23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Aris Setiawan by Aris Setiawan
December 13, 2025
in Panggung
Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Penonton berfoto sebelum masuk ke acara Komfilasi 2025 | Foto: Tim Dok Komfilasi

HARUS diakui, dukungan terhadap ekosistem film lokal merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian berkesenian dan ekonomi kreatif sebuah wilayah. Ekosistem yang terbentuk dengan baik memungkinkan terciptanya siklus berkelanjutan, mulai dari pendidikan dan pengembangan bakat, produksi karya, hingga distribusi dan apresiasi publik.

Tanpa fondasi ekosistem yang saling mendukung, karya-karya film berisiko terisolasi, kesulitan menemukan penontonnya, dan para pelakunya kehilangan ruang untuk tumbuh. Pada konteks inilah, Kompetisi Film Asli (Komfilasi) Jawa Timur, sejak tahun 2024, hadir sebagai salah satu upaya institusional untuk merangkai berbagai elemen yang terpisah-pisah tersebut menjadi suatu jaringan yang produktif. Melalui kompetisi, pemutaran, dan diskusi, acara ini berfungsi sebagai katalisator yang mempercepat interaksi dan kolaborasi antar komponen vital dalam ekosistem.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak hadir di acara Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, dengan membaca perkembangan tersebut, melanjutkan komitmen melalui penyelenggaraan Komfilasi 2025. Kelanjutan program ini menunjukkan suatu pola pembinaan yang tidak bersifat insidental, tetapi berusaha untuk konsisten. Pemerintah daerah tampaknya memahami bahwa kemajuan sebuah ekosistem seni memerlukan intervensi berkelanjutan dan terukur.

Kehadiran Komfilasi tahun demi tahun menjadi salah satu penanda stabilitas dukungan kelembagaan bagi dunia film di wilayah ini. Komfilasi 2025 merancang dua kegiatan utama dengan sasaran yang berbeda namun saling melengkapi. Lomba Ide Cerita atau Pitch Deck berperan sebagai tahap awal pengembangan, tempat gagasan-gagasan awal diuji kelayakan dan daya tarik konseptualnya.

Di sisi lain, Lomba Video menjadi arena evaluasi untuk karya yang telah selesai, mengukur pencapaian artistik dan teknis yang nyata. Pembagian ini menarasikan pemahaman bahwa, ekosistem film yang sehat membutuhkan dukungan pada seluruh mata rantai proses kreatif, dari ide hingga produk final.

Marcella Zalianty, salah satu juri Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Bayu Skak, salah satu juri Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Tujuan penyelenggaraan kompetisi dan festival film lokal adalah menciptakan sebuah ruang multifungsi yang dapat menampung berbagai kebutuhan komunitas. Ruang ini dirancang untuk mempertemukan talenta, mendiskusikan pekerjaan, dan memberikan pengakuan atas pencapaian. Upaya ini juga secara jelas bermaksud untuk mengukuhkan posisi Jawa Timur dalam percakapan nasional mengenai film, dengan menawarkan karya-karya sebagai bahan pembicaraan. Ambisi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari strategi kebudayaan lebih besar.

Tujuh film yang berhasil lolos kurasi ketat kemudian ditampilkan kepada publik dalam program pemutaran khusus. Seleksi ini dilakukan dengan mempertimbangkan aspek orisinalitas, eksekusi, dan kontribusi terhadap keberagaman narasi. Kehadiran ketujuh film tersebut dalam satu program yang sama memungkinkan penonton dan pengamat untuk membaca tren dan kecenderungan mutakhir. Pemutaran menjadi momen krusial di mana karya bertemu dengan audiensnya, menyempurnakan siklus komunikasi dalam ekosistem film.

Salah satu nominasi pemenang Komfilasi 2025

Ragam cerita yang diangkat dalam film-film terpilih tahun ini menunjukkan perluasan cakrawala tema. Isu-isu yang disentuh berkisar pada dinamika sosial kontemporer, refleksi atas praktik budaya, serta inovasi dalam bentuk penyampaian cerita. Ekspansi tema ini mengindikasikan bahwa para pembuat film semakin berani mengeksplorasi materi di luar konvensi yang sudah mapan. Perkembangan tersebut memberi warna baru pada lanskap film daerah dan memperkaya percakapan artistik.

Acuan

Ajang Kompetisi Film Asli Jawa Timur 2025 secara resmi ditutup pada tanggal 3 Desember di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Lokasi penutupan memiliki signifikansi kultural sebagai ruang publik yang telah lama menjadi tuan rumah bagi berbagai ekspresi kesenian.

Acara penutupan berfungsi sebagai titik kumpul final bagi seluruh pihak yang terlibat, dari peserta, juri, hingga undangan dan masyarakat umum. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya satu siklus kegiatan, sekaligus mencatat capaian yang telah diraih. Semangat dan pencapaian Komfilasi 2024 memberikan landasan psikologis yang kuat bagi partisipasi pada tahun 2025.

Penonton mayoritas anak-anak muda Jawa Timur | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Penonton memadati acara Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Para pembuat film tampaknya datang dengan persiapan lebih matang dan kepercayaan diri lebih tinggi. Peningkatan kuantitas dan kualitas submisi yang diterima panitia dapat dibaca sebagai indikator tumbuhnya kepercayaan terhadap platform ini. Keyakinan ini merupakan modal sosial yang berharga bagi penguatan ekosistem film secara struktural.

Lomba Pitch Deck secara khusus berfungsi sebagai laboratorium pengembangan cerita dan model bisnis film. Kompetisi ini menempatkan penekanan pada kemampuan perumusan ide yang jelas, pengemasan presentasi, dan potensi keberlanjutan proyek. Banyak ide yang muncul dari lomba ini diharapkan dapat menarik minat produser dan investor, sehingga dapat direalisasikan di masa depan.

