HUJAN rintik-rintik menghiasi kaca bus pariwisata yang kutumpangi. Kusenderkan tubuhku pada kursi pas dekat dengan jendela bus, sembari sesekali tanganku mengusap jendela yang terkena air hujan yang menempel di baliknya. Kubiarkan pandanganku larut ke luar jendela, memerhatikan rintik hujan jatuh pelan tak deras, tapi cukup membuat dunia seolah berbisik padaku. Rintik hujan menabrak jendela kali ini, menimbulkan bunyi yang cukup membuat otakku rileks. Ditambah earphone di telingaku mengalun lembut sebuah lagu-lagu indie, seperti menuntun setiap helaan napas agar selaras dengan ritme perjalanan.
Di luar sana, jalanan tol memanjang tenang seperti tidak punya urusan apa-apa, dan memang saja dia tidak tahu menahu hura-hara negara ini. Lampu-lampu kota lewat pelan dari balik kaca jendela bus, langit kelabu dan sedikit polesan kejinggaan terlihat masih basah habis hujan rasanya pas banget dengan suasana otakku yang juga lagi banyak mikir. Tiba-tiba banget muncul pikiran nakal; Indonesia ini sebenarnya kaya banget, ya? Coba bayangin deh, berapa triliun uang yang dihabiskan buat bangun jalan sepanjang ini. Beton tertancap dimana-mana, jembatan sambung-menyambung, pokoknya jika dihitung satu-satu mungkin kepalaku langsung error.
Lalu muncul lagi pertanyaan yang lebih menggelitik; kalau saja Indonesia ini orangnya benar-benar jujur, kalau tidak banyak tikus-tikus berdasi yang suka nitip buah tangan dari proyek, kira-kira sudah jadi apa, ya, negeri ini? Mungkin negara ini sudah lebih, minimal mendekati Saranjana lah ya, kota gaib yang katanya lebih rapi, lebih tertib, dan mungkin warganya saja tidak kenal korupsi. Kebayang tidak? kita kalah sama kemajuan kota yang bahkan google map saja nyerah buat nyari. Lucu, ya? Hehe.
Sekilas pikiranku tadi, aku terseyum kecil. Agak lucu juga, memikirkan kota gaib sambil menuju kota yang kebanyakan orang bilang adalah kota dengan vibes yang tidak membosankan, Jogja, atau dengan nama lebih resmi Yogyakarta. Kalau menurut aku pribadi, setuju dengan pernyataan itu. Nyatanya beberapa kali aku ke tempat ini, ada sesuatu dari Jogja yang bikin ingin selalu balik. Entah jalannya, langitnya, atau mungkin kenangannya. Ya, begitulah Jogja. Meski tidak seutopis Saranjana, dia selalu punya ruang buat pulang. Dan diantara hujan yang malu-malu, music indie yang menghipnotis, dan jalanan panjang yang tidak ada habisnya, aku merasa perjalanan ini bukan cuma soal pindah tempat, tapi juga nemuin harapan kecil yang masih tersisa buat negeri ini. Eaaa.
Tidak lama, musik yang tadinya nemenin malah bikin aku makin nyaman. mataku berat, badanku mulai rileks, dan tanpa sadar aku ketiduran. Tiba-tiba Mas yang duduk di sampingku nyenggol lenganku pelan. “Pak, bangun… udah nyampe hotel.” Aku terbangun dengan kepala agak pusing ringan khas habis tidur di perjalanan. Dari jendela bus, aku lihat lampu-lampu Jogja yang lembut, orang-orang masih berlalu-lalang, dan sisa hujan bikin jalanan kelihatan berkilau, kulirik jam ditanganku menunjukkan pukul 22.00 WIB, aku narik napas panjang, merapikan tas, lalu turun dari bus. Rasanya kayak, oh, akhirnya sampai juga.
Rombongan kami sekitar tiga puluhan guru PJOK, turun dari bus dengan gaya lawakan ndeso. Lelah tapi tetap sok semangat dengan menyeret koper, kaos olahraga masih bau perjalanan karena ada yang habis ngajar tanpa ganti baju langsung berangkat, dan beberapa guru masih sibuk nanya, “Ini ada air panas nggak ya? Pengen cepat-cepat mandi air panas.” Suasana khas rombongan guru yang rame tapi tetap hangat.
