5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warisan Benda Pusaka — Batavia, Kota yang Kita Baca dari Cerita Lenong Denes Pusaka Budaya

Emi Suy by Emi Suy
December 2, 2025
in Panggung
Warisan Benda Pusaka — Batavia, Kota yang Kita Baca dari Cerita Lenong Denes Pusaka Budaya

Lenong denes pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Batavia: Tanah yang Menjaga Ingatan

Sebelum dunia tergesa-gesa menamai kota ini sebagai Jakarta dan sebelum gedung-gedung kaca menjulurkan bayangan panjang yang menutupi sejarahnya sendiri, Batavia pernah menjadi ruang luas yang mengajarkan manusia berjalan lebih pelan.

Tidak ada deru kendaraan yang menghardik udara, tidak ada papan reklame yang memaksa mata menentukan pilihan. Yang ada hanyalah tanah yang menyimpan ingatan, sungai yang bernapas perlahan, dan angin yang membawa kabar dengan sopan, seakan memahami bahwa setiap pesan harus tiba pada waktu yang tepat.

Di masa itulah sebuah kesultanan berdiri. Ia bukan kerajaan besar dan gemerlap, tetapi rumah panjang yang menaruh kearifan di atas meja, bukan di atas takhta. Kesultanan ini memiliki keyakinan bahwa harmoni lebih penting daripada dominasi, dan kekuatan sejati lahir dari menjaga keseimbangan, bukan dari ketakutan.

Dari keyakinan itulah lahir sebuah pusaka lambang keluhuran yang mampu mempersatukan wilayah-wilayah kecil di sekelilingnya. Pusaka itu tidak diberikan kepada menteri atau prajurit ternama, melainkan kepada seorang pengawal kepercayaan bernama Ki Sayuti.

Ki Sayuti: Penjaga Sunyi yang Menghilang dari Catatan

Sejarah sering menonjolkan nama-nama besar, sementara mereka yang bekerja dalam diam berjalan melewati waktu tanpa tanda. Ki Sayuti adalah salah satunya.

Ia membawa lambang keluhuran itu melintasi kampung-kampung yang kini hanya tinggal nama di peta, menyeberangi sungai yang jernihnya telah memudar, dan melewati rawa yang perlahan berubah menjadi bangunan. Tugasnya sederhana namun berat: menjaga agar ajaran lama tidak dikorbankan demi ambisi.

Ia menghilang dari catatan resmi, tetapi ketidaktampakannya justru membuat pusaka itu aman. Legenda Ki Sayuti bukan tentang senjata atau kekuasaan, melainkan tentang laku hidup.

Jembatan Waktu: Dari Ki Sayuti ke Perguruan Pusaka Budaya

Setelah zaman Ki Sayuti, ketika kesultanan dan penguasa silih berganti mengisi Batavia, warisan nilai dan ilmu tidak hilang begitu saja. Dari bayang-bayang sejarah itu, lahirlah sebuah perguruan: Pusaka Budaya, sekitar akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, sebagai tempat menyalurkan kearifan lama.

Perguruan ini bukan sekadar mengajarkan ilmu bela diri, tetapi juga tata cara hidup, kesabaran, kehormatan, dan cara menata batin agar tetap selaras dengan nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Pertunjukan pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Puluhan tahun kemudian, pada generasi ketiga yang diasuh Babeh Mugeni sekitar pertengahan abad ke-20 mulai terdengar kabar bahwa perguruan itu menyimpan sebuah pusaka yang diwariskan secara turun-temurun. Pusaka itu bukan sekadar benda; ia adalah lambang keluhuran yang membawa pesan, amanat, dan pedoman batin bagi setiap murid yang bersedia menapaki jalannya.

Di perguruan ini, setiap murid belajar bahwa kehormatan sejati tidak diukur dari benda yang dipajang atau gelar yang diangkat, melainkan dari laku hidup yang dijalani setiap hari: kesabaran dalam menghadapi konflik, kejujuran dalam setiap tindakan, dan keberanian untuk menjaga amanat leluhur.

