2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Surabaya ke Jakarta, Keluar untuk Melihat ke Dalam

Nyoman Nadiana by Nyoman Nadiana
December 19, 2025
in Tualang
Dari Surabaya ke Jakarta, Keluar untuk Melihat ke Dalam

Sudut Jakarta

PERJALANAN saya ke Kota Jakarta kali ini memang berbeda. Sudah 15 kali ke Jakarta, naik bus 6 kali, 9 kali naik pesawat udara. Tapi kali ini saya naik kereta api dari Surabaya, tepatnya dari Stasiun Gubeng.

Ya, petang itu, di Kota Surabaya, setelah hampir seharian berbincang di Desa Ketapanrame, Mojokerto, saya masih punya satu agenda. Mengutip istilah pertemuan para penjabat, anggap saja agendanya adalah silaturahmi.

Mas jas, begitu saya memanggilnya, sudah menunggu saya di Kota Surabaya. Ia adalah keluarga saya dari Tuban, Jawa Timur—kelurga ketemu gede, maksudnya. Mas Jas sempat tinggal lama di Singaraja dan sekarang sudah pindah, ikut sang istri, ke Surabaya.

Ngopi di Surabaya

Akhirnya, bersama Mbak Ninik, sosok yang mengantar sekaligus menemani saya ke Ketapanrame, saya memutuskan untuk mencari tempat bertemu di titik yang tidak jauh dari Stasiun Gubeng. Ketemulah Kopi Nako Surabaya. Di sana saya dan Mas Jas bertemu.

Seperti biasa, selain tempat ngopi, Kopi Nako juga jual makanan. Dan saya memesan makan bukan kopi. Mas Jas datang bersama istri.

Obrolan petang itu sangat khas, seperti pertemuan di meja Mahima-Tatkala—tempat Mas Jas dan saya belajar menulis. Obrolan mengalir, kadang soal remeh-temeh sampai ke ranah paling serius. Saya menyebutnya “obrolan filsafat ala Mas Jas.”

Stasiun Surabaya Gubeng

Tepat pukul 21.00 WIB, saya pamit ke stasiun.  Kereta api telat 15 menit dari jadwal di tiket 21.40 WIB. Kereta Blambangan Express datang, saya bergegas KE gerbong executive 1, seat 11. Dalam pikiran saya, selama kurang lebih 10 jam perjalanan di dalam kereta semoga nyaman.

Ketera melaju dari Stasiun Gubeng Surabaya dengan tujuan akhir Pasar Senen, Jakarta. Nyatanya sangat nyaman meski dengan durasi waktu yang cukup panjang. Harus diakui, KAI hari ini mengubah image dari gerbong yang kumel menjadi elit, tidak seperti berita yang saya lihat di televisi waktu SMP—yang penumpangnya sampai naik ke atap, kasus pencopetan, dan hal-hal butuk lainnya. Untuk kemajuan ini saya harus acungkan jempol kepada Kereta Api Indonesia.

***

Kereta tiba di Jakarta pukul 09.00 WIB. Saya langsung menuju hotel tempat menginap di daerah Kebon Sirih. Di Jakarta ada beberapa agenda yang harus saya lakukan. Tapi untuk satu hari sebelum kegiatan, saya akan menjadi pelacong di Ibu Kota atau barang kali sudah menjadi mantan Ibu Kota, semenjak IKN dibangun dan diresmikan di era Jokowi.

Untuk kulineran saya berkunjung ke Dapur Bandha. Warung mungil di daerah Tebet. Kebetulan saya ketemu pemiliknya di Bali tempo hari. Nasi curry daging dan telor dadar menjadi pesanan saya. Sedap dan sangat nikmat, ditambah suasana sekitar warung yang lengang, tak seperti di kota metropolitan.

Kulineran di Jakarta

Lalu saya mencoba menemukan kenikmatan untuk melihat dan mengisi hati di Jakarta. Mulai dari berjalan kaki di sekitar hotel di kawasan Kebon Sirih ke Monas, melewati JPO patung kuda dengan latar kantor kementerian di sekelilingnya adalah hal yang bisa sedikit membunuh waktu yang cepat dan memacetkan pikiran.

Kemudian saya berkunjung ke kawasan pecinaan, Pasar Glodok, dengan aneka kuliner khas pecinaan dan juga arsitektur Tiongkok. Saya menikmati Soto Betawi Afung di Glodok Food Street Lane—sebuah kawasan yang penuh penjual kuliner.

Di sekitar kawasan ini, busway, kereta komuter, mobil pribadi, angkot, sepeda motor, serasa tidak ada celah untuk berhenti. Kota Jakarta seakan enggan tidur hanya untuk satu detik saja.

Bagi saya orang Bali, berkunjung ke Jakarta atau ke kota mana pun, berkunjung ke pura dan sembahyang—selama saya tahu di kota itu ada pura—adalah bagian untuk bercermin. Juga mencari tahu bagaimana laku sosial perantau Bali di luar Bali. Maka saya berkunjung ke Pura Adhitya Jaya di Rawamangun.

Saya selalu merasa bahwa sembahyang adalah harmoni. Di Pura Adhitya saya melihat orang beribadah tidak terkungkung oleh busana tapi kemauan bersih di perilaku. Tak ada sampah berserakan bahkan selandang dan dupa di sediakan. Mungkin ini yang dimaksud “kita harus keluar untuk melihat ke dalam.”

Sampai di sini, Jakarta setelah kesekian kali, selalu ada yang berubah. Tidak hanya pemimpinnya, tapi juga rasanya. Saya memaknai perjalanan ke Jakarta kali ini sebagai wisata untuk merasakan lebih dini bagaimana ibu kota bisa saja berubah jadi mantan, dielu-elukan lalu diejek dan dijelek-jelakan.

Dulu sampai sekarang, setiap kali stasiun berita menayangkan banjir, saya akan teringat Kota Jakarta. Macet juga Jakarta. Tapi setelah saya balik, ternyata ibu kota Bali juga sama. Ternyata nasib ibu kota atau mantan ibu kota sama saja. Sama-sama pernah dan sering terendam banjir.[T]

Penulis: Nyoman Nadiana
Editor: Jaswanto

Tags: JakartarenunganSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Prana Karma: Potret Pilu Kerusakan Hutan Indonesia

Next Post

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Nyoman Nadiana

Nyoman Nadiana

Anak dari pelosok utara Bali. Suka ke semua penjuru arah mata angin menemukenali semua hal tentang hidup dan kehidupan lewat cerita-cerita

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co