Check-in berjalan lancar, setiap kamar ada dua orang. Dan seperti biasa, ada yang langsung rebutan kasur dekat dengan jendela, ada yang sibuk ngecas HP, dan ada juga yang baru masuk kamar tapi langsung mirror selfie layak mau endorse hotel, siapa lagi kalau bukan aku. Setelah urusan kami selesai, aku dan empat rekan kerja keluar untuk menyusuri Malioboro. Bahkan pada kesempatan ini rombongan yang lain sudah melalang buana bersama besti-nya masing-masing. Udara malam Jogja memang punya trik khusus, seperti pandai bikin orang capeknya hilang separuh, dan bikin orang ingin jalan walau badan lumayan terasa pegal-pegal selama perjalan.
Di tengah langkah santai kami, aku teringat dengan tujuan utama kami kemari. Acara tahunan KKGO (Kelompok Kerja Guru Olahraga) sakaligus paripurna guru. Acara formal yang dikemas ala-ala dengan kegiatan refreshing, laporan dana kegiatan, sambutan-sambutan, sesi foto, dan biasanya diakhiri makan besar yang semua orang pura-pura diet tapi tetap nambah. Namun sebelum besok menjelajahi dunia formal itu, malam ini Jogja mengajakku menikmati sisi lain yang lebih hidup.

Langkah demi langkah kaki kami menyusuri trotoar Malioboro, kami berjalan mendekati area yang dulu dikenal banyak orang memiliki reputasi yang cukup unik. Yaps, Pasar Kembang, alias Sarkem. Aku menyebutnya dalam hati sambil tersenyum, bukan karena isinya, tapi karena sejarahnya yang panjang dan kadang buat banyak orang salah paham.
Dulunya kawasan ini namanya Balokan, berasal dari kata dasar ‘balok’ yakni tumpukan ‘balok kayu’ buat lokomotif uap zaman dulu. Bayangin saja, kawasan yang sekarang dikenal karena ‘kehidupan malam’, dulunya hanya gudang kayu. Setelah sejarah panjang itu, banyak pedagang bunga bermunculan di sana. Jadilah tempat ini bernama “Pasar Kembang”. Kembang buat acara upacara, kembang untuk ziarah, indah kedengarannya, cuma perjalanan hidupnya membuat Pasar Kembang ini berbelok arah menjadi tempat yang mengarah ke reputasi unik. Kemudian banyak perempuan yang menjajakan diri, tapi tidak semuanya. Alhasil orang lebih mengenalnya Sarkem itu secara tidak gamblang sebagai jual kembang, namun sudah tidak ada lagi, secara tersirat jual kembang itu ya perempuan itu sendiri yang dimaksud.
Dari cerita itu, lalu tempat ini berkembang menjadi stigma yang lebih abu-abu. Orang-orang menyebutnya tempat lokalisasi. Kalau di Surabaya dulunya ada tempat yang dikenal dengan Gang Dolly, di Jogja punya Sarkem. Padahal warga setempat berkali-kali mengatakan kalau tempat itu bukan tempat lokalisasi resmi. Terdapat rumah, ada musala, ada sekolah juga, bahkan kehidupannya jauh lebih bervariasi dan berlapis daripada sekedar judul berita. Beberapa tahun terakhir Sarkem Fest 2025 berlangsung pada 21–22 Februari 2025, jelas kegiatan ini diberitakan pada laman resmi visitingjogja.jogjaprov.go.id.
Tentunya serangkaian acara itu untuk memperbaiki citra serta menunjukkan budaya lokalnya. Lucu juga ya, tempat yang sering jadi bahan bisik-bisik negatif justru kini berusaha tampil dengan bangga sekaligus lewat melalui acara yang terkemas elegan di kalangan masyarakat.
Dari sejarah ini, aku teringat dengan kisah sejarahnya bahwa konon salah satu cerita awal berkembangnya prostitusi di Sarkem melibatkan seorang perempuan Belanda bernama Nurhayati. Seperti yang dikuti pada travel.detik.com “Nurhayati diketahui merupakan gundik orang Belanda dan diminta untuk membawa perempuan lain menjadi gundik seperti dirinya”. Bukan hanya cerita pemanis, tapi cerita ini merupakan bagian dari sejarah yang bikin Sarkem punya banyak rahasia. Seperti halnya Jogja, kelihatannya sederhana, tapi jika kita menyelami lebih dalam, dalamnya penuh dengan kejutan.

Itulah sekilas tentang Sarkem. Kami berjalan larut dalam suasana malam ini, menikmati wedang ronde, menyantap sate ayam khas dengan bumbu jogja, bahkan tak lupa membawa beberapa buah tangan khas Jogja, bakpia. Jika tadi tentang Sarkem, kini tentang bakpia. Bakpia ini juga tak kalah memiliki sejarah lucu dan sedikit plt twist. Setelah saya mencicipi rasa bakpia yang khas, akhirnya terbesit diotakku pertanyaan demi pertanyaan, darimana asal makanan ini, apakah benar khas Jogja?