Setiap gerak, setiap napas, bahkan setiap kata yang diucapkan adalah cara untuk menyalurkan pusaka, bukan sebagai harta, tetapi sebagai pedoman batin yang menghidupkan nilai luhur dalam diri.

Perguruan Pusaka Budaya menjadi ruang di mana masa lalu dan masa kini bersentuhan. Di sini, legenda Ki Sayuti tidak sekadar cerita; ia menjadi cara hidup, dihidupkan melalui latihan, ajaran, dan pengalaman murid-muridnya.

Perguruan Pusaka Budaya: Tempat Laku Ditempa

Waktu bergerak maju. Kesultanan pun sirna, tetapi pedoman batin yang dilindungi Ki Sayuti tidak hilang. Beberapa generasi kemudian, di Batavia yang kini mulai berubah menjadi Jakarta, berdirilah sebuah perguruan: Pusaka Budaya, didirikan oleh Babeh Mugeni.

Perguruan ini bukan sekadar tempat belajar ilmu bela diri. Ia mengajarkan tata cara hidup, menata batin, dan menjaga laku manusia agar tetap selaras dengan nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Di perguruan itu, generasi ketiga murid Babeh Mugeni mulai mendengar lagi berita tentang pusaka yang diwariskan Ki Sayuti pusaka yang tidak terlihat, namun hadir dalam cara hidup, kejujuran, dan keberanian. Murid-murid belajar bahwa kehormatan sejati bukan benda yang dipajang, melainkan laku yang dijalani setiap hari.

Panggung Kota Tua: Menghidupkan Sejarah

Pada satu siang di penghujung November, legenda itu dipanggil kembali, bukan melalui mantra, melainkan melalui tubuh-tubuh yang bersedia menghidupkannya di panggung Batavia. Panas Kota Tua dan hiruk-pikuk wisatawan menjadi latar musik yang tidak bisa dihentikan. Setiap gerak, napas, dan suara kami menjadi cara memanggil pulang sejarah. Pementasan bukan sekadar sandiwara; ia adalah tubuh dari pusaka itu sendiri.

Batavia Green Tourism, Pertemuan Legenda dan Masa Kini

Pertunjukan ini menjadi bagian dari Festival Batavia Green Tourism, perayaan budaya oleh Suku Dinas Parekraf Jakarta, di Taman Fatahillah:

Lenong Denes Pusaka Budaya

Minggu, 30 November 2025 | 12.30–14.45 WIB

Para pemain adalah penjembatani masa lampau dan masa kini:

Emi Suy, Emak Ocha, Yokô, Deinar M A, Jambule, Syech Puji, Hery Tany, Nurjanah, Azrina, Az-zahra, Adam Dawera, Rinto Bangkit K, Pramono, Nurfa Octavianti, Abigail, Fitrah, Hisyam D, Adjie Maulana, Apit Serabut, Beni Gaok, Agus Waspada, Shelby Azalia.

Di Balik Layar: Pondasi yang Jarang Dipuji

Apa yang tampak di panggung hanyalah puncak gunung. Di bawahnya terdapat kerja panjang orang-orang yang tidak pernah menuntut tepuk tangan:

Anto RistarGie yang membaca cerita bahkan sebelum para pemain menghafalkannya.

Le Suyud yang menjaga ritme agar alur tidak tersesat.

Laksmi Purwati yang memahat wajah para pemain hingga menjadi tokoh.

Gambang Kromong Sanggar Si Pitung yang menjadi denyut Batavia di sepanjang pementasan.

Mereka bekerja tanpa sorotan, tetapi tanpa mereka panggung tidak akan pernah punya jiwa.

