13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Aris Setiawan by Aris Setiawan
December 13, 2025
in Panggung
Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Penonton berfoto sebelum masuk ke acara Komfilasi 2025 | Foto: Tim Dok Komfilasi

HARUS diakui, dukungan terhadap ekosistem film lokal merupakan langkah strategis dalam membangun kemandirian berkesenian dan ekonomi kreatif sebuah wilayah. Ekosistem yang terbentuk dengan baik memungkinkan terciptanya siklus berkelanjutan, mulai dari pendidikan dan pengembangan bakat, produksi karya, hingga distribusi dan apresiasi publik.

Tanpa fondasi ekosistem yang saling mendukung, karya-karya film berisiko terisolasi, kesulitan menemukan penontonnya, dan para pelakunya kehilangan ruang untuk tumbuh. Pada konteks inilah, Kompetisi Film Asli (Komfilasi) Jawa Timur, sejak tahun 2024, hadir sebagai salah satu upaya institusional untuk merangkai berbagai elemen yang terpisah-pisah tersebut menjadi suatu jaringan yang produktif. Melalui kompetisi, pemutaran, dan diskusi, acara ini berfungsi sebagai katalisator yang mempercepat interaksi dan kolaborasi antar komponen vital dalam ekosistem.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak hadir di acara Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, dengan membaca perkembangan tersebut, melanjutkan komitmen melalui penyelenggaraan Komfilasi 2025. Kelanjutan program ini menunjukkan suatu pola pembinaan yang tidak bersifat insidental, tetapi berusaha untuk konsisten. Pemerintah daerah tampaknya memahami bahwa kemajuan sebuah ekosistem seni memerlukan intervensi berkelanjutan dan terukur.

Kehadiran Komfilasi tahun demi tahun menjadi salah satu penanda stabilitas dukungan kelembagaan bagi dunia film di wilayah ini. Komfilasi 2025 merancang dua kegiatan utama dengan sasaran yang berbeda namun saling melengkapi. Lomba Ide Cerita atau Pitch Deck berperan sebagai tahap awal pengembangan, tempat gagasan-gagasan awal diuji kelayakan dan daya tarik konseptualnya.

Di sisi lain, Lomba Video menjadi arena evaluasi untuk karya yang telah selesai, mengukur pencapaian artistik dan teknis yang nyata. Pembagian ini menarasikan pemahaman bahwa, ekosistem film yang sehat membutuhkan dukungan pada seluruh mata rantai proses kreatif, dari ide hingga produk final.

Marcella Zalianty, salah satu juri Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Bayu Skak, salah satu juri Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Tujuan penyelenggaraan kompetisi dan festival film lokal adalah menciptakan sebuah ruang multifungsi yang dapat menampung berbagai kebutuhan komunitas. Ruang ini dirancang untuk mempertemukan talenta, mendiskusikan pekerjaan, dan memberikan pengakuan atas pencapaian. Upaya ini juga secara jelas bermaksud untuk mengukuhkan posisi Jawa Timur dalam percakapan nasional mengenai film, dengan menawarkan karya-karya sebagai bahan pembicaraan. Ambisi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari strategi kebudayaan lebih besar.

Tujuh film yang berhasil lolos kurasi ketat kemudian ditampilkan kepada publik dalam program pemutaran khusus. Seleksi ini dilakukan dengan mempertimbangkan aspek orisinalitas, eksekusi, dan kontribusi terhadap keberagaman narasi. Kehadiran ketujuh film tersebut dalam satu program yang sama memungkinkan penonton dan pengamat untuk membaca tren dan kecenderungan mutakhir. Pemutaran menjadi momen krusial di mana karya bertemu dengan audiensnya, menyempurnakan siklus komunikasi dalam ekosistem film.

Salah satu nominasi pemenang Komfilasi 2025

Ragam cerita yang diangkat dalam film-film terpilih tahun ini menunjukkan perluasan cakrawala tema. Isu-isu yang disentuh berkisar pada dinamika sosial kontemporer, refleksi atas praktik budaya, serta inovasi dalam bentuk penyampaian cerita. Ekspansi tema ini mengindikasikan bahwa para pembuat film semakin berani mengeksplorasi materi di luar konvensi yang sudah mapan. Perkembangan tersebut memberi warna baru pada lanskap film daerah dan memperkaya percakapan artistik.