Ternyata bakpia asalnya dari Tionghoa, “bak” artinya daging, “pia” artinya kue. Jadi kalau kita menggunakan logika, bakpia itu mestinya kue isi daging, kan, ya. Tapi begitu masuk Jogja, dagingya hilang diganti kacang hijau manis. Bahkan seiring berkembangnya jaman, banyak sekali varian rasanya; durian, nanas, coklat, dan lainnya. Mungkin karena di sini orangnya lebih suka yang manis-manis kaya yang nulis ini, hehehe… ya kecuali perasaan yang tidak dibalas, itu sih terserah masing-masing. Dari bakpia ini mengingatkanku juga dengan kue khas Bali, ada juga yang namanya pie susu. Sama-sama terbuat dari bahan tepung, jika bakpia jogja memiliki bentuk yang agak tebal, pie susu bali dikemas dengan kulit tipis dan renyah serta isian lembut dan manis dari campuran susu kental manis, telur, dan gula.
Sejak adaptasi itu, bakpia jadi ikon Jogja. Ada yang kulitnya lembut (versi modern) ada yang kulitnya retak-retak kering (model bathok klasik). Dan entah kenapa, aku juga bingung, meskipun tiap kota punya oleh-oleh, bakpia selalu punya tempat khusus di hati orang yang pernah ke Jogja. Mungkin karena ukurannya kecil, gampang masuk kantong, pas digigit, dan cocok menemani santai sembari scroll sosmed menyimak berita Pak Purbaya yang cukup bikin pemerintahan Indonesia ketar-ketir ala-ala bocil kematian. Eh, maap. Kagak nyambung, hehehe.
Jogja memang selalu begitu. Sederhana dari luarnya, tapi penuh cerita di dalamnya. Dan malam itu, aku merasa menjadi part kecil dari cerita itu ikut menempel di langkah-langkah kami.
Setelah cukup puas muter-muter malioboro sambil ketawa-ketiwi, capek, sih ya, tapi bahagia. akhirnya kami memutuskan buat balik ke hotel. Kaki rasanya udah brontak, tapi kata otak masih mengajak ingin jalan. Ya, begitulah dilemma turis bermodal hahahihi. Sampai hotel, jam sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB dini hari. Kami bergegas terlelap.
Keesokan harinya, setelah ibadah masing-masing dan sarapan, suasananya berubah jadi lebih sacral. Kami kumpul bareng rombongan, menjalani sesi acara formal khas kegiatan KKGO dan paripurna guru. Meski singkat, momen itu terasa hangat semacam pengingat bahwa di balik jalan-jalan dan ketawa bareng, kami semua lagi ada dalam satu misi, belajar, berkembang, dan tetap waras di dunia kependidikan yang terkadang terasa sedikit absurd.
Petualangan dilanjut, kami menuju Sungai Elo buat rafting. Suasananya seru, airnya lumayan bersahabat, tapi arusnya cukup bikin kami sadar betapa rapuhnya keseimbangan hidup. Tapi justru itu part serunya, teriak lepas, ketawa bareng, nyangkut bareng, dan selamat bareng. Yeeeey…
Setelah rafting, dan makan siang yang rasanya lebih enak karena dicampur rasa lapar akut, cuy, akhirnya bersiap balik pulang. Perjalanan pulang berjalan tenang. Rombongan di bus banyak yang ngorok, dan aku Cuma menatap keluar jendela, merasa cerita kecil ini yang diawali dari hujan, music indie, sampai Sarkem dan bakpia ternyata jadi salah satu perjalanan yang diam-diam menghangatkan hati.
Dan ketia perjalanan selesai, aku cuma bisa berbisik dalam hatiku sendiri, Jogja memang selalu puny acara sendiri untuk bikin orang ingin kembali. Seperti nama kotanya, Jogja selalu istimewa. [T]
Referensi
Anonin. 2025. Sarkem Fest 2025 (21-22 Februari 2025). Tersedia pada: https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/42128/sarkem-fest-2025-21-22-februari-2025/ , diakses pada 24 November 2025.
Vianita, Novi dan Anandio Januar. 2025. Sejarah Prostitusi di Sarkem: Berawal dari Nurhayati, Si Gundik Belanda. Tersedia dalam https://travel.detik.com/travel-news/d-7022539/sejarah-prostitusi-di-sarkem-berawal-dari-nurhayati-si-gundik-belanda diakses pada 24 November 2025.
Penulis: Mochamad Rifa’i
Editor: Adnyana Ole











![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