Warisan Merah Putih: Titipan yang Tak Boleh Pudar

Layar dibuka di siang yang panas; apa yang tampak di panggung bukan sekadar sandiwara, melainkan cermin dari kebiasaan manusia: memburu “hak” hingga lupa arti “pantas”. Di ruang seperti itu, persaudaraan sering kali yang paling dahulu patah. Amanat masa lampau, yang semestinya menjadi pengikat, justru berubah menjadi alasan untuk saling mengasah amarah. Barang sekecil apa pun dapat menjelma hutan, tempat saudara berubah rupa menjadi serigala.

Baca puisi pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Krisis itu tidak muncul dari ketiadaan ilmu, melainkan dari kelaparan kuasa. Ketika ajaran dianggap angin dan kata “saudara” tinggal bunyi tanpa ruh, hubungan yang semula menyulam komunitas menjadi rapuh. Maka yang paling menentukan bukan lagi siapa paling lama belajar atau paling banyak bernama, tetapi siapa paling ingin merasa berhak. Di titik inilah luka mulai lahir: bukan luka fisik semata, melainkan luka yang mengikis martabat bersama.

Namun riak perang itu dapat redup bukan oleh satu kemenangan, melainkan oleh kesadaran ketika manusia berani menurunkan pedang dan mendengar lagi suara hati yang selama ini tertutup ambisi. Pada saat itulah terungkap sebuah kebenaran sederhana: titipan leluhur sejati bukan benda untuk dimiliki, bukan gelar untuk diagungkan, bukan nama perguruan yang diperebutkan. Amanat yang bermakna adalah laku hidup yang tinggal di hati jujur dan dirawat oleh jiwa yang siap bertanggung jawab.

Di antara semua simbol kehormatan yang pernah dipertukarkan, ada satu lambang keluhuran yang tidak boleh pudar: Sang Saka Merah Putih. Ia bukan sekadar kain atau simbol; ia adalah alat persatuan pengingat bahwa negeri ini terbentuk oleh darah dan doa banyak orang, bukan oleh dominasi segelintir pihak.

Merawat amanat berarti membesarkan kembali kemanusiaan; ia menuntut kita menolak ambisi yang merusak, menggantinya dengan tanggung jawab kolektif. Persaudaraan tidak hancur karena kurangnya pengetahuan ia hancur karena lupa akan tujuan bersama. Sebaliknya, ketika pusaka dijaga bersama, ia menjadi sumber kekuatan yang merapuhkan segala tirai yang dipasang oleh ego.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Akhirnya, siang ini menutup pelajaran yang jelas: bukan kemenangan, bukan kekalahan yang menentukan masa depan, melainkan pilihan kita apakah kita mewariskan kebaikan atau luka. Jika kita memilih kebaikan, maka tugas kita sederhana namun berat: menjaga Merah Putih, menjaga amanat leluhur, menjaga satu sama lain. Karena hanya dengan itu titipan leluhur akan hidup dan hanya dengan itu bangsa ini layak dipanggil utuh.

Ketika pertunjukan selesai dan panggung kembali menjadi ruang kosong, kami memahami pelajaran yang tidak pernah ditulis: bahwa lambang keluhuran sejati bukanlah benda, melainkan laku hidup. Ia hadir dalam cara kita memperlakukan satu sama lain, dalam cara kita menjaga kejujuran ketika dunia meminta sebaliknya, dalam cara kita menghormati leluhur melalui tingkah laku yang baik, bukan simbol yang dipajang. Ia hadir dalam cara kita menjaga budaya agar tetap bernapas melalui tubuh kita.

Di titik inilah kami sadar bahwa simbol kehormatan Ki Sayuti tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu tubuh yang bersedia menanggung maknanya.

Epilog: Rumah Baru bagi Sebuah Legenda

Senja belum turun sempurna, hari masih terik, matahari masih merona, menutup panggung dengan lembut. Namun di hati kami, sesuatu tetap menyala. Lambang keluhuran itu telah menemukan rumah barunya bukan dalam peti kayu, bukan dalam museum, bukan dalam cerita yang membeku di buku pelajaran. Ia tinggal di tubuh kami, di suara kami selama pementasan, di langkah kaki kami di panggung Kota Tua, dan dalam cara kami saling menghormati setelah lampu-lampu padam.