Acuan

Ajang Kompetisi Film Asli Jawa Timur 2025 secara resmi ditutup pada tanggal 3 Desember di Taman Budaya Cak Durasim, Surabaya. Lokasi penutupan memiliki signifikansi kultural sebagai ruang publik yang telah lama menjadi tuan rumah bagi berbagai ekspresi kesenian.

Acara penutupan berfungsi sebagai titik kumpul final bagi seluruh pihak yang terlibat, dari peserta, juri, hingga undangan dan masyarakat umum. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya satu siklus kegiatan, sekaligus mencatat capaian yang telah diraih. Semangat dan pencapaian Komfilasi 2024 memberikan landasan psikologis yang kuat bagi partisipasi pada tahun 2025.

Penonton mayoritas anak-anak muda Jawa Timur | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Penonton memadati acara Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Para pembuat film tampaknya datang dengan persiapan lebih matang dan kepercayaan diri lebih tinggi. Peningkatan kuantitas dan kualitas submisi yang diterima panitia dapat dibaca sebagai indikator tumbuhnya kepercayaan terhadap platform ini. Keyakinan ini merupakan modal sosial yang berharga bagi penguatan ekosistem film secara struktural.

Lomba Pitch Deck secara khusus berfungsi sebagai laboratorium pengembangan cerita dan model bisnis film. Kompetisi ini menempatkan penekanan pada kemampuan perumusan ide yang jelas, pengemasan presentasi, dan potensi keberlanjutan proyek. Banyak ide yang muncul dari lomba ini diharapkan dapat menarik minat produser dan investor, sehingga dapat direalisasikan di masa depan.

Proses ini vital bagi keberlangsungan ekosistem karena menjamin regenerasi ide dan proyek baru. Lomba Video menampilkan realisasi nyata dari proses kreatif yang telah mencapai tahap final. Karya-karya yang dilombakan merepresentasikan kemampuan produksi, pascaproduksi, dan distribusi yang dimiliki oleh para pembuat film Jawa Timur.

Kumpulan film dari rentang tahun 2023 hingga 2025 ini berfungsi sebagai potret keadaan terkini dari industri film daerah. Mereka adalah bukti material dari produktivitas dan perkembangan keterampilan teknis yang berlangsung.

Pertunjukan untuk memeriahkan Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Aspek kolaborasi mendapat penekanan dalam desain acara dan interaksi yang difasilitasi. Komfilasi 2025 menciptakan peluang bagi terjadinya pertemuan antara berbagai profesi dalam dunia film, seperti penulis, sutradara, sinematografer, dan produser. Jaringan terbentuk dari pertemuan-pertemuan ini diharapkan dapat melampaui acara itu sendiri dan berubah menjadi kemitraan kerja produktif.

Pembentukan jaringan semacam itu merupakan tulang punggung dari sebuah ekosistem kreatif yang saling mendukung. Apresiasi terhadap karya tidak hanya diwujudkan melalui pemberian penghargaan, tetapi juga melalui forum diskusi yang menyertai setiap pemutaran.

Dialog antara pembuat film dan penonton membuka ruang untuk pertukaran interpretasi, umpan balik konstruktif, dan kritik. Forum semacam ini mengangkat apresiasi film dari sekadar konsumsi pasif menjadi sebuah kegiatan intelektual yang partisipatif. Interaksi ini dapat memengaruhi proses kreatif pembuat film di kemudian hari.

Posisi Jawa Timur dalam konteks perfilman Indonesia terus mengalami perubahan dan penajaman definisi. Perhelatan seperti Komfilasi memberikan data dan bahan analisis konkret mengenai kekuatan dan kelemahan film daerah. Setiap penyelenggaraan menghasilkan katalog karya, dokumentasi diskusi, dan jejaring kontak yang menjadi aset bagi perkembangan ke depan.

Akumulasi aset ini secara perlahan membangun fondasi untuk posisi lebih strategis. Taman Budaya Cak Durasim dipilih kembali sebagai lokasi penutupan, mengukuhkan perannya sebagai simpul kebudayaan di Surabaya. Kehadiran audiens yang memadati lokasi acara menunjukkan adanya minat dan kebutuhan masyarakat terhadap tayangan film lokal. Bukankah, respon audiens merupakan salah satu variabel kunci dalam menilai vitalitas sebuah ekosistem film.

