24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 13, 2025
in Esai
Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Aku hanya mau percaya kepada Tuhan yang bisa menari.” Demikian seruan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra. Banyak orang mengutip kalimat ini sambil tersenyum, menganggapnya sekadar provokasi khas Nietzsche. Padahal, di balik keunikan bahasanya, Nietzsche sedang membuka jendela menuju pemahaman spiritualitas yang sangat dalam: bahwa Tuhan—atau keilahian—bukan hanya objek pemujaan yang dingin, kaku, dan jauh, tetapi sesuatu yang hidup, mengalir, energetik; sesuatu yang merayakan keberadaan. Dan bagi Nietzsche, simbol paling jernih dari kehidupan yang dirayakan adalah tarian, sementara medium paling universalnya adalah musik.

Musik sebagai Gerbang Spiritualitas yang Menggembirakan

Nietzsche pernah menulis, “Tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan.” Baginya, musik adalah vibrasi eksistensi; ia menyentuh wilayah kedalaman batin manusia yang tidak dapat dijangkau oleh doktrin, hukum, atau ritual kering. Ketika seseorang menari, ia memasuki keadaan di mana tubuh, napas, pikiran, dan emosi menyatu dalam ritme. Tidak ada pemisahan antara subjek dan objek; yang ada hanya aliran energi.

Di sinilah Nietzsche menempatkan “Tuhan yang bisa menari”—sebuah representasi keilahian yang tidak menakut-nakuti manusia, tidak memaksa mereka tunduk melalui rasa bersalah, melainkan mendorong mereka untuk merayakan kehidupan. Tuhan yang mengajak manusia melompat dari belenggu moralitas sempit menuju kemanusiaan yang otentik.

Peta Kesadaran Hawkins: Di Mana Tarian Berada?

David R. Hawkins dalam Map of Consciousness memetakan kesadaran manusia dalam rentang energi. Menariknya, keadaan gembira, kreatif, dan merayakan kehidupan (termasuk menari dan musik) berada pada level kesadaran yang lebih tinggi, jauh di atas rasa takut, rasa bersalah, atau kemarahan yang sering menjadi bahan bakar agama dan politik konvensional.

Mari kita lihat beberapa level kesadaran Hawkins yang relevan:

  • 200 – Courage (Keberanian): Titik transisi dari energi destruktif ke konstruktif. Banyak orang mulai bisa menari—secara metaforis maupun literal—ketika mereka berani melepaskan beban sosial dan ketakutan akan penilaian orang lain.
  • 350 – Acceptance (Penerimaan): Di sini seseorang mulai menerima diri apa adanya. Musik menjadi meditasi bergerak.
  • 500 – Love (Cinta): Tarian menjadi ekspresi kasih yang tidak bersyarat. Banyak tradisi sufi menari di titik ini.
  • 540 – Joy (Sukacita): Energi menari yang paling murni. Tidak ada motif selain merayakan hidup.
  • 600 ke atas – Peace & Enlightenment (Damai & Pencerahan): Pada titik ini, seluruh alam semesta menjadi simfoni. Penari dan tarian menjadi satu.

Nietzsche tidak menulis dengan bahasa energi, tetapi intuisinya selaras: spiritualitas sejati adalah spiritualitas yang hidup, menggembirakan, membebaskan, bukan spiritualitas yang mengkerutkan dahi.

Indonesia Hari Ini: Ketika Tuhan Tidak Lagi Bisa Menari

Jika seruan Nietzsche dibawa ke konteks Indonesia saat ini, ia terdengar seperti kritik yang tepat sasaran. Kita hidup dalam atmosfer sosial yang semakin tegang: politik identitas, polarisasi, kebencian yang disulut oleh perbedaan, serta moralitas yang diklaim suci tapi justru memenjarakan.