Selama pedoman batin itu terus dijaga, legenda Ki Sayuti akan terus hidup. Bukan sebagai kisah lama, tetapi sebagai cara baru untuk mencintai budaya kita sendiri.

Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

***

PROFIL LENONG DENES – PUSAKA BUDAYA

Menjaga Tradisi, Merawat Pusaka Budaya

Di tengah perkembangan Jakarta yang semakin dinamis, seni tradisi sering kali harus berjuang agar tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk modernitas. Namun, di Kembangan, Jakarta Barat, terdapat sebuah sanggar yang berdiri dengan satu komitmen kuat: menjaga tetap hidupnya seni lenong Betawi sebagai pusaka budaya yang tak ternilai. Sanggar tersebut adalah Lenong Denes – Pusaka Budaya, yang didirikan pada tahun 2017.

Bagi Sanggar Lenong Denes, lenong bukan hanya pertunjukan komedi. Ia adalah ruang dialog sosial, tempat kritik disampaikan dengan cara cerdas dan menghibur; wadah kearifan lokal; sekaligus cermin identitas masyarakat Betawi. Lewat latihan, panggung, dan perjumpaan antargenerasi, sanggar ini berupaya mempertahankan kekayaan nilai yang terkandung dalam setiap gelak tawa dan improvisasi lenong.

Sebagai ruang pembinaan, Lenong Denes menghadirkan proses belajar yang terarah. Latihan rutin membuka kesempatan bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa untuk mengenal seni lenong secara mendalam. Para murid tidak hanya belajar teknik akting dan dialog jenaka khas Betawi, tetapi juga disiplin, kesiapan mental, dan penghargaan terhadap warisan budaya. Melalui regenerasi yang intens, sanggar memastikan bahwa tradisi ini terus memiliki pewaris yang setia.

Dalam visinya, Lenong Denes ingin menjadi wadah yang melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan lenong Betawi sebagai pusaka budaya Jakarta. Visi tersebut diwujudkan melalui misi yang terencana: dari pembinaan rutin, pengembangan pementasan inovatif yang tetap berpijak pada akar tradisi, hingga menghadirkan pertunjukan edukatif yang memperkenalkan lenong kepada generasi muda maupun masyarakat luas. Sanggar juga aktif terlibat dalam kegiatan seni-budaya di tingkat lokal hingga nasional, serta mengarsipkan karya sebagai usaha pelestarian jangka panjang.

Para pemain Lenong denes pada Festival Batavia Green Tourism di Taman Fatahillah Jakarta | Foto: Dok. Emi Suy

Program kerja sanggar pun berjalan dengan beragam bentuk: pementasan lenong klasik dan kreasi, workshop seni Betawi, kolaborasi dengan teater, musik, dan tari, hingga partisipasi dalam festival budaya. Semua ini dilakukan untuk menjaga ruang hidup seni lenong tetap terbuka, dinamis, dan relevan.

Di balik perjalanan sanggar ini, terdapat sosok Anto Ristargie, seorang artpreneur yang mendedikasikan diri pada pelestarian budaya. Dengan gagasan yang segar dan komitmen yang kuat, ia ikut memastikan bahwa lenong tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Lewat Sanggar Lenong Denes – Pusaka Budaya, seni lenong tidak hanya dirawat, tetapi dihidupkan kembali sebagai pusaka yang menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi terus berjalan bukan karena ia diingat, tetapi karena ada yang merawatnya dan Sanggar Lenong Denes telah memilih berada di garis terdepan untuk tugas mulia ini. [T]

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: bataviaFestival Batavia Green TourismJakartalenongseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kupang, Jejak Akademik dan Pesona Timur Nusantara

Next Post

Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Pembelajaran Mendalam atau Mendalami Pembelajaran?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co