25 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warisan Benda Pusaka — Batavia, Kota yang Kita Baca dari Cerita Lenong Denes Pusaka Budaya

Emi Suy by Emi Suy
December 2, 2025
in Panggung
Warisan Benda Pusaka — Batavia, Kota yang Kita Baca dari Cerita Lenong Denes Pusaka Budaya

Lenong denes pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Batavia: Tanah yang Menjaga Ingatan

Sebelum dunia tergesa-gesa menamai kota ini sebagai Jakarta dan sebelum gedung-gedung kaca menjulurkan bayangan panjang yang menutupi sejarahnya sendiri, Batavia pernah menjadi ruang luas yang mengajarkan manusia berjalan lebih pelan.

Tidak ada deru kendaraan yang menghardik udara, tidak ada papan reklame yang memaksa mata menentukan pilihan. Yang ada hanyalah tanah yang menyimpan ingatan, sungai yang bernapas perlahan, dan angin yang membawa kabar dengan sopan, seakan memahami bahwa setiap pesan harus tiba pada waktu yang tepat.

Di masa itulah sebuah kesultanan berdiri. Ia bukan kerajaan besar dan gemerlap, tetapi rumah panjang yang menaruh kearifan di atas meja, bukan di atas takhta. Kesultanan ini memiliki keyakinan bahwa harmoni lebih penting daripada dominasi, dan kekuatan sejati lahir dari menjaga keseimbangan, bukan dari ketakutan.

Dari keyakinan itulah lahir sebuah pusaka lambang keluhuran yang mampu mempersatukan wilayah-wilayah kecil di sekelilingnya. Pusaka itu tidak diberikan kepada menteri atau prajurit ternama, melainkan kepada seorang pengawal kepercayaan bernama Ki Sayuti.

Ki Sayuti: Penjaga Sunyi yang Menghilang dari Catatan

Sejarah sering menonjolkan nama-nama besar, sementara mereka yang bekerja dalam diam berjalan melewati waktu tanpa tanda. Ki Sayuti adalah salah satunya.

Ia membawa lambang keluhuran itu melintasi kampung-kampung yang kini hanya tinggal nama di peta, menyeberangi sungai yang jernihnya telah memudar, dan melewati rawa yang perlahan berubah menjadi bangunan. Tugasnya sederhana namun berat: menjaga agar ajaran lama tidak dikorbankan demi ambisi.

Ia menghilang dari catatan resmi, tetapi ketidaktampakannya justru membuat pusaka itu aman. Legenda Ki Sayuti bukan tentang senjata atau kekuasaan, melainkan tentang laku hidup.

Jembatan Waktu: Dari Ki Sayuti ke Perguruan Pusaka Budaya

Setelah zaman Ki Sayuti, ketika kesultanan dan penguasa silih berganti mengisi Batavia, warisan nilai dan ilmu tidak hilang begitu saja. Dari bayang-bayang sejarah itu, lahirlah sebuah perguruan: Pusaka Budaya, sekitar akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, sebagai tempat menyalurkan kearifan lama.

Perguruan ini bukan sekadar mengajarkan ilmu bela diri, tetapi juga tata cara hidup, kesabaran, kehormatan, dan cara menata batin agar tetap selaras dengan nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Pertunjukan pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Puluhan tahun kemudian, pada generasi ketiga yang diasuh Babeh Mugeni sekitar pertengahan abad ke-20 mulai terdengar kabar bahwa perguruan itu menyimpan sebuah pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Pusaka itu bukan sekadar benda; ia adalah lambang keluhuran yang membawa pesan, amanat, dan pedoman batin bagi setiap murid yang bersedia menapaki jalannya.

Di perguruan ini, setiap murid belajar bahwa kehormatan sejati tidak diukur dari benda yang dipajang atau gelar yang diangkat, melainkan dari laku hidup yang dijalani setiap hari: kesabaran dalam menghadapi konflik, kejujuran dalam setiap tindakan, dan keberanian untuk menjaga amanat leluhur.