Religiusitas kita tampak makin formal, kaku, dan sering kali kehilangan sukacita. Banyak ritual dilakukan, tetapi rasa takut lebih menonjol daripada rasa cinta. Di media sosial, orang lebih sibuk menghakimi daripada merayakan kehidupan. Seolah-olah Tuhan digambarkan sebagai sosok yang pemarah, bukan yang bisa tersenyum—apalagi menari.

Di Bali pun, yang terkenal dengan adat penuh warna dan rasa, sering kali ritual berubah menjadi beban administratif, bukan ruang pembebasan batin. Padahal, budaya Bali sesungguhnya selaras dengan seruan Nietzsche—tarian adalah doa, gamelan adalah meditasi bergerak, dan upacara adalah festival spiritual.

Musik sebagai Terapi Sosial dan Spiritualitas

Lewat peta Hawkins, kita bisa melihat bahwa bangsa dengan energi kolektif yang sering berada pada level fear (100), anger (150), atau pride (175) akan sulit bergerak maju. Bangsa tersebut terlalu sibuk mempertahankan identitas, memperdebatkan moralitas, atau memperebutkan kekuasaan. Musik dan tarian—dua simbol perayaan hidup—adalah cara menaikkan energi kolektif secara alami.

Dalam ritual-ritual Nusantara, musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah medium penyembuhan. Dari gamelan Bali, rebana Aceh, sampai musik Molulo di Sulawesi, semua mengandung vibrasi yang mengangkat kesadaran. Saat masyarakat menari, tubuh melepas ketegangan, pikiran menjadi lentur, dan hati lebih mudah terbuka.

Nietzsche tentu akan tersenyum melihat masyarakat Indonesia masa lalu yang hidup dengan irama alam dan musik. Tetapi ia mungkin akan gelisah melihat masyarakat masa kini yang makin formal, makin cepat tersinggung, dan makin jauh dari tarian sukacita.

Kembali ke Tuhan yang Menari: Pelajaran untuk Indonesia

Apa yang dapat dipetik Indonesia dari Nietzsche dan Hawkins?

1. Spiritualitas harus membebaskan, bukan menakutkan.
Jika tujuan agama adalah menenangkan jiwa, mengapa kita menggunakan rasa takut untuk mengelola masyarakat? Ketakutan hanya menurunkan energi, membawa kita ke zona “survival mode”.

2. Seni—musik dan tari—adalah obat sosial.
Pendidikan kita terlalu menekankan hafalan; kita lupa bahwa kreativitas membuka kesadaran. Seni seharusnya menjadi pilar pembentukan karakter, bukan sekadar ekstrakurikuler.

3. Ritual harus hidup, bukan menjadi rutinitas hampa.
Ketika tarian dan musik dikembalikan sebagai bagian dari pengalaman spiritual, masyarakat menjadi lebih sehat secara emosional dan mental.

4. Bangsa ini perlu menaikkan level kesadaran kolektifnya.
Dari fear dan anger menuju love dan joy. Dan tak ada jalan pintas selain melalui kehadiran, kesadaran, dan kegembiraan.

Menari sebagai Metafora Hidup

Ketika Nietzsche berkata ia hanya mau percaya kepada Tuhan yang bisa menari, ia sedang berbicara tentang Tuhan yang hidup dalam diri manusia yang bebas, jujur, penuh sukacita, dan berani merayakan eksistensinya. Tuhan yang tidak membelenggu, melainkan membebaskan.

Dalam bahasa Hawkins, Tuhan yang menari itu adalah kesadaran pada level tertinggi—cinta, sukacita, damai, pencerahan.

Dalam konteks Indonesia, kita sedang memerlukan Tuhan yang seperti itu: Tuhan yang mampu menginspirasi manusia untuk bergerak, mencipta, menyembuhkan, dan menari bersama kehidupan, bukan Tuhan yang dijadikan alasan untuk marah, takut, atau saling menyalahkan.

Karena pada akhirnya, bangsa yang bisa menari adalah bangsa yang bisa sembuh. Dan bangsa yang bisa sembuh adalah bangsa yang bisa maju. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kepercayaanSeniseni tariSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co