendali.

Kebingungan itu makin terasa ketika saya sadar pada satu hal lain yang tidak kalah lucu, mereka menyebut diri mereka Gambus Hasyimi. Grup gambus. Padahal, sejauh yang bisa saya tangkap, tidak ada gambus-gambusnya sama sekali. Tidak ada instrumen gambus yang khas itu. Yang ada justru gitar listrik, bass, drum, keyboard dan tata cahaya ala konser besar.

Nama “gambus” di sini seperti janji yang sengaja tidak ditepati, tapi dengan sangat percaya diri. Mungkin gambusnya sudah menjelma jadi distorsi. Atau mungkin gambusnya hadir secara spiritual, tidak perlu diwujudkan secara fisik. Siapa tahu. Dalam banyak hal, kita memang sering percaya pada sesuatu yang goib.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Di titik ini saya mulai merasa bahwa Gambus Hasyimi bukan sedang mencampuradukkan genre, melainkan meminjam bahasa. Rock tidak dipakai untuk memberontak, tapi untuk mengantar. Ia bekerja seperti kendaraan. Selawat adalah tujuannya. Setelah sampai, rock pamit tanpa klakson, tanpa encore, tanpa drama.

Atau bisa jadi, yang sebenarnya sedang diuji bukan musiknya, melainkan kebiasaan kita sendiri. Kita sudah terlalu lama terbiasa dengan klasifikasi genre yang rapi, musik keras di satu sisi, musik religius di sisi lain. Ketika keduanya bertemu tanpa konflik, tanpa drama, tanpa teriakan “ini salah”, yang terguncang justru refleks kita sendiri.

Mungkin itu sebabnya menonton Gambus Hasyimi terasa lucu sekaligus canggung. Imajinasi kita dibawa ke konser rock, tapi perilaku kita diminta tetap tertib. Kita diajak masuk ke ruang di mana dentuman distorsi dan doa berjalan berdampingan, tanpa perlu saling mengalahkan.

Gambus Hasyimi tidak membuat rock jadi religius, dan tidak membuat selawat jadi liar. Mereka hanya memperlihatkan satu hal sederhana, bahwa kita bisa sangat serius, sangat sopan, dan tetap kebingungan dalam waktu yang bersamaan.

Foto-foto dari IG @hasyimi_official

Dan mungkin, di zaman ketika segalanya harus jelas dan terklasifikasi, kebingungan yang aman seperti ini justru terasa menyenangkan. Apalagi jika kebingungan itu datang dari grup gambus yang tidak membawa gambus, tapi membawa distorsi dengan penuh adab. [T]

Penulis: Panakajaya Hidayatullah
Editor: Adnyana Ole

Tags: band rockgambusHasyimimusikmusik rock
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Next Post

Dunia yang Gelisah

Panakajaya Hidayatullah

Panakajaya Hidayatullah

Lahir dan dibesarkan di Situbondo, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan strata satu di Jurusan Musik (Barat), Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan studi master dan doktoral dengan minat etnomusikologi di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada. Sejak tahun 2017, ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Panakajaya Hidayatullah memiliki minat dan ketertarikan khusus pada kajian musik dan seni pertunjukan masyarakat Madura di Tapal Kuda, Jawa Timur. Berbagai publikasinya tentang kajian seni pertunjukan masyarakat Madura telah dipublikasikan di beberapa jurnal ilmiah, prosiding, bunga rampai, dan buletin. Instagram: @panakajaya

Related Posts

’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

by Ahmad Sihabudin
May 1, 2026
0
’Siti Mawarni Ya Incek’: Amarah dalam Nama Tuhan

FENOMENA viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” tidak bisa dibaca sekadar lagu hiburan digital yang lewat begitu saja. Ia adalah...

Read moreDetails

Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

by Ahmad Sihabudin
April 25, 2026
0
Ketika Lirik Menjadi Cermin: Tafsir Hermeneutika Lagu ‘Erika’

DALAM tradisi hermeneutika, teks tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu lahir dari horison sejarah, budaya, dan kesadaran penuturnya. Apa yang...

Read moreDetails

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
0
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

Read moreDetails

Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

by Ahmad Sihabudin
April 11, 2026
0
Cahaya di Jalan Pulang dari Creedence Clearwater Revival

PADA suatu malam yang panjang di jalan raya antarkota, seseorang mungkin tiba-tiba memahami makna sebuah lagu. Di tengah lampu kendaraan...

Read moreDetails

’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

by Ahmad Sihabudin
March 28, 2026
0
’Soon’: Etika Menunggu di Zaman yang Kehilangan Kesabaran

Di tengah dunia kontemporer yang serba cepat, gaduh, dan penuh kepastian semu, lagu “Soon” dari grup rock progresif Inggris Yes...

Read moreDetails

’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

by Ahmad Sihabudin
March 24, 2026
0
’Free Bird’: Manusia Merdeka dalam Kandang Wi-Fi

If I leave here tomorrow, would you still remember me? Pertanyaan dalam lagu Free Bird Lynyrd Skynyrd itu terdengar sederhana,...

Read moreDetails

‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 21, 2026
0
‘Fernando’: Nyanyian Abadi di Dalam Api Unggun Jiwa Kita

Ada lagu-lagu yang sekadar lewat di telinga, lalu hilang bersama waktu. Tetapi ada juga lagu yang menetap diam-diam di dalam...

Read moreDetails

‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

by Ahmad Sihabudin
March 17, 2026
0
‘Mull of Kintyre’: Pulang sebagai Doa yang Diam

Lagu “Mull of Kintyre” dari Wings (1977), yang ditulis oleh Paul McCartney bersama Denny Laine, kerap dibaca sebagai balada pastoral...

Read moreDetails

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
0
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

Read moreDetails

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails
Next Post
Dunia yang Gelisah

Dunia yang Gelisah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co