Setiap gerak, setiap napas, bahkan setiap kata yang diucapkan adalah cara untuk menyalurkan pusaka, bukan sebagai harta, tetapi sebagai pedoman batin yang menghidupkan nilai luhur dalam diri.

Perguruan Pusaka Budaya menjadi ruang di mana masa lalu dan masa kini bersentuhan. Di sini, legenda Ki Sayuti tidak sekadar cerita; ia menjadi cara hidup, dihidupkan melalui latihan, ajaran, dan pengalaman murid-muridnya.

Perguruan Pusaka Budaya: Tempat Laku Ditempa

Waktu bergerak maju. Kesultanan pun sirna, tetapi pedoman batin yang dilindungi Ki Sayuti tidak hilang. Beberapa generasi kemudian, di Batavia yang kini mulai berubah menjadi Jakarta, berdirilah sebuah perguruan: Pusaka Budaya, didirikan oleh Babeh Mugeni.

Perguruan ini bukan sekadar tempat belajar ilmu bela diri. Ia mengajarkan tata cara hidup, menata batin, dan menjaga laku manusia agar tetap selaras dengan nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Di perguruan itu, generasi ketiga murid Babeh Mugeni mulai mendengar lagi berita tentang pusaka yang diwariskan Ki Sayuti pusaka yang tidak terlihat, namun hadir dalam cara hidup, kejujuran, dan keberanian. Murid-murid belajar bahwa kehormatan sejati bukan benda yang dipajang, melainkan laku yang dijalani setiap hari.

Panggung Kota Tua: Menghidupkan Sejarah

Pada satu siang di penghujung November, legenda itu dipanggil kembali, bukan melalui mantra, melainkan melalui tubuh-tubuh yang bersedia menghidupkannya di panggung Batavia. Panas Kota Tua dan hiruk-pikuk wisatawan menjadi latar musik yang tidak bisa dihentikan. Setiap gerak, napas, dan suara kami menjadi cara memanggil pulang sejarah. Pementasan bukan sekadar sandiwara; ia adalah tubuh dari pusaka itu sendiri.

Batavia Green Tourism, Pertemuan Legenda dan Masa Kini

Pertunjukan ini menjadi bagian dari Festival Batavia Green Tourism, perayaan budaya oleh Suku Dinas Parekraf Jakarta, di Taman Fatahillah:

Lenong Denes Pusaka Budaya

Minggu, 30 November 2025 | 12.30–14.45 WIB

Para pemain adalah penjembatani masa lampau dan masa kini:

Emi Suy, Emak Ocha, Yokô, Deinar M A, Jambule, Syech Puji, Hery Tany, Nurjanah, Azrina, Az-zahra, Adam Dawera, Rinto Bangkit K, Pramono, Nurfa Octavianti, Abigail, Fitrah, Hisyam D, Adjie Maulana, Apit Serabut, Beni Gaok, Agus Waspada, Shelby Azalia.

Di Balik Layar: Pondasi yang Jarang Dipuji

Apa yang tampak di panggung hanyalah puncak gunung. Di bawahnya terdapat kerja panjang orang-orang yang tidak pernah menuntut tepuk tangan:

Anto RistarGie yang membaca cerita bahkan sebelum para pemain menghafalkannya.

Le Suyud yang menjaga ritme agar alur tidak tersesat.

Laksmi Purwati yang memahat wajah para pemain hingga menjadi tokoh.

Gambang Kromong Sanggar Si Pitung yang menjadi denyut Batavia di sepanjang pementasan.

Mereka bekerja tanpa sorotan, tetapi tanpa mereka panggung tidak akan pernah punya jiwa.

