23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 13, 2025
in Esai
Aku Hanya Mau Percaya Tuhan yang Bisa Menari

Ilustrasi tatkala.co | Canva

“Aku hanya mau percaya kepada Tuhan yang bisa menari.” Demikian seruan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra. Banyak orang mengutip kalimat ini sambil tersenyum, menganggapnya sekadar provokasi khas Nietzsche. Padahal, di balik keunikan bahasanya, Nietzsche sedang membuka jendela menuju pemahaman spiritualitas yang sangat dalam: bahwa Tuhan—atau keilahian—bukan hanya objek pemujaan yang dingin, kaku, dan jauh, tetapi sesuatu yang hidup, mengalir, energetik; sesuatu yang merayakan keberadaan. Dan bagi Nietzsche, simbol paling jernih dari kehidupan yang dirayakan adalah tarian, sementara medium paling universalnya adalah musik.

Musik sebagai Gerbang Spiritualitas yang Menggembirakan

Nietzsche pernah menulis, “Tanpa musik, hidup adalah sebuah kesalahan.” Baginya, musik adalah vibrasi eksistensi; ia menyentuh wilayah kedalaman batin manusia yang tidak dapat dijangkau oleh doktrin, hukum, atau ritual kering. Ketika seseorang menari, ia memasuki keadaan di mana tubuh, napas, pikiran, dan emosi menyatu dalam ritme. Tidak ada pemisahan antara subjek dan objek; yang ada hanya aliran energi.

Di sinilah Nietzsche menempatkan “Tuhan yang bisa menari”—sebuah representasi keilahian yang tidak menakut-nakuti manusia, tidak memaksa mereka tunduk melalui rasa bersalah, melainkan mendorong mereka untuk merayakan kehidupan. Tuhan yang mengajak manusia melompat dari belenggu moralitas sempit menuju kemanusiaan yang otentik.

Peta Kesadaran Hawkins: Di Mana Tarian Berada?

David R. Hawkins dalam Map of Consciousness memetakan kesadaran manusia dalam rentang energi. Menariknya, keadaan gembira, kreatif, dan merayakan kehidupan (termasuk menari dan musik) berada pada level kesadaran yang lebih tinggi, jauh di atas rasa takut, rasa bersalah, atau kemarahan yang sering menjadi bahan bakar agama dan politik konvensional.

Mari kita lihat beberapa level kesadaran Hawkins yang relevan:

  • 200 – Courage (Keberanian): Titik transisi dari energi destruktif ke konstruktif. Banyak orang mulai bisa menari—secara metaforis maupun literal—ketika mereka berani melepaskan beban sosial dan ketakutan akan penilaian orang lain.
  • 350 – Acceptance (Penerimaan): Di sini seseorang mulai menerima diri apa adanya. Musik menjadi meditasi bergerak.
  • 500 – Love (Cinta): Tarian menjadi ekspresi kasih yang tidak bersyarat. Banyak tradisi sufi menari di titik ini.
  • 540 – Joy (Sukacita): Energi menari yang paling murni. Tidak ada motif selain merayakan hidup.
  • 600 ke atas – Peace & Enlightenment (Damai & Pencerahan): Pada titik ini, seluruh alam semesta menjadi simfoni. Penari dan tarian menjadi satu.

Nietzsche tidak menulis dengan bahasa energi, tetapi intuisinya selaras: spiritualitas sejati adalah spiritualitas yang hidup, menggembirakan, membebaskan, bukan spiritualitas yang mengkerutkan dahi.

Indonesia Hari Ini: Ketika Tuhan Tidak Lagi Bisa Menari

Jika seruan Nietzsche dibawa ke konteks Indonesia saat ini, ia terdengar seperti kritik yang tepat sasaran. Kita hidup dalam atmosfer sosial yang semakin tegang: politik identitas, polarisasi, kebencian yang disulut oleh perbedaan, serta moralitas yang diklaim suci tapi justru memenjarakan.