Proses ini vital bagi keberlangsungan ekosistem karena menjamin regenerasi ide dan proyek baru. Lomba Video menampilkan realisasi nyata dari proses kreatif yang telah mencapai tahap final. Karya-karya yang dilombakan merepresentasikan kemampuan produksi, pascaproduksi, dan distribusi yang dimiliki oleh para pembuat film Jawa Timur.

Kumpulan film dari rentang tahun 2023 hingga 2025 ini berfungsi sebagai potret keadaan terkini dari industri film daerah. Mereka adalah bukti material dari produktivitas dan perkembangan keterampilan teknis yang berlangsung.

Pertunjukan untuk memeriahkan Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Aspek kolaborasi mendapat penekanan dalam desain acara dan interaksi yang difasilitasi. Komfilasi 2025 menciptakan peluang bagi terjadinya pertemuan antara berbagai profesi dalam dunia film, seperti penulis, sutradara, sinematografer, dan produser. Jaringan terbentuk dari pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat melampaui acara itu sendiri dan berubah menjadi kemitraan kerja produktif.

Pembentukan jaringan semacam itu merupakan tulang punggung dari sebuah ekosistem kreatif yang saling mendukung. Apresiasi terhadap karya tidak hanya diwujudkan melalui pemberian penghargaan, tetapi juga melalui forum diskusi yang menyertai setiap pemutaran.

Dialog antara pembuat film dan penonton membuka ruang untuk pertukaran interpretasi, umpan balik konstruktif, dan kritik. Forum semacam ini mengangkat apresiasi film dari sekadar konsumsi pasif menjadi sebuah kegiatan intelektual yang partisipatif. Interaksi ini dapat memengaruhi proses kreatif pembuat film di kemudian hari.

Posisi Jawa Timur dalam konteks perfilman Indonesia terus mengalami perubahan dan penajaman definisi. Perhelatan seperti Komfilasi memberikan data dan bahan analisis konkret mengenai kekuatan dan kelemahan film daerah. Setiap penyelenggaraan menghasilkan katalog karya, dokumentasi diskusi, dan jejaring kontak yang menjadi aset bagi perkembangan ke depan.

Akumulasi aset ini secara perlahan membangun fondasi untuk posisi lebih strategis. Taman Budaya Cak Durasim dipilih kembali sebagai lokasi penutupan, mengukuhkan perannya sebagai simpul kebudayaan di Surabaya. Kehadiran audiens yang memadati lokasi acara menunjukkan adanya minat dan kebutuhan masyarakat terhadap tayangan film lokal. Bukankah, respon audiens merupakan salah satu variabel kunci dalam menilai vitalitas sebuah ekosistem film.

Suasa penjurian Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Komfilasi 2025 mencapai klimaksnya dengan pengumuman para pemenang kompetisi. Gelar Juara I berhasil diraih oleh film Kentang Tingtung Tintang Tingtung produksi Sinema Batu Adem yang disutradarai Lingga G Permadi. Posisi Juara II diperoleh film Buwuh dari Anonema Pictures karya sutradara Irfani Luman, sementara Juara III jatuh kepada film Lansia Lan Sopo produksi Mufis (Komunitas Film Sidoarjo) sutradara Alfian Alfarisi. Keputusan juri mencerminkan suatu pertimbangan atas pencapaian artistik yang beragam.

Penghargaan khusus dalam beberapa kategori juga diberikan untuk menghargai pencapaian individu dan tim. Penghargaan Sutradara Terbaik diberikan kepada Alif Septian Raksono untuk film Rammo’ Bucco dari Empat Belas Project.

Penyerahan penghargaan pada pemenang Komfilasi 2025 oleh Wakil Gubernur dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Partiwisata

Gelar Aktor Terbaik diraih oleh Kun Baehaqi atas perannya dalam film Kandang dan Ladang produksi Boomcraft Production. Film Rammo’ Bucco dari Empat Belas Project berhasil meraih penghargaan Film Terbaik, dan penghargaan Skenario Terbaik dimenangkan oleh film Tutup Hari Kiamat dari Hisstory Film yang disutradarai Dzauqy Ilham. Daftar pemenang ini memetakan sebaran talenta dan kelompok produksi yang aktif berkontribusi.

Keberadaan festival film lokal membuka ruang bagi karya-karya untuk hidup dan berdialog langsung dengan konteks sosial yang melatarbelakanginya. Setiap daerah memiliki denyut cerita dan cara pengungkapan visualnya sendiri, yang memerlukan wadah khusus untuk dapat terpantik dan berkembang.

Ruang-ruang seperti inilah yang memastikan bahwa film lokal tidak kehilangan suaranya dalam gemuruh arus budaya global. Dengan demikian, proliferasi festival daerah menjadi nadi bagi keberagaman ekspresi perfilman nasional. Tumbuhnya acara-acara serupa di pelbagai wilayah, tidak hanya di Jawa Timur,  akan memperkaya khasanah, memunculkan lebih banyak suara, dan memperkuat jalinan kreatif antar daerah. Dari sanalah film-film lokal menemukan tanah subur untuk bertumbuh, membentuk mozaik yang utuh dalam wajah sinema Indonesia. [T]

Penulis: Aris Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmfilmJawa TimurKompetisi Film Asli Jawa Timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Next Post

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Seorang jurnalis yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, Abdi Seni. Aris Setiawan menjadi dosen di Jurusan Etnomusikologi dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Related Posts

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
0
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

Read moreDetails

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
0
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

Read moreDetails

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
0
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

Read moreDetails

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
0
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

Read moreDetails

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

by tatkala
October 4, 2026
0
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails
Next Post
Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co