Warisan Merah Putih: Titipan yang Tak Boleh Pudar

Layar dibuka di siang yang panas; apa yang tampak di panggung bukan sekadar sandiwara, melainkan cermin dari kebiasaan manusia: memburu “hak” hingga lupa arti “pantas”. Di ruang seperti itu, persaudaraan sering kali yang paling dahulu patah. Amanat masa lampau, yang semestinya menjadi pengikat, justru berubah menjadi alasan untuk saling mengasah amarah. Barang sekecil apa pun dapat menjelma hutan, tempat saudara berubah rupa menjadi serigala.

Baca puisi pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Krisis itu tidak muncul dari ketiadaan ilmu, melainkan dari kelaparan kuasa. Ketika ajaran dianggap angin dan kata “saudara” tinggal bunyi tanpa ruh, hubungan yang semula menyulam komunitas menjadi rapuh. Maka yang paling menentukan bukan lagi siapa paling lama belajar atau paling banyak bernama, tetapi siapa paling ingin merasa berhak. Di titik inilah luka mulai lahir: bukan luka fisik semata, melainkan luka yang mengikis martabat bersama.

Namun riak perang itu dapat redup bukan oleh satu kemenangan, melainkan oleh kesadaran ketika manusia berani menurunkan pedang dan mendengar lagi suara hati yang selama ini tertutup ambisi. Pada saat itulah terungkap sebuah kebenaran sederhana: titipan leluhur sejati bukan benda untuk dimiliki, bukan gelar untuk diagungkan, bukan nama perguruan yang diperebutkan. Amanat yang bermakna adalah laku hidup yang tinggal di hati jujur dan dirawat oleh jiwa yang siap bertanggung jawab.

Di antara semua simbol kehormatan yang pernah dipertukarkan, ada satu lambang keluhuran yang tidak boleh pudar: Sang Saka Merah Putih. Ia bukan sekadar kain atau simbol; ia adalah alat persatuan pengingat bahwa negeri ini terbentuk oleh darah dan doa banyak orang, bukan oleh dominasi segelintir pihak.

Merawat amanat berarti membesarkan kembali kemanusiaan; ia menuntut kita menolak ambisi yang merusak, menggantinya dengan tanggung jawab kolektif. Persaudaraan tidak hancur karena kurangnya pengetahuan ia hancur karena lupa akan tujuan bersama. Sebaliknya, ketika pusaka dijaga bersama, ia menjadi sumber kekuatan yang merapuhkan segala tirai yang dipasang oleh ego.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Akhirnya, siang ini menutup pelajaran yang jelas: bukan kemenangan, bukan kekalahan yang menentukan masa depan, melainkan pilihan kita apakah kita mewariskan kebaikan atau luka. Jika kita memilih kebaikan, maka tugas kita sederhana namun berat: menjaga Merah Putih, menjaga amanat leluhur, menjaga satu sama lain. Karena hanya dengan itu titipan leluhur akan hidup dan hanya dengan itu bangsa ini layak dipanggil utuh.

Ketika pertunjukan selesai dan panggung kembali menjadi ruang kosong, kami memahami pelajaran yang tidak pernah ditulis: bahwa lambang keluhuran sejati bukanlah benda, melainkan laku hidup. Ia hadir dalam cara kita memperlakukan satu sama lain, dalam cara kita menjaga kejujuran ketika dunia meminta sebaliknya, dalam cara kita menghormati leluhur melalui tingkah laku yang baik, bukan simbol yang dipajang. Ia hadir dalam cara kita menjaga budaya agar tetap bernapas melalui tubuh kita.

Di titik inilah kami sadar bahwa simbol kehormatan Ki Sayuti tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu tubuh yang bersedia menanggung maknanya.

Epilog: Rumah Baru bagi Sebuah Legenda

Senja belum turun sempurna, hari masih terik, matahari masih merona, menutup panggung dengan lembut. Namun di hati kami, sesuatu tetap menyala. Lambang keluhuran itu telah menemukan rumah barunya bukan dalam peti kayu, bukan dalam museum, bukan dalam cerita yang membeku di buku pelajaran. Ia tinggal di tubuh kami, di suara kami selama pementasan, di langkah kaki kami di panggung Kota Tua, dan dalam cara kami saling menghormati setelah lampu-lampu padam.