Religiusitas kita tampak makin formal, kaku, dan sering kali kehilangan sukacita. Banyak ritual dilakukan, tetapi rasa takut lebih menonjol daripada rasa cinta. Di media sosial, orang lebih sibuk menghakimi daripada merayakan kehidupan. Seolah-olah Tuhan digambarkan sebagai sosok yang pemarah, bukan yang bisa tersenyum—apalagi menari.

Di Bali pun, yang terkenal dengan adat penuh warna dan rasa, sering kali ritual berubah menjadi beban administratif, bukan ruang pembebasan batin. Padahal, budaya Bali sesungguhnya selaras dengan seruan Nietzsche—tarian adalah doa, gamelan adalah meditasi bergerak, dan upacara adalah festival spiritual.

Musik sebagai Terapi Sosial dan Spiritualitas

Lewat peta Hawkins, kita bisa melihat bahwa bangsa dengan energi kolektif yang sering berada pada level fear (100), anger (150), atau pride (175) akan sulit bergerak maju. Bangsa tersebut terlalu sibuk mempertahankan identitas, memperdebatkan moralitas, atau memperebutkan kekuasaan. Musik dan tarian—dua simbol perayaan hidup—adalah cara menaikkan energi kolektif secara alami.

Dalam ritual-ritual Nusantara, musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah medium penyembuhan. Dari gamelan Bali, rebana Aceh, sampai musik Molulo di Sulawesi, semua mengandung vibrasi yang mengangkat kesadaran. Saat masyarakat menari, tubuh melepas ketegangan, pikiran menjadi lentur, dan hati lebih mudah terbuka.

Nietzsche tentu akan tersenyum melihat masyarakat Indonesia masa lalu yang hidup dengan irama alam dan musik. Tetapi ia mungkin akan gelisah melihat masyarakat masa kini yang makin formal, makin cepat tersinggung, dan makin jauh dari tarian sukacita.

Kembali ke Tuhan yang Menari: Pelajaran untuk Indonesia

Apa yang dapat dipetik Indonesia dari Nietzsche dan Hawkins?

1. Spiritualitas harus membebaskan, bukan menakutkan.
Jika tujuan agama adalah menenangkan jiwa, mengapa kita menggunakan rasa takut untuk mengelola masyarakat? Ketakutan hanya menurunkan energi, membawa kita ke zona “survival mode”.

2. Seni—musik dan tari—adalah obat sosial.
Pendidikan kita terlalu menekankan hafalan; kita lupa bahwa kreativitas membuka kesadaran. Seni seharusnya menjadi pilar pembentukan karakter, bukan sekadar ekstrakurikuler.

3. Ritual harus hidup, bukan menjadi rutinitas hampa.
Ketika tarian dan musik dikembalikan sebagai bagian dari pengalaman spiritual, masyarakat menjadi lebih sehat secara emosional dan mental.

4. Bangsa ini perlu menaikkan level kesadaran kolektifnya.
Dari fear dan anger menuju love dan joy. Dan tak ada jalan pintas selain melalui kehadiran, kesadaran, dan kegembiraan.

Menari sebagai Metafora Hidup

Ketika Nietzsche berkata ia hanya mau percaya kepada Tuhan yang bisa menari, ia sedang berbicara tentang Tuhan yang hidup dalam diri manusia yang bebas, jujur, penuh sukacita, dan berani merayakan eksistensinya. Tuhan yang tidak membelenggu, melainkan membebaskan.

Dalam bahasa Hawkins, Tuhan yang menari itu adalah kesadaran pada level tertinggi—cinta, sukacita, damai, pencerahan.

Dalam konteks Indonesia, kita sedang memerlukan Tuhan yang seperti itu: Tuhan yang mampu menginspirasi manusia untuk bergerak, mencipta, menyembuhkan, dan menari bersama kehidupan, bukan Tuhan yang dijadikan alasan untuk marah, takut, atau saling menyalahkan.

Karena pada akhirnya, bangsa yang bisa menari adalah bangsa yang bisa sembuh. Dan bangsa yang bisa sembuh adalah bangsa yang bisa maju. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: kepercayaanSeniseni tariSpiritualTuhan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Titik Temu Ekosistem Film Lokal —Catatan dari Kompetisi Film Asli Jawa Timur

Next Post

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Beri Aku Waktu Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co