“Ketika para intelektual, penguasa pengetahuan, para pengelola pemerintahan, para pedagang, yang menguasai prana, nafas hidup di bumi, tidak memanfaatkannya untuk kebaikan bersama, maka prana akan menjadi laya, pemusnah, pranalaya. Pralaya,” tegas Rakaswari.
Sejak panggung Ksirarnawa dikelola oleh salah satu anak asuh Rakaswari, aku jarang terlibat dalam acara pementasan di dalamnya. Aku lebih banyak membantunya dalam kehidupan nyata. Memahami pohon, binatang dan orang-orang dengan sifat, tingkah dan polahnya.
Saat mataku sembab, menatap air bah yang meluluhlantahkan Indonesia, dari bening air sungai setelah bencana kulihat samar tulisan “Amerta”.
Saat kedua mataku dibekap dua tangan lembut, aku tahu itu kau.
“Rakaswari, lakon apa lagi yang akan kau mainkan? Mana Adhiswara, apakah kalian akan membuat pementasan lagi? Aku siap membantu, di Ksirarnawa?” tanyaku nyeroscos menumpahkan rasa rindu.
Sudah lama sekali, aku, Candrasari, suamiku, Cakradara, dan putraku, kami, tak bertemu dengan Rakaswari dan Adhiswara. Panggung kami kini adalah hidup itu sendiri. Aku memainkan lakonku sendiri, suamiku dengan lakonnya sendiri, juga putraku. Tetapi ada kalanya kami memainkan satu lakon bersama. Dalam lakon bersama itu kami bisa saling bertukar peran, kadang sebagai pasangan, sebagai anak dan ibu atau bapak, sebagai saudara, teman, guru, murid, bahkan juga sebagai seteru yang saling menyerang dan mengalahkan.
Apapun lakonnya, sendiri atau bersama, kami memainkannya dengan semangat dan riang. Dalam setiap lakon yang kami mainkan, sebagai tokoh apapun kami selalu mendapatkan pelajaran-pelajaran, yang kalian Rakaswari dan Adhiswara menyebutnya juga sebagai Amerta.
“Kalau ingat Amerta yang diperebutkan Dewa dan raksasa dalam pemutaran lautan susu Ksriarnawa, amerta air suci abadi itu telah mengering di jiwa-jiwa manusia, memudarkan cahaya bumi,” katanya pelan.
Aku menggangguk. Kesedihan, kekecewaan, kejengkelan, kemarahan dan rasa kasih, bercampur aduk dalam kepalaku, menyusup ke dalam jiwa dan merembes ke luar lewat pori-poriku. Tubuhku menggigil, Rakaswari memelukku, lekat dan makin melekat, seperti ia masuk dalam tubuhku, menjadi udara menjadi suksma dalam jiwaku.
“Air adalah salah satu unsur alam, mengandung dua atom Hidrogen dan satu atom oksigen (H2O). Sindhu, Indus, adalah air, keyakinan terhadap Tuhan sebagai pencipta alam semesta, bisa dilakukan dengan menghormati ciptaannya. Tanah, pertiwi tempat mahluk hidup, air yang memenuhi rasa dahaga mahluk, mengisi, menyehatkan, menyegarkan, membersihkan, merekatkan, dan mengalirkan.” Rakaswari membisiki hatiku.
Akupun mengangguk sendiri, meyakinkan.
Di hadapanku ditampilkan lakon, tujuh orang suci penerima pelajaran suci tentang Tuhan.
“Ketika manusia memakai kecerdasan dan mengedepankan kekuatannya untuk menguasai alam, alam akan hancur dan menghancurkan semua yang ada di dalamnya, juga manusia, disebut Kaliyuga.” Adhiswara memberi arahan sebagai sutradara, dibantu oleh Rakaswari, kedua tokoh itu hadir bersama di hadapanku, wajah keduanya serius.
Dan kamipun menjalankan peran-peran kami dengan serius, sesuai dengan arahan Adhiswara dan Rakaswari yang juga ikut bermain.
Di layar sebagai latar belakang, para pemain diperlihatkan proses penciptaan dunia, penyatuan unsur air, dan unsur energi yang menciptakan udara.
“Energi, panas adalah maskulin, air, bumi adalah feminin. Energi panas, matahari menurunkan genetik surya. Air, bumi menurunkan genetik bulan, candra,” suara Adhiswara bergema dan berwibawa, sepertinya ia sedang memainkan tokoh Bhatara Siwa Mahaguru. Semua pemain bersiap-siap.
“Air, tanah, panas udara dan ruang kosong adalah Tuhanku itu sendiri, manusia harus bisa bersahabat dengan alam dan segala isinya
Terima kasih hamba akan berusaha menuliskannya dalam lagu-lagu pujaan.” Rsi Wiswamitra menghaturkan sembah dan mulai menuliskannya.
“Nafas adalah prana, energi murni kehidupan, nafas yang disuarakan menjadi kata, kejujuran kata adalah kebaikan adalah doa, adalah kesempurnaan. Terima kasih hamba akan belajar untuk selalu menjaga kejujuran, kesucian dan kebaikan hamba, dalam lantunan doa-doa pada Tuhanku,” sembah sujud Rsi Wasista yang langsung menulis puisi yang indah, padat dan bermakna.
Rsi ketiga adalah Gratasamada, yang mendapat pengetahuan tentang kehidupan dalam berumahtanggga dan bermasyarakat yang harmonis dan damai. Rsi Bharadwaja, mendapatkan pelajaran tentang untuk cara untuk mendapatkan keturunan yang baik, yang dengan kekuatan, kecerdasaannya bisa menjaga dan memelihara dunia.
Suasana lembah sungai Indus itu tiba berpendar bunga-bunga mekar, burung-burung bernyanyi riang, kecipratan air sungai menjadi irama indah, hembusan angin, menciptakan nada riang, kadang kuat menghentak atau sedih merintih.
“Terima kasih atas anugrah dengan pengetahuan, bakat dan kebijaksaanMu Tuhan.” Rsi Kanwa menghaturkan sembah. Yang keenam adalah Rsi Atri mendapatkan anugrah sebagai pelanjut garis keturunan orang-orang bijak kuno. Sejenak suasana hening.
Tiba-tiba bumi bergetar hebat, dan terbelah, hujan lebat tercurah dari langit gelap, kilatan petir menyamar, cahaya berpendar-pendar, menampakkan sosok tinggi besar menyentuh langit. Adhiswara hadir sebagai tokoh Rsi Wamadewa, bersama Rakaswari menyedot Rsi-Rsi lain dalam tubuhnya, Dewa Dewi, Para, Buda, Apsara-Apsari, alam semesta dan segala isinya., menjadi Siwa -Parwati di bumi.
“Amerta juga pengetahuan suci, dan sebagai awatara Tuhan yang menjelma di bumi, saat manusia-manusia hidup tanpa jiwa.” [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole



