Selama pedoman batin itu terus dijaga, legenda Ki Sayuti akan terus hidup. Bukan sebagai kisah lama, tetapi sebagai cara baru untuk mencintai budaya kita sendiri.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

***

PROFIL LENONG DENES – PUSAKA BUDAYA

Menjaga Tradisi, Merawat Pusaka Budaya

Di tengah perkembangan Jakarta yang semakin dinamis, seni tradisi sering kali harus berjuang agar tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk modernitas. Namun, di Kembangan, Jakarta Barat, terdapat sebuah sanggar yang berdiri dengan satu komitmen kuat: menjaga tetap hidupnya seni lenong Betawi sebagai pusaka budaya yang tak ternilai. Sanggar tersebut adalah Lenong Denes – Pusaka Budaya, yang didirikan pada tahun 2017.

Bagi Sanggar Lenong Denes, lenong bukan hanya pertunjukan komedi. Ia adalah ruang dialog sosial, tempat kritik disampaikan dengan cara cerdas dan menghibur; wadah kearifan lokal; sekaligus cermin identitas masyarakat Betawi. Lewat latihan, panggung, dan perjumpaan antargenerasi, sanggar ini berupaya mempertahankan kekayaan nilai yang terkandung dalam setiap gelak tawa dan improvisasi lenong.

Sebagai ruang pembinaan, Lenong Denes menghadirkan proses belajar yang terarah. Latihan rutin membuka kesempatan bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa untuk mengenal seni lenong secara mendalam. Para murid tidak hanya belajar teknik akting dan dialog jenaka khas Betawi, tetapi juga disiplin, kesiapan mental, dan penghargaan terhadap warisan budaya. Melalui regenerasi yang intens, sanggar memastikan bahwa tradisi ini terus memiliki pewaris yang setia.

Dalam visinya, Lenong Denes ingin menjadi wadah yang melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan lenong Betawi sebagai pusaka budaya Jakarta. Visi tersebut diwujudkan melalui misi yang terencana: dari pembinaan rutin, pengembangan pementasan inovatif yang tetap berpijak pada akar tradisi, hingga menghadirkan pertunjukan edukatif yang memperkenalkan lenong kepada generasi muda maupun masyarakat luas. Sanggar juga aktif terlibat dalam kegiatan seni-budaya di tingkat lokal hingga nasional, serta mengarsipkan karya sebagai usaha pelestarian jangka panjang.

Para pemain Lenong denes pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Program kerja sanggar pun berjalan dengan beragam bentuk: pementasan lenong klasik dan kreasi, workshop seni Betawi, kolaborasi dengan teater, musik, dan tari, hingga partisipasi dalam festival budaya. Semua ini dilakukan untuk menjaga ruang hidup seni lenong tetap terbuka, dinamis, dan relevan.

Di balik perjalanan sanggar ini, terdapat sosok Anto Ristargie, seorang artpreneur yang mendedikasikan diri pada pelestarian budaya. Dengan gagasan yang segar dan komitmen yang kuat, ia ikut memastikan bahwa lenong tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Lewat Sanggar Lenong Denes – Pusaka Budaya, seni lenong tidak hanya dirawat, tetapi dihidupkan kembali sebagai pusaka yang menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi terus berjalan bukan karena ia diingat, tetapi karena ada yang merawatnya dan Sanggar Lenong Denes telah memilih berada di garis terdepan untuk tugas mulia ini. [T]

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: bataviaFestival Batavia Green TourismJakartalenongseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupang, Jejak Akademik dan Pesona Timur Nusantara

Next Post

Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails
Next Post
Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Khas

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Khas

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co