Suasa penjurian Komfilasi 2025 | Foto oleh tim dokumentasi Komfilasi

Komfilasi 2025 mencapai klimaksnya dengan pengumuman para pemenang kompetisi. Gelar Juara I berhasil diraih oleh film Kentang Tingtung Tintang Tingtung produksi Sinema Batu Adem yang disutradarai Lingga G Permadi. Posisi Juara II diperoleh film Buwuh dari Anonema Pictures karya sutradara Irfani Luman, sementara Juara III jatuh kepada film Lansia Lan Sopo produksi Mufis (Komunitas Film Sidoarjo) sutradara Alfian Alfarisi. Keputusan juri mencerminkan suatu pertimbangan atas pencapaian artistik yang beragam.

Penghargaan khusus dalam beberapa kategori juga diberikan untuk menghargai pencapaian individu dan tim. Penghargaan Sutradara Terbaik diberikan kepada Alif Septian Raksono untuk film Rammo’ Bucco dari Empat Belas Project.

Penyerahan penghargaan pada pemenang Komfilasi 2025 oleh Wakil Gubernur dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Partiwisata

Gelar Aktor Terbaik diraih oleh Kun Baehaqi atas perannya dalam film Kandang dan Ladang produksi Boomcraft Production. Film Rammo’ Bucco dari Empat Belas Project berhasil meraih penghargaan Film Terbaik, dan penghargaan Skenario Terbaik dimenangkan oleh film Tutup Hari Kiamat dari Hisstory Film yang disutradarai Dzauqy Ilham. Daftar pemenang ini memetakan sebaran talenta dan kelompok produksi yang aktif berkontribusi.

Keberadaan festival film lokal membuka ruang bagi karya-karya untuk hidup dan berdialog langsung dengan konteks sosial yang melatarbelakanginya. Setiap daerah memiliki denyut cerita dan cara pengungkapan visualnya sendiri, yang memerlukan wadah khusus untuk dapat terpantik dan berkembang.

Ruang-ruang seperti inilah yang memastikan bahwa film lokal tidak kehilangan suaranya dalam gemuruh arus budaya global. Dengan demikian, proliferasi festival daerah menjadi nadi bagi keberagaman ekspresi perfilman nasional. Tumbuhnya acara-acara serupa di pelbagai wilayah, tidak hanya di Jawa Timur,  akan memperkaya khasanah, memunculkan lebih banyak suara, dan memperkuat jalinan kreatif antar daerah. Dari sanalah film-film lokal menemukan tanah subur untuk bertumbuh, membentuk mozaik yang utuh dalam wajah sinema Indonesia. [T]

Penulis: Aris Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Tags: festival filmfilmJawa TimurKompetisi Film Asli Jawa Timur
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Next Post

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Aris Setiawan

Aris Setiawan

Seorang jurnalis yang rajin melakukan pencatatan peristiwa musik untuk dipublikasikan di media massa. Beberapa karya tulisnya rutin terbit di Harian Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jawa Pos, Detik.com, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Solopos, Majalah Basis, Republika, Basa-basi.co, Koran Jakarta, Koran Kontan, Etnis.id. Ia juga aktif menulis di jurnal ilmiah seperti Dewa Ruci, Sorai, Gelar, Terob, Resital, Music Scholarship, Pelataran Seni, Harmonia, Abdi Seni. Aris Setiawan menjadi dosen di Jurusan Etnomusikologi dan Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Related Posts

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
0
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

Read moreDetails

‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 10, 2026
0
‘Sanè Kantun Ring Manah’: Ketika Marlowe Bandem Menghidupkan Ingatan Budaya di Singaraja Literary Festival 2026

MALAM itu nyaris tak terdengar suara selain desir angin dan dialog yang mengalun dari layar. Puluhan pasang mata tertuju ke...

Read moreDetails

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

SORE itu, suasana sakral menyelimuti Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis (9/7/2026). Nada-nada yang terdengar sederhana, tetapi kokoh...

Read moreDetails

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
0
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails
Next Post